Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi

Ku Mohon, Ini Bukan Mimpi
Bab 19


__ADS_3

Saira duduk tidak jauh dari Liam. Liam mulai memandang Saira tajam. Saira merasa tidak nyaman dengan pandangan Liam. Liam mengeluarkan laptop yang berada di bawah meja. Ia mengutak-atik laptopnya sebentar dan menunjukan rekaman cctv di hari Saira keguguran. Saira menatap layar itu. Ia menahan nafas. Walau sebentar dan hanya sekilas ia teringat postur tubuh itu. Seperti tubuh Lita. Apalagi sekarang ia melihat dengan jelas cara berjalan, postur, gerak - geriknya, ia semakin yakin jika itu Lita.


"Kamu kenal dia?" tanya Davi ke Saira dengan pandangan tajam


"Hah... Enggak lah kak... Dia kan penampilan seperti itu. Siapa yang tau jika dia tidak membukanya"


"Oh benarkah?“ tanya Candra


"kenapa bahas ini? Sudah cukupkan mengingatkanku jika calon anakku mati?" ucap Saira ketus


"Ketus amat... Santai dek" ucap Candra


"Sayang, aku ingin mencari tau siapa dia... " ucap Liam


"Udahlah... yang udah ya udah... Kenapa di bahas lagi. Di ungkit lagi. Udah luka tambah luka misal kita tau dia orang yang kita kenal" ucap Saira dengan wajah muram


"Kamu tau dia siapa?" tanya Liam


"Kan tadi aku dah jawab. Aku gak tau"


"Kenapa bisa ngomong orang yang di kenal?" tanya Candra


"Kan misal.. Seandainya... Bukan berarti tau"


"Sai, kita bukan sehari dua hari kenal lho?" ucap Jili


"Udah deh... Aku gak mau bahas lagi... Aku gak mau ungkit lagi... Misalnya pun aku menebak-nebak dia siapa, tidak akan aku katakan ke kalian. Maafkan saja. Toh udah lewat" ucap Saira berdiri lalu berjalan kebawah menuju dapur


"Saira.. Kok main pergi?" tanya Candra


"Gak mau bahas!“


"Aneh" gumam Candra


"Kenapa?" tanya Liam


"Saira tau pelakunya?" tanya Davi memandang Candra


"Masih gak kenal Saira Dav?" tanya Candra menghembuskan nafasnya "Dia kemungkinan tau, tapi gak mau kasih tau" sambung Candra


"ya.. ada kemungkinan begitu" ucap Davi


"Di gak mau bahas yang berarti dia gak mau lebih terluka jika orang itu benar yang mencelakainya" ucap Candra


"Yang berarti sudahi saja" ucap Davi


"Aku gak ikhlas" ucap Liam


"Jika gak ikhlas kau mungkin bisa menyelidikinya diam-diam" Tiba-tiba Jili buka suara

__ADS_1


"Usul yang bagus" ucap Asha


"Ya mungkin akan aku lanjutkan sendiri" ucap Liam


"Butuh bantuan? Kami siap" ucap Davi


"Bisakah kalian rahasiakan dari Saira?“ tanya Liam


"Tenang"


"Liam... Kami harus pulang" ucap Davi


"Ini juga rumah kalian"


"Kami harus pulang kerumah kami sendiri" ucap Candra


"Baiklah"


"Setelah makan siang kami akan pulang" ucap Asha


"Oke"


Saira melihat isi kulkasnya. Ia mengambil kentang beku, dan menggorengnya. Ia tidak peduli apa yang mereka bicarakan di lantai atas. Ia hanya tidak ingin membahasnya dan mengingatnya. Selesai ia goreng, ia mengambil beberapa saus dan ia bawa ke kamarnya di lantai atas.


Saira hanya melirik sebentar, saat ia sampai lantai 2. Mereka yang sedang berkumpul juga menatap Saira namun tetap diam tanpa berkata apapun. Saira masuk ke kamar, dan menguncinya lagi dari dalam. Ia membuka layar laptopnya dan kembali ke pekerjaannya yang sudah lama tidak ia pegang. Sampai adzan dhuhur berkumandang ia baru sadar jika sudah saatnya makan siang.


