Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Tak Cukup Satu Rasa


__ADS_3

Dara tak ingin memikirkan mengenai panggilan Sean lagi. Sekarang, dia harus bergegas ke rumah sakit dan menemui orang tua Ezra. Mobil taxi itu pun sudah mengantarkan sampai di depan pintu masuk XXXX Hospital. Dara turun dan menuju kamar rawat inap VIP yang diberi tahu orang tua Ezra.


Di bangsal, Dara dapat melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk menunggui putranya yang masih memejamkan matanya, belum sadarkan diri. Di lengan Ezra tertusuk jarum infus, dan...pergelangan tangannya di perban.


"Ada apa ini?" Gumamnya, Dara saat itu juga mendekati perempuan yang sedang duduk di sisi ranjang pasien.


"Tante." Panggilnya kepada wanita paruh baya itu.


"Dara..." Wanita itu memanggil Dara, ya dia ibu dari Sean yaitu Nyonya Helen.


Helen kemudian meraih tangan Dara dan membawanya duduk di sofa.


"Duduk lah nak." Ucapnya dengan ramah.


"A...ada apa ini tan?" Dara masih bingung dengan situasi ini. Pasalnya dini hari tadi, saat Dara mengantar Ezra pulang ke apartemennya pria ini baik-baik saja.


Tapi saat menjelang malam dia mendapati kabar seperti ini. Semuanya seperti mimpi. Helen perlahan terisak, hati siapa yang tidak sedih melihat putranya terbaring sakit. Dara tak mengerti dan seger meraih tangan Helen dan coba menenangkan wanita paruh baya itu. Saat sudah tenang, Helen pun mulai bicara.


"Ezra sempat sakit, saat satu tahun lalu tepatnya dua bulan sebelum kalian ujian kelulusan."


Dara ingat, Ezra memang pernah tidak masuk sekolah selama satu bulan di karena kan sakit. Dara tidak tahu Ezra sakit apa, karena waktu itu pun Ezra tak memberi tahu...baik pun Dara tak pernah bertanya lebih banyak atau mencari tahu.


"Ezra, mengidap bipolar. Dia mulai mengalaminya saat ditinggalkan Monica." Lanjut Helen.


Deg.


Raut wajah Dara seketika itu pun memucat, telinganya berdengung seolah yang di dengarnya hanya kesalahan telinganya saja. Penyakit bipolar ada mengenai kejiwaan, tapi bukan gila. Melainkan perubahan perasaan yang bisa berubah-ubah begitu cepat, namun juga tidak bisa di anggap enteng. Pasalnya orang yang mengidap penyakit ini dapat menyakiti diri sendiri.


"Hari ini, sakitnya kambuh karena dia kehilangan mu." Nyonya Helen menjatuhkan lagi air matanya.


"Dia mencoba bunuh diri, kebetulan kami tadi siang baru sampai di sini dan mendapati dia sudah tergeletak berlumuran darah. Entah apa yang terjadi jika kami tak datang hari ini ke sini." Isakan Helen semakin keras.

__ADS_1


Dia juga butuh waktu untuk mengatur lagi nafas dan perasaannya, kemudian lanjut berkata:


"Kami tak ingin hal ini terjadi, maka dari itu kami berusaha memenuhi keinginannya untuk melamar mu. Namun, kami mendapat kabar dari orang tua mu untuk pembatalan pertunangan dan tidak menerima lamaran."


Dara mengerti, kenapa orang tua Ezra tiba-tiba datang ke sini. Itu karena hal ini, jika mereka telat sedikit mungkin tidak ada yang tahu Ezra sudah sekarat.


"T..tante, maaf kan aku...a..aku..." Suaranya tertahan, tenggorokannya seperti tersumbat. Dara benar-benar merasa bersalah.


Dara menoleh Ezra yang tengah terbaring dan seketika itu air matanya pun ikut luruh. Helen meraih tangan Dara kembali. Dara pun menatap nya.


"Bantu Tante untuk menyembuhkan Ezra, hanya kamu yang bisa membantu pemulihannya. Tante mohon."


