Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 23


__ADS_3

Setelah Liam sembuh, minggu berikutnya ia mengajak Saira pulang ke Bandung bersama Tristan dan Laras. karena Tristan dan Laras akan menikah di Bandung. Saira tidak sabar menunggu pesta pernikahan mereka, selain itu ia sangat menikmati pemandangan dan udara di sana, sangat segar. Apalagi saat Liam memberitahu betapa luasnya perkebunan Haikal. Membuat Saira benar-benar takjub dengan pemandangan hijau sejauh matanya memandang.


Yuna dan Haikal menyambut kedatangan mereka. Yuna sangat bahagia, saat Saira dan Laras bisa mengunjungi mereka di Bandung. Yuna mengajak Saira dan Laras berkeliling rumah. Rumah Yuna memiliki halaman yang luas. Tak jauh dari perkebunannya. Seberang rumah mereka ada 2 lahan kosong, yang ternyata juga milik Haikal yang memang sengaja Haikal beli untuk Liam dan Tristan.


Rumah Haikal dan Yuna 2 tingkat. Di dalamnya serba minimalis. Di belakang ada kolam renang, ruangan khusus untuk berolahraga, dan sebuah mushola untuk beribadah.. Di halaman depan, tampak ada gazebo yang tidak terlalu besar dengan tanaman di sekitarnya, dan ada sebuah pohon mangga yang menjulang tinggi. Yuna menunjukan dapurnya, ia mengambil beberapa cemilan dan minuman untuk di bawa ke lantai 2. kamar Saira dan Laras yang ada di lantai 2. Saira dan Laras saat tiba di lantai 2 sudah melihat 3 lelaki ini berdiskusi serius, dan tampak ada 2 orang lagi yang tidak mereka kenal, 1 perempuan dan 1 laki-laki.


"bunda... Siapa mereka?" bisik Saira


"arsitek Saira. Untuk mendesain rumah untukmu dan calon menantu bunda" ucap Yuna yang pandangannya mengarah ke Laras juga


"Termasuk aku tante" tanya Laras


"Iya sayang... Kau adalah calon menantuku"


"Eh... Sayang kemari... Desain rumah seperti apa yang kau mau?" tanya Liam


"Laras, katakanlah ke kak Mukti dan kak Cethy"


"Haruskah?"


"Jangan malu. Sebentar lagi kita menikah. Katakanlah ke kak Mukti" bujuk Tristan


"Katakanlah ke Kak Cethy. Ia adik kak mukti" ucap Liam ke Saira


"Mungkin classic atau minimalis modern... Aku sempat membayangkan, setelah membuka pagar, ruang bawah kosong, mungkin untuk parkir atau di isi lainnya di luarnya ada tangga keatas kerumah" ucap Laras


"bagaimana denganmu sayang?" tanya Liam


"ehm... " tak ada jawaban pasti dari Saira


"mungkin ruang bawah bisa di isi dengan ruang untuk Saira" usul Laras


"Hem? Memang aku kenapa? ruang apa coba" komentar Saira


"ruang perawatanmu jika ada sesuatu yang buruk terjadi" jawab Laras


"pertolongan pertama" ulang Tristan


"ruang seperti kedokteran kah?" tanya Cethy

__ADS_1


"bisa jadi" ucap Laras


"Bagus. Saya bisa bayangkan" ucap Mukti


"Bukankah Tristan dokter pribadimu?"


"Bagaimana dengan rumah yang kau inginkan?" lanjut Liam ke Saira


"Mungkin tidak berbeda jauh dengan rumah kita sekarang. Hanya saja, aku ingin setelah buka tirai kamar, melihat kolam renang, dan aku ingin model pintunya pintu geser, di perbanyak dinding kaca yang di tutup Tirai"


"Kau suka Glass house ya Sayang" tanya Yuna


"Hanya saja, lebih banyak cahaya yang masuk bunda..."


"Bisa seperti itu? Membuat denahnya?" tanya Liam


"Bisa di atur kak" jawab Mukti


Setelah ngobrol sesaat mukti dan Cethy pulang. Pertemuan selanjutnya 5 hari lagi setelah Tristan menikah. Saira belum menyadari jika ada kemungkinan mereka akan tinggal di Bandung. Karena sekarang Saira dan Liam sudah mempunyai rumah, di Solo. Tapi Laras menyadarinya, ia yang seorang yatim piatu, tinggal hanya dengan keluarga kakaknya. Bagaimana pun ia tidak bisa terus tinggal di sana. Beruntungnya 3 hari lagi ia akan menikah.


Malam harinya setelah makan malam, Yuna dan Haikal tidur terlebih dahulu. Sedangkan mereka berempat asik nonton film, sambil bermain kartu. Bi Murni pembantu mereka, datang sambil membawakan mereka 4 minuman dan cemilan, termasuk gorengan yang masih panas. Mereka berempat menyambutnya, dan berterima kasih. Karena Bi Murni pengertian sekali, cemilan malam adalah kesukaan mereka.


"kalian tidak takut gemuk?" tanya Tristan


"kompak sekali kalian" timpal Liam


"Tahu crispy bikinan bi Murni ini enak yank" ucap Saira


"Tristan paling menyukai Tahu crispy Bi Murni" ucap Liam


"Eh, aku ada pertanyaan" ucap Laras


"Apa? "


"Mengapa bikin rumah di sini? Apakah kalian ingin memboyong kami dan pindah kemari?" tanya Laras ingin memastikan


"Eh... Iya ya... Kenapa?"lanjut Saira


"Ada kemungkinan seperti itu" jawab Tristan dan Liam hampir bersamaan

__ADS_1


"Nah... Gimana pekerjaanku?" tanya Laras


"Bukankah kau sudah berjanji setelah menikah kau akan segera keluar, dan ikut kemanapun aku pergi?"tanya Tristan


"Oh benar... Oh Tristan... Sebenarnya aku sudah keluar dari pekerjaanku 3 hari lalu"


"Nah.... Kau mau memberikanku kejutan hah" ucap Tristan lalu tertawa dan mencium pipi Laras


"Butikku? Bagaimana?"


"Ada Asha sayang... Kau bisa membuka cabang di sini"


"Bisa aku bantu di sini" ucap Laras


"Benar" ucap Tristan dan Liam yang bersamaan


"Bicaralah ke kedua kakakku"


"Mereka dan bahkan papamu, sudah menyerahkanmu padaku. Tenang saja"


"Jadi mereka juga sudah tau dan setuju?"


"Ya"


"Kapan kau berbicara dengan mereka?"


"Sudah lama, sebelum kedua kakakmu menikah... Dan beberapa hari lalu aku luruskan"


"Ah... Dan mereka tidak mengatakan apapun padaku"


"Aku yang minta sayang. Agar mereka diam"


"Film habis... Tidur yuk..." ajak Laras


"Izinkan malam ini aku tidur dengan mbak Laras"


"Oke... Tidurlah sayang... Jangan lupa obat dan vitamin mu"


"Ya... "

__ADS_1


"Tidur dulu ya... Calon suami... "


"Iya calon istri.. Aku masih di sini dengan kak Liam" ucap Tristan lalu melempar charging stand, mengajaknya bermain play Station. Tanpa sadar jam 1 malam mereka tertidur di ruang televisi dengan televisi yang menyala.


__ADS_2