Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 30


__ADS_3

Saira memandang awan gelap yang berkumpul di sekitar rest area, ia hanya memesan cemilan, dan segelas es teh. Ia memandang keluarga suaminya yang sedang asik makan dan berbincang-bincang. Saira menghela nafas, ia memandangi layar handphone nya. Chat darinya ke Liam sudah Liam baca, namun tidak ada jawaban dari Liam. Saira beranjak dari meja makan dan berjalan menjauh. Ia menelpon Liam, Liam mengangkatnya, namun tidak bicara sedikitpun.


"Masih marah?" tanya Saira


"Gak" jawab Liam singkat


"Maaf... Aku Baik-baik kan sekarang... Lagi pula, aku sama bunda, ada Tristan juga" namun tak ada jawaban dari Liam


"Sayang.. Kau tidak mau makan di sini? Bunda bungkuskan untuk kau makan di mobil ya" ucap Yuna dari jauh, namun terdengar dari Handphone Saira


"Eh iya bunda. Sudah mau berangkat lagi?" tanya Saira


"Iya ra" jawab Laras


"Liam... Kami mau berangkat lagi... Tidak adakah kata buat aku?" tanya Saira melanjutkan telponnya


"Apa yang kau harapkan?"


"Apa kau perlu sedingin ini? Apa kesalahanku fatal? Atau kita tidak bisa bertemu lagi?" tanya Saira


"Kau bicara di pikir dulu!!" bentak Liam


"Apa aku perlu berlari ke tengah jalan tol, agar kau mau bicara padaku?" balas Saira keras


"Jangan berbuat sesuatu yang aneh-aneh" ucap Liam dengan nada mengancam, memperingatkan Saira dan langsung menutup telponnya


"Bicara dengan Liam?" tanya Tristan yang sudah muncul di sampingnya


"Eh, iya tan. Berangkat sekarang?"


"Iya.. Yok" ajak Tristan lalu masuk kedalam mobilnya


Di saat yang lain sudah masuk mobil, Saira masih tetap di luar memandangi layar handphonenya. Saira memandangi pesan singkat Liam, yang hanya emoticon marah. Sangking fokusnya hingga Saira tidak sengaja terserempet hingga jatuh oleh mobil lain yang akan masuk. Tristan, Yuna, dan Laras keluar mobil untuk cek keadaan Saira.


"Loe, bisa liat-liat gak kalau nyetir?" tanya Tristan


"Cewek itu yang berdiri di tengah jalan!"


"Tengah jalan gimana? Dia minggir di sini, mau masuk mobil, parkiran luas tuh!" ucap Laras membantu Saira berdiri


"Udah.. Udah.. Masuk mobil yuk" ucap Saira


"Ra... Kakimu berdarah, eh... Telapakmu juga berdarah gini" ucap Laras

__ADS_1


"Udah di mobil ada p3k.. Ayo berangkat" ucap Saira


"Sini bunda rawat" ucap Yuna


"Liat, ipar gue luka gara-gara loe!" ucap Tristan


"Tan.. Udah ayo... Gak usah di perpanjang... Cuma luka" ajak Saira lalu masuk mobil. Tristan berbalik dan akan menuju mobil, namun ia mendengar umpatan tidak menyenangkan.


"Cewek gila" ucap pengendara tersebut


"Loe ngomong apa barusan? Siapa yang gila?" tanya Tristan yang mendengarnya langsung berbalik dan menghampiri pria pengendara tersebut


Pengendara pria tersebut membalas Tristan, hingga terjadi adu tinju di antara keduanya. Niat Saira dan Laras ingin melerai keduanya, namun bukannya bisa melerai, Saira kena dorongan keras di bagian dada dari pengendara tersebut, hingga terjatuh dan Saira meringis menahan sakit. Tristan semakin marah melihat hal ini, karena ia bertanggung jawab atas keselamatan Saira. Hingga dipisahkan oleh beberapa polisi yang berjaga di rest area.