Nyonya Helen langsung menurunkan satu kakinya dan turun ke bawah, Dara yang melihat tindakan ini langsung mengangkat Helen ke atas untuk duduk kembali.


"Tante, tidak perlu seperti ini. Aku mohon jangan bersikap seperti ini. Aku yang sudah jadi penyebab Ezra sakit. Apa yang bisa aku bantu, aku pasti bantu untuk Ezra."


Seketika itu mata Helen bersinar, dia mendapat kesempatan untuk kesembuhan putranya, putra satu-satunya.


"Dara, kamu hanya perlu di sisi nya. Menemaninya terapi dan mengingatkan Ezra untuk meminum obat. Semoga dia cepat pulih jika ada kamu di sisi nya."


Helen mengembangkan senyumannya dan dia juga pulang dan beristirahat. Dara menemani Ezra di sisi ranjangnya kemudian mengelus punggung tangan pria ini dengan lembut. Wajah Ezra terlihat pucat, karena dia kehilangan banyak darah.


"Ka Ezra, kenapa harus seperti ini? Kamu gak bisa menyiksa diri mu sendiri karena orang lain apa lagi orang itu aku. Cinta itu tak cukup satu rasa ja, harus dari keduanya."


Dara menghela nafas panjang...lanjut berkata:


"Aku mencintai dan menyayangimu, tapi bukan sebagai kekasih. Rasa ini hanya perasaan adik kepada kakak nya. Aku sudah pernah mencobanya, tapi hati ini sungguh sudah di penuhi orang lain ka."


Dara pun menundukkan kepalanya di sisi ranjang. Cairan bening menetes ke bawah. Pria ini masih tak membuka matanya dan tak terasa Dara pun mulai tertidur di pinggir rajang pria ini dengan masih menggenggam tangan pria ini.


...........

__ADS_1


Di sisi lain ada yang sedang kebakaran jenggot, apa lagi saat mendengar kabar Dara bersama Ezra di rumah sakit dan Dara menemani pria ini. Tak hanya itu Zack juga memberikan foto Dara yang sedang mememani Ezra. Sean tidak tahu Ezra sakit apa, namun laki-laki ini ingin menjauhkan Dara dari Ezra.


Namun, hubungan mereka sekarang sedang tidak baik. Sean terus mondar-mandir memikirkan suatu cara. Akhirnya dia memiliki satu cara, yaitu Ezra harus dekat lagi dengan Monica. Kebetulan waktu itu dia sempat menyimpan nomor Monica dan itu bisa berguna sekarang.


Drt...drt...


Monica sedang memandangi wajah pria di layar ponselnya, tiba-tiba layar ponselnya berdering ini sungguh mengganggu.


[Sean Calling]


"Sean? Tumben dia telpon." Gumam Monica.


Tak menunggu lama, Monica menerima panggilan itu.


"Ini sudah larut malam tuan Sean, ada masalah apa sehingga menghubungi seseorang selarut ini?"


"Haha...maaf kan aku Nona Monica, apa aku sangat mengganggu mu? Tapi, sepertinya tidak." Sean menebaknya.


Tebakan Sean benar, Monica memang belum tidur dan dia sedang memandangi foto Ezra saat masih bersama-sama. Tapi panggilan Sean mengganggu.


"Katakan ada apa?" Monica tak ingin Sean bertele-tele.


Sean yang mendapat respon seperti ini menarik sudut bibir nya. Dia menggoyangkan gelas yang berisi air merah pekat dan menaikka alisnya.


"Ezra sedang sakit, apa kamu tahu?"


Monica terdiam, dia benar-benar tidak tahu. Tapi Sean memberi tahunya sekarang. Dia pun yang tadinya tenang menjadi panik.


"Di rumah sakit mana?" Tanya nya dengam cemas. Suaranya terdengar sangat getir.


"Tenanglah Nona Monica." Ucap Sean.

__ADS_1


"Tapi aku perlu kamu bekerja sama dengan ku terlebih dahulu."


Monica menyipitkan matanya, dia berpikir sejenak dan sepertinya harus menaruh rasa waspada kepada Sean sekarang.


__ADS_2