Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

"Kringggg....kringgg...kringggg...." bunyi yang sangat keras memenuhi kamar Dara yang tertidur dengan sangat pulas. Mendengar kebisingan itu tangannya meraba-raba ke nakas sisi tempat tidur dan meraih jam weker disampingnya kemudian memencet tombol off dengan mata yang masih terpejam.


Tidurnya pun akan berlanjut, namun baru saja akan memejamkan mata kembali kesadarannya disedot kembali karena dari luar sang mommy menggedor-gedor pintu kamarnya dan berteriak keras "Dara,,,,, bangunnnn sayang...wake up!!!" suara itu seketika membuatnya membuka mata penuh tanpa rasa kantuk lagi, tidak berani untuk tidur kembali karena suara sang Mommy yang begitu melengking hingga masuk semua ke telinganya. Alarm terampuh yaitu suara sang mommy tentunya.


Dara turun dari tempat tidurnya, dan berlari kecil ke arah pintu.


"Suara mommy sangat cempreng dan wajahnya pasti sedang suram di belakang pintu sana." Gerutunya dibalik pintu.


Membayangkan itu, Dara tak ingin berlama-lama lagi dan perlahan membuka pintu kamarnya. Ekspresi sang mommy datar dan hanya menggelengkan kepalanya. Dara memasang wajah polos dan lugu sambil tersenyum.


"Mommy, aku sebenarnya sudah bangun dari tadi. Tolong jangan berteriak lagi."


Namun, seketika itu bokongnya malah dipukul oleh sang mommy.


"Anak kecil ini, masih saja susah bangun tidur. Masih berani bohong juga. Kapan anak mommy akan menjadi gadis yang tumbuh lebih dewasa?" Dia masih menganggap anaknya ini bocah kecil.


"Cepat bereskan tempat tidurmu dan mandilah, kemudian turun ke bawah untuk sarapan bersama." tegasnya. Sang mommy memang sangat menyayangi putrinya, namun dia tidak ingin memanjakannya. Dia selalu tegas dalam mendidik Dara.


"Baiklah mommy aku patuh." Dengan berat hati akhirnya Dara membereskan tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.


Selama membesarkan Dara seorang diri, tentu Nidia juga harus bisa menjadi sosok Daddy juga untuk putrinya. Semenjak kejadian tiga tahun lalu suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Alasannya dari kecelakaan itu adalah suaminya kelelahan dan mengantuk maka dari itu tidak fokus membawa mobil dan terjadilah kejadian mengerikan itu. Padahal biasanya dia sering pulang dengan supir, namun malam itu yang merupakan malam istimewa (hari pernikahannya) dia langsung pulang sendiri. Mungkin itu memang sudah suratan takdir baginya, suaminya meninggalkan sebuah hadiah kalung yang sangat indah dan selalu Nidia pakai dilehernya itu. Hingga saat ini, kejadian itu masih tetap seperti mimpi. Dirinya dan Dara tidak menyangka akan ditinggalkan suami/ayah secepat itu.


Demi harus melanjutkan hidup, Nidia harus mendapatkan pekerjaan meskipun tanpa pengalaman kerja. Ternyata Tuhan memang berbaik hati memberikannya pekerjaan yang baik dan itu didapat dari salah satu teman almarhumah. Sesekali Nidia hanya bisa terisak sendirian ketika melihat kalung yang dia pakai, namun dia juga selalu menguatkan dirinya. Bagaimanapun yang telah pergi selamanya tidak akan pernah kembali lagi. Nidia pun bisa menerima perlahan dan ikhlas. Ya, waktu memang penawar dari segala kesedihan.


"Tuk...Tuk...Tuk..." bunyi tersebut berasal dari sepatu anak gadis yang sedang menuruni tangga dan langsung duduk begitu saja dimeja makan. Dia hanya meminum susunya saja.

__ADS_1


"Mommy waktu ku sedikit, aku akan membawa sarapan ini saja dan memakannya disekola ya?" Dara tak ingin terlambat dihari pertama dia masuk sekolah.


"Baiklah,,," sarapan itu pun di pindahkan ke dalam kotak makan dan tidak lupa botol minumnya pun telah disiapkan. Semuanya di taruh ke dalam tas gadis tersebut.


"Baik-baik lah dan jangan berbuat hal yang tidak-tidak. Banyaklah mencari teman, ok!" Sang mommy mengingatkan putrinya itu. Bagaimana tidak? ketika memasuki sekolah menengah pertama di hari pertama dia malah berkelahi dengan seorang pria. Anaknya ini meskipun cantik dan imut tetapi kelakuannya tidak bisa dispelekan dengan anak laki-laki, sungguh anaknya ini entah kenapa seperti itu.


