
Acara pesta ulang tahun Saira berjalan dengan meriah. Tibalah di acara puncak yang Liam persiapkan. Di hadapan semua orang, Liam berlutut di depan Saira, dan mengeluarkan sebuah cincin cantik. Liam melamar Saira, kebahagiaan meliputi Saira, namun ia takut jika Yelu melarangnya lagi. Saira menatap Yelu, dan Yelu mengangguk memperbolehkan Saira menikah dengan Liam. Saira menerima lamaran Liam. Mereka bertepuk tangan, dan menyalakan kembang api.
"Oh selamat sayang" ucap Yuna lalu memeluk Saira
"Makasih bunda"
"Saira sayang. Maafkan bunda, besok bunda dan Ayah harus pulang ke Bandung. Kami harus mengurus perkebunan, dan perkembangan restoran" ucap Yuna
"Apakah lama?"
"Semoga tidak sayang. Setelah semua selesai, kami akan kemari lagi untuk membicarkan pernikahan kalian" ucap Yuna
"Bund, jika Saira akan menikah paling tidak 3 bulan lagi, hingga ia benar-benar pulih, dan luka operasinya mengering" ucap Tristan
"Begitulkah?“ tanya Yuna
" kak... Ini buat kebaikan Calon kakak ipar gue, dan gue ngomong sebagai dokternya" ucap Tristan ke Liam yang tatapannya tidak menyenangkan
"Sayang... Aku juga harus pergi besok" ucap Liam
"Kemana? Lalu bagaimana restoran di sini?" tanya Saira
"Ada Tristan. Aku perlu ke Jawa timur, dan Bali"
"Ada acara apa?“
"Hanya kunjungan perbulan. Tidak akan lama sayang"
"Berhati-hatilah... Bunda... Ayah.... Jaga kesehatan disana ya" ucap Saira pelan lalu memeluk Yuna dan Haikal
"Kau lelah, istirahatlah lebih awal" ucap Liam lalu mencium kening Saira
"Malam ini tinggal sini ya" pinta Saira ke Asha dan Jili
"Oke sayang. Kita izin dlu ya" ucap Asha dan Jili yang hampir bersamaan
"Kami pulang dlu ya... Sudah larut malam... Nanti aku telpon jika kau belum tidur" ucap Liam
"Ya... Hati-hati... Segeralah kembali" ucap Saira
"Masuklah kekamar dek... Ash... ili temani Saira ya" pinta Davi
Saira, Asha, dan Jili masuk kekamar. Wajah Saira terlihat muram, Asha dan Jili hanya berpandangan, tanpa bertanya lebih jauh. Karena kemungkinan, Saira sedih karena Liam akan pergi entah sampai kapan, itu yang ada dalam pikiran mereka.
Pagi harinya saat Asha terbangun, ia sudah melihat Saira duduk di kursi gantung di balkon kamar. Disusul Jili yang ikut bangun. Mereka mendekati Saira. Saira terlihat melamun, bahkan sandwich dan obat yang ada di sampingnya saja tidak ia sentuh.
"Dari kemarin diam aja Sai... Kenapa?“ tanya Asha
__ADS_1
"hoooaaaamm... Cerita lah" ucap Jili yang masih terlihat mengantuk
"Mata kalian aja masin ngantuk... Tidur lagi sana.."
