
Selesai jam pelajaran Dara tidak bisa langsung pulang karena dia harus menjalani hukuman dari Miss Rizka, yaitu membersihka kelas satu angkatannya. Satu angkatan Dara ada sepuluh kelas dan itu pasti memakan waktu yang lama. Maka dari itu Dara memberi tahu mommy nya bahwa dia harus mengerjakan tugas tambahan di sekolah.
Bukan tugas ya Dara, tapi hukuman (hmmm, Dara udah mulai bohong nih).
Ezra memperhatikan Dara yang sudah selesai membersihkan dua kelas dan istirahat sejenak.
"Ambillah..."
Dara melihat ke arah Ezra, dia memberikan sebotol air mineral. Dara pun tersenyum dan mengambilnya.
"Terimakasih."
"Biar aku bantu agar cepat selesai ya."
"Tidak perlu Ezra, ini hukumanku. Nanti Miss Rizka pasti akan sangat kecewa padaku jika ada yang membantuku."
"Dia tidak akan tahu, biar aku membantumu."
Ezra segera membawa sapu yang bersandar di dinding. Tapi Dara berkata.
"Aku tak mau berbohong lagi, sudah cukup aku bohong kepada mommy ku. Aku tak ingin membohongi Miss Rizka juga. Dia sudah baik kepadaku."
Ezra mengerutkan kening.
"Apa katamu? Baik?"
"Iya."
Ezra sambil berdecak pinggan tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Membersihkan sepuluh kelas, kamu bilang baik?"
Nada bicara Ezra agak naik kali ini. Dara pun merasa aneh kenapa dia seperti marah. Apa yang salah?
"Sudahlah Ezra, aku tak ingin berdebat. Kamu pulang lah."
"Aku tidak akan pulang." Ezra keras kepala.
"Kalau begitu, tunggu dan jangan mengganggu."
"Apa? Aku mengganggu?" Ezra tak habis fikir kalau Dara menganggapnya mengganggu, padahal dia jelas-jelas ingin membantu.
Dara tidak menanggapi dan dia pergi ke kelas berikutnya untuk membersihkan. Karena dia berjalan sambil menunduk tiba-tiba menabrak seseorang, tepat di dada bidang dahi Dara tertubruk.
"Maaf."
Hanya itu yang terlontar, dan Dara tidak mendongkak sedikitpun kepada pemilik dada bidang itu. Orang itu tak ingin melepaskam Dara sehingga mengikuti ke kiri dan ke kanan sesuai gerakan Dara.
"Aku bilang maaf, apa kamu tidak mendengarku? Kenapa kamu masih menghalangiku?"
Dara baru mendongkak dan berteriak kepada orang itu. Tapi wajahnya malah tampak merah menahan malu seperti kepiting rebus.
"Mister Dave. Maaf mulutku ini lancang."
Dara menutup mulutnya dan menampar kecil bibirnya. Mister Dave yang memasukkan tangannya ke samping celana sedang memakai baju olahraga dan dahinya sedikit berkeringat, sepertinya dia baru selesai mengajar basket.
"Kenapa kamu belum pulang?"
"Hmmm,,, ituuu,,, ituuu,,,"
__ADS_1
"Kamu dihukum?"
"Ah, iya." Dara tak berdaya.
"Aku sudah tahu, lanjutkan hukumanmu. Setelah itu kita perlu bicara."
"Ada apa lagi ini?" Gumamnya.
"Baik mister."
Miss Rizka telah menunggu di ruang BP, Dara pun memasuki ruangan itu untuk melapor. Hukuman di hari pertama sudah selesai, Dara pun pulang dan di antar Ezra waktu menunjukkan jam 17.00 sudah sangat sore. Pasti sang mommy sudah di rumah.
...........
Drt... Drt... Drt...
[Mickel Calling]
Nidia sudah kewalahan dengan panggilan yang terus menyala itu. Akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.
[Ke ruanganku sekarang juga].
Suara itu sangat dingin. Terdengar bunyi:
Bip.
Nidia (mommy Dara) ini menatap layar telpon yang di matikan begitu saja. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sebuah ruangan.
[Ruang Direktur]
Nidia mengetuk dan mendorong bangsal pintu itu, pertama kali yang dia lihat adalah pria yang lebih tua lima tahun darinya sedang berdiri tegap melihat ke arah luar lewat jendela. Nidia pun menghampiri pria itu.
"Banyak Nidia."
