
Selama Saira hamil, ia hanya sebentar saja dirawat di rumah sakit. Selain itu, ia dirawat di rumah, dengan bantuan suster. Karena selain harus bedrest, nyeri jantung Saira atau sesak nafasnya lebih sering terjadi.
Saat umur kehamilan Saira 4 bulan, saira masuk rumah sakit. Karena perut saira sakit, sampai Saira pingsan karena hal ini. Beruntunglah, tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Saira atau calon anaknya. Di saat itu pula, keluarga Saira dari Solo datang. Entah mengapa, Saira masih memusuhi Asha, padahal Asha tidak berbuat salah. Rasa iri Saira ke Asha, masih sangat besar. Apalagi melihat buah hati Asha sudah 2. Anak keduanya laki-laki yang bernama Boby Arion Effendi sudah bisa berjalan, bahkan berlari dan berbicara hal apapun. Itu membuat Saira semakin ingin mempertahankan kehamilannya.
Kemarin sore, Saira sudah pulang kerumah. Semenjak Asha datang, sampai Saira pulang, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Saira ke Asha dan Jili. Asha menatap Saira sedih. Ia tau, Saira iri dengan kelahiran Daisha, bahkan sekarang Jili juga sudah mempunyai seorang anak bernama Alysa Mallory Effendi. Asha sedih melihat keadaan Saira yang sekarang. Asha tau tidak seharusnya Saira mempertahankan kehamilannya. Karena kehamilannya juga buruk untuk kesehatannya. Tapi Saira keras kepala. Bagaimana pun ia di beritahu, ia akan tetap mempertahankannya walau nyawa taruhannya.
Besok Asha dan yang lain sudah harus pulang kembali ke Solo. Sebenarnya dalam hati Saira, ia masih sedih, namun ia terlalu gengsi untuk berbicara dengan Asha atau Jili. Dua sahabat yang selalu menemaninya, sejak kecil, yang selalu menerimanya, sekarang karena ulah Saira sendiri yang iri, membuat persahabatan mereka renggang. Diam-diam dalam kamar, saat saira sendiri ia menangis. Ia melihat foto lama di galery handphone nya. Foto mereka bertiga.
Siang hari ini Asha dan Jili memberanikan diri untuk masuk kekamar Saira. Saira terlihat pucat, ia membaca buku sambil duduk di tempat tidurnya. Saira menghentikan bacaanya, dan memandang mereka berdua yang masuk ke kamar.
"Sai... Kita bakal pulang besok" ucap Asha mengawalinya
"Sai, gak adakah kata buat kita?" tanya Jili
"Kalian mau aku bicara apa?“ tanya Saira pura-pura sinis
"kami sangat merindukan Saira Meili Effendi" ucap Asha lalu memeluk Saira lalu di susul Jili
"Saira kami tau saat ini kau hanya pura-pura. Kau tidak perlu malu dengan semua yang sudah lalu" ucap Asha
Saira menangis, ia meminta maaf dan mereka akhir nya berbaikan. Mereka kembali tertawa dan persahabatan mereka mulai erat kembali. Liam, Davi, dan Candra masuk kekamar Saira. Melihat mereka sudah tertawa dan berpelukan erat. Mereka hanya berpandangan, terpancar kelegaan dalam raut wajah mereka bertiga melihat istri mereka sudah akur kembali.
Untuk pertama kali setelah di bujuk selama bbrp minggu di bulan ke 6 kehamilan Saira, Saira mau tau usg calon anaknya. Selama ini Saira usg, Saira tes berbagai hal, tapi ia sama sekali tidak ingin membuka mata, bahkan telinganya di tutup oleh headphone, agar tidak mendengar pembicaraan apapun antara dokter dan suaminya. Saira sangat takut, jika ia membuka headphonenya dan mendengar percakapan mereka, hasil percakapan itu tidak akan baik. Saira membuka Headphone nya hanya saat di tanya okeh dokter.
Saira merasa sangat bahagia dengan apa yang ia lihat. Dua. Ia mengandung anak kembar. Yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ia selama ini tidak menyangka, kelelahan yang berlebihan, sakit yang sering ia rasakan karena ada dua calon buah hatinya. Karena hal inilah Saira menjadi lebih waspada dan menjaga dirinya.
Tak terasa kehamilan Saira sudah 7 bulan. 3 hari lagi akan di adakan acara 7 bulanan. Padahal usia kandungan Saira sebentar lagi sudah akan 8 bulan. Untuk mengadakan acara 7 bulanan memang sedikit terlambat, karena Saira lagi-lagi masuk rumah sakit. Di tambah sebenarnya ia sudah sering kelelahan karena membawa dua calon buah hatinya.
Entah mengapa, hari ini saat acara Saira merasa sehat. Bahkan ia mondar-mandir dan tidak merasa lelah dengan kehamilannya. Tapi ternyata berujung buruk. Di akhir acara, saat semua selesai, tamu pulang dan saat istirahat, Saira mulai merasa lelah, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Bahkan ia tidak sadar jika ia pendarahan. Ia hanya merasakan lelah, dan nyeri di perutnya yang berusaha tidak ia pedulikan. Tapi Asha menyadarinya dan ia langsung panik.
