
Yelu membawa mereka semua melihat Saira. Saira damai, tidur dengan tenang. Yuna menangis. Ia menghampiri Saira. Jika melihat langsung, benar - benar seperti duplikat Kaili. Pantas saja Yelu sangat menyanyangi Saira. Saira terbangun, ia melihat sekeliling. Banyak orang di kamarnya. Saira mencoba duduk dengan bantuan Asha dan Jili. Saira mengamati kembali satu-satu. Sampai matanya melihat ke satu orang yang ia rindukan. Liam. Mata mereka beradu. Liam langsung memeluk Saira, seperti kekasih lama tak jumpa.
"Apakah kau tega memisahakan pasangan ini Yelu Qiang?" tanya Haikal
"Sayang makan ya... Aku suapi" ucap Liam. Saira menganguk.
"Mbak ana... Mbak ana.... Ambilin bubur buat Saira" panggil Candra ke pembantunya
"Siap mas Candra" jawabnya
Tak beberapa lama mbak ana datang membawakan cream soup kesukaan Saira. Liam menyuapi Saira dengan penuh kesabaran, dan Siara menghabiskan makanan itu, yang padahal sebelumnya tidak pernah ia habiskan, atau kembali ia muntahkan.
"Sayang... Aku belum memperkenalkan orang tuaku" ucap Liam
"Sayang... Saira... Ingat tante? Tante bundanya Liam" ucap Yuna
"Ingat tante" jawab Saira lemas
"Ini om,, ayahnya Liam..." tambahnYuna
"Saira sayang... Om Haikal dan tante Yuna sahabat lama papa dan mama" ucap Yelu
"Sayang... Tante sahabat mamamu nak..." ucapan Yuna membuat tenggorokan Saira tercekat
"Tante, aku gak tau mama seperti apa. Papa gak pernah tunjukin foto mama" ucap Saira
"Oh Yelu, loe tu ye, jadi bokap gak paham anak. Ikut kite keluar dulu" ajak Haikal dan Yuna. Yelu hanya diam ikuti mereka tapi Yuna terhenti saat menyadari ada yang kurang
"Eh, ayah, Tristan mana?" tanya Yuna
"Siapa Tristan?" tanya Yelu
"Anak terkecil gue. Tadi dia gak mau masuk. Mau muterin taman komplek buat video dia di Yt" ucap Haikal
"Tunggu Lu biar gue telpon anak gue dulu" ucap Yuna
"Halo Tan, kamu dimana nak?" tanya Yuna lalu beralih ke video call
"Baru selesai bund..."
"Ya cepat kemari"
"Dimana bund?"
__ADS_1
"Rumah om Yelu"
"Pasnya?"
"Biar saya jemput tante" usul Davi
"Oh, di jemput kak Davi ya" ucap Yuna
"Oke bunda.. Makasih kak Davi" jawab Tristan renyah lalu menutup telponnya
"Maaf tante merepotkan Davi"
"Enggak tan... Ya udah, saya pergi dulu ya" pamit Davi
"Candra... Ikut ngobrol ya sama om tante" ajak Yuna
Di kamar Saira, mereka mendengar pembicaraan Tante Yuna di telpon.
"Maaf sayang. Adikku merepotkan" ucap Liam
"Gak kok,, kok Gak cerita?" tanya Saira
"Dia gak pernah di rumah. Selalu sibuk dengan video Yt nya dan dokternya" jawab Liam
"Tristan"
"Jadi dia bikin video buat aplikasi Yt?" tanya Asha
"Ya"
"Dah berapa lama?" tanya Asha lagi
"Aktif ini 1 tahun lebih"
"Oh, lumayan juga ya" timpal Jili
Di sisi lain Yelu, Yuna, Haikal dan Candra duduk di ruang baca, 2 ruangan dari kamar Saira. Yuna dan Haikal mulai menginterogasi Yelu lagi. Melakukan hal yang sempat tertunda. Yelu sangat tertutup tentang kematian Kaili. Entah apa yang Yelu sembunyikan. Tapi Haikal, dan Yuna berhak tau apa yang terjadi dengan Kaili. Sahabat mereka yang lembut, namun sangat rapuh. Seperti anaknya. Saira.
