
"Sudah selesai bertemu mantan kekasih nya?" Pertanyaan ini yang terlontar dari mulut Ezra sambil mengepulkan asap rokok dan bersikap malas, seperti seorang berandalan. Matanya agak merah, Dara coba berjalan lebih dekat.
Saat jarak mereka sudah sangat dekat, Dara mencium aroma alkohol dari tubuh Ezra. Dara sangat kaget, selama mengenal Ezra selama ini Ezra juga bukanlah seorang yang suka minum-minuman.
"Ka Ezra, kamu kenapa?" Dara sangat panik.
Ezra tersenyum sinis dan menarik tubuh Dara jadi semakin dekat dengannya.
"Aku tak suka kamu dekat dengan mantan, Dara...aku ini tunanganmu."
"Ka Ezra, kamu mulai melantur."
Akhirnya Dara membawa masuk Ezra ke apartemennya dan mencoba menyadarkannya dari mabuk.
"Ka Ezra, kamu minum dulu." Dara menyodorkan air bening kepada Ezra.
"Aku mau jika itu dari bibirmu."
"Dari bibir ku?" Dara sempat bengong.
Seketika itu Ezra semakin mendekatkan dirinya, Dara pun bangkit berdiri untuk menghindari.
"Kamu,,,boleh istirahat di sini. Tapi jangan mendekatiku." Ucap Dara sambil mencebikkan bibirnya dan pergi.
Dara pun berbalik dan menuju kamarnya. Sedangkan Ezra masih terus mengoceh tak jelas di atas sopa. Tubuhnya sudah tak bisa menopang dan berbaring begitu saja.
[Sean, di apartemen ku ada ka Ezra. Dia mabuk.] Dara mengirimkam pesan untuk Sean, dia tak ingin hubungan baru saja tumbuh akan muncul masalah lagi.
Sean yang baru mengemudi tak jauh dari apertemen Dara menghentikan laju mobilnya saat melihat pesan dari Dara. Kemudian Sean memutar setir mobilnya, kembalu ke apartemen Dara. Tak lama Sean menekan tombol bel. Dara pun bergegas membuka pintu.
"Sean..."
"Di mana Ezra?"
"Dia di sopa." Dara memiringkan tubuhnya sehingga Sean bisa melihat ke dalam apertemen.
Ezra sedang berbaring dengan posisi yang sembarangan. Sean pun masuk dan langsung memapah Ezra.
"Mau di bawa ke mana Sean?" Tanya Dara.
"Tentu membawa dia pulang sayang, aku tak rela apertemen kekasih ku di singgahi pria lain." Nada bicara Sean sangat santai dan tenang.
Dara seketika itu merona dan hanya menundukkan pandangannya.
"Baiklah, kita antar dia pulang."
Mereka pun pergi bersama, Dara mengarahkan Sean ke tempat tinggal Ezra. Dara juga membuka pintu apertemen Ezra tanpa menanyakan kepada Ezra, Dara tahu kata sandi pintu apartemen Dara. Mereka kan sempat punya hubungan sepasang kekasih, tentu Sean mengerti. Tetapi raut mukanya seketika menjadi muram.
Di perjalanan pulang menuju apertemen Dara, suasana dalam mobil menjadi hening. Sean tak berbicara sepatah kata pun, Dara hanya memperhatikan sekilas Sean yang fokus kepada jalanan di depannya.
"Aku berangkat ke kampus jam setengah enam Sean." Ucap Dara memecah keheningan.
__ADS_1
Namun pernyataan Dara tak mendapat respon dari Sean. Dara mengerutkan keningnya dan menunduk.
"Sean kenapa? Apa dia marah karena Ezra datang ke apartemen ku? Padahal aku sudah bersikap jujur. Tahu seperti ini lebih baik aku tak bilang saja!" Gerutu Dara dalam hati.
Sean menoleh ke kursi penumpang sebelahnya dan mendapati raut wajah Dara yang cemberut.
"Wajah mu jelek sekali." Sean mencibir.
Kali ini Dara yang tidak menjawab perkataan Sean. Sesampainya di apartemen, Dara langsung turun dari mobil dan tak berkata apapun pada Sean. Sean yang melihat perilaku Dara yang berubah merasa kesal. Dia pun langsung pergi meninggalkan Dara.
"Keterlaluan..." Dara semakin mempercepat langkahnya dan emosi di hatinya pun bertambah.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat. Dara tidur sejenak, jika tidak tidur dia yakin nanti kuliahnya akan kacaw karena pasti mengantuk. Saat waktu menunjukkan pukul lima, Dara langsung bangun. Sekarang tubuhnya seperti sudah memiliki alarm tersendiri, tidak perlu jam weker lagi. Kebiasaannya setelah putus dengan Ezra membawa dampak positif, dia tidak perlu bantuan untuk di bangunkan lagi biar bangun pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam, Dara sudah berada di halte dekat apartemennya untuk menunggu bis.
