Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 12


__ADS_3

Liam ternyata sampai villa lebih awal. Mereka perkirakan besok namun, nyatanya sebelum tengah malam ia sudah sampai. Davi, Candra, Asha, dan Jili masih asik membakar jagung sambil bercanda di halaman depan. Tapi berbeda dengan Saira, sehari-hari hanya di kamar, karena kamar mandi sudah dalam kamar, aktivitas di luar hanya sedikit. Sekalipun keluar hanya untuk minum, makan, sesekali keluar villa untuk menghirup udara segar, tapi itupun hanya sekejap mata. Tidak pernah lama berada di luar. Saira sudah terlanjur terlalu nyaman kesehariannya berada kamar.


"Saira mana?" pertanyaan pertama saat Liam sampai depan villa


"Enak banget datang langsung tanya Saira. Sapa kita dulu" ucap Asha


"Halo malam" ucap Liam sekenanya


"Dia jarang keluar kamar. Mungkin sekarang sudah tidur" ucap Davi


"Besok pagi anter aja sarapan buat dia" ucap Candra


"Kamu baru sampai. Istirahat dulu!" ucap Jili


"Yang mana kamarnya Saira?"


"Pintu pink itu" jawab Davi


"Depan pintu nya ada namanya Saira Am... Bacalah" ucap Candra


"Kamu lelah nih g paham dengan hal mudah seperti itu...?" ucap Asha setengah mengejek


"Ehm... mungkin"


"Kamarmu deket Saira. Udah di siapkan" ucap Jili

__ADS_1


"Terima kasih" ucap Liam lalu masuk kamar


Di dalam kamar Saira, ia masih terbangun. Secara jelas ia mendengar suara Liam. Hati Saira bergemuruh. Nafasnya memburu, oh Tuhan, Liam di sini, batinnya. Segera ia buka diary di laptopnya, ia mencurahkan segala apa yang di dalam hatinya. Namun tak juga membuatnya tenang. Kerinduannya akan Liam membuncah. Ia membuka jendela kamarnya. Saira mengambil jaket, handphone, dan dompetnya. Saira mengecek dompetnya. Paling tidak masih ada beberapa uang cash batinnya, cukup untuk aku pulang. Anggapnya. Saira lompat keluar jendela. Saira berjalan mengendap dengan sangat pelan. Setelah agak jauh ia mulai berlari, sayangnya Liam melihatnya saat ia membuka jendela kamarnya.


Liam berteriak keras memanggil Saira, teriakannya terdengar jelas hingga Davi dan yang lainnya yang ada di halaman depan. Liam ikut meloncat, ia mengejar Saira. Davi dan yang lain masuk ke kamar Liam, mereka penasaran. Suara teriak apa pertanyaan mereka. Davi dan Candra tau jika Saira pergi, mereka ikut mengejar Saira bersama Liam.


Saira tidak dapat berlari cepat. Selain karena asmanya, juga karena luka di dadanya belum kering. Saira bisa melihat jika Kedua kakaknya dan Liam mengejarnya. Tapi kakinya terantuk akar kayu, sehingga ia terjatuh dan kepala terbentur batu. Saira segera bangkit dan kembali berlari, namun Liam berhasil mengejarnya dan meraih tangannya. Nafas Saira sudah tidak menentu. Asmanya kambuh. Liam memeluk Saira dan meminta maaf.


"Jangan lari lagi. Ku mohon" bisik Liam


"Cepat bawa kembali ke rumah. Asmanya kambuh" ucap Candra


"Gak... Aku mau pulang. Aku gak nikah sama kamu" ucap Saira dengan nafas tak menentu


"Pulang dulu. Ambil inhaler dek" bujuk Davi


"Ayo pulang... Kakak bopong" ucap Davi lalu membopong Saira pergi


"Sabarlah. Saira sangat mencintaimu namun, ia terlalu tidak ingin merepotkanmu" ucap Candra


"Saira.. Gue sehina itu buat dia?" tanya Liam


"Pikiranmu tu lho!! Terbuka dikit!! Udah dikasih tau kenyataannya masih juga gak bener tu mulut!!" omel Candra lalu pergi


"gak bener gimana? dengerkan Saira batal nikah?“ ucap Liam menyusul Candra

__ADS_1


"Dia gak mau repot orang lain! kalau kami udah biasa dengan keadaan Saira! kau!! kau masih baru, tidak melihat Saira dengan keadaan terburuk! sejauh ini buruk! tapi bukan yang terburuk!!! bukalah pikiranmu! jangan negatif thinking sama Adekku!"


Setelah di villa Saira langsung masuk kamar. Tanpa peduli dengan luka di kepalanya. Pintunya langsung ia kunci. Ia punya inhaler dan obat asma lainnya di dalam kamar. Tanpa kakaknya ia bisa merawat asmanya sendiri termasuk luka di kepalanya. Setelah membaik ia bisa mendengar jika jendela kamarnya di paku dengan balok kayu agar ia tidak melarikan diri.


Saira menangis. Ia merasa putus asa. Jalan keluar satu-satunya hanya dari jendela. Keinginannya untuk menikah dengan Liam, sudah berganti dengan rasa bersalahnya jika ia tetap menikahi Liam. Keinginan terkuatnya saat ini adalah agar Liam mencampakkannya. Tidak lagi menyanyanginya. Rasa sayang Saira ke Liam sudah berganti benci. Ia benci Liam yang mencintainya. Ia benci Liam yang melamarnya. Mengapa Liam mau menikahi perempuan yang sakit-sakitan yang entah bagaimana kehidupan kedepannya.


"Saira sarapan yuk" ajak Asha mengetuk pintu kamar Asha keesokan paginya


"Saira... Habis itu kita jalan-jalan di luar, di pasar banyak penjual, kita bisa belanja" ajak Jili


"Sai... Jawab dong" tanya Asha


"Kamu masih tidur ya? Kalau dah bangun buka dong pintunya" rayu Jili


"Ya udah mungkin kamu masih tidur, jika lapar, keluar ya,, kita siapin cream soup lho" ucap Asha


"Gak mau keluar ya?“ tanya Candra


"Dek... Keluar yok..." ajak Davi


"Saira... Jika kamu tidak ingin melihat saya di sini saya akan pergi" ucap Liam


"Dia masih tidur... Ingat dia sangat lelah kemarin" ucap Asha


"Mungkin" ucap Liam

__ADS_1


Di kamar, Saira tidak bisa tidur sejak semalam. Ia berendam di bathtub kamar mandi. Air yang semula hangat sudah berubah menjadi dingin. Ia tidak lagi menangis, cutter ada di tangannya, ia kembali silet tangannya sendiri dengan cutter. Walau bukan tempat fatal, namun banyak darah yang keluar. Saira beranjak dari bathtub. Ia kembali berpakaian dan mendengar suara teman dan kakaknya membujuknya di luar. Hingga ia mendengar suara Liam. Ingin rasanya keluar lalu memeluknya, namun jika begini akan membuat Liam semakin berharap pada hatinya.


__ADS_2