"Akhir-akhir ini perusahaan sedang dalam kondisi baik pak, klien atau nasabah dalam sebulan terakhir ini sudah jarang yang komplain. Sebagian besar dari mereka juga sudah mengerti."
"Bukan itu Nidia."
"Maaf pak, saya tidak mengerti."
Pria itu membalikkan badannya dan menatap Nidia dengan tatapan penuh arti. Entah kenapa, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan itu. Pria itu pun mendekat dan langsung meraih pinggang Nidia dan bibir mereka saling bertemu. Nidia memberontak, namun semakin dia memberontak semakin kuat tenaga pria itu. Maka Nidia tak bisa melawan. Ciuman itu berlangsung cukup lama dan membuat bibir Nadia kebas. Kalau tidak menggigit, mana mungkin pria itu melepaskan ciumannya. Ya, pria itu adalah Mickel seorang Direktur dan bos Nidia.
"Aku ingin melamarmu."
Tatapan Mickel sangat tulus dan dia membuka sebuah kotak bludru berbentuk hati. Ketika dibuka terlihatlah sebuah cincin yang sangat indah dan cantik. Pasti membuat wanita yang melihatnya tak bisa menolak.
"Maaf pak, jika tidak ada urusan lain mengenai pekerjaan saya pamit."
Ini sudah kesekian kalinya Mickel di tolak dan dia tak pernah menyerah mengejar Nidia. Namun sekali lagi Nidia menolaknya dan meninggalkan ruangan itu. Mickel melihat punggung Nidia dan menutup pintu langsung tersenyum getir.
"Kenapa kamu begitu sangat keras kepala Nidia?"
......
"Hay moms...."
"Hay sayang."
Nidia baru sampai rumah dan memeluk Dara.
__ADS_1
"I love you moms."
Mendengar kata-kata ini perasaan Nidia menjadi hangat.
"Apa kamu sudah makan sayang?"
"Sudah moms."
"Baiklah, momy mau istirahat dulu ya."
"Oke..." Dara membentuk jempol dan jari telunjuknya membentuk huruf "O".
Sang mommy mencium kening Dara dan tersenyum, kemudian pergi ke kamarnya.
Drt...drt...drt...
[Mickel Calling]
"Ya tuhan, kenapa lagi orang ini?" Nidia mengusap kasar wajahnya dan menekan tombol terima.
[Jangan lupa nanti jam 21.00 kamu harus datang ke perjamuan para nasabah dan investor. Aku akan menjemputmu.]
[Ia, aku ingat. Tidak perlu repot-repot menjemput aku sendiri yang akan ke sana.]
[Aku tetap akan menjemput.]
Bip.
Lagi-lagi dia menutup telpon dengan sangat "TIDAK SOPAN". Nidia mendengus kesal. Pria ini sungguh keterlaluan. Nidia merebahkan sebentar tubuhnya dan tanpa sadar terlelap.
"Mommy...bangunlah, ayo cepatlah bangun."
"Ini masih malam sayang."
"Ada teman mommy yang sedang menunggu di bawah."
Nidia langsung membuka matanya dan kantuknya hilang.
"Siapa kamu bilang?"
"Temen mommy, dia bilang dia teman kerja mommy. Dia sangat tampan seperti Daddy."
"Mommy lupa malam ini ada jamuan dengan nadabah dan investor."
"Kalau begitu mommy harus cepat, biar aku yang menemani paman itu di bawah."
Pertama kalinya Nidia melihat Dara sangat antusias kepada pria yang mendekatinya. Tanpa lama, Nidia pun langsung bersiap. Dia memakai dress di atas lutut berwarna cream dengan bagian atas tanpa lengan dan lehernya yang jenjang terlihat jelas. Rambut panjangnya di ikat ke atas dan riasan wajah yang tidak tebal membuatnya tampil seperti seorang gadis. Tak lupa sepatu hells yang dipakai berwarna senada dengan dress nya. Saat turun dan menghampiri kedua orang diruangan tamu. Mereka menoleh ke arahnya bersamaan.
"Mommy..." Dara tak berkedip dan melongo melihat penampilan sang mommy malam ini.
Namun pandangan orang disebelahnya terlihat sangat panas seperti ingin memakan orang.
"Ayo kita betangkat, ini sudah telat."
"Baiklah."
Mickel bangkit dan berjalan menuju Nidia.
"Ah, ia paman. Kalian hati-hati ya."
__ADS_1
Dara memberikan senyum tulusnya. Mommy nya dan paman itu pun pergi.