Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 27


__ADS_3

Saira membuka kain putih, ia di bantu Yuna. Saira Shock dengan apa yang ia lihat. Ia langsung pingsan seketika. Yuna menunggui Saira dengan sabar, sampai Saira bangun. Saat Saira sadar dari pingsan, air mata terus mengalir di pipinya. Yuna hanya bisa memeluk dan berusaha menenangkannya. Apalagi Karena Yelu datang sudah hampir petang. Jasad Yelu akan di makamkan keesokan harinya. Membuat hati Saira miris melihat Jasad ayahnya. Tak ada lagi suara ayahnya, atau sosok Yelu yang gagah, yang selalu tampak menawan di mata Saira. Saira masih berifikir ini hanya mimpi.


Saira hampir tidak tidur semalaman. Pikirannya di penuhi dengan kenangan Yelu. Perasaan menyesal menyergap kedalam hati dan pikiran Saira. Saat Yelu masih hidup, walau Yelu di rumah, mereka juga jarang ngobrol selayaknya anak dan orang tua. Apalagi saat Yelu bekerja, sekalipun tidak pernah menghubungi Yelu. Hubungan Saira dan Yelu benar-benar buruk. Tapi Yelu termasuk papa yang baik bagi Saira.


Hari berikutnya Yelu di makamkan pukul 10 pagi. Saira sampai sudah tidak mampu menangis lagi. Ia pun juga hanya diam, tidak berkata apapun, tidak makan apapun. Sampai pemakamannya selesai, Saira masih merasa ini hanya mimpi, dan Yelu akan kembali entah kapan. Tapi Saira sadar jika baru saja Yelu di makamkan. Tubuh Yelu sudah dingin, kulitnya pucat, tubuhnya kaku. Tidak ada lagi suara ayahnya. Saira sadar ia sekarang benar-benar menjadi seorang yatim piatu.


Malam hari diadakan tahlilan. Hanya orang terdekat dan sekitar komplek. Sedangkan Saira dikamar menatap layar laptopnya, yang tersimpan foto Yelu. Asha mengetuk pintu kamar Saira. Ia masuk sambil membawakan susu dan Sandwich. Asha melihat Air mata Saira mengalir melihat foto Yelu.


"Sai.. Makan dulu. Kau tidak makan apapun sejak kemarin" bujuk Asha. Namun Saira menggelengkan kepalanya


"Saira... Coba kamu pikirkan Liam... dan kedua kakakmu. Jika kau sakit apa mereka tidak sedih. Saira... Kau boleh berada di kamar, kau boleh bersedih, tapi papa Yelu juga tidak akan tenang di sana" ucap Asha


"Ash... Aku merasa bersalah Ash... "


"Bersalah kenapa?“


"Saat papa di rumah kami jarang ngobrol, kami gak dekat. Apalagi saat papa kerja, jika ada komunikasi pasti lewat kakak... Aku menyesal karena tidak dekat dengan papa"


"Penyesalan memang terakhir Sai... Tapi papa Yelu selalu sayang Saira. Saira selalu nomor satu buat papa Yelu. Karena Saira anak tersayang almarhum mama Kaili. Kuatlah Saira, jika bukan karena dirimu sendiri, demi suami dan kakakmu"


"Terima kasih.. Terima kasih Asha" ucap Saira lalu memeluk Asha


"Ini di makan ya... Hanya 2 potong habiskan..." Saira mengambil Sandwich yang Asha sediakan, dan memakannya dengan lahap


"Yang lain sedang tahlilan?“


"Iya..."


"Siapa aja yang datang?“


"Orang terdekat banyak yang datang. Termasuk sahabat lama papa Yelu, dan almarhum mama Kaili, termasuk sahabat om Haikal dan tante Yuna"


"Tristan dan mbak Laras datang?"


"Datang... Mbak Laras bantu Jili di dapur. Mau ikut ke dapur?“

__ADS_1


"Ayo"


Laras langsung memeluk Saira, saat Saira muncul di dapur. Terlihat wajah kusut, dan kantung mata yang menggantung di wajah Saira. Terlihat jelas kesedihan masih terpancar diwajahnya.


"Aku ikut berduka ya Saira" ucap Laras


"Makasih mbak. Ehm, kok sepi, tidak terdengar suara orang membaca seperti tadi?" tanya Saira


"Sudah selesai Sai,, baru aja selesai anter makan ke tamu" jawab Jili


"Kamu gakpapa kan?“ tanya Laras


"Aku Sehat mbak"


"Kemari... Aku membawa puding coklat, setauku kamu suka puding coklat kan?" tanya Laras. Saira hanya tersenyum


"Aku potongkan ya" tawar Jili


"Boleh"


"Kau khawatir dengan tubuh Saira?" tanya Tristan


"Ya... Dia tidak tidur semalaman, dia tidak makan sejak kemarin"


"Aku siaga 24 jam" timpal Tristan


"Liam... Tristan... " panggil Saira yang menyadari mereka ternyata mengamati mereka dari tadi


"Sayang... Makanlah lagi.. Kau mau apa akan aku carikan" ucap Liam


"Aku... Ingin segera pindah ke Bandung" ucapan Saira mengangetkan semua orang


"Kenapa Sai? Kenapa buru-buru pindah?“ tanya Jili


"Hanya rindu suasana baru" jawab Saira sambil menghembuskan nafasnya

__ADS_1


"Gak mungkin jika tidak dengan Tristan. Aku hanya percaya Tristan sayang"


"Tenanglah. Perpindahanku ke Bandung sudah hampir selesai. Kemungkinan berangkat minggu depan" ucap Tristan


"Tapi... Itu Terlalu lama" ucap Saira


"Lalu kapan kau ingin kesana sayang?" tanya Liam


"Besok kalau bisa"


"Saira... Kamu jangan melarikan diri dari kesedihan" ucap Candra


"Maksud kakak?"


"Kamu disini akan teringat papa. Itu membuatmu sedihkan" ucap Candra


"Kak... Aku.. Hanya ingin suasana baru..." elak Saira


"Jangan mengelak dek" ucap Davi


"Jangan maksa kak. Jika g bisa besok gakpapa. Tapi aku hanya ingin pindah ke Bandung"


"Baiklah... Tapi kita perlu mempersiapkan barang yang memang harus kita bawa kesana. Aku juga perlu ke restoran dulu sayang"


"Saira bisa pulang dengan bunda Liam" ucap Yuna muncul, dari balik pintu


"Bunda... “ucap Saira.


"Bunda tau perasaanmu sayang... Jika kamu tidak ingin menunggu Liam atau Tristan, masih ada bunda" ucap Yuna


"Tidak bunda. Saira harus bersamaku. Akanku atur waktunya"


"Terus rumah disini?“ tanya Saira


"Tenang sayang, akan di tempati Davi dan Asha. Aku sudah berbicara dengan mereka" Saira memandangi Liam. Ia tersenyum dengan keputusan Liam yang selalu mendukungnya.

__ADS_1


__ADS_2