
Saira turun ke lantai 1, ke ruang makan. Terlihat wajah muram Yelu, dan ketegangan di raut kedua kakaknya. Sarapan berlangsung tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Sampai sarapan selesai Yule mulai memasang wajah serius.
"Siapa lelaki itu Saira?" tanya Yule
"Aku menyayanginya pa... Dia juga memiliki perasaan yang sama denganku...." jawab Saira
"Siapa dia? Tinggal dimana? Siapa orang tuanya?" tanya Yule
"Dia lulusan universitas Columbia, Dia memiliki beberapa Restoran di kota besar... Dia Tinggal di Bandung, orang tuanya pemilik perkebunan disana" jawab Saira pelan
"Kau yakin dia jujur? Apakah kau menyukai om-om?" tanya Yule
"Pa... Dia bukan om-om... Umur dia sama dengan kak Davi dan kak Candra"
"25 tahun? Walau dia bukan om-om tapi papa tetap tidak setuju"
"Pa... Bagaimana bisa papa selalu melarangku dekat dengan lelaki? Bagimana hidupku kedepan? Apakah papa tidak ingin aku menikah? Mempunya anak?"
"Sekarang papa tanya, apakah kamu mau kuliah? Tidak kan!"
"Pa... Jangan mengalihkan pembicaraan"
"Papa bisa membiayaimu hingga kau dewasa, hingga kau tua"
"Aku tidak ragu soal itu. Bisnis papa akan lancar di pegang kak Davi dan kak Candra. Tapi aku ingin memiliki kehidupan sendiri pa..."
"Kau sudah pegang Butik milik mamamu... Kau sudah punya kehidupan... Kurang apa?"
"Suami.. Anak... Aku menginginkannya pa... Pa... Selama ini aku selalu menuruti apa yang papa minta,, jarang sekali aku melihat dunia luar seperti papa dan kakak... Tidak bolehkah aku juga mencari kebahagiaanku?"
"Tidak! Kau masih kecil! Tidak pantas untukmu dekat dengan lelaki!"
"Sebentar lagi aku sudah 20 pa! Ada temanku yang sudah menikah... Ada yang sudah mempunyai anak"
"Saira... Papa tanya, kenapa kau sangat ingin menikah? Kau ingin menikah muda?"
"Apakah papa tidak menikah muda? Papa mempunyai anak umur 23, dan mama juga sama... Bukankah itu muda?"
"Kamu tidak boleh melangkahi kakakmu!"
"Oh pa... Kau menggunakan kakak sekarang untuk melarangku?"
__ADS_1
"Papa akan keluar kota seminggu. Ketika papa pulang, papa ingin kau putus dengannya" ucap Yelu lalu pergi
"Tidak! Saat papa pulang, kau akan bertemu dengannya!" balas Saira dengan air mata yang mengalir lalu berlari kekamarnya
"Pa... Tunggu pa... " panggil Davi
"Ada apa?"
"Pa... Papa jangan menjadikan kami alasan untuk melarang Saira" ucap Candra
"Kau tau, seberapa parah asma Saira? saat biasa pun nafasnya seperti setelah lari, tau kepala Saira jika terlalu banyak berfikir seperti apa? Tubuhnya lemah! Ia prematur!"
"Kami tau pa... Tapi, Oh papa... Saira bukan anak kecil yang papa larang ini itu" ucap Candra
"Saira tidak selemah yang papa pikir, Biarkan dia menikah dengan lelaki yang dia cintai" sambung Davi
"Kami tidak apa-apa jika Saira melangkahi kami" ucap Candra lagi
"Kami akan menikah jika sudah waktunya" ucap Davi lagi
"Kalian mau tanggung jawab jika lelaki itu tidak baik? Sudahlah papa pergi dulu. Jaga Saira baik-baik" ucap Yelu
"Eh, sejak kapan kalian duduk sini?" tanya Saira
"Makanan dah sisa setengah" yang menandakan lumayan lama mereka duduk di sana
"Kamu ngapain? Ngalamunin apa?" tanya Davi
"Nunggu telponnya Liam"
"Kenapa gak kamu telpon duluan?" tanya Candra
"Lagi nyetir kak... Nanti kalo dah sampai Resto telpon aku balik"
"Kami boleh bergabung?“ tanya Candra
"ya... Tunggu saja.. " jawab Saira
Tak lama, Liam telpon. Ia kembali video call Saira. Liam tampak sudah berada di kantornya, di Restoran. Saira memperkenalkan Liam dengan kedua kakaknya. Saira terlihat sedih, air matanya tak dapat terbendung lagi. Liam bingung, ada apa dengan Saira, mengapa ia menangis. Padahal selama ini, sesedih apapun Saira, ia selalu bisa menahan tangis jika video call dengan Liam.
"Kak Davi, Candra, Saira kenapa?" tanya Liam
__ADS_1
"Kita seumuran, jangan panggil kak" celetuk Candra
"Papa melarang kalian berhubungan" jawab Davi
"Saira sayang... Aku akan kesana 1 minggu lagi... Bersabarlah... Mungkin akan berbeda, jika papamu bertemu denganku"
"Mungkin papa tidak ingin kehilangan Saira" ucap Candra
"Papamu tidak akan kehilangan Saira. Aku akan membangun rumah dekat sana, jadi setelah menikah, kapanpun bisa bertemu"
"Jangan membuang uangmu sayang" ucap Saira lalu mengahapus air matanya
"Sayang... Aku sudah berniat menikahimu.. Apapun yang papamu inginkan akan aku turuti"
"Kau sudah punya rumah di solokan"
"Rumah almarhum kakek nenek ku Saira. Selama ini di kontrakan ayah. Entah nantinya mau bagaimana... Perkebunan dan Restoran tidak bisa di tinggal terlalu lama"
"Sayang... Aku gak tau, jika papaku tetap melarang, aku terpaksa menurutinya" ucap Saira lalu meneteskan air mata lagi
"Oh Saira... Tenanglah... Jika papamu bertemu denganku, aku akan meyakinkannya. Ini akan berbeda. Yakinlah"
"Liam, kenapa kamu mau menikahi adikku?" tanya Davi serius
"Saya mencintainya" jawab Liam singkat
"Bagaimana bisa, kamu cinta, padahal baru 2 kali bertemu" tanya Candra
"Kami sering video call, kami terbuka tentang berbagai hal, sejak awal berbicara dengan Saira, saat belum melihat wajahnya, saya sudah nyaman, dan sudah mencintainya"
"Bagaimana jika kau sudah tidak nyaman dengan adikku? Bagaimana jika kau bosan dengannya?" tanya Candra
"Jika cinta tidak akan bosan... Jika sayang akan selalu nyaman"
"Begitukah menurutmu?" tanya Candra
"Bagaimana jika sudah tidak cocok? Tidak sejalan dan sepemikiran?" tanya Davi
"Kami akan mencari titik, dimana bisa berunding untuk mencari jalan temu tanpa harus berpisah"
"Ah, jawabanmu terdengar meyakinkan Liam... Kami tunggu di sini" ucap Davi
__ADS_1