Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Dinner


__ADS_3

"Dara..." panggilan itu sangat lembut.


Dara melihat gadis berambut pirang menghampirinya. Sebut saja namanya Jessy.


"Hay jess."


"Jangan lupa besok ya." Jessy menyerahkan kartu undangan berwarna merah muda kepada Dara.


Besok Jessy akan merayakan pesta ulang tahun dan hampir semua mahasiswa/mahasiswi di undangnya. Pasti acaranya sangat meriah, jelas saja karena Jessy adalah orang pertama di kampus ini. Siapa yang tak kenal dia? Artis sekaligus model terkenal dan latar belakang keluarganya yang kaya raya. Ini suatu penghormatan jika Jessy langsung mengundangnya secara pribadi. Dara tidak ingin menolaknya dan membuatnya tersinggung.


"Aku akan datang." Dara mengiyakan.


"Kalau begitu sampai jumpa, byeee..."


Setelah pertemuannya dengan Jessy, Dara langsung pergi ke aula kampus karena di sana ada Ezra yang sedang menunggunya. Ya, mereka akan melakukan seleksi tahap pertama raja dan ratu kampus. Tahap pertama ini adalah mengetahui mengenai wawasan setiap calon peserta, kemudian diseleksi menyisahkan sepuluh pasang. Di kampus ini tentu sangat banyak pendaftar, yaitu sekitar 300 pasang dari semua jurusan. Tentu saja, Dara dan Ezra tidak berkhayal menjadi sepuluh dari 300 pasang itu. Tapi mereka tetap menyiapkan diri sebaik mungkin.


"Siapa orang yang paling berharga menurut kalian?" satu pertanyaan dari juri mengarah kepada Ezra dan Dara.


"Keluarga." Dara menjawab secepat kilat.


"Diantara kamu dan keluargamu siapa yang paling penting menurutmu?"


"Diri sendiri." jawaban kilat Dara lagi, tapi wajahnya tetap ramah menebarkan senyum.


"Why?" Sang juri agak heran dengan jawabannya. Dara pun berkata:


"Karena dirimu harus berdiri diatas kaki sendiri, bukan orang tua, teman, sahabat ataupun orang lain. Diri sendiri adalah yang utama, yang mengerti baik buruk diri sendiri. Tentu diri sendiri yang lebih penting."


"Menghargai diri sendiri dan menerima segala yang ada pada diri sendiri adalah kunci untuk kebahagiaan diri dan orang lain." tambah Ezra melengkapi.


Semua pertanyaan dapat mereka jawab dengan tegas dan tanpa ragu, mereka juga saling melengkapi jawaban satu sama lain. Hingga akhirnya hasil pemilihan terpampang di mading tepat setelah acara selesai. Betapa terkejutnya saat melihat hasil di mading, mereka masuk ke daftar sepuluh besar dan berada diurutan ke lima. Dara sangat girang hingga melompat kegirangan dan menepuk-nepukkan tangannya sendiri dengan keras lalu mencium pipi Ezra tanpa sadar. Padahal dia tidak berniatan untuk ikut kompetesi ini karena menurutnya ini hal yang tak pernah ia sukai, tapi ternyata semenyenangkan ini.


"Lihat ka ini bagus bukan?! Kita hebat ka bisa mengalahkan 290 pasang pendaftar. Ini sungguh sangat bagus, kita memang kompak kan ka?!"


Raut wajah Ezra yang mendapat perlakuan ini berubah, menjadi merah dan sekujur tubuhnya merasakan aliran darah yang hebat seperti tersengat listrik. Dia tidak menghiraukan ocehan Dara, isi kepalanya menjadi kosong.

__ADS_1


"Dara menciumnya? Mencium pipinya? Apa dia sadar jika sedang melakukan kesalahan?" gumam Ezra dalam hatinya.


"Ka Ezra?"


Dara terheran-heran dengan raut wajah Ezra dan memandanginya sangat berbeda.


"Nanti malam kamu sibuk gak?" Ezra langsung mengalihkan perhatian Dara.


"Gak ada ka, kenapa?"


"Nanti malam kita makan bareng ya?"


"Hah?" Dara mencoba memastikan pendengarannya lagi.


"Nanti malam kita makan bareng."


"Oh..." Dara langsung mengedipkan matanya dan jarinya membentuk huruf O 'Ok'.


