Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 9


__ADS_3

Saira pulang, Yuna dan Haikal langsung kembali menuju Bandung. Sedangkan Liam tidak jadi berangkat, dan akan di tunda satu atau dua hari. Sama dengan Faiz, ia sementara istirahat di rumah Liam.


Hari berikutnya Liam berkunjung kerumah Saira. Kebetulan saat itu Saira sendiri, hanya dengan pembantu di rumah. Karena Candra dan Davi tentunya bekerja, dan Yelu berada di luar negeri, dan berangkat dengan penerbangan pertama.


Saat Liam sampai rumah Saira, Saira tertidur di ruang keluarga. Terlihat ia sedang melakukan edit gambar pakaian untuk butiknya. Liam tidak ingin menganggu Saira, namun, saat Liam akan membopong Saira kekamar, Saira terbangun.


"Oh, sudah datang sayang?"


"Istirahat di kamar aja Saira"


"Aku ada pekerjaan. Jika gak aku edit sekarang, toko di aplikasi online ku gak tambah barang"


"Ingat tubuhmu"


"Aku gakpapa... Aku rajin minum obat"


"Sayangku... Minum obat saja tidak cukup jika kamu tidak istirahat"


"Tenanglah... Perkerjaanku tidak lama... Ini jam berapa? Jam 10 ya... Jam 11 pasti selesai"


"Oke..."


"Nih.. Lihat film" ucap Saira lalu memberikan remot tv ke Liam


Liam asik melihat film, dan Saira asik dengan pekerjaannya. Sampai film 2 jam selesai Saira belum selesai. Hingga mbak ana mengingatkan Saira untuk makan siang barulah ia sadar jika jam sudah jam 12 lebih. Saira menyimpan semua pekerjaannya, dan beranjak untuk makan siang dengan Liam. Tetap tidak berubah, atau bahkan ***** makan Saira lebih sedikit dari biasanya. Liam hanya terdiam sedih melihat Saira yang terlihat sakit namun merasa sehat.


"Sayang.. Aku dan Faiz akan berangkat besok" ucap Liam setelah selesai makan


Saira berhenti makan. Ia menaruh sendok dan garpunya, "kamu sudah sembuh?“ tanya Saira


"Kepalaku tidak di perban seperti kemarin kan? Hanya luka kecil sayang"


"Tidak bisakah mundur lagi?"

__ADS_1


"Jadwalku sudah mundur sayang"


"Baiklah... Pulanglah.. Istirahat lebih awal. Aku ke kamar dulu" ucap Saira marah, kesal, dengan nafas memburu dan segera menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam


"Sayang... Sayang... Kamu marah?“ tanya Liam sambil mengetuk pintu kamar Saira


"Pulanglah untuk istirahat" jawab Saira dengan suara serak


"Sayang.. Kamu gak nangis kan?“


"Pulang! Aku gak punya kekuatan untuk berteriak... Ini akan sakit" ucap Saira


"Maafkan aku sayang... Ini kewajibanku" ucap Liam lalu pulang


'Kamu belum sembuh. Aku gak mau kamu kenapa-napa... Aku khawatir' batin Saira


Di malam hari, Davi mengetuk pintu kamar Saira. Sesorean tidak keluar kamar, kenapa lagi ini, batin Davi. Davi mencoba mengetuk namun tak ada jawaban, ia mencoba mengetuk lebih keras, dan hanya suara erangan, Saira seperti bangun tidur. Davi bernafas lega karena adiknya hanya tertidur. Tapi ia tunggu satu jam lebih tak keluar kamar, ia mulai khawatir.


"Saira... Dek... Kamu dah bangun?"


"Makan yuk" ajak Davi


"Gak laper kak"


"Kamu perlu minum obat, jadi kamu perlu makan"


"hem?"


"Dek... Kamu pengen sembuhkan? Jika sudah sembuh kamu akan menikah dengan Liam" sahut Candra mulai buka suara


"Aku gak laper kak"


"Gak laper juga harus makan! Demi sehat" ucap Candra lagi

__ADS_1


"Kak... Jangan maksa... Aku gak bisa terusan teriak. Sakit ini"


"Sandwich, mie, burger, pizza, spagetti? Kamu mau apa kakak belikan"


"Oke. Burger sama es teh. Tapi taruh depan pintu aja ya. Bilang aja kalau sudah beli"


"oke... Kakak carikan" ucal Davi segera meluncur


Selang setengah jam, Davi pulang membawa pesanan Saira beserta obat yang harus Saira minum. Saira hanya menjawab sekenanya, dan segera mengambilnya setelah beberapa detik Davi melangkah pergi. Namun tidak juga ia makan, hanya ia pandang. Tanpa ia sentuh. Handphone Saira berdering, ia panik, karena Liam yang meneleponnya. Segera ia banting, ia rusak hingga layar LCD nya pecah. Setelah Saira sadar, ia membatin, untuk apa sampai merusak handphonenya. Cukup menunggu atau di matikan.


"Dek... Handphone mu kenapa?" tanya Candra dari balik pintu


"Jatuh. Mati. Layar pecah" jawab Saira beralasan


"Kok bisa? Bukalah pintunya!" ucap Candra


"Pergilah. Aku ingin sendiri"


"Eh... Jangan-jangan makanannya belum di makan? Obatnya belum diminum?" tanya Candra


"Pergilah"


"Liam telpon lagi nih!"


"Jawab aja tidur"


"Saira minta dijawab tidur Am" jawab Candra


"Kak kok bilang gtu sih? Terserahlah apa katamu! Jangan harap aku keluar kamar atau makan kalau kalian semua terus ngatur aku!" Cerocos Saira marah


"Liam kau dengarkan apa yang di katakan Saira... Besok kau kemarilah sebentar sebelum berangkat... Oke makasih Am" jawab Candra lalu mematikan handphonenya dan pergi menjauh


"Jangan ganggu aku lagi!!?" teriak Saira semampunya, walau merasakan perih di lukanya.

__ADS_1


Nafas Saira tersengal-sengal. Saira merasa, kenapa dia jadi lebih sensitif daripada dulu. Hanya karena di tinggal Liam kenapa dia harus marah dan membuat diri sendiri sakit. Namun entah kenapa Saira merasakan nyaman jika dirinya sakit atau terluka yang terlihat seperti sekarang. Saat sakit hati seperti ini nikmat rasanya jika ia terluka. Paling tidak sakit di hatinya berpindah ke sakit luka di jantungnya.


Saira menatap makanan tersebut. Mungkin akan ia makan tengah malam nanti jika dirinya terbangun, atau jika sakit di lukanya sedikit membaik. Untuk saat ini dia akan tidur, dan tidak akan menghiraukan apapun yang kakaknya teriakkan nantinya.


__ADS_2