Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Bertengkar


__ADS_3

"Jelaskan, kenapa telpon mu tidak bisa dihubungi?" Tuntut Ezra dengan tak sabar.


"Batreinya lowbet." Jawaban yang datar dari mulut Dara.


"Kamu kan bisa pinjam telpon teman dan memberiku kabar." Ezra mulai geram.


"Aku tak punya teman selama enam bulan ini dikampus." Jelas Dara dengan tersenyum getir dan masih dengan nada datarnya.


Dia tak pernah sempat berkenalan dengan siapapun karena Ezra sangat posesif terlebuh dia selalu ada untuk Dara baik itu masalah mengantar atau menjemput ke kampus. Jadi untuk apa berkenalan dengan orang lain? Ezra hanya menghela nafas kasar ketika mendengar ucapan Dara.


"Siapa Monica?" Tanya Dara kembali.


"Dia teman ku."


"Teman?" Dara melihat Ezra acuh tak acuh.


Ezra yang di tatap seperti itu tak tahan dan menarik lengan Dara kemudian menciumnya, tapi hanya menempel saja karena Dara langsung mendorong Ezra dan melepaskannya dengan kasar.


"Aku sedang tak mau dicium. Lebih baik kaka pergi saja."


"Aku tidak bohong Dara, dia teman ku. Kenapa kamu sperti ini?" Ezra tak terima dan meninggikan suaranya.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa teman bersikap seperti itu?!" Kini Dara merasa emosinya sudah diubun-ubun suaranya sedikit meninggi.


"Baiklah, terserah kamu."


Ezra sudah tak tahan dan lebih memilih pergi meninggalkan apertemen Dara segera. Dara melihat punggung laki-laki itu yang pergi, sesak didadanya pun bertambah. Tangisan yang dari tadi di tahannya akhirnya tumpah juga. Dia jatuh duduk di atas sofa yang menopangnya. Kedua tangannya menutup wajahnya, air mata terus mengalir begitu saja.


........


"Shittt....!" Umpatan itu keluar dari mulut Ezra saat dia sudah naik ke mobil dan mulai mengendarainya.


Dia sesekali memejamkan matanya, kemudian fokus kembali kepada jalan yang ada dihadapannya. Dia hanya menyesali sikap Dara yang tak percaya padanya. Selama ini hanya dia yang memenuhi ruang hatinya. Awalnya Ezra ingin berbicara baik-baik dengan Dara tapi niatan itu tak jadi dilakukan karena Ezra juga sedikit cemburu melihat Dara yang diantar pulang oleh Sean.


Drt...drt...


Ezra mengambil gawai disebelahnya dan melihat nama yang muncul di layar.

__ADS_1


[Monica]


Ezra langsung menerima panggilan itu.


"Ada apa?"


"Aku sedang di bar bersama Jessi dan Ellie, aku ingin pulang tapi kepalaku sakit za. Kamu bisa menjemputku?" Suaranya seperti orang yang malas.


"Kamu mabuk?"


"Tidak,,, aku tidak mabuk. Hahahah..." Dia malah tertawa, padahal tidak ada hal yang lucu.


"Baiklah, aku akan menjemputmu."


Seketika itu mobil Ezra melaju dengan cepat karena perjalanan pada malam hari cukup lenglang dia sampai secepat kilat. Sesampainya di bar, Ezra mengedarkan matanya untuk mencari Monica disetiap sudut bahkan tempat. Tak butuh waktu yang lama dia pun segera menemukan Monica. Sepertinya Monica sudah tak mampu berdiri karena hanya terkulai lemah di atas sofa. Ezra menghampiri nya.


"Maaf ya Ezra kita gak bisa nganter Monica, jadi nyuruh dia telpon kamu." Jelas Jessi


"Ia gak apa-apa, aku akan mengantarkan dia pulang."


Ezra langsung memapah Monica yang sudah mabuk berat.


"Monica jangan konyol." Ezra memperingatkan dan melepaskan ciuman itu.


Ezra terus memapah Monica sampai mobilnya dan menaruhnya di kursi penumpang depan. Sambil menyetir, Ezra menanyakan beberapa hal mengenai alamat rumahnya karena Ezra tidak tahu Monica tinggal dimana sekarang.


Akhirnya Ezra dapat mengantarkan Monica sampai apertemennya. Saat Ezra meletakan tubuh Monica di atas kasur tiba-tiba dia mendengar racauan Monica.


"Kenapa kamu tunangan sama dia Za? Kenapa kamu gak nungguin aku? Aku masih cinta sama kamu."


Ezra mendengar racauan itu hanya memandangi wajah Monica sekilas dan mengusap lembut pipinya.


"Kamu yang terlebih dulu ninggalin aku, sekarang kamu datang di saat yang salah Monica. Dihatiku sudah tak ada lagi dirimu. Maaf."