"Sai... Ini dah jam 6 masak mau tidur lagi" ucap Asha lalu duduk di sofa balkon
"Sandwich ini kamu suka kan? Kenapa belum di makan... Masih banyak banget ini Sai" ucap Jili duduk di samping Asha
"Aku... Kepikiran Liam"
"Tentang kepergian Liam?" tanya Asha
"Berdoa aja biar dia selamat dimanapun dia berada" ucap Jili
"Itu salah satunya. Tapi aku sedikit tenang, karena dia akan pergi bersama temannya, jadi ada teman lebih baik daripada sendiri"
"Darimana kamu tau kalau dia dengan teman?“ tanya Jili
"di chat tadi"
"Bawahannya maksudnya?" tanya Asha
"Bukan,, jadi di restoran Liam, beberapa restoran di kota besar, jadi satu dengan oleh-oleh joglosemar, nah, oleh-oleh itu punya temannya ini"
"Terus, temannya ini siapa?" tanya Jili
"Yang pasti cowok. Umur katanya 35 lebih, istri dia bawahan bunda Yuna di klinik kecantikan. Waktu itu dia di phk karena bangkrut, lalu di tolong om Haikal dan Liam"
"Liam cerita"
"Sudah punya anak dia?" tanya Jili
"Kalian kalau penasaran, tanya aja ke Liam sendiri... Atau lihat beberapa chat nya di handphone"
"Eh... Iya... Gak usah Sai" jawab Asha dan Jili hampir bersamaan lalu tertawa hambar
"Terus kamu murung kenapa?" tanya Asha
"Aku takut Ash... ili... Kelak akan merepotkan Liam... Kalian tau sendiri bagaimana tubuhku"
"Sai... Kamu lebih lama mengenal Liam daripada kami. Kami saja bisa menilai Liam bagaiamana, kenapa kamu tidak?" tanya Jili
"Aku bisa menilainya... Tapi resiko tetap ada"
"Sai... Jika Liam dengar mungkin dia sedih, bahkan marah karena kamu gak percaya dia" ucap Asha
"Saira... Jangan memikirkan hal yang membuat hubungan kalian hancur..." imbuh Jili
__ADS_1
"Percayalah padanya.... Jika kau di khianati Liam, kau masih mempunyai kami" ucap Asha
"Kami akan selalu di dekatmu" imbuh Jili
"Terima kasih"
"Dek... Asha... Jili.... Bangun... Gawat" teriak Candra yang terdengar panik dari balik pintu
"Apa?" tanya Asha
"Liam kecelakaan... Dia ke rumah sakit yang tugas Tristan" ucap Candra lalu menarik tangan Saira untuk segera ikut dengannya
Saira hanya diam. Ia tak mampu berkata apapun. Nafasnya memburu. Kekhawatiran menyergap hati dan pikirannya. Hanya dengan kaos oblong, dan hotpants, dan tanpa membawa apapun Saira langsung pergi kerumah sakit, dengan Candra, Asha, Jili, dan Davi.
Di rumah sakit,
Liam terlihat tidak baik. Lecet di kaki dan tangan, dan luka di kepala, yang harus di perban. Sedangkan temannya yang mengendarai di depan tidak terlalu parah, hanya lecet dan tidak ada luka yang parah padanya. Setelah Liam dirawat, Liam berjalan santai untuk pulang dengan Tristan dan temannya.
"Sorry bro, gara-gara gue, loe luka kayak gini" ucap Faiz teman Liam
"Gakpapa... Namanya musibah iz..." ucap Liam
"Loe istirahat aja Am, gak usah kerja dulu" ucap Faiz
"Gue harus kecabang iz"
"Kak... Aku sebagai dokter, jgn ngeyel... Gak cuma aku yang khawatir"
"Maksudmu? Kamu ngasih tau bunda, ayah??"
"Sama Candra"
"Tan... Tan... Saira bakal khawatir"
Tidak lama, dari jauh terlihat Saira dengan wajah khawatir berjalan kesana kemari mencari ruangan Liam. Saira terdiam, setelah ia melihat Liam tampak berdiri di depannya, dengan kepala yang di perban, dan tangan kaki yang di balut. Saira langsung berlari ke Liam. Ia menangis, mengecek seluruh badan Liam, lalu terduduk lemas dengan nafas ngos-ngosan.
"Liam... Jangan bikin khawatir" ucap Saira pelan
"Sayang... Sayang... Tan, asma Saira kambuh" ucap Liam
"Aku gakpapa... Kak aku mau pulang" pintanya pada Candra dan Davi
"Tenang, di mobil Saira punya inhaler obat asma. Turuti aja maunya" ucap Davi
"Tapi dia perlu di beri oksigen dan di cek kembali luka operasi operasinya" ucap Tristan
"Pulang" pinta Saira namun ia pingsan
__ADS_1
"Cepat bawa keruanganku"
Saira di periksa, dan nafasnya membaik ia mulai sadar, bahkan ada Yuna dan Haikal disana. Yuna memeluk Saira. Yuna sangat kasihan dengan Saira, Saira terlalu mirip dengan Kaili. Sekali Yuna pernah berfikir, apakah lebih baik Saira meninggal, atau tidak selamat, jika Kaili menurunkan semua sakitnya keanak perempuannya. Tapi segera ia tepis, karena Saira lebih beruntung karena masih punya ayah kandung dan kedua kakak yang menyanyanginya. Tidak seperti Kaili. Walau punya kedua orang tua, tapi tidak pernah di perhatikan.