Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 20


__ADS_3

Saira sudah sembuh total. Ia sudah kembali ke butik ke rutinitasnya. Setelah Jili wisuda, ia membuka studio fotografi, sedangkan Asha ikut membantu Saira di butiknya dan ikut mengawasi Saira. Karena Liam mulai waspada terhadap siapapun yang mendekati Saira atau siapapun yang akan mencelakakan Saira.


Hari ini Saira datang lebih awal ke butik bersama Asha. Tidak biasanya mereka datang sebelum jam makan siang. Biasanya mereka datang setelah jam makan siang. Untuk kali ini ada pengecualian, Saira akan bertemu seseorang, yang awalnya Asha kira ia adalah Lita. Ternyata setelah orang itu datang bukan Lita. Melainkan Fitri, di lihat dari umurnya, terlihat masih muda. mungkin 17 atau 18 tahun. ia membawa satu kantong contoh pakaian yang akan Saira lihat untuk butiknya. Namun Asha tau, pemilihan detail untuk butik Saira tidaklah bisa sebatas bagus, tapi kualitas harus sempurna. Tidak boleh ada cacat sedikitpun. Butik Saira terkenal murah dengan kualitas yang sempurna.


Saira melihat, memilah, pakaian yang Fitri bawa. Tapi ada saja yang membuat Saira jadi urung untuk memilihnya. Di tambah bahan dan harga tidak sesuai. Harga dari Fitri sangat mahal, padahal Saira sebenarnya bisa mendapatkan separuh dari harga Fitri. Selain itu jahitan juga terlihat asal-asalan. Pada awalnya Saira ingin membantu Fitri, saat melihat Fitri bersama neneknya di sebrang butik Saira, menggelar pakaiannya.


"fitri.. pakaianmu yang ini saya beli semua, namun, kau tidak bisa untuk menitipkan daganganmu disini..." ucap Saira


"kenapa mbk?"


"maaf Fit, saya harus jujur. Butik sini selalu mengutamakan kualitas pakaian dari segi manapun. Jika untuk pakaianmu saya hanya bisa membantu sampai sini saja"


"mbak.. uang penjualan pakaian ini saya hanya menerima sedikit. Saya hanya mempunyai nenek saja. Saya tidak punya pekerjaan karena hanya lulusan SD, dan saya tidak punya ijasah. sedangkan nenek saya.. "ungkap Fitri lalu menangis


"Fitri tenanglah... jika pekerjaan yang kamu cari, kamu bisa bekerja di sini. Julia... kamu kepala toko disini, besok kamu saya beri tugas untuk ajari Fitri ya. Ia akan bekerja disini mulai besok"


"Benarkah mbak? Tapi saya hanya lulus SD. Tidak seperti yang lain. Mungkin ada yg lulusan SMA atau kuliah"


"Gak usah minder Fit" ucap Julia


"Di sini baik-baik kok" ucap Asha


"Pekerjaan di sini mudah. Harga sudah tertera di label pakaian. Cukup melayani pelanggan yang masuk kemari. Kebanyakan pelanggan itu sudah sering kemari, jadi yang ramah dan murah senyum. Terutama jujur." ucap Saira


"Baik mbak... Terima kasih mbak Saira..."


"Sama-sama Fitri. Oh ya Fit, pakaian ini dari kamu yang saya beli, buat kamu saja. Ada blouse ada celana panjang. Bisa buat kamu bekerja besok.."


"Terima kasih mbak... Walau saya yang jual ini, tapi saya memang suka dengan warna dan modelnya. Ini ada tambah sedikit uang untuk nenek kamu. Rumah kamu di belakang butik ini kan?" ucap Saira lalu memberi beberapa lembar uang


"Iya mbak... Terima kasih mbak... Saya pamit dulu"


"Kamu terlalu baik Sai" ucap Asha setelah Fitri pergi


"Mbak... Gak takut kecurangan Fitri?“ tanya Julia


"Maksud kamu?“


"Denger kabar, dia suka mencuri mbak... "


"Mencurikan juga ada alasannya. Bisa karena dia butuh makan"

__ADS_1


"Sudah lanjutkan pekerjaanmu saja Jul... Saira gak bakal mau di ajak ngomong"


"Hehehehe iya mbak bener"


