
Matahari sudah tinggi. Saira tidak kunjung keluar, bersuara pun juga tidak. Apalagi kemarin kepala Saira yang terbentur belum ia cek. Membuat khawatir. Hingga malam ia masih tidak keluar dan tidak bersuara. Davi mulai panik, karena sudah hampir 24 jam Saira tidak meminum obatnya dan tidak makan. Jendela pun tertutup rapat sejak pagi, tidak ada udara masuk. Davi melihat dari ventilasi kamar Saira, jika gelap, di tambah jendela tidak di buka, mungkin kamar Saira akan sedikit gelap, dan setau mereka, Saira tidak suka jika kamarnya gelap dan tidak ada udara dan cahaya matahari yang masuk.
Langit sudah gelap. Kamar Saira belum ada Tanda-tanda kehidupan, lampunya juga terlihat belum di nyalakan. Di dalam kamar, Saira sudah tidak mampu menahan nyeri di luka operasinya, dan ia juga menambah luka siletan di tangannya yang mengalir dan belum berhenti. Wajah Saira pucat. Dengan tertatih ia berjalan menuju pintu. Belum sampai pintu ia terjatuh dan menyenggol meja yang membuat peralatan make up nya jatuh dan ada yang pecah. Spontan yang berada di luar kamar panik. Davi tidak dapat menahannya lagi, ia menggedor pintu kamar Saira dengan kencang.
"Dek... Kamu gakpapakan? jawab kakak walau satu kata" pinta Davi
"Kak... Sakit" rintih Saira pelan membuat Liam ikut panik.
"Buka pintunya dek..."pinta Candra
"Jendela.. Lewat jendela" ucap Asha
"Lama... Dobrak aja" ucap Jili
Liam dan Davi memdobrak pintu kamar Saira. Saira terlihat sudah terbaring di lantai dengan posisi tangannya memegang dada bekas operasi dan darah yang mengalir di tangannya. Bulir-bulir air mata menetes perlahan. Asha meminta agar segera di bawa kerumah sakit. Namun Saira menolak, ia menggeleng tidak mau, akhirnya dengan minum obat saja yang bisa mereka berikan. Perlahan-lahan Saira tenang, perlahan matanya mengantuk. Davi merawat luka-luka siletan Saira. Darah yang tadinya terus mengalir sudah berhenti. Davi menyuapi adiknya dengan cream soup dengan tambahan makanan lain sebagai penganti darah.
"makan lagi ya.. darahmu terbuang banyak" bujuk Jili
"kenyang"
"kerumah sakit ya... kamu butuh darah"
"aku dah makan asupan penambah darah... buat apa ke rumah sakit lagi?“
" ya sudah... kami tidak memaksamu lagi"
"Tidurlah sai"
"Ash... Aku tidak bisa tidur sejak kemarin" ucap Saira pelan
"Kami berada di dekatmu. Tenanglah" ucap Jili
"Apakah Liam akan pergi?" tanya Saira
"Tidak. Tidak akan" ucap Asha dengan cepat. Saira tersenyum namun air matanya mengalir. Hingga akhirnya ia tertidur.
"kau kaget kan? ini masih bukan yang terburuk" ucap Davi
"nyawanya masih selamat. Bisa saja ia memotong nadinya. Ia sama sekali tidak takut darah yang mengalir dari tubuhnya. bisa di katakan ia menikmatinya" ucap Candra
__ADS_1
"menikmati sakit di luka luar daripada di hatinya" lanjut Davi
"Jika kau memang sayang Saira kau harus memahami dan menerima segala bentuk kekurangannya. termasuk psikologisnya"
"pikirkanlah Liam. kami tidak memaksa siapapun untuk bersama adik kecil kami"
"selamanya Saira adalah adik kecil untuk kami. sekalipun nantinya ia sudah menikah dan memiliki anak itu tidak berubah"
"ayo keluar. biarkan pintunya terbuka" ajak Davi
Mereka keluar kamar Saira, Baru satu jam ia tertidur, ia kembali terbangun dengan nafas tidak baik. Kaili. Ia memimpikan Kaili. Kaili mengajaknya, namun Saira menolak dan terbangun. Saira bangun dengan keadaan lemas. Terlihat pintunya di buka lebar. Hanya ada Liam dan Candra yang masih asik bermain PlayStation dan Davi yang asik dengan tumpukan bukunya.