Drt...drt....
[Glen Calling]
"Hallo glen." Dara langsung mengangkat tombol terima.
"Kamu masih di mana Dara?"
"Di halte, kenapa?"
"Aku sedang lewat dekat apartemenmu, apa mau bareng?" Glen menawarkan.
Hanya perlu menunggu tiga menit mobil yang di kendarai Glen sudah di depan matanya. Dara pun membuka pintu penumpang belakang dan duduk. Glen menoleh dan wajahnya seperti kaget.
"K...kamu kenapa?"
"Apa kamu tak bisa menghargai orang?" Jawab Glen.
"Aku bukan sopir mu, pindah ke depan." Lanjut Glen.
Dara menjadi kikuk, dia pun membuka pintu mobil dan pindah duduk ke depan. Mereka pun berangkat bersama.
"Mana tugasnya?"
"Hah?" Dara kaget dan dia benar-benar lupa dengan tugas kuliahnya hari ini gara-gara kejadian semalam.
Tuk...
Glen mengetuk kepala Dara. Dara pun mengelus pipinya dan di cebikkan bibirnya itu.
"Kenapa kau memukul kepalaku?" Protes Dara.
"Karen kamu malas."
"Aku tidak malas!" Dara membela dirinya.
__ADS_1
"Lalu apa?" Tanya Glen.
"I...itu..." Dara menghentikan perkataannya.
"Ah sudahlah, ia aku salah!" Lanjut Dara.
Pertama tiba di kampus Glen mengajak Dara ke kantin untuk sarapan, selanjutnya pergi ke perpustakaan. Hari ini Dara dan Glen sangat sibuk, karena Dara belum menyelesaikan tugasnya.
Ponsel Dara bergetar dari tadi, namun Dara tak menghiraukannya. Fokusnya hanya kepada tumpukan buku dan kertas yang ada di hadapannya. Dara ingin menyelesaikan semua dalam waktu tiga hari dan pulang ke Indonesia menemui keluarganya.
Waktu tak terasa sudah malam dan tugasnya sudah selesai untuk hari ini, Dara pun pamit kepada Glen. Glen berniat akan mengantarkan Dara pulang tapi di tolaknya dengan halus. Glen pun tak memaksa.
Ketika menunggu bis d halte, Dara mengambil gawainya dan betapa kagetnya saat dia melihat berpuluh-puluh panggilan dari orang tua Ezra. Pasalanya selama ini dia jarang di hubungi orang tua Ezra, tapi hari ini dia kaget karena mendapat banyak panggilan dari orang tua Ezra.
Akhirnya Dara menelpon balik. Panggilan pun langsung terhubung.
"Hallo tan...selamat malam, maaf Dara baru selesai kuliah. Tadi hp nya di silent jadi gak tau ada twlpon." Dara menjelaskan dengan sopan. Dia merasa gak enak sudah mengabaikan banyak panggilan dari orang tua.
"Tidak apa-apa sayang, bisa kah kamu ke XXX Hospita sekarang?"
"Siapa yang sakit tan?"
"Ezra yang sakit, bisa kan ke sini? Ada yang mau tante omongin juga."
Dara terdiam dan bingung harus menjawab apa.
"Gimana sayang?" Tanya nya lagi.
"Ia tan, aku ke sana sekarang."
Dara menghentikan sebuah taxi dan mulai menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Dara hanya memandangi menyapu pinggiran jalan. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Apa yang orang tua Ezra mau bicarakan dengannya?
Drt...drt...
[Sean Calling]
Lamunan Dara buyar, dia melihat nama seseorang di layar. Kemudian langsung mengangkat telponnya. Seketika itu terdengar suara dengan nada yang tinggi.
"Apa kamu akan seperti ini terus? Hah?"
"Kenapa Sean?" Dara menjawab dengan kebingungan.
"Dara...kamu kekasih ku sekarang, kenapa kamu menerima ajakan pria lain untuk mengantarmu? Terus sekarang kamu mau ke mana? Kamu bahkan tak memberi kabar kepada ku."
"Kalau tujuan mu ingin memaki ku, lupakan. Aku sedang tak ingin meladeni mu."
Bip.
Dara mematikan telponnya. Dia tak menyangka Sean tau dia di antar oleh Glen dan saat ini dia pulang bukan ke apertemennya.
"Apa dia menyuruh orang membututi ku? Dasar... Ke kanank-kanakan." Gerutunya.
__ADS_1