
Benar apa yang Saira batin, ia terbangun jam 2 malam, perutnya lapar, terpaksa ia makan, walau akhirnya tetap tidak habis. Selesai makan ia sikat gigi, dan berniat kembali tidur. Namun mata tak kunjung mampu tidur. Sampai Adzan subuh berkumandang, ia tak juga tidur, Saira baru bisa tertidur saat jam menunjukan pukul 5 pagi, itu pun ia tidur di lantai yang dingin. Selang 1 setengah jam Davi dan Candra mengetuk pintu Saira dengan kencang. Otomatis Saira terbangun dengan kepala yang sangat pusing.
"Gila! Aku baru tidur jam 5! Kenapa kalian ngetuk kencang banget? Pusing nih!" umpat Saira kesal
"Buat apa kamu tidur jam segitu dek?" tanya Davi
"Insomnia? Ato stress?" tebak Candra
"Semua! Dah aku mau tidur! Jangan ganggu"
"Eh Liam di sini... Dia mau berangkat" ucap Candra
"So what?... Whatever!“ jawab Saira asal
"Sayang... Kamu kenapa? Kamu gak mau aku pergi? Katakan!“ perintah Liam
"Terserah! Kepalaku pusing! Mau pergi mau enggak, mau kemana... Mau balik atau gak, Terserah! Aku bukan siapa-siapa mu!“ ucap Saira
"Begitu bicaramu? Buka pintunya. Atau aku dobrak" pinta Liam
"Serah! Terserah!" jawab Saira
Liam mendobrak pintu kamar Saira. Saira tampak kacau, wajahnya pucat, kantung mata, mata hitam terlihat jelas di wajah kusut Saira. Di tambah ia yang masih memeluk tiduran guling di lantai. Davi melihat jika makanannya tidak ia habiskan dan di taruh begitu saja di meja. Obatnya juga terlihat tidak ia pegang sama sekali.
"Kamu kenapa?“tanya Davi lalu mendekati Saira yang lalu memunggungi pintu
"Kamu silet tangan lagi?" tanya Candra lalu meraih tangan Saira
"Apa sih! Enggak! Kalian dah sita semua cutter n isinya!“ jawab Saira
"Terus kamar berantakan, kamu tidur di lantai, kmu stress kenapa?" tanya Candra
"Siapa yang stress? Ngantuk... Mau tidur"
"Butik kamu gimana?" tanya Davi
"Ada karyawan handal yang bisa jalan tanpa aku. Lakunya berapa mereka juga bakal setor ke aku ntar malem"
"Liam mau bicara" ucap Davi
"Apa? Mau berangkat? Monggo... Silahkan... Hati-hati lah"
"Kalau udah gini, nunggu moodnya baik" ucap Candra
__ADS_1
"Keluarlah. Sudahkan? Tapi pintu gak bisa di kunci, jadi jangan masuk seenaknya"
"Nanti kakak panggilkan tukang, sama kakak belikan handphone" ucap Davi
"Kamu! Minum obatnya! Obat semalem harusnya di minum, ini gak di minum! Mau sembuh gak? Mau sakit terus gini?" omel Candra
"Ya" jawab Saira singkat lalu melirik Liam. Liam mematung dengan kondisi Saira " kenapa? Kaget penampilanku begini? Jadi gak suka? Keluar aja.. Putusin aku... Batalin nikahnya! Selesai!" ucap Saira ke Liam
"Kamu bicara apa sih?“ tanya Liam
"keluarlah. Aku kasih kamu kesempatan buat mikir ulang kalau mau nikah sama aku"
Liam kesal, ia keluar kamar Saira di ikuti Davi dan Candra. Tak lupa, Candra menutup pintu kamar adiknya. Davi menepuk pundak Liam. Ia bisa tau jika Liam saat ini kesal dengan adiknya.
