
Hari ini berbeda dengan hari sebelumnya, Dara bergegas ke sekolah dan langsung memasuki kelasnya yang masih terlihat sepi. Namun terlihat sosok pria tampan dengan alis tebal yang panjang seperti pedang, membuat sorot matanya pun tajam dan terasa dingin. Rambut coklat cerah senada dengan bola matanya, manik yang begitu indah.
Dara memang baru menyadari, pria itu tampan dan sangat menarik, bagaimana tidak menarik? dia itu seperti garis keturunan raja yunani. Seketika itu juga Dara menggelengkan kepala dengan cepat untuk menyadarkan dirinya atas lamunannya, kemudian berjalan dan mendekatinya.
"Hey,,, Terimakasih ya untuk bantuannya kemarin. Maaf baru sempat mengucapkannya."
Ya, Sean pun tersenyum dan berdiri lebih mendekat kepada Dara. Seketika itu juga Dara langsung menundukkan pandangannya dan mengatasi detak jantungnya yang mulai tidak normal. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
"Apa aku jantungan? Kenapa jadi seperti ini? Biasanya tidak begini." Gumamnya.
"Jadi...mulai saat ini bolehkah kita mulai berteman?"
Sebuah tangan terulur dihadapan Dara. Darapun menatapnya.
"Hmm, tentu saja."
Tangan itu akhirnya saling berjabatan dan mata mereka bertemu. Tak lama tatapan mereka diganggu oleh berisiknya suara seseorang yang baru datang. Jabatan tangan itu reflek terlepas.
"Kalau begitu aku duduk dulu."
Entah kenapa sifat Dara ini berubah menjadi lebih sopan dan baik kepada Sean. Padahal biasanya dia cuek dan benci terhadap laki-laki itu. apa dia mulai menyukainya? oh...tidak, jangan sampai.
Saat Dara duduk dan menyimpan tasnya, seseorang telah duduk didepannya dengan wajah yang disangga dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lihat? Kenapa aneh begitu?" Tanya Dara heran.
"Aku hanya berfikir sekarang, sepertinya temanku sedang menjauhiku." Ezra mengucapkan kata sarkasme.
Tentu Dara mengerti apa maksudnya.
"Sepertinya kamu sudah mempunyai teman baru selain aku!"
"Ezra..."
Tapi sosok Ezra tiba-tiba pergi meninggalkannya. Dara memutarkan bola matanya dan tak berniat menanggapi sikap Ezra yang seperti itu.Tak lama Sean mendekati Dara dan menepuk bahu Dara.
"Kita ke kantin dulu untuk sarapan. Harusnya kamu metraktirku sarapan bukan? hanya ucapan terimakasih saja menurutku kurang."
Dengan percaya diri Sean langsung menarik tangan Dara saat dia menoleh dan tak mempunyai persiapan untuk mengikuti tarikan tangan Sean. Seketika itu tubuhnya agak terjatuh di tubuh Sean dan Sean dengan sigap langsung memeluknya. Itu membuat debaran jantung Dara berdetak tak wajar lagi.
"Oh my god."
Manik indah itu begitu mempesona. Wajah Dara terlihat merona dan dia melepaskan diri dari pelukan yang membuatnya merasa tak nyaman itu.
__ADS_1
Sean dan Dara meninggalkan kelas dan menuju kantin. Disana ada Ezra yang juga sedang duduk, terlihat sekilas auranya begitu dingin dan mencekam. Entahlah, kenapa dia tidak suka melihat Dara memiliki teman baru atau tidak suka Dara dekat dengan laki-lali lain? Entahlah, hanya Ezra yang tahu. Tapi akhirnya Dara mengajak Sean untuk duduk bersama dengan Ezra. Sebenarnya dia takut Ezra masih marah, tapi Dara pun tak ingin menjadi renggang pertemanannya dengan Ezra.
"Aku kira kamu sudah tidak kenal denganku lagi."
Ezra tersenyum kecil, sangat kecil hingga tak terlihat.
"Ezra, aku tak bermaksud seperti itu. Kita semua teman. Aku tak akan membeda-bedakan, aku bukan orang seperti itu. Sean...sekarang kamu juga berteman dengan Ezra, kita bertiga berteman."
Sean tersenyum dan hanya mengangguk tanda menyetujui. Akhirnya mereka bertiga sarapan bersama dan saling menceritakan hobinya masing-masing hingga bunyi bel masuk terdengar. Semua siswa/siswi memasuki kelasnya masing-masing.
........