"Gue tanya, kenapa loe gak kasih tau Saira foto kaili?“ tanya Yuna
"Papa gak mau inget mama" ucap Candra
"Candra!! Kamu dari tadi asal ngomong aja!!" bentak Yelu
__ADS_1
"Benerkan? Apa salah?" ucap Candra
"Jujur loe" celetuk Haikal
"Penyebab Kaili meninggal apa?" tanya Yuna
"Kecelakaan" jawab Yelu singkat
"Yakin pa? Aku dan Davi inget kalo papa sampai ke kiai, dan mama di ruqyah" ucap Candra
"Keluar kamu dari ruangan ini" ucap Yelu
"Ogah. Yang ngajak ngobrol tante Yuna kok. Kalo di suruh keluar, di suruh tante Yuna" ucao Candra
"Jujur aja Lu" ucap Haikal
"Oke... Saira lahir saat umur kandungan Kaili 8 bulan. Kaili demam tinggi, dan sakit lainnya di tambah Kaili jatuh saat di kamar mandi, tidak lama lagi ulang tahun Saira" ucap Yelu
"Terus, maksudnya kiai tadi apa?" tanya Yuna
"3 bulan sebelum Saira ulang tahun yang ke 2, Kaili sakit lagi, sakitnya seperti saat Saira lahir. Tapi kali ini lebih parah. Kaili batuk darah hitam setiap tengah malam di tambah dadanya selalu sakit, tetapi hanya di jam tertentu" jawab Yelu
"Jam tertentu gimana?“ tanya Haikal
"jam 12 malam sampai 4 pagi. Siang dia akan sehat, kembali seperti biasa. Itu hanya 2 bulan. Di bulan ke 3 sakit itu tambah parah. Siang Kaili merasakan sakit di dadanya, di jam 10 sampai 2 siang."
"Sakitnya seperti apa?" tanya Yuna
"Di tekan. Hingga sehari sebelum Kaili meninggal, ia berpesan, agar selalu merawat dan menjaga Saira. Karena Saira anak yang paling ia sayang. Kaili tidak ingin Saira selalu merasakan sakit. Kaili ingin Saira selalu bahagia"
"Terus meninggalnya?" tanya Haikal
"Kecelakaan. Hari itu sehari setelah ulang tahun kedua Saira. Tengah malam Kaili pergi, dan ia kecelakaan mobil"
"Kenapa gak loe cegah?“ tanya Yuna
"Salah gue, hari itu gue ketiduran, karena kecapekan. Tetapi gue ragu jika itu murni kecelakaan" ucap Yelu lalu mengeluarkan sebuah kertas dari kantong celana
"Apa ini?" tanya Yuna
"Surat dari Kaili, sebelum dia meninggal"
'Suamikuh Yelu.... Maafkan istrimu tidak menjadi istri yang baik. Maafkan aku jika aku harus meninggalkanmu sendiri di dunia ini. Maafkan aku jika harus meninggalkan ke3 anak kita bersamamu. Aku tidak kuat lagi jika harus merasakan sakit berkelanjutan seperti ini. Semua dokter sudah kita temui. Kiai yang aku harapkan pun, meninggal sehari sehari setelah berusaha mengobatiku. Suamiku tersayang... Aku lelah... Sangat lelah... Izinkan aku pergi... Ikhlaskan aku pergi menemui kedua orang tuamu, dan almarhum papaku... Suamiku... Saira mungkin kelak akan menjadi beban untukmu atau untuk Candra atau Davi, tapi rawatlah ia sampai ia aku jemput. Tubuhnya sangat rapuh. Di bulan pertama ia lahir sudah harus di operasi dan di rawat di rumah sakit. Kemungkinan saat Saira dewasa, kesehatannya akan sama seperti aku... Maafkan aku yang menurunkan penyakitku ke Saira... Maafkan aku suamiku... Aku pergi dulu... Maafkan istrimu yang tidak kembali. Salam Kaili.'
__ADS_1