Ezra pun tersenyum puas. Malam pun telah tiba. Ezra dan Dara telah sampai di depan restoran Clos Maggiore.


Dara menarik-narik lengan Ezra dari belakang yang mengikutinya.


"Kenapa?"


"Kita cari tempat yang lain saja ya, aku kurang nyaman disini."


Restoran ini merupakan restoran yang terletak di convent Garden, London. Suasana romantis ala hollywod, dan tempat yang diambil adalah di konservatori yang penuh dengan bunga apel yang juga memiliki atap kaca. Dara melirik ke setiap sudut, sungguh indah dan luar biasa. Hanya saja, Dara tidak nyaman karena dia berpenampilan biasa saja dan tidak tahu akan dibawa ke tempat seperti ini. Jika tahu, dia pasti akan berpakaian lebih baik lagi.


"Kamu harus cobain makan disini."


"Tapi ka..."


Lengan Dara langsung ditarik Ezra untuk ikut masuk di dalam. Ezra telah memesan ruang VVIP di restoran itu. Hanya ada dua kursi yang menghapad ke hamparan kota London, dari sana terlihat gedung tinggi menjulang dan lampu yang berkelap-kelip. Di samping itu ada kolam kecil dengan air jernih yang memanjakan mata karena terdapat berbagai ikan yang cantik dan unik.


Dara duduk dan melihat pemandangan didepannya, sungguh indah kota ini. Dara melihat sekilas di ruangan itu, ternyata hanya mereka berdua. Suasana yang berbeda dengan yang ada di lantai bawah tadi. Di sini banyak bunga mawar merah di setiap sudut dan lilin kecil yang menerangi. Suasana ruangan ini terasa seperti ruangan untuk sepasang kekasih.

__ADS_1


"Jangan, jangan..." Dara menebak-nebak dalam hatinya dan memperhatikan wajah Ezra.


........


"Ellie, sebenarnya ada apa sampai kamu datang ke rumah?"


"Aku ingin bertemu kekasihku yang super sibuk."


Sean tak menjawab dan lebih memilih diam. Ellie merasa tertekan atas sikap Sean, sikap Sean kepadanya yang super duper dingin seperti gunung es tak pernah mencair walau sudah dipanaskan beberapa kali bahkan puluhan hingga ratusan. Selama satu tahun menjalani hubungan Sean tak pernah menyentuhnya, sekedar pegangan tangan pun tidak. Hanya sekali saat mereka tunangan Sean mencium bibirnya dan Ellie sangat merindukan ciuman itu tapi tak pernah terjadi lagi. Romantis saja tidak pernah, sekedar menyanjung atau memuji juga tidak.


Ellie sangat mencintai Sean, dia terus berusaha untuk meluluhkan hati Sean. Tapi sikapnya terlalu berlebihan dan Sean makin tak menyukainya. Yang berlebihan memang tidak baik, coba aja kalau Ellie gak berlebihan mungkin Sean akan sedikit meliriknya.


"Ini undangan dari jessy, kita harus datang besok ke acara ulang tahunnya. Aku tidak enak hati. Dia yang memberikannya langsung."


Sean melihat undangan merah muda itu dihadapannya. Lalu menganggukan kepalanya pelan.


"Baiklah, besok kita akan ke sana."


"Sungguh?" Ellie masih tak percaya, dengan mudah Sean menyetujuinya.


"Ia."


Mendengar jawaban Sean lagi, Ellie tersenyum sangat bahagia. Dia harus tampil dengan sempurna besok. Itu dibenaknya.


"Sean, kalau begitu aku akan pulang dulu. Ada yang harus aku beli untuk besok."


"Aku tidak bisa mengantarmu, aku baru pulang kerja dan kuliah."


"Ia, tidak apa-apa. Istirahat saja Sean, aku bisa sendiri."


Cup.


Ellie mencium pipi Sean, raut wajahnya juga menjadi merah merona. Ini pertama kalinya Ellie berani mencium laki-laki terlebih dahulu.


"Selamat malam Sean."

__ADS_1


Ellie pun pergi. Sean hanya terdiam, dia merasa rasai hatinya. Sungguh, tak ada Ellie dihatinya semuanya telah penuh oleh Dara. Dia menghela nafas dan merebahkan badannya di sofa, wajah Dara masih terlintas tadi sore di ingatannya dan seperti film yang selalu diputar-putar.


__ADS_2