Nidia mulai terbangun, dia tidak pulang ke rumah dan malah menghabiskan malamnya dengan pria yang ada disampingnya. Sungguh dia merasa bersalah kepada putrinya, dia tidak memberi kabar terlebih dahulu.
[Sayang, mommy minta maaf tidak bisa pulang semalam]
Pesan singkat yang hanya bisa dikirim olehnya. Dia tidak tahu harus menyiapkan alasan apa untuk putrinya nanti. Nidia pun beranjak dari tempat tidurnya perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat di depan cermin dia melihat banyak tanda merah dimana-mana.
"Ya tuhan! Ini bagaimana menutupinya? Sedangkan dia hanya memakai dress yang semalam dan ada mantel yang bagian lehernya tidak tinggi pasti akan tetap menampakkan lehernya yang merah." Gumamnya.
Nidia keluar dari kamar mandi dengan lemas dan masih menggunakan kimononya, sedangkan Mickel sudah siap dan terlihat sangat segar.
"Kita akan langsung ke kantor, pakailah baju itu."
Pandangan Mickel menuju tempat tidur.
Diatas ranjang bekas pergulatan mereka semalam terlihat ada satu set baju kantor. Nidia langsungmengambilnya dan hendak ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti oleh suara Mickel.
"Pakailah disini."
"Apa?"
"Aku bilang pakai disini. Aku sudah lihat semuanya."
Blush...
Wajah Nidia langsung memerah dong, meskipun seluruh badannya sudah pernah dilihat oleh Mickel tetap saja dia masih merasa malu. Melihat Nidia yang terdiam dan mematung seperti itu ditambah wajahnya yang merah, Mickel tidak tahan dan menghampiri Nidia kemudian membantunya mengenakan pakaian. Atasan model turtel nec berwarna broken white yang menutupi hingga ke bagian lehernya dan blazer casual berwarna pastel sesuai dengan atasannya, dan rok kerja yang tidak terlalu pendek.
Semua dipilihkan oleh Mickel, termasuk pakaian dalamnya. Mickel sepertinya sudah tahu ukurannya, karena begitu pas. Memikirkan ini Nidia jadi bingung dan merasa canggung setelah apa yang terjadi semalam. Setelah selesai membantu Nidia berpakaian, Mickel memegang pinggangnya dan memutar badan Nidia hingga berhadapan dekat dengannya.
"Mulai hari ini, kamu milikku. Kamu akan menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku."
"A...a..aku,,, masih ragu."
__ADS_1
Nidia menundukkan kepalanya tak mampu untuk menatap wajah Mickel. Mickel mengerti yang Nidia ragukan saat ini apa? Itu pasti mengenai putrinya. Bagaimanapun sekarang Mickel sudah mengenal putrinya meski baru sekali, tapi antusias putrinya menyambut Mickel terlihat terbuka. Itu pasti tidak akan mempersulitnya.
........
Dara melihat ponsel di genggamannya.
[Ia mommy ku, tidak apa-apa. Apakah hari ini kamu sudah pulang dari luar kota?]
Drt.. drt...drt...
Nidia mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari putrinya.
"Siapa yang baru pulang dari luar kota?"
Mickel mendengar dengan jelas yang Nidia katakan meski suara itu sangat pelan.
"Aku yang memberitahunya semalam kita ke luar kota mendadak."
Mickel tersenyum pada Nidia. Nidia hanya memandangi Mickel tak percaya, dia membuatkan alasan untuk putrinya.
"Aku sudah menyuruh supir untuk mengantar dan menjemputnya hari ini."
Terusnya, pandangannya fokus pada jalan di depan. Nidia tetsrnyum dan langsung mengecup pipi Mickel. Tingkahnya ini seperti seorang remaja yang sedangbjatuh cinta saja.
"Thank you so much."
Nidia pun membalas pesan putrinya.
[Ia sayang, mommy sudah pulang. Seakarang mommy mu harus bekerja dulu. Jangan lupa makan, hmmm?]
[Baik mommu ku, ish...yang diingetin makan mulu. Nanti kalau Dara gendut gimana?]
[Mommu suka gadis mommy mau bagaimanapun...tetap cantik]
[Mommy ku juga cantik, sampai om ganteng semalam kesemsem sama mommy]
[Om ganteng? 😴]
[Ayolah mommy,,, jadikan dia Daddy ku. Kalian sangat cocok 😘😋]
"Ish,,, anak ini."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak ada."
Mickel hanya menarik satu alisnya tapi tak melanjutkan lagi pertanyaannya.