"Kak... Kak... " panggil Saira
"Dek.. Kenapa bangun?" tanya Candra segera menuju kamar Saira
"Mama kak.. Mama dateng... Dia ngajak aku pergi sama dia... Tapi aku tolak kak... Mama cantik banget kak... Aku pengen ikut..." ucap Saira
"Dek" ucap Candra keras. Keributan ini membuat semua yang sudah di kamar kembali terbangun ke kamar Saira
"Tapi.. Aku masih pengen hidup kak. Aku pengen pulang dulu. Aku ingin mama jemput aku di rumah... Bukan di sini" ucap Saira lalu ia tersenyum polos sambil memandangi kakaknya
"Dek... Jangan ngomong gitu" ucap Candra lalu memeluk Saira dengan erat
"Liam... Aku sayang kamu. Hanya saja, aku gak pantes buat kamu. Aku sudah terlalu benci diriku yang lemah, dan membuat jalanmu terhambat, tinggalkan aku Liam... Agar hidupmu lebih baik. Cari calon istri yang sehat, yang bisa merawatmu" ucap Saira pelan
"Aku terima kamu seperti apa... Sekalipun kamu sakit dan hanya terbaring di kasur, aku mampu menjagamu setiap waktu"
"Jika aku tidak bisa memberi kamu anak gimana?"
"Kita bisa adopsi... Sayang... Yang mau aku nikahi kamu.. Dirimu... Semuanya... Bukan fisikmu... Terimalah aku kembali"
"Baik..."
"Terima kasih sayang" Liam sangat bahagia hingga ia memeluk Saira dengan erat.
Hari berikutnya Saira masih belum bangun padahal hampir tengah hari. Selama nafasnya masih berhembus, mereka bisa tenang. Saira bangun saat hampir memasuki saat Asar. Liam membawakan cream soup kesukaan Saira. Liam menyuapi Saira. Walau Saira bahagia, tapi kekhawatiran masih terlihat di matanya.
"Sayang.. Kenapa kamu suka menyiksa diri sendiri? " tanya Liam
__ADS_1
"Entahlah. Hati jika sakit tidak ada obatnya. Aku berfikir, lebih baik berganti dengan luka di sekujur tubuh, itu lebih baik"
"Tidak ada yang baik sayang. Lalu kenapa kamu menolakku?"
"Kan sudah aku jawab... Aku merasa tidak punya masa depan yang baik untukmu. Aku masih takut jika kamu akhirnya akan pergi di saat aku sangat mencintaimu"
"Aku janji. Tidak akan pergi lagi... Sekalipun ke Restoran cabang kalau tidak bersamamu"
"Terima kasih Liam... "
"Hari ini kita pulang ya"
"Kenapa hari ini?"
"Kamu tidak rindu rumah?"
"Hanya saja, aku ingin lebih lama di sini"
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Transferan masih terus masuk"
"Bisa aja kamu" ucap Liam tertawa
"Bisakah kita disini dulu?"
"Baik... Besok kita pulang ya.. Karena lusa Bunda, Ayah, dan om Yelu akan pulang untuk membahas pernikahan kita"
"Benarkah? Kalau begitu sekarang saja. Aku akan membereskan pakaianku" ucap Saira lalu bangun
"Eeiitt... Biar aku... Kamu belum sembuh. Lukamu masih ngilukan?"
"Ehem... "
"Baiklah... Istirahat lah sayang" ucap Liam lalu mulai merapikan pakaian Saira
"Eh... Tapi jangan pegang laci tengah ya" ucap Saira
"Gakpapa. Ini milik istriku... Kelak aku juga akan merawat punyamu"
__ADS_1
"Baiklah"
Mereka kembali ke rumah bersama-sama di hari itu dan meninggalkan Villa yang kembali hanya ada pak umar dan bu umar.