Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 18


__ADS_3

Liam menunggu Saira sampai ia tenang. Ada perasaan sedih dalam diri Liam. Ia menjadi penasaran, saat Saira keguguran saat itu ia di dorong oleh seseorang. Tapi mereka semua melupakan hal yang penting. Ini di sengaja, atau tidak sengaja. Tqpi Liam yakin jika ini murni di sengaja. Jadi kemungkinan orang ini mengenal Saira, dan sengaja ingin mencelakakan Saira. Tapi Liam tidak buka suara. Ia menunggu besok pagi, saat pikiran lainnya lebih terbuka.


Saira baru bisa tidur saat jam sudah lewat tengah malam. Keesokannya ia bangun dan sudah tidak ada Liam di sampingnya. Saira mencari keberadaan Liam. Liam tidak ada di toilet, ia juga tidak ada di balkon. Saira keluar kamar, ia meraih handphone nya yang selesai ia isi daya baterai. Ia menelpon Liam, tapi ternyata handphone nya ada di kamar. Saira keluar kamar, ia langsung turun kebawah menuju meja makan. Ia melihat meja makan ada roti, selai, dan telur dadar. Karena ia merasa badannya membaik, ia duduk di meja makan, dan sarapan menggunakan roti dan telur dadar.


"Mbak dah baikan?" tanya Mirna


"Baikan mir"


"Alhamdulillah kalau begitu mbak"


"Mir, tau obat saya gak? Bawain kemari ya"


"Tau mbak. Tunggu ya mbak"


"Eh yang lain kemana?"


"Yang saya tahu hanya mbak Asha dan Jili di halaman belakang"


"Oke makasih"


"Saya ambilin obatnya ya mbak"


"Eh... Heem"


Tak lama mirna kembali membawa air mineral dan obat Saira. Setelah selesai, ia berjalan k halaman belakang. Terlihat di sana Asha dan Jili duduk di gazebo sambil nyemil makanan kecil. Mereka girang melihat Saira datang dengan keadaan yang terlihat lebih baik. Saira tersenyum, ia ikut gabung dan ikut makan cemilan dengan lainnya.


"Kamu baikan Sai?" tanya Asha


"Ya. Aku merasa lebih lega. Eh, Liam kemana?"


"Joging sama Davi sama Candra" jawab Jili


"Sai, kamu belum lihat lantai 3 kan?" tanya Asha


"Belum,, mana kuat kemarin-kemarin?" tanya Saira


"Gak penasaran sama lantai 3 ?“ tanya Jili


"Setauku kamar dan kolam renang aja sih" ucap Saira


"Lebih... Kayak gym lantai 3 tuh Sai" ucap Asha


"Gym? Fitness?" tanya Saira.


"Iya,, kayak sarana olahraga... Kamar tidur pun gak sebanyak di bawah.... disana lainnya kolam renang dan beberapa alat fitness" jawab Asha dengan detaik


"Suamimu emang gila olahraga Sai" ucap Jili

__ADS_1


Saira hanya tersenyum mendengar ucapan Jili. Ia jadi teringat bentuk tubuh Liam. Tubuhnya yang tegap, gagah, perutnya yang sixpack, kulitnya yang putih bagai berlian. Benar-benar impian setiap wanita. Liam ibarat pangeran. Pangeran tampan dan sempurna untuk Saira seorang. Saira hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat dia terpesona dan merindukan Liam.


"Eh tuh suara mereka" ucap Jili


"Mungkin langsung fitness" ucap Asha


"Kesana yuk" ajak Saira


"Kamu sehat Sai?" tanya Asha


"Mumpung aku sehat. Ayo" ajak Saira pergi duluan menuju lantai 3.


"Eh,, kamu naik 2 lantai aja udah gak bener nafasnya" ucap Jili


"Istirahat dulu dong ili" ucap Saira


"Inhaler dimana?" tanya Asha


"Kantong celana"


"Oke. Ayok" Jili menyusul Saira pergi lalu di susul Asha


Saira berhenti di lantai 2, meminta Asha dan Jili pergi terlebih dahulu. Sebenarnya baru naik satu lantai saja sudah seperti berlari. Nafas Saira seperti ngos-ngosan. Tak lama, ia naik ke lantai 3. Ia melihat kedua temannya berhenti di tangga teratas. Mata mereka terpaku pada satu titik.