__ADS_1
"Sai... Perutmu pasti nyeri banget kan? Kerumah sakit yuk" ajak Asha terlihat panik.
"Kenapa panik Ash? Aku baik-baik aja kok"
"Bisa bilang baik-baik aja? Pendarahan kayak gtu?" ucap Asha setengah berteriak
"Pendarahan apa?" tanya Saira masih bingung
"Dek... Kamu gak terasa?" tanya Davi
"Pendarahan?" tanya Saira beranjak dari sofa dan melihat kakinya yang sudah mulai keluar darah "astaga" pekiknya
"Liam... Liam... Saira pendarahan" panggil Asha yang melihat wajah Saira semakin pucat
"Biasanya pendarahan gak sampai begini" ucap Saira
"Apa maksudmu biasanya pendarahan gak sampai begini? Kamu beberapa hari ini pendarahan sai?“ tanya Laras
Liam yang berada di luar langsung masuk kedalam dengan keadaan panik. Ia langsung membawa Saira kerumah sakit. Saira sudah merasakan sakit, bahkan ia sampai pingsan saat sampai rumah sakit. Dengan segera, dokter mengambil tindakan. Saira harus operasi Caesar. Operasi berjalan terasa lambat. Tidak hanya Liam yang berada di sana. Tristan, Yuna, Haikal, Davi, Candra, ikut cemas menunggu Saira.
"Saira beberapa hari ini emang dia sengaja sembunyi-sembunyi tentang pendarahannya. Walau sepertinya tidak banyak tapi dia sering kekamar mandi ganti pembalut" ucap Liam
"Kalau kamu tau kenapa gak bilang bunda?“ tanya Yuna
"dia, terlihat menyembunyikan hal ini bunda" jawab Liam
"Kamu gak tanya kenapa dia begitu?" tanya Davi
"Ya, aku tanya ke dia. Dia menunggu hari ini"
__ADS_1
"Sebenarnya Saira kerumah sakit sama aku... Dia periksa, dia dapat obat, hanya tidak mau di rawat di sana"ungkap Laras
"kapan? Kenapa kita gak tau"
"Bunda tau. Hanya setau bunda chek up aja" jawab Laras
"Kenapa saira dan kamu gak bilang?"
"Saira memintaku diam. Makanya saat kamu gak ada aku selalu datang kerumah mu untuk menjaganya. Aku juga memintanya bedrest saat tidak ada kamu" jawab Laras
"Laras sayang... Haruskah kamu sembunyikan dariku juga?" tanya Tristan yang sedari diam sekarang mulai angkat bicara
"Sudahlah ini keinginan Saira. Kita hanya bisa menunggu disini"
"Dan berdoa" imbuh bunda
Akhirnya lahirlah dua buah hati Saira dan Liam. Perempuan dan laki-laki. Sangat cantik. Tapi kabar buruknya Saira kritis. Mungkin selama beberapa hari ini Saira pendarahan namun ia tetap diam. Akhirnya dokter menyatakan Saira koma, sampai batas waktu yang belum di tentukan. Bagai tersambar petir, dunia Liam seakaan hampir runtuh. Di pandangnya kedua anaknya yg di gendong suster, ia menatap mereka kasihan. Hari berikutnya, Saira di pindah ke ruang icu. Liam menungguinya bersama Tristan.
"Sudah loe tentuin nama anak loe?“ tanya Tristan
"Nicholas Revan Yelu. Nicoline Carissa Yelu" jawab Liam
"Yelu?“ tanya Tristan
"Saira ingin nama anak kami ada nama Yelu" tak terasa air mata Liam menetes
"Kuatlah... Kalau loe begini, gimana Saira, gimana anak loe yang di inkubator"
"Gue mau lihat anak gue. Jagain Saira" ucap Liam
__ADS_1
Sehari.. Dua hari.. Seminggu... Dua minggu... Liam mulai frustasi. Ia bertanya ke semua temannya yang dokter, atau dengan pengobatan china, untuk menyadarkan Saira. Tapi tidak ada hasil. Sebulan... Dua bulan... Akhirnya Liam lelah dan menyerah. Ia hanya terus menunggu Saira dan terus berdoa. Akhirnya doa Liam terjawab. Berkat celoteh dan mendengar tertawa kedua anaknya yang masih belum jelas, Saira sadar pas satu tahun hari kelahiran putra putrinya. Bersamaan datang kabar gembira jika Laras melahirkan seorang putri. Keajaiban lainnya, jantung Saira pulih sepenuhnya. Entah apa yang terjadi selama Saira Koma, namun Saira tidak meninggalkan satu penyakit apapun, dan terbangun dalam keadaan sehat seperti terlahir kembali.
-selesai-