"Ia mommy sayang, aku akan patuh dan jadi anak yang baik."


"Mari kita berangkat bersama." Nidia mengajak putrinya. Sebenarnya jarak antara sekolah dan rumahnya tidak terlalu jauh sekitar sepuluh menit, tetapi mommy nya ini sangat bersemangat akan selalu mengantarnya ke sekolah setiap hari.


"Ayooo..." Dara pun membalas tak kalah semangatnya dengan sang Mommy.


Ya, hanya dengan sepuluh menit Dara sudah sampai didepan gerbang sekolah tersebut yang menutupi bangunan sekolah. pagar sekolahnya itu sangat tinggi dan indah, dengan perpaduan corak bunga dan dedaunan menambah kesan yang sangat indah dimata orang yang melihatnya dan memberi kesan bahwa ini merupakan sekolah Favorit ditempatnya. Tidak sembarang anak bisa sekolah disini, pastinya kalangan menengah ke atas yang dapat bersekolah disini dan tentunya juga untuk orang-orang yang mempunyai prestaasi yang baik disekolah sebelumya. Dara bisa masuk ke sekolah ini lewat jalur undangan,prestasi Dara tidak boleh diragukan karena banyak penghargaan yang dia terima selama ini.


"Baik mommy, hati-hati berangkat kerjanya."


Kemudian mobil tersebut perlahan meninggalkan Dara sendiri. Dara berjalan masuk ke dalam melewati gerbang tersebut, dengan hati yang gugup dan fikiran yang kosong, begitu banyak orang tetapi dia tidak mengenal satupun. Namun ada satu sosok familiar yang melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan, dan menyuruhnya untuk menghampirinya.


"Intan...?" Seketika itu Dara berjalan dengan bersemangat, sambil berlari kecil.


"Heyyy, ini masih pagi kenapa kamu sudah membawa begitu banyak makanan?" ujarnya kepada Intan ketika pertama menghampirinya.


"Ini tidak banyak..." senyum Intan membuat orang kesal saja dan Dara tersenyum dengan mengangkat sebelah bibirnya dan tidak menghiraukan Intan yang sedang asik makan.


"Isshhhh, anak ini."

__ADS_1


Dara tak ingin duduk lama dan mengajak Intan untuk menghampiri papan pengumuman untuk mencari namanya dan sahabatnya itu dalam pembagian kelas. Akhirnya dia menemukannya X.1, namun sahabatnya berada di kelas yang berlainan dengannya X.7 ruangan kelas itu cukup jauh dan pasti mereka akan jarang bertemu meskipun masih disekolah yang sama. Dara menghela napas dengan berat dan menunduk. Sungguh, dia berharap bisa satu kelas dengan sahabatnya ini.


Tapi sudahlah, bagaimanapun Dara merasa bahagia setidaknya ada satu orang disekolah ini yang dia kenal. Siswa-siswi yang menempati kelas pertama itu biasanya adalah siswa-siswi yang memiliki kemampuan yang bagus, ya pasti Dara menempati kelas ini karena prestasinya. Dara pun masuk ke kelas dan memilih bangku yang posisinya berada di tengah papah tulis dan berada di barisan ke dua. Ketika dia duduk, seorang laki-laki juga duduk disebelahnya dengan tampilan memakai earphone dan mengunyah permen karet. Dia meletakan tasnya ke atas meja sembarangan.


"Laki-laki ini, sungguh barbar." Gumamnya.


Dara tak memperhatikannya lagi dan laki-laki itu pun tak pernah memperhatikannya, pokoknya mereka seperti orang asing. Sibuk masing-masing dan tak mengobrol.


Namun laki-laki di depan bangkunya mengulurkan tangan kepadanya, dia orang pertama dikelas itu yang mengajaknya mengobrol.


"Perkenalkan namaku Ezra Grayson, panggil saja Ezra."


Dara pun menanggapi dengan ramah dan membalas uluran tangannya.


"Namaku Danuardara Garren, panggil saja Dara."


Kemudian mereka melepaskan jabatan tangannya. Laki-laki yang disebelahnya pun memperhatikannya dan berkata:


"Kenapa kamu tidak memperkenalkan nama kepadaku?"


Dara hanya menoleh nya saja dan mengembalikan pandangannya ke depan.


"Hey,,, apa kamu tuli? Aku sedang bicara padamu!"


Suara laki-laki itu naik satu oktav dan itu tidak baik didengar oleh telinga Dara. Dia pun langsung menggebrak meja dan melihat laki-laki itu. Dia sudah ingin emosi melihatnya dan lebih baik dia pergi ke toilet sebentar untuk meredakannya. Dara pun meninggalkan ruangan kelas.

__ADS_1


__ADS_2