"Maafkan Saira. Dia memiliki kebiasaan buruk sejak kecil. Dia selalu di bully jika tidak memiliki ibu, dan semua bully itu dia sembunyikan, tapi ia selalu silet tangan sendiri atau menyakiti diri sendiri jika dia stress atau ada masalah" ucap Davi
"Sakit apa di begitu?“ tanya Liam
"Mungkin gangguan psikologis" ucap Candra
"Serius?"
"Kita tidak pernah membawanya kedokter, itu akan membuatnya lebih tidak nyaman" ucap Davi
"Dia pernah benturin kepala ke ujung meja kayu, hingga ia berdarah, karena berantem sama papa" ucap Candra
"Aku pernah tanya temen yg dokter, Karena ketidaktahuan diri mengenai bagaimana cara mengatasi rasa emosi negatifnya, kurangnya pemahaman tentang emosi yang dia rasakan, kesulitan mengekspresikan emosi membuat individu tersebut akhirnya melakukan hal tersebut dan menjadikannya sebagai jalan keluar" jawab Davi
"Jadi saat begini kita selalu lebih ketat awasi dia" ucap Candra.
"Mungkin dia sebenarnya tidak ingin kamu berangkat karena khawatir. Tapi ia selalu enggan mengungkapkan apa yang ada di hatinya" ucap Davi
"Aku harus tetap berangkat vi, dra" ucap Liam
"Kami paham. Kami akan bicara padanya. Tenanglah" ucap Candra
Liam mengangguk mengerti dan ia pergi. Davi menelpon Yelu, jika untuk sementara harus menjaga Saira, dan mereka tidak pergi bekerja. Candra menghampiri kamar Saira. Saira mengizinkannya masuk. Terlihat kamar Saira sudah kembali rapi. Obatpun juga sudah ia minum. Tapi Saira duduk di kursi gantung di balkon kamarnya. Dari kamarnya ia bisa melihat Liam yang akan pergi. Saira menghembuskan nafas panjang, Saira merasa ia lelah. Sangat lelah.
"Dek, kamu belum sembuh" ucap Candra
"Kak, papa punya villa di Tawangmangu kan? Kesana yuk kak..." ajak Saira
"Bilang papa dulu ya" ucap Candra
__ADS_1
Lalu beralih ke Davi yang masih berada di luar kamar.
"Ngajak ke villa tuh" ucap Candra
"Pa aku speaker ya. Pa, Saira ngajak ke villa tuh" ucap Davi menjauh dari kamar Saira dengan Candra
"Ya. Kesanalah. Mungkin dengan kesana ia segera sembuh"
"Satu atau dua minggu ya pa" ucap Candra
"Terserah kalian. Pekerjaan bisa papa yang handel. Kalian rawat saja Saira"
"Baik pa"
"Jangan lupa belikan adikmu handphone. Papa susah mau hubungi dia. Jangan lupa juga obat-obatannya"
"Iya pa"
Candra dan Davi kembali ke kamar Saira. Mereka melihat Saira masih sama. Belum beranjak dari kursi kesayangannya. Saira gembira begitu di perbolehkan. Ia segera menyiapkan pakaiannya dan beberapa barang yang di butuhkan. Tak lupa ia bawa cutter yang sebenarnya ia masih mempunyai cutter baru yang ia sembunyikan. Soal obat Davi selalu tak lupa untuk Saira.
"Obat?" tanya Candra
"Sudah"jawab Davi
"Inhaler asma?“
"Tenanglah Candra"
"Mampir dulu ke toko handphone"
"Iya. Nomer di Handphone lamanya?“
"Di tas"
"Oke. Tunggu Saira keluar"
"Mbak anna, kita akan pergi sekitar satu dua minggu, jaga rumah ya mbak. Jika ada apapun langsung hubungi kami" ucap Candra
"Baik. Lalu jika saya mau hubungi non Saira bagaimana mas?“
"Nomor biasanya aja. Nanti saya beli handphone dulu" ucap Davi
"Udah kak" ucap Saira
__ADS_1
"Ayo. Sini tasnya kakak bawakan" ucap Davi
"Mampir beli handphone nya kamu pilih sendiri" ucap Candra