
Wajah Saira sudah pucat pasi, namun ia masih berusaha menahan sakit dan ngilu di perutnya. Liam memutuskan untuk membawanya ke dokter kandungan. Karena seharusnya setelah keguguran dan di kuret perempuan tersebut harusnya istirahat. Tapi ini Saira malah naik pesawat untuk pulang. Ini sudah merupakan kesalahan.
Setelah sampai rumah sakit, dokter Karin, seorang dokter kandungan, teman baik Laras, langsung memeriksa Saira secara menyeluruh. Hasilnya tak memerlukan waktu lama untuk keluar. Infeksi rahim. Tidak perlu penanganan khusus, hanya perlu rajin minum obat tepat waktu, banyak istirahat, dan untuk sementara waktu dilarang berhubungan dahulu. Untuk kasus Saira, akan lebih baik jika menjaga emosinya. Karena Saira mudah depresi bila ada kejadian buruk yang menimpa dirinya. Saira tidak perlu menginap di rumah sakit, untuk saat ini ia di beri obat lewat jalan yang lebih cepat bereaksi. Untuk selanjutnya setelahnya ia bisa pulang dan rutin minum obat di rumah.
Selama perjalanan Saira tertidur. Untunglah ia tertidur. Paling tidak, ia tidak merasa sakit jika tertidur. Saira bangun saat langit sudah gelap. Ia melihat sekeliling, ini bukan kamarnya batinnya. Tapi ia mengingat kembali kata Liam sebelumnya. Ini rumah barunya bersama Liam, dan ini berarti kamarnya bersama Liam. Saira beranjak dari tempat tidur, badannya masih lemas, suhu tubuhnya masih tinggi, ia berjalan menuju pintu lemari, ia melihat banyak pakaian di sana.
Saira masuk lebih dalam menuju toilet. Ia membuka pintunya, ia terpesona dengan desainnya. Desain ruang shower diterapkan pada kamar mandi dengan bentuk persegi panjang, dengan bathtub di salah satu ujung ruangan. Area pancuran dengan box kaca yang diletakkan di tengah antara meja rias dan bak mandi. Area lantai kamar mandi kering dan basah juga dapat dibedakan dengan penggunaan material lantai yang berbeda. Papan kayu yang tahan terhadap udara yang terkesan lebih natural. Lagi pula di meja rias sudah lengkap dengan make up yang biasa Saira pakai. Saira tersenyum bahagia. dengan pemandangan yang ia lihat di toilet kamarnya.
Ia keluar kamar, di luar kamarnya ada beberapa pintu, dan ada tangga ke atas dan ke bawah. Saira turun perlahan ke bawah. Ia menatap semua orang sedang di ruang keluarga. Mereka terlihat serius hingga tak menyadari jika Saira turun dari lantai 2 dan menuju kemeja makan untuk menuang air mineral. Rasanya benar-benar tidak nyaman punggungnya untuk berjalan ke sana kemari. Kesal rasanya ia tidak di pedulikan. Saira mendekat, ternyata mereka membicarkannya dan hal yang terjadi di Bali.
Prank... Gelas yang Saira pegang jatuh, membuat semua orang yang berada di sana spontan melihat kearah Saira.
"Ah. Maaf... Gak sengaja" ucap Saira lalu nunduk dan mencoba membereskan pecahan kaca
"Sayang.. Duduk.." ucap Liam yang terdekat dengan Saira "Mirna... Tolong bersihkan ya" imbuh Liam
"Baik" jawab Mirna dari dapur
"Kamu sudah bangun Sai?" tanya Asha
"Hem"
"Makan ya... Seharian belum makan" bujuk Davi
"Gak laper kak"
"Kan harus minum obat. Cream sup aja... " ucap Liam
"Oke."
"Aku ambilin" ucap Jili
__ADS_1
Tak beberapa lama Jili datang dengan cream sup hangat, air mineral dan obat Saira. Rasanya malas sekali untuk makan. Saira ternyata hanya mampu 4 suapan saja. Saira sudah tidak ingin lagi makan, dan ia langsung minum obatnya sekaligus lalu akan pergi menuju kamarnya. Baru beberapa detik Saira selesai, handphone Liam sudah berdering. Ia melihat di layar, bundanya video call.
"Halo bunda"
"Halo sayang... Bagaimana kabarmu?"
"Baik bunda"
"Dimana sekarang?"
"Sudah di rumah baru kami bunda"
"Dimana Saira? Bagaimana keadaannya?"
"Halo bunda" sapa Saira setelah handphone Liam di berikan ke Saira
"Bagaimana keadaanmu sayang"
"Eh Saira mau kemana tu" tanya Candra
"Biar aku temani" ucap Liam lalu segera berjalan ke samping Saira
"Jangan khawatir bunda... Aku baik kok" ucap Saira
"Tapi kau terlihat tidak baik sayang. Wajahmu terlalu pucat, dan terlihat kau lebih kurus"
"Masih proses penyembuhan bunda"
"Sayang... Kau hanya keguguran. Kau masih muda, dan akan hamil lagi... Percayalah sayang"
Tenggorokan Saira tercekat. Ia berhenti dan tidak melanjutkan jalan.. Saira menanggapinya dengan senyum simpul saja.. Dalam hati Saira ia merasa tidak yakin..
__ADS_1
"Bunda, sudah dulu ya. Saira harus istirahat" ucap Liam mengambil alih
"Iya sayang... Saira, kuatkan hatimu sayang. Bunda yakin kau akan hamil lagi"
"Sudah ya bunda"
"Iya sayang. Eh tunggu, Saira, berdoa, beribadah. Jangan lupakan hal itu nak"
"Iya bunda, aku akan mengingatkan Saira"
"Ya sudah. Malam sayang"
"Malam bunda"
Air mata Saira menetes, tak mampu ia bendung lagi. Liam memeluk Saira lalu membopong Saira. Saira masih memeluknya, dan menangis selama dibopong Liam. Wajahnya tenggelam dalam bahu Liam. Liam berpamitan dan memberi isyarat jika ia akan memnemani Saira terlebih dahulu.
"Saira nangis ya tadi?“ tanya Asha
"Mungkin tante Yuna bahas kegugurannya Saira" ucap Candra
"ya. bisa jadi" ucap Jili
"dari watak Saira ia akan sulit move on" ucap Asha
"semoga Liam selalu ada di sisinya" ucap Davi
"Tapi... kegugurannya Saira menurutku di sengaja lho" ucap Jili
"sepertinya ia sengaja di dorong. bukan tidak sengaja tersenggol" ucap Asha
"jika hanya di senggol mana mungkin ia sampai jatuh keras seperti itu" ucap Candra
__ADS_1
"nantilah kita bicarakan dengan Liam" ucap Davi