"Tan... Saira tan... Jantungnya kambuh" panggil Laras


"Jantung" tanya pengendara pria tersebut dan polisi


"Gue bawa peralatan dokter. Laras, tolong ambilkan obat Saira di laci dasboard mobil. Bunda, ambilkan tas dokter di belakang" dengan sigap Tristan menolong Saira yang sudah setengah sadar


"Puas anda? Terima kasih atas tangan anda ke dada ipar saya" ucap Laras


"Maaf... Maaf" ucap orang tersebut


"Maaf, jika sakit, lebih baik istirahat dulu lebih lama" ucap Polisi wanita tersebut


"Gakpapa mbak... Anak saya dokter jantung, dan Sairanya minta berangkat. Kami berangkat dulu. Terima kasih" ucap Yuna


Saira dan yang lainnya sampai saat langit sudah sangat gelap. Walau tidak perlu kerumah sakit, karena Tristan sudah merawatnya sendri, namun, harus selalu Tristan cek. Karena di perjalanan Saira juga kelelahan. Semenjak kejadian tadi, Saira tidak berbicara apapun, ia juga tidak makan apapun. Yuna khawatir jika Saira sakit lagi, tapi ia tau Saira begini juga termasuk karena Liam yang marah, yang membuat Saira tidak fokus sejak berangkat dari solo.


"Liam, loe dah baca chat Laras?" tanya Trsitan di telpon


"Ya, gimana keadaan Saira sekarang?"


"Loe telpon aja dia sendiri. Tanya keadaanya"


"Tapi loe dokternya"


"Dia udah gakpapa. Gue langsung kasih obat tadi"


"Oke gue tutup dulu"


"Eh tunggu. Loe gak mau telpon Saira? Tega loe sama istri loe?"

__ADS_1


"Dia udah tidur juga kan Tan"


"Paling g, ada niat chat aja lah"


"Liam tu? Speaker donk yank" ucap Laras yang baru selesai mandi.


"Iya" jawab Tristan pelan


"Kak Liam, aku tadi ngobrol sama Saira. Dia terus bilang gakpapa, tapi keliatan banget dari tadi cek hp, dan kontakmu" ucap Laras


"Iya besok gue telpon"


"Kak Liam, salah satu penyebab Saira kenapa-napa hari ini, karena suaminya sendiri gak ikhlas! Ada kita, takut banget dia gak aman!" ucap Laras


"sayang, karena Liam gak ikhlas makanya terjadi hal seperti tadi" ucap Tristan


"Kalian mau bully gue?"


"Gak bully, tapi, berangkat udah kena amarahmu, dijalan Di serempet hingga lecet, belum sembuh dari kaget udah kena dorong orang, herannya pas banget di dada Saira" ucap Laras mulai cerewet


"Oke gue telpon sekarang. Puas?" tanya Liam lalu mematikan sambungan telponnya.


Hasilnya sampai pagi hari Liam tidak menelpon atau chat Saira. Saira jadi bertanya dalam hati, tidak mungkin Tristan atau Laras tidak bicara ke Liam. Mereka pasti sudah bicara ke Liam, hanya saja mungkin Liam masih marah, dan tidak ingin mendengar suara Saira. Sampai sore hari tidak ada kabar dari Liam, Saira juga hanya berada di tempat tidur, dan tidak mau makan. Saira melihat handphone nya, medsos Liam terakhir di lihat pagi ini saat subuh. Saira sedikit khawatir, namun kekhawatiran itu sirna setelah ia melihat Liam yang membuka pintu kamarnya, dan memeluk Saira dengan erat.


"Maaf.. Maaf karena aku marah padamu. Aku seharusnya percaya padamu dan adikku" ucap Liam. Saira hanya tersenyum tak menjawab apapun


"Bagaimana keadaanmu. Apakah dadanya masih sakit? Luka luarnya bagaiamana?" tanya Liam


"Aku gakpapa" jawab Saira lemas


"Kenapa gak makan? Mau makan apa? Aku carikan" ucap Liam


"Gak lapar Liam"


"Kamu masih marah? Maaf"


"Makanya istri dah minta ijin tuh di ijinin aja! Ada kita gak percaya loe sama adik sendiri?" tanya Tristan di ambang pintu


"Diamlah" timpal Liam


"Saira... Liam... Bunda bikinkan cream soup ini... Ayo di makan Saira" ucap Yuna membawa nampan berisi soup dan air mineral


"Mari aku suapi ya" ucap Liam meraih mangkuk yang di bawa Yuna

__ADS_1


__ADS_2