Saira membuka kamarnya. Keadaan sudah sepi dan ada suara tawa dan candaan ringan di bawah. Kesal rasanya, jika mereka malah membalas mengacuhkannya. Saira turun, Asha dan Jili langsung meraih tangan Saira. Mengajaknya duduk untuk makan siang. Saira tersenyum saja, melupakan kekesalannya tadi yang hanya sesaat, tapi ia tetap mematung berdiri di samping tangga.


"Heh? Ini kan juga rumah kalian... Kenapa pulang...." tanya Saira


"Lhah... Sama" ucap Asha dan Jili bersamaan lalu mereka semua tertawa


"Apa yang kalian ketawain?“


"omonganmu... Sama seperti Liam"


"Hah... Hehehehe" Saira ikut tertawa hambar


"Kami harus pulang dek... Kau bisa datang jika kangen"


"Ehm... Baiklah... Tapi ili.. Ash... Sering-sering kemari ya"


"Insya Allah sayang.... Karena lusa kita sudah kembali kerutinitas awal" ucap Asha


"Begitukah? Aku juga sudah mulai bekerja lagi tadi... Walau belum ke butik"


"Jangan dulu lah Sai" ucap Jili


"Aku baik kok.. Oh... Kalian sepertinya sebentar lagi wisuda kan?“ tanya Saira

__ADS_1


"Ya... Skripsi selesai tinggal sidang" ucap Jili


"Selamat ya" ucap Saira


"Dateng ya Sai"


"Pas wisuda? Oke"


"Jangan... Kau tidak boleh kebutik... Tidak boleh keluar rumah... Apalagi ke tempat ramai" Tiba-tiba Liam buka suara dengan pandangan ke makanannya tanpa menoleh sekalipun ke Saira


"Apalagi sih Liam... Larang ini itu... Aku dah gakpapa kok" ucap Saira mulai kesal lagi


"Kamu belum sembuh benar" ucap Liam memandang Saira


"Emang wisuda mereka lusa? Itu masih lama... Pas aku juga membaik" ucap Saira kesal lalu menaruh kasar piring bekas kentang gorengnya di meja dekat tangga dan berlari ke kamarnya


"Dia marah lagi?" tanya Liam ikut kesal


"Liam... Saira lagi super sensitif. Kenapa kamu sulut api terus?" tanya Asha lalu menyusul Saira


"Kamu jangan ikut kesal Liam! Ash!! Bawa Saira ikut kita pulang" teriak Jili mengekor di belakang Asha


"Eh.... Mau kalian bawa kemana istri gue?“ bentakan Liam membuat Asha dan Jili berhenti


"Berisik banget di tangga! Jangan berantem kalau di tangga!“ ucap Saira dari tangga teratas


"Saira mau ikut kami kerumah?" tanya Jili


"boleh.... aku ambil tas dulu" jawab Saira


"Sayang... Maaf jangan marah lagi ya"


"Maaf ili, saya menjadi hewan yang di kurung suami saya sampai batas yang belum di tentukan... Kalian pulang hati-hati ya" ucap Saira lalu berbalik menuju kamar


"kan.. kalau di kesal omongannya g bener" ucap Candra


"sabarlah.. ini hanya sesaat" ucap Davi menepuk pundak Liam


Asha, Jili, Candra dan Davi pulang. Saira menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Ia berfikir, apakah ia harus terus marah dan kesal kesuaminya. Karena yang ia punya sekarang hanya suaminya. Ia membuka kunci kamar ia melihat Liam duduk di sofa sambil mengutak-atik laptopnya. Liam sadar, dan segera ia ganti dengan laporan restauran.


"Mau di buatkan kopi?“ tanya Saira


"tidak perlu sayang... Sini... Duduklah" ucap Liam lalu menarik tangan Saira


"Maaf ya... Maaf aku marah terus"


"Aku mengerti sayang... Sayang, kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau, tapi sama aku"


"Hem... Terima kasih Liam, tapi gak perlu... aku akan menurutimu" ucap Saira

__ADS_1


Liam tersenyum dan mencium kening Saira "Segeralah sembuh sayang" ucap Liam


__ADS_2