
Setelah 5 hari di rumah sakit, akhirnya hasilnya keluar. Davi, Candra, Liam, Asha, dan Jili menunggu hasilnya denggan perasaan tak menentu. Tristan masuk kekamar Saira dengan wajah muram dan takut. Perasaan Liam tidak enak jika melihat raut wajah Tristan. Tristan duduk. Ia memutar-mutar hasilnya. Ia berat mengutarakan hasilnya ke kakaknya. Ke calon kakak iparnya.
"Tristan, aku tau kamu sulit. Tapi ini sakitku. Apapun itu, aku terima" ucap Saira
"katakan!" ucap Liam yang masih melihat gelagat Tristan untuk diam
"Perikarditis konstrikrif" ucap Tristan pelan
"Apa itu?* tanya Asha
"peradangan perikardium yang langka, di mana terjadi penebalan dan luka permanen pada perikardium. Ini termasuk radang jantung"
"Penyebabnya apa?" tanya Davi
"Untuk kasusmu, kemungkinan Virus influenza"
"Pengobatannya?" tanya Candra
"Perikardiektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat perikardium"
"Saira operasi?" tanya Davi
"Ya... Mungkin kalian bisa memberitahu om Yelu" ungkap Tristan
"Papa sudah dengarkan?" tanya Davi di telpon, yang ternyata sejak awal Tristan masuk Davi sudah menelpon Yelu
"Davi... Candra... Urus semua operasi Saira. Lakukan segera" ungkap Yelu lalu mematikan handphonenya.
Akhirnya Saira di operasi. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar, untuk operasi. Setelah selesai operasi Saira perlu di ruang icu selama 4 hari. Selama di ruang icu Saira hanya di jenguk oleh Davi atau Candra. Karena ketentuan ruang icu hanya boleh di jenguk keluarga. Setelah itu ia di rawat di ruang rawat inap vvip. Saira senang saat dia bisa kembali ke ruang rawat inap. Tidak lagi di icu. Saira di rawat di rumah sakit pasca operasi hampir 2 minggu, dan ia tidak bisa lepas dari oksigen. Di hari ia pulang kerumah, hari itulah hari ulang tahun Saira, dan masih terus waspada apabila asmanya drop lagi.
Tristan terus mengingatkan selama pemulihan di rumah, Saira di wajibkan istirahat total, tidak memakai pakaian ketat, tidak pergi-pergi, sampai-sampai air mandipun harus di perhatikan dan terutama tidak naik turun tangga. Tidak hanya itu, makanan pun tak luput. Makanan harus yang rendah lemak, rendah garam, harus mau makan, makanan yang sehat dulu selama masa pemulihan. Bagaimanapun Saira akhirnya menurut saja untuk kali ini. Entah nantinya apakah ia bisa menurut atau tidak. pikir Saira
Akhirnya Saira pulang. Dia di jemput Liam dan Candra. Setelah sampai rumah, banyak yang menyambutnya. Yelu, Haikal, Yuna, Asha, Jili, Davi, mbak Ana, dan pak Nunung, satpam rumahnya. Yelu meminta Saira segera istirahat. Karena nanti malam akan ada pesta ulang tahun untuknya, walau hanya beberapa orang saja, tapi orang-orang ini yang terdekat dengan Saira.
Malam hari tiba. Sudah banyak yang datang, hanya kurang Tristan dan pacarnya. Namun Saira masih di dalam kamar. Ia merasa malu. Walau Saira di dandani, walau ia berpakaian bagus, Tapi tetap saja, tidak bisa menutupi penyakit yang di deritanya kemarin. Walau Saira terlihat kuat, dan baik-baik saja, namun tidak dengan hatinya. Ia sedih, kenapa dia harus mendapat penyakit yang sulit. walau sudah operasi tetap saja tidak menutup kemungkinan akan ada sakit lainnya.
__ADS_1
"Saira.. Papa masuk nak" Tiba-tiba terdengar suara Yelu dari balik pintu
"Iya pa" jawab Saira
"Sayang... Ngapain di dalem, sudah pada datang" ucap Yelu
"Aku.. Aku malu pa..." ucap Saira
"Malu?"
"Lihat... Apakah aku tidak seperti mayat hidup yang di dandani?"
"Kau cantik anakku"
"Benarkah?"
"Saira... Hadiah papa ke kamu, papa merestui hubunganmu dengan Liam"
"Benarkah... Benarkah pa? Terima kasih pa" ucap Saira bahagia lalu memeluk Yelu
Saira keluar kamar, ia melihat banyak perubahan yang tidak ia sadari saat pulang. Ada foto mamanya yang di pajang. Saira menangis haru. Ia memandang lama foto Kaili. Foto Kaili saat muda sangat mirip dengannya. Ia bergumam pelan, dan mengucapkan terima kasih ke Yelu.
"Mamamu cantik seperti kamu" ucap Asha
"Aku senang, sekarang aku bisa Berlama-lama memandang foto mama, tanpa harus berimajinasi" ucap Saira
"Duduk yuk... Kamu berdiri terlalu lama" ajak Jili
"di teras saja"
Saira, Asha, dan Jili duduk-duduk di teras sembari menunggu semua persiapan selesai di halaman belakang. Tak lama ada sebuah mobil masuk. Terlihat seorang perempuan keluar dari mobil tersebut. Perempuan itu tidak asing untuk mereka bertiga. Perempuan itu tersenyum dan menghampiri mereka.
"Mbak Laras?" tanya Saira
"Saira... Gimana kabarmu... Aku dengar kamu sakit... " tanya Laras
__ADS_1
"Udah operasi mbak.. Udah baikan" jawab Saira
"Sama siapa kesini mbak?" tanya Asha
"Pacarku. Masih parkirin mobilnya" ucap Laras
"Sayang... Jangan terlalu lama di luar, udara malam gak baik" ajak Liam
"Mbak Laras, ini Liam pacarku" ucap Saira
"Halo... Laras...."
"Liam"
"Kak... Bunda mana? Handphonenya ketinggalan di mobil" ucap Tristan
"Loe dah dateng... Bunda di dalem. Katanya loe ngajak pacar. Mana pacar loe?" tanya Liam
"Ini..." tunjuk Tristan ke Laras
"Oh kak Liam kakaknya Tristan, dan Saira, calon kakak ipar Tristan?" tanya Laras
"Kamu sudah kenal Saira?" tanya Tristan
"Ya... Saira, Asha, Jili, adik kelasku SMP dan SMA" ucap Laras
"Kak Tristan umur kakak berapa sih?“ tanya Jili
"gue 24. Laras 22. Kak Liam 25" jawab Tristan
"Jarak kak Liam sama kak Tristan setahun aja ya?“ tanya Asha
"1 tahun 10 bulan" jawab Tristan
"Ayo masuk, semua sudah siap" ajak Liam
__ADS_1