"Kalian... Seneng ya ngomongin aku"


"Kan ngomongnya gak di belakang mbak... " celetuk Julia "eh... Saya lanjut kerja mbak"


"Saira" Tiba-tiba ada yang memanggil Saira


"Lita"


"Hai Ra... Dah lama gak jumpa"


"Hai Lit.... Ash.. Kamu gantiin kerjaanku dulu ya bentar... Lit,, bicara di coffe shop depan itu... mau?“ ajak Saira yang terlihat ragu


"ehm... Oke"


Asha merasa ada yang aneh dengan Saira. Tidak biasanya ia mengajak seseorang pergi keluar berdua saja. Biasanya Saira lebih suka jika tidak hanya dua orang saja. Kecuali jika akan membicarakan hal penting dan pribadi. Tapi Saira tidak pernah menyembunyikan sesuatu hal darinya. Tapi karena Asha penasaran ia mengikuti Saira.


Saira menuju Coffe Shop tidak jauh dari butiknya. Kebetulan Coffe shop ini memiliki sekat antara 1 kursi dengan kursi lainnya. Walau tidak terlalu tinggi tapi sekat itu lumayan tidak dapat melihat antara 1 dengan lainnya jika sedang duduk. Asha duduk memunggungi Saira. Pelayan datang ke meja Asha. Asha menjawabnya pelan, ia memesan cemilan dan Coffe, dan Asha menyiapkan rekaman untuk merekam pembicaraan Saira dan Lita.


"Tumben ajak kemari"


"Sama saudara... Aku beli rumah sekitar sini... Karena sodaraku yatim piatu jadi aku minta tinggal sama aku"


"Ehm... Makanya kaget aku tadi kamu di sini"


"Saira... Kamu mau ngomong apa? Gak mungkin hanya ngobrol aja kan?"


"Begini aku mau tanya sesuatu"


"Boleh"


"Tapi aku hanya minta kejujuranmu. Aku gak akan marah atau melakukan hal yang buruk. Tapi aku hanya minta kejujuranmu"


"Iya... Bicaralah Saira"


"Beberapa bulan lalu saat di Bali, apakah kamu sengaja mendorongku, hingga aku keguguran?"


"Saira... Kamu sengaja ngarang bebas?“

__ADS_1


" jujurlah Lita... Aku tau itu kamu... Dari cara berjalanmu... Bentuk tubuhmu"


"Saira... Aku kan mabuk laut gak mungkin aku ke Bali"


"Tapi kamu gak mabuk saat di udara... Atau fobia ketinggian Lit... Jujurlah... Hanya ingin kau jujur"


"Ya... Itu aku... Aku yang mendorongmu..."


"Kenapa? Kenapa Lita? Aku menganggapmu teman.. Kenapa kau menusukku dan membuatku keguguran?"


"Saat itu aku tidak tau kau hamil. Aku hanya ingin memberi perlajaran padamu"


"Apa alasannya?"


"Kamu ambil Liam dari aku Ra.. Liam milikku!!!" bentak Lita


"Bagaimana bisa kamu bilang aku ambil Liam... Liam bukan barang Lit,,"


"Kamu datang lewat medsos! Kamu datang saat aku dan Liam baru saja putus!"


"Putus kan... Berarti sudah tidak punya hubungan.. “


"Aku gak mau putus.. Liam yang putusin aku"


"Berarti masalahnya di kamu... Kamu yang sakiti Liam... Sampai Liam putusin kamu... Lit, aku gak akan bawa masalah ini sampai jalur hukum. Tapi aku harap kamu jangan mengulang kejadian ini lagi... Jika sampai Liam tau, entah apa yang akan ia perbuat... Aku pergi" ucap Saira lalu menuju kasir untuk membayar coffenya dan Lita


"Saira" panggil Asha setelah Saira keluar coffe shop


"Asha... Ngapain kamu disini?“


"aku dah denger Sai"


"Jangan kau beritahu siapapun.... "


"Maaf Sai... Sayangnya Davi sudah tau"


"Tau darimana?“


"Rekaman"


"Kamu rekam Ash?"

__ADS_1


"Hanya bukti saja jika ia berbuat nekat lagi"


"Huft, sudahlah aku gak marah... Tapi aku mau pulang... Pusing kepalaku"


__ADS_2