Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 21


__ADS_3

Asha hanya bisa diam lihat sikap Saira. Saira diam sejenak di mobil. Ia masih memandang kearah coffe shop, dimana disana masih ada Lita yang belum beranjak pergi. Asha mencoba berdehem, untuk menyadarkan Saira, namun Saira masih menatap Lita. Asha akhirnya menepuk pundak Saira yang membuatnya tersadar.


"Apa? Bikin kaget"


"Ayo, berangkat ke cafe biasa... Davi, Candra, Jili, sama Liam sudah berangkat"


"Eh... Ngapain?“


"Makan siang"


"Oh... Oke"


Saira menyetir seperti orang kesetanan. Seperti di kejar oleh sesuatu. Tak lama mereka sampai di cafe. Di sana terlihat sudah ada mobil Davi, Liam, dan Jili. Asha turun terlebih dahulu. Namun Saira kembali membuka jendela mobilnya jika ia tidak akan ikut makan, dan akan langsung cek Butik di Boyolali. Walau sebenarnya itu hanya alasan Saira. Asha merasa ada yang aneh dengan Saira. Tapi Asha menganggap Saira memang benar ingin ke boyolali. Karena saat akan ke Boyolali harus melewati pemandangan indah di kanan kirinya. Saat Asha memberitahu Liam, Liam langsung berlari keluar dan berusaha mengikuti Saira.


Saira memang mengarah ke Boyolali. Tapi tidak ke butik. Ia mengarah ke Ambarawa. Tepatnya ke rawa pening. Saira tidak mengetahui jika ada dua orang yang mengikutinya. Mobil yang terdekat dengan Saira mobil Liam. Tidak jauh ada Lita yang naik taksi. Ia tau jika Liam juga mengikuti Saira. Hati Lita sedih, batinnya terluka. Liam terlalu mencintai Saira, dan rela memutuskan hubungan mereka dulu. Walaupun sebenarnya ada alasan lain juga putusnya hubungan Liam dan Lita dulu.


Saira berjalan mendekati rawa. Tumben sekali di sini sepi. Mungkin karena cuaca panas, menyengat, dan bukan hari libur. Saira membeli minuman dingin dan beberapa cemilan di sana. Ia duduk di pinggir rawa. Tenang rasanya jika melihat rawa dari dekat begini. Sebelumnya pikiran dan hatinya tidak tenang saat memikirkan penuturan Lita. Saira memakai headphonenya sambil mendengarkan musik lewat handphone nya. Tanpa ia sadari Liam berjalan mendekatinya sambil membawa jaket. Liam duduk di samping Saira dan memakaikan jaket untuk Saira. Saira menengok. Ia tak menyangka Suaminya ada di sampingnya. Saira melepas headphonenya dan mematikan musik di handphone nya.


"Bukannya tadi makan siang sama yang lain?"


"Aku langsung ikuti kamu setelah Asha sampai, karena kamu gak sama dia"


"Ehm...."


"dan setelah dengar rekaman Davi"


"Hah... Rekaman Davi.... Rekaman apa?“


"Jangan pura-pura gak tau sayang"


"He... Udah tau ya.. Hehehehe"


"Gak perlu tertawa. Jika kamu tidak ingin membawa ke hukum aku paham"


"Terima kasih sayang" ucap Saira lalu di peluk Liam

__ADS_1


"Tapi kamu gak menaruh dendamkan" tanya Liam


"Aku bukan pendendam"


"Baguslah... Jangan berbuat hal yang merugikan dirimu ya sayang"


"Apa maksudmu?“


"Jangan membalas"


"Oh... Iya"


Lita mengamati dengan penuh amarah. Ia cemburu melihat Kemesraan dan kebersamaan mereka. Lita masih tetap berfikir seharusnya yang di peluk Liam sekarang adalah dirinya. Bukan Saira yang lemah. Lita melihat Candra dan Jili datang. Mereka berempat tampak tertawa berbahagia. Saira tampak tidak ada beban setelah bertemu dengannya. Candra, Jili, Liam, dan Saira mendekat ke rawa. Tapi hanya Saira yang tidak bermain air. Lita tidak tahan lagi dengan keceriaan mereka dan ia turun dari taksi dan mendekati Saira.