Ezra segera bangkit dan meninggalkan apertemen Monica. Sepanjang perjalanan Ezra masih memikirkan perkataan Monica 'Aku masih cinta sama kamu.' Kalimat itu terus berputar-putar di pikirannya. Sekilas wajah Monica juga muncul dalam pikirannya, senyum manisnya dan matanya yang hitam bercahaya. Apakah Ezra masih menyimpan sedikit rasa untuk Monica? Atau mungkin bukan hanya sedikit?


......

__ADS_1


Seperti biasa pada pagi hari Ezra sudah menunggu di bawah apartemen Dara. Dia akan mengantar wanitanya berangkat ke kampus, meski rasa kesalnya masih ada tapi Ezra mencoba mengalah dan memperbaiki keadaan. Dia kemudian mengirim pesan kepada wanitanya.


[Aku sudah di bawah].


Dara membuka pesan itu dan langsung membalasnya.


[Sudah di kampus].


Ezra membaca balasan pesannya seketika mengeratkan pegangan di setirnya dan melemparkan gawainya ke samping kemudi. Dara yang masih marah seperti kekanak-kanakan membuat Ezra geram. Pasalnya ini hanya hal spele tapi kenapa sampai berlarut dan dia menghindarinya juga?


Dara memandangi gawainya dan tak ada tanda-tanda Ezra membalas pesannya. Dara hanya menghela napas sejenak dan membenamkan wajahnya di antara sikunya yang terlipat diatas meja kantin. Dara harus mengambil sikap segera, jangan sampai terlalu larut dalam masalah ini dan memngganggu kuliahnya.


Drt..drt...


Mendengar gawainya kembali bergetar Dara langsung membukanya tanpa sabar. Pasti Ezra membalas pesannya dan berinisiatif untuk meminta maaf padanya. Dara sangat optimis, karena Ezra tak pernah bisa lama-lama marah padanya.


Saat membuka pesan itu hanya terdapat dua buah gambar yang dikirimkan kepadanya. Dara mengunduh dan membuka gambar tersebut, saat gambar itu sudah jelas dan dilihat olehnya. Namun seketika itu pegangan tangan kepada gawainya mulai merenggang dan gawai itu jatuh ke lantai.


"Prakkk"


Dara terdiam dan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Dunia seakan mengolok-oloknya dan menertawakannya. Saat itu juga cairan bening menetes disudut matanya dan terjatuh melewati pipinya. Dia kembali membenamkan wajahnya dan melipat sikunya diatas meja. Tangisannya tertahan dan isakan menyedihkan terdengar.


Dibenaknya sekarang hanya terukir:


"Ternyata perasaanmu padaku biasa-biasa saja Ezra. Aku kira cinta itu sederhana, ternyata aku salah. Mencintai kamu ternyata serumit ini. Aku memang tak tahu masa lalumu, aku tak benar-benar memahamimu. Aku mengerti, mungkin bahagiamu bukan bersamaku. Aku hanya pelabuhan sementara bagimu. Terimakasih untuk semuanya, walau tak seperti yang aku bayangkan."


Selesai berdialog dengan diri sendiri, Dara menegakkan kembali wajahnya. Menghapus air kesedihan yang mengalir dari tadi, menarik nafas dan menegakkan badannya. Dia coba tegar dan menerima semua fakta dan kenyataan dihadapannya. Lalu dia mulai beranjak meninggalkan kantin, meninggalkan kesedihan dan keterlukaannya.


"Aku...Danuardara Garren tidak akan pernah percaya lagi dengan PRIA."


Dara melangkahkan kakinya dengan mantap ke ruangan Dosen. Di sana dia ingin bernegosiasi kepada dosennya untuk mempercepat waktu perkuliahannya. Dara ingin menyelesaikan dengan waktu secepat kilat.


"Kamu yakin bisa?" Dosen itu menanyakan kembali.


"Saya yakin mampu dan bisa." Jawab Dara dengan penuh keyakinan tanpa ragu.


"Baik, jika kamu bersi keras. Aku akan membantumu. Tapi aku ingatkan disini, mungkin kamu hanya akan memiliki waktu tidur dan makan saja. Selebihnya kamu harus berusaha keras menyelesaikan tugas-tugas dengan baik dan benar!" Ujar dosen itu mengingatkan.

__ADS_1


"Saya siap."


Keputusan Gila ini kelak akan menjadi masa depan cerah baginya, gila terhadap kuliahnya mungkin lebih baik dari pada gila terhadap Pria. Lebih baik seperti ini tanpa merusak harapan kedua orang tuanya dan masa depannya. Dara sudah bertekad dalam hati, tak akan yang bisa menghentikannya atau merubahnya sekalipun itu orang tuanya sendiri.


__ADS_2