"Kenapa pada berhenti?" tanya Saira dengan nafas masih ngos-ngosan


"Apa sih?" tanya Saira penasaran


"Naluri perempuan Sai" lanjut Jili


"mereka gak pakai baju sai" ucap Asha


"liat mereka yang olahraga gitu keliatan tambah tampan" ucap Jili


"mereka sempurna Sai" ucap Asha


"apa sih... dah pada nikahkan" ucap Saira


"Sejak kapan kalian di sana?” Tanya Candra


"baru... Baru aja" jawab Jili


"Dek... Kamu dah sehat?" tanya Davi


"Saira di sini?" tanya Liam


"Di belakangmu" jawab Davi lalu Liam menoleh lalu menghentikan olahraganya

__ADS_1


"Sayang... Ayo duduk.." ajak Liam mengajak Saira ke sofa. Di samping sofa ternyata ada kulkas kecil, dan di atas kulkas ada air mineral tidak dingin.


"Mau dingin minumnya?" tanya Liam


"Ya" lalu Liam memberikan air mineral dingin ke Saira


"Kalian disini ambil minum sendiri. Mau lanjut" ucap Liam ke Asha dan Jili


"Mau ikut fitness sayang?“ tanya Candra


" eh. Gak... " ucap Jili


"Habis ini kamu makan ya... Lalu minum obat" ucap Liam


"Sudah" jawab Saira membuat kedua kakaknya menatapnya


"Bohong" ucap Davi


"Eh... Tanya Mirna... Atau lihat cctv" ucap Saira kesal


"Benar, mari kita lihat" ucap Liam lalu mengambil hp nya dan melihat history cctv


"Alhamdulillah kamu dah baikan dek" ucap Davi penuh syukur


"Makan lagi. Nanti aku mau ngomong sesuatu kesemua" ucap Liam


"Sekarang ajalah.. Jangan bikin penasaran" ucap Jili


"Nanti aja. Ini belum selesai" jawab Liam tegas dan keras


"galak amat!!“ celetuk Saira dengan wajah kusut


Namun Saira masih menebak-nebak, apa yang akan di bicarakan Liam. Saira memandang Liam tajam. Namun Liam cuek, dan fokus ke Olahraganya. Saira kesal, ia beranjak dari sofa dan turun ke kamarnya. Asha dan Jili mengikutinya. Namun Saira tidak ingin mereka ikuti. Asha dan Jili mundur, mereka berhenti dan kembali duduk di sofa sambil mengobrol.


Saira masuk kekamar dan menguncinya dari dalam. Ia kesal, bicara sambil olahraga juga bisakan, kenapa harus bicara keras, kan bisa diam atau paling tidak bicara tidak keras. Saira lalu mandi dengan wajah di kesal. Belum ada setengah jam ia berada di kamar mandi, handphone nya sudah berdering, Liam yang telpon.


"Kenapa di kunci pintunya?“


"Baru mandi"


"Tidak perlu di kunci sayang"


"Perlu... Kau mandi saja di kamar mandi lantai 3 atau lantai 1. Aku masih lama"


"Kau belum boleh berendam sayang"


"Iya... "

__ADS_1


Saira bahkan belum mandi pada saat itu. Ia duduk di depan meja rias, sambil memainkan handphone nya sambil menebak-nebak, apa yang Liam bicarakan dengan serius. Saira menghela nafas keras-keras, ia akhirnya mandi, setelah ia selesai dan keluar kamar, ia menemukan yang lainnya sudah berada di ruang keluarga lantai 2 dengan penampilan yang lebih rapi. Liam juga terlihat sudah mandi, ia memakai kaos putih dan celana pendek putih, ditambah dengan kulitnya yang putih bersih, dan rambutnya yang basah terlihat lebih tampan, membuat dirinya terpesona oleh suaminya sendiri.


__ADS_2