"Eh, aku ambil tas dulu. Masih di gubug" ucap Saira


"Sekalian ya Sai. Jangan lama Sai" ucap Jili


"Oke"


Lita mendekati Saira. Ia memandangi Saira dan berjalan mengelilingi Saira. Hingga ia berhenti berhadapan dengan Saira. Dengan posisi Saira membelakangi Liam dan yang lain. Jadi Lita dapat melihat Liam dengan jelas, yang saat ini terlihat Liam dan lainnya berjalan kearahnya. Lita segera melancarkan aksinya saat Liam terlihat dekat. Lita meraih tangan Saira, dan berpura-pura di dorong oleh Saira hingga ia sendiri terjatuh. Liam dan yang lain segera menghampiri Lita dan menolongnya. Liam melihat tangisan Lita terlihat semakin deras dan memegangi pundaknya.


"Lita... Lita... Kamu gakpapa?“ tanya Liam lalu membantu Lita duduk dengan bersandar di pundak Liam


"Sakit am.... Pas tulangku yang patah" ucap Lita pilu


"Saira.... Apa yang kamu lakukan... Kenapa kamu dorong Lita?" tanya Liam


"Dorong? Aku gak dorong" ucap Saira


"Aku lihat Saira... Saira aku tau kamu cemburu tapi jangan berbuat kejam"


"Kejam? Kamu ngomong aku kejam.... Liam... Apa kamu lihat dengan jelas jika aku dorong Lita? Liam... Lita jatuh sendiri...."


"Saira! Mana mungkin jatuh sendiri... Aku lihat tanganmu keangkat kok“

__ADS_1


"Apa jika begitu aku yang dorong? Ini hanya trik Lita"


"Trik? Lihat! Kamu dorong Lita di tulangnya yang patah! Aku tahu luka ini... Walau sudah setahun lebih, tapi luka ini cacat seumur hidupnya"


"Kamu fitnah aku Liam... Lita yang licik! Dia sengaja!"


"Saira... Kamu lupa obrolan kita tadi? Bahwa kamu bukan pendendam"


"Aku memang bukan pendendam. Aku gak melakukan apapun ke Lita"


"Tapi aku lihat dengan kedua mataku saira"


"Liam... Jangan begini... Percayalah padaku. Apa yang kamu lihat belum tentu benar. Ini akal-akalan Lita"


"Kamu tak berperasaan Saira. Aku gak sangka, istriku begitu kejam" ucap Liam lalu pergi membopong Lita ke rumah sakit


"Kamu mau kemana?“


"Apa urusanmu? Jika kamu tau akankah kamu berbuat kejam lagi pada Lita?“


"Sampun... Sampun mas mbak.... Mas... Mbak e niki mboten salah... Mbak e seng jenengan gendong niku seng tibo dewe" ucap penjual kaki lima yang sedari tadi mengamati


"Apa artinya? Aku ada yang gak paham" tanya Liam


"Lita yang kamu bopong yang jatuh sendiri! Itu artinya" ucap Candra


"Kalian! Kalian cuma kau bela Saira kan! Sama aja!“ ucap Liam geram


"Mas... Mas e mbak e niki seng bener" ucap penjual yang menunjuk Candra dan Saira


"Maaf pak. Saya harus bawa teman saya ke rumah sakit." Lirik Liam yang melihat Saira terduduk dengan air mata mengalir.


"Pulang dek... Kerumah kita.. Jili sayang kamu nyetir mobil Saira ya. Saira sama aku"


"Aku sama Jili kak"

__ADS_1


__ADS_2