Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 6


__ADS_3

"Maksud loe Kaili bunuh diri?" tanya Haikal


"Cukup Na.. Kaili Kecelakaan. Itu yang harus ada di otak gue" ucap Yelu


"Saira operasi di bulan pertama? Operasi apa?“ tanya Yuna


"Pendarahan otak karena kekurangan vitamin K dan saat itu Saira di jatuhkan oleh babysister nya dan mengalami cedera kepala" jawab Yelu


"Di jatuhkan Babysister?" tanya Yuna


"Saat itu Saira akan di culik tante" jawab Candra


"Kau masih ingat?" tanya Yelu


"Tapi sampai saat ini Saira tidak tau tan" imbuh Candra


"Loe harus kasih tau Saira. Kasian dia" ucap Yuna


"Biarkan dia tidak tau, itu yang terbaik" jawab Yelu


"Terus kenapa loe gak pajang foto Kaili. Kenapa Saira gak boleh lihat Foto mamanya" tanya Yuna


"Gue gak mau Saira drop karena kangen Kaili"


"Pa... Selama papa di jakarta, beberapa tahun, dan g pulang ke sini, Saira gak pernah tanyain mama! Saira menganggap jika Bahas mama membuat papa dan kami sedih. Itu ia pendam sendiri. Bahkan sampai sekarang ia selalu berfikir ulang jika ingin bahas mama" ucap Candra


"Loe di Jakarta beberapa tahun mkasudnya? Kapan? Siapa yang urus anak loe?" tanya Yuna


"Setelah mama meninggal Papa ker Jakarta 3 tahun, Saira dan kami di jaga tante Lihua, adik mama. Setelah itu umur Saira 8 tahun papa ke Jakarta 4 tahun, kami kembali bersama tante Lihua. Lalu terakhir Saira 15 tahun, papa di jakarta 4 tahun. Baru kembali belum ada 2 bulan ini" jawab Candra secara detail


"Lalu yang terakhir kalian sama siapa?" tanya Haikal


"Bertiga aja, tapi ada satpam dan pembantu" jawab Candra


"Kenapa tidak dengan tante Lihua?" tanya Yuna


"Tante Lihua tinggal di Probolinggo tan... Tapi saya dan Davi saja sudah mampu merawat Saira" ucap Candra


"Candra, bagaimana kamu tau jika Saira memendam tentang mama kalian?" tanya Yuna


"Saya sempat baca diary Saira tante. Kemarin beberapa hari lalu saat dia sakit" jawab Candra

__ADS_1


"Yelu... Yelu... Loe emang gak kasian sama anak - anak loe... "Ucap Haikal. Yelu hanya diam ia tidak bisa berkata apapun lagi.


Tanpa mereka ketahui, Davi dan Tristan sudah sampai sejak tadi. Mereka mendengar semua pembicaraan para orang tua di dalam ruangan tersebut. Tristan menganggap ini penting, hingga ia datang ke kamar Saira yang belum pernah ia temui, dan berniat memberitahu Liam tentang keadaan Saira. Namun, urun ia beritahukan di depan Saira, karena melihat kondisinya yang terlihat lemah. Tristan cenderung kasihan, Saira sakit karena ulah papanya sendiri.


"Saira, om tante pulang dulu ya... Besok kami kemari lagi" ucap Yuna


"Gak nginep Na? Kal?" tanya Yelu


"Iya tant, kamar di lantai 3 sudah di bersihin" ucap Davi


"Baiklah. Kami akan menginap" ucap Haikal


"Kalian, tidur di samping kamar Saira" ucap Davi ke Liam dan Tristan


"Baik" jawab kedua saudara itu bersamaan.


"Saira sayang... Anggap tante seperti mamamu ya nak... Panggil Tante bunda... " ucap Yuna lalu memeluk Saira. Saira terlihat lemah, ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan


"sayang... Badanmu panas sekali?" tanya Yuna


"Coba thermometernya" pinta Tristan "dada kiri? Jantung?" tanya Tristan pelan "Ada yang punya riwayat jantung om?" tanya Tristan lagi


Asha memberikan thermometer ke Tristan. suhunya 39,8. Hampir 40. Tristan menjadi khawatir, dan ia segera meminta Agar Saira di bawa kerumah sakit. Liam tau adiknya cerdas, apalagi Tristan adalah dokter cerdas, Liam dengan sigap membopong Saira ke mobilnya. Tubuh Saira Ringan bagai kertas, itu yang Liam rasa. Liam semakin khawatir, saat Saira pingsan saat di bawa ke mobil.


"Apalagi ini tan? Kenapa Saira pingsan?" tanyanya ke adiknya


"Cepat kak..." ucap Tristan


"Sini aku yang nyetir" ucap Davi


"Gue khawatir Saira punya sakit jantung kak" ucap Tristan pelan


"Saira gak pernah ada tanda jantung" ucap Davi lalu membantu Saira masuk ke mobil


"Terkadang beberapa orang tidak peduli, dan cenderung diam jika nyeri dadanya" jawab Tristan


Tak lama mereka sampai rumah sakit dan Saira melakukan pemeriksaan fisik. Setelah melakukannya, Saira melakukan pemeriksaan penunjang yang lama, sampai menunggu hasil keluar, Saira sementara di rawat di rumah sakit. Karena Saira tidak kunjung sadar, Asha dan Jili pulang terlebih dahulu, mereka berjanji akan kemari lagi besok.


Saira sadar sepenuhnya di hari berikutnya. Ia sudah di ruang rawat vvip. Di sampingnya ada Liam, tidak jauh ada Davi yang tertidur di sofa.


"Dah bangun sayang" ucap Liam

__ADS_1


"Dek..." panggil Davi yang terbangun


"Aku kenapa?" tanya Saira pelan


"Kamu pingsan. Sekarang di rumah sakit" jawab Davi


"Tunggu coba gue panggil Tristan" ucap Liam


"Tristan dokter kak?“ tanya Saira pelan


" iya, ternyata dia spesialis jantung" jawab Davi


"Saira... Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Tristan yang sudah datang


"Dada nyeri tapi tidak seperti tadi. Jantung rasanya berdebar terus" jawab Saira


"Oke... Untuk sekarang Saira istirahat dulu. Jika hasil sudah keluar akan aku kasih tau" jawab Tristan penuh sopan santun lalu meminta suster yang bersamanya untuk menyuntikkan obat tidur ke infus Saira.


Tristan keluar bersama dengan suster, di ikuti Davi dan Liam. Tristan meminta suster untuk kembali terlebih dulu. Sedangkan Tristan, Liam, dan Davi perlu berbicara dengan keluarga mereka yang menunggu di taman.


"Om... Saira sudah sadar, namun sekarang ia tertidur kembali" ucap Tristan


"Hasilnya sudah keluar tan?" tanya Candra


"Belum kak" jawab Tristan


"Kau spesialis jantung, menurutmu diagnosisnya apa?" tanya Davi


"Ada kemungkinan berhubungan dengan jantung om"


"Jantung?" tanya Yelu


"Ini hanya perkiraan saya om. Kita tunggu hasilnya. Semoga Saira tidak sakit apapun om" jawab Tristan berusaha menenangkan Yelu


"Yang mau aku tanya, kamu dah lama kerja di rumah sakit ini?" tanya Candra


"Baru tiga minggu hari ini. Sebelumnya di rumah sakit Jakarta, namun pindah kesini"


"Tristan pindah kemari sebelum kami kemari dra" jawab Liam


"Gue balik kamar Saira dulu. Saira gak ada yang jaga" ucap Liam kembali dengan Davi

__ADS_1


__ADS_2