Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Canggung dan Merasa Frustasi


__ADS_3

"Harus bagai mana ini? Coba katakan harus bagaimana? Ah...kenapa aku pusing memikirkan ini!"


Dara mengacak-acak rambutnya sendiri sambil menatap dirinya di depan cermin. Kemudian merapihkan kembali rambutnya, menghela nafas dalam-dalam dan dikeluarkan secara perlahan diulang sampai tiga kali.


"Dara...anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa dan lupakan."


Sebuah senyuman manis terpantul dari cermin itu. Dara bangkit dan segera bersiap berangkat sekolah. Namun setelah dia membuka pintu sang mommy berkata:


"Temanmu sudah lama menunggu didepan rumah sayang, kenapa baru turun? kamu selalu mempunyai kebiasaan buruk!"


Suara itu terdengar dari arah kamar mandi, lagi-lagi mommy nya ini sangat senang mengomentari putrinya.


"Tapi anakmu ini sangat cantik kan mommy, itu kelebihanku. Aku berangkat ya!"


"Iya, hati-hati."


Suara sang mommy sangat nyaring.


"Siapa temannya yang mommy bilang?"


Dara mengerutkan keningnya dan segera membuka pintu. Sebuah senyuman indah berarah kepadanya, mata yang hitam pekat itu sangat bersinar. Dara tertegun dan tanpa sadar menjatuhkan tasnya yang belum sempat ia pakai.


"Kau...kau...kenapa kesini? kenapa ke rumah ku? Kenapa bisa tahu rumahku? Apa kau menguntit?"


Pertanyaan itu terlontar tanpa jeda dan jarinya menunjuk ke wajah itu. Glen hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum datar.


"Aku hanya kebetulan lewat dan bertemu mommy mu, dia menahanku dan menyuruh kita berangkat bersama!"


Tegasnya, tak ingin disebut penguntit. Gadis ini selalu berfikiran buruk tentangnya.


"Aku bisa berangkat sendiri, kau duluan saja."


Tangannya melambaikan, menunjukkan agar Glen berangkat duluan. Tanpa menjawab, Glen pun meninggalkannya. Dia berangkat dengan mengendarai sebuah motor besarnya. Sangat terlihat identitas Glen yang bukan orang biasa-biasa dari motornya itu yang bisa dibilang harganya pasti mahal.


"Dia sangat menyebalkan, sangat menyebalkan! Pergi pun tak berkata apa pun. Hey Glen, awas kamu ya..."


Teriak Dara pada glen yang sudah berlalu, teriakannya tak akan mampu didengar Glen karena dia sudah tak terlihat. Emosinya tak terbendung, pasalnya Dara sudah menenangkan dirinya sejak tadi perihal masalah dia dan Glen. Tapi pagi ini sebelum sampai sekolah dia sudah melihat wajah pria brengsek itu.


Dara tak ingin kesiangan ia pun bergegas pergi. Namun, baru melangkahkan kaki beberapa langkah tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya dan berhenti, sang pemilik mobil menurunkan kacanya.


"Ayo naik! Kita berangkat bersama, ini akan telat jika kamu berjalan ke halte dan menunggu bus."


Dara menatap mata pria itu yang bersinar cerah dan ramah. Sungguh menenangkan.


"Baiklah."


Tanpa basa-basi Dara langsung membuka pintu mobil dan duduk disebelah kursi kemudi. Mobil itu pun melaju pergi.


"Terimakasih."


Nada suara Dara terdengar sangat tulus.


"Sama-sama, tidak perlu sungkan."


Jawaban yang datar juga terlontar.


"Ezra..."


"Hmmm...?"


Dara melihat wajah Ezra dengan penuh keseriusan.


"Kemarin, kamu dan Sean kenapa bertengkar?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


"Tapi aku lihat ada apa-apa, kalian bertengkar dan aku tahu itu! Kalian berdua temanku, sama-sama baik kepadaku aku tidak mau kalian saling bermusuhan."


"Sebaiknya kau tanyakan hal itu pada Sean. Dia yang memulai duluan."


