Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 15


__ADS_3

Baru saja acara selesai, baru sesi foto-foto, belum semua tamu undangan sudah pulang, sakit di dada kanan Saira kambuh. Otomatis Saira tidak menggerakkan kepala atau tangannya. Pelan-pelan ia duduk. Saira mencoba bernafas, pelan. Liam merasa ada yang aneh dengan Saira. Saira diam, tak menjawab pertanyaan Liam. Tristan terus mengawasi Saira, apalagi saat Saira gelagat aneh, Tristan langsung menemui Saira.


"Ra,,, sakit lagi?" tanya Tristan yang maju mendekati Saira yang masih duduk dikursi pengantin


"Nyeri dikit" ucap Saira pelan


"Gerakin kepala coba" ucap Tristan


"Sakit tan"


"Saira kenapa tan?" tanya Liam


"Kecapekan dia kak" jawab Tristan


"Tinggal 2 foto lagi... Bisa g?" tanya fotografer


"Bisa kok... Bentar" ucap Saira pelan


"Bisa... Bisa... Tunggu" ucap Tristan


"Nieh obatnya" ucap Laras sambil membawa obat penghilang rasa sakit


"Obat apa itu Laras?" tanya Yelu


"Obat... Penghilang rasa sakit om" jawab Laras


"Kamu kenapa sayang?" tanya Yuna.


"Dah gakpapa... Yok lanjut" ucap Saira lalu berdiri


"Bener gakpapa?" bisik Laras dekat telinga

__ADS_1


"Mendingan dari pada tadi. Dah bisa gerak kepalaku. Bentar lagi biasanya hilang" balas Saira berbisik


Selesai acara dan semua tamu undangan pulang, untuk keluarga dan beberapa orang dekat ikut ke hotel milik Yelu untuk membicarakan pernikahan Davi Asha dan Candra Jili. Sedangkan Liam dan Saira setelah berganti pakaian mereka istirahat sejenak di kamar hotel.


Setelah di bicarakan di putuskan akan menikah 3 bulan lagi. Entah apa yang Saira pikirkan, ia ingin berbulan madu bersama sahabatnya setelah menikah. 3 bulan waktu yang singkat menurut kedua orang tua Asha dan Jili. Tapi kedua calon pasangan pengantin sudah sangat tidak sabar untuk menikah.


Mereka berempat segera menyelesaikan segala urusan, dan perizinan untuk pernikahan. Saira mulai menikmati hari-harinya menjadi seorang istri. Kesehatannya pun kian membaik. Nyeri di dadanya lebih jarang terjadi. Saira bisa lebih menjaga dirinya setelah menikah dengan Liam, daripada sebelum menikah. Saira menjadi istri yang baik, yang penurut ke Suaminya. Liam bahagia memiliki Saira.


Sebulan setelah pernikahan Saira, ia di datangi mantan pacar Liam. Mantan pacar Liam yang tidak asing lagi untuk Saira. karena sebelum ini Saira pernah melihatnya.


"Saira... Apa kabar... " sapanya ramah


"Kamu?“


"Aku Perlita Arabella... Mantannya Liam"


"Oh Perlita.. Sepertinya kamu datang ya saat pernikahan kami?"


"Ehm.. Silahkan lihat-lihat pakaiannya" ucap Saira ramah


"Eh iya... Omong-omong dimana Liam... Gak kelihatan"


"Di restoran. Mungkin sebentar lagi sampai"


"Bolehkan aku ngobrol sama Liam"


"Ya... Aku ke dalam dulu ya. Ngobrol aja kalau Liam sudah datang"


"Eh... Jangan dong... Ntar aku di kira ganggu suami orang. Udah kamu di sini aja ngobrol berdua"


"Kok kamu tau butikku?"

__ADS_1


"Ehm... Ehm... Rumah nenek... Maaf paman maksudku dekat sini" jawab Lita gugup. Saira heran, aneh banget batinnya. Saira hanya tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Lita.


Lita dan Saira ngobrol asik berdua. Hingga Lita tau jika suara langkah kaki Liam mendekat. Awalnya Saira menganggapnya guyonan, namun yang di tebak Lita benar, jika Liam memang mendekat. Saira sedikit aneh, namun tidak ia hiraukan. Malah bisa di katakan Liam bingung, mantan pacarnya asik ngobroo dengan istrinya. Sesuatu hal yang langka menurut Liam.


Semakin hari Saira semakin dekat dengan Lita. Mungkin karena rumah paman Lita tidak jauh dari butik Saira. Saira juga lebih sering ke butik, hanya untuk bertemu dan ngobrol dengan Lita. Lita dan Saira bagai sahabat kental, Saira bahkan sampai melupakan pernikahan Asha dan Jili yang akan berlangsung 2 minggu lagi. Asha dan Jili merasa ada yang aneh dengan sikap Lita jika mereka bertemu bersama. Cenderung lebih di buat-buat. Lita cenderung agresif menarik perhatian Saira. Mungkin karena sifat Saira yang baik ke semua orang ia tidak terlalu peduli dengan sikap aneh beberapa orang ke padanya.


Tibalah hari pernikahan Asha dan Jili. Saira dilarang untuk capek. Jadi Saira tidak melakukan apapun, ia hanya menikmati prosesi pernikahan kedua pasangan ini. Asha dan Jili terlihat bahagia. Hingga mereka berenam memutuskan bulan madu yang tidak terlalu jauh, cukup di Bali. Mereka berenam berangkat hari berikutnya. Setelah sampai Bali mereka langsung menuju rumah milik Yelu. Walau tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka berenam.


Tak terasa hari 4 mereka di Bali. Hari ke4 ini, mereka mengunjungi salah satu cabang restoran Liam. Hal ini merupakan awal malapetaka hidup untuk Saira. Entah bagaimana, saat Saira, Asha, dan Jili ke toilet, Saira keluar dari toilet sendiri, karena ia selesai lebih dulu. Setelah Toilet ada anak tangga menuju halaman belakang Restoran. Ia di dorong oleh seorang perempuan yang entah siapa. Karena ia menggunakan jilbab, masker, dan kacamata hitam. Saira jatuh tertelungkup. Perutnya menatap anak tangga. Ia mengerang kesakitan di perutnya, dan ia pendarahan.


Liam panik, dan membawa Saira kerumah sakit. Setelah di lakukan semua pemeriksaan Saira ternyata hamil, 10 minggu. namun sudah tidak lagi. Saira shock. Ia tidak menyangka, jika hal ini berimbas ke calon buah hatinya. Saira akhirnya di kuret. Baru sehari perawatan setelah kuret, Saira sudah langsung meminta pulang. Walau badan masih lemas, bahkan demam, dan wajah sangat pucat, keinginannya hanya pulang.


"Yakin pulang sayang?“ tanya Liam


"Aku gak mau di sini. Aku ingin pulang. Untuk apa di sini jika tidak berlibur lagi?" ucap Saira


"Bersemangatlah sayang"


"Walau hanya berdua aku ingin pulang"


"Baik.. Baik... Setelah sampai di kota, aku ada surprise untukmu... Berharap kamu lebih semangat"


"Lihat nanti ya" ucap Saira pelan


"Kami ikut pulang dek" ucap Davi dan Candra hampir bersamaan


"sabar sayang" ucap Asha


"kami selalu ada buat kamu" ucap Davi


"Terima kasih" ucap Liam

__ADS_1


__ADS_2