Sesampainya di sekolah, Dara mengajak Sean dan Ezra bertemu di lapangan basket saat jam istirahat. Tentu saja Dara juga ada disana, sudah bisa di rasakan aura yang keluar dari masing-masing orang itu dalah kemarahan.


"Cepat kalian bilang kepadaku, ada masalah apa?"


Sean melihat Dara yang mulai berbicara.


"Kenapa kamu peduli?


Nada bicara Sean, acuh tak acuh.


"Hey,,, kalian temanku. Apa aku tidak boleh peduli?"


"Tidak perlu. Mulai hari ini, aku tidak mau berteman denganmu ataupun Ezra. Kalian memang kompak dan cocok."


Dara mematung mendengar perkataan Sean, tak lama Sean pergi meninggalkan mereka. Dara hanya menatap punggungnya. Disisi lain Ezra hanya diam tak memberi komentar apa-apa.


"Kenapa Sean juga marah kepadaku?"


Dara sungguh tidak mengerti kenapa sikap Sean seperti itu.


…....


Drt...drt...drt...


[Dara, kita sepertinya perlu mengadakan makan malam bertiga dengan mommy mu. Ada hal gembira yang ingin paman sampaikan.]


[Benarkah? Hal apa? Apa aku boleh mendapat bocoran terlebih dahulu?]


Benar saja, saat waktu menunjukkan 20.00 sebuah mobil mayback hitam berada di depan rumah Dara. Seorang supir menjemput mereka, mommy dan Dara. Sesampainya di restoran mereka melihat restoran ini sepi, memang restoran ini adalah termasuk yang paling mahal di negaranya tetapi tidak ada satu orang pun yang berkunjung dan hanya mereka saja. Ini sangat aneh.


Di suatu tempat duduk ada seseorang yang telah menunggunya. Dara dan mommy langsung menghampiri.


"Malam paman tampan."


Dara menyapa terlebih dahulu. Dan itu diterima dengan ramah dan baik oleh pria itu, Mickel.


"Duduklah, kita pesan makanan terlebih dahulu."


Tatapan Mickel tak lepas dari Nidia, malam ini Nidia memakai dress diatas lutut dan bagian atasnya terbuka. Menunjukkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang sangat sexy. Sungguh ini hal yang Mickel sukai, tatapannya pun semakin dalam.


"Paman..."


Panggilan Dara membuyarkan lamunannya. Kemudian melihat ke arah Dara dengan penuh senyuman.


"Sebenarnya apa hal baik yang paman maksud tadi siang?"


"Kedepannya kamu hanya perlu memanggilku Daddy, ok."


Dara mengedipkan matanya tiga kali, lalu melihat ke arah mommy nya. Lalu dia baru menyadari tangan mommy nya sudah melingkar sebuah cincin, begitupun dengam paman tampan itu.


"Aa...apa, ini sungguhan?"


"Tentu saja, mulai hari ini panggil Daddy ya. Kemudian aku harus memanggilmu apa?"


Mickel ingin lebih dekat dengan Dara dan memahaminya.


"Panggil pricess."

__ADS_1


Dara hanya nyengir dan mengucapkan kata itu. Mickel tertawa dan mengacak lembut rambut Dara.


"Baiklah princess nya Daddy."


Sungguh, ini makan malam terhangat yang Dara rasakan. Tapi disisi lain sang mommy tidak banyak memberikan kata-kata, hanya berbicara saat ditanya saja. Dara merasa aneh dengan sikap mommy nya.


"Mommy..."


Sang mommy langsung melihat Dara.


"Ia sayang, kenapa?"


"Mommy yang kenapa? Ada apa?"


"Ah, mommy mu sedang banyak pikiran princess. Dia sepertinya sedang gugup."


"Gugup, kenapa?"


"Seminggu lagi kita akan melangsungkan pernikahan."


"Hah...seminggu?"


Dara benar-benar membulatkan matanya dan membuka mulut lebar-lebar. Ini sungguh sangat cepat, diluar pemikirannya. Setelah acara makan malam selesai, Dara diantar terlebih dahulu oleh supir Mickel. Di restoran itu hanya tersisa Nidia saja dan Mickel.


"Honey, kamu tidak perlu gugup."


"Mickel, ini terlalu cepat menurutku."


"Tidak ada yang terlalu cepat, ini hal yang sudah aku tunggu selama satu tahun. Apa kamu ingin melihat sesuatu?"


Mickel mengalihkan pembicaraan.


"Melihat apa?"


Mickel bangkit dan menarik tangan Nidia, mereka perlahan menuju sebuah ruangan VVIP yang sepi. Pintu di tutup dan Mickel mengeluarkan sebuah kotak bludru, isinya ada sepasang anting yang sangat berkilau. Desainnya sederhana tetapi tetap memunculkan kesan mewah. Anting itupun dipasangkan di telinga Nidia. Setelah itu Mickel mengecup daun telinganya, itu membuat sekujur tubuh Nidia menegang.


Mickel senang dengan perubahan tubuh Nidia, Mickel langsung membalikan badan Nidia. Punggungnya dengan dadanya saling menempel erat. Tak menunggu reaksi Nidia, Mickel langsung mengecup daun telinga Nidia lagi dan memainkan dengan lidahnya. Satu tangannya sudah berada di depan dada Nidia dan sesekali meremasnya. Sedangkan satu tangan lagi sudah masuk ke bawah dressnya dan bermain disana.


"Aaaah...."


"Kamu sudah basah, honey."


Suara itu hangat masuk ke dalam telinga Nadia, semua perlakuan Mickel dia tak bisa menolak karena dia juga menginginkannya. Menginginkan sentuhan hangat dari Mickel yang akan menjadi suaminya. Celana dalam Nidia pun sudah turun ke bawah dan dressnya dinaikkan sampai pinggang. Terlihat bokong Nidia yang bulat dan berisi, membuat Mickel semakin menginginkan Nidia. Mickel sudah siap dan mengarahkan intinya kepada Nidia. Malam ini menjadi milik mereka berdua. Desahan-desahan mesra berada di ruangan VVIP tersebut.


.......


Sesampainya dikelas Dara segera duduk dan tentu disebelahnya juga sudah ada Sean.


"Kamu selalu menolak ku untuk pergi bersama ke sekolah, tapi menerima ajakan Ezra. Bukankah itu tidak adil?"


Sean pun menatap Dara dengan wajah datar.


"Percakapan apa ini? kenapa membahas adil atau tidak? Apakah dia marah karena hal ini?"


Dara bergumam dalam hatinya.


"Apakah dia seperti seorang istri yang sedang berpoligami yang harus adil terhadap kedua suaminya?"


Dara hanya mnyunggingkan bibirnya dan tidak menoleh. Tak menjawab dan hanya menyiapkan buku dan alat tulisnya. Data meninggalkan kelas dan tak menyadari bahwa Sean telah mengikutinya, saat ditempat yang tidak begitu ramai tangan Darabdi genggamnya. Darabberbalik dan menepis tangan yang menggamnya. Tapi terlambat, Sean sudah semakin mendekat dan meraih tangannya dengan cepat dan bagian kepalanya ditahan satu tangan, mendekatka ke arahnya membuat bibirnya Sean dan dirinya bersatu. Dara membulatkan matanya, berusaha melepaskan dan menolak, tapi Sean tak berhenti dan mengulangi hal yang sama hingga Dara merasa frustasi dan membiarkan Sean menciumnya. Ciuman yang hanya sepihak, karena Dara tak membalasnya. Ciuman itu tak lama, Sean segera melepasnya. Jujur, Sean merasa puas dengan sikap Dara yang tidak menolaknya. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan memdarat dipipinya.


Plakkk...


"CUKUP, JANGAN MENGGANGGUKU!"

__ADS_1


Mata Dara sudah berkabut dan dia hanya bisa mengepalkan tangan dan meneriaki Sean. Tak lama dia berlari menuju toilet wanita, meninggalkan Sean.


__ADS_2