Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Takan Terlupa Selamanya


__ADS_3

Kedua pasang mata itu bertemu, tiba-tiba Sean meneteskan air mata "lagi" sebuah tangan mungil mengusap pipinya yang basah dan kali ini Dara berinisiatif sendiri memeluk Sean. Entah dari mana keberanian itu datang dan langsung mengusap punggung laki-laki itu. Dara tidak tahu apa yang terjadi dengan Sean sehingga laki-laki ini bersedih dan terlihat lemah.


"Semuanya akan tetap baik Sean. Akan baik-baik saja."


"Ayahku sedang kritis, aku terpaksa ke London untuk belajar dan mengurusi perusahaan Ayahku. Aku anak tertua, adikku masih kecil. Dia tidak mungkin harus menanggung ini."


Dara menjawab dengan anggukkan saja dan masih mengusap punggung Sean. Pelukan ini membuat Sean menjadi lebih tenang dan lebih baik.


"Aku sebenarnya tidak ingin pergi, aku ingin selalu disampingmu Dara. Maka dari itu sikapku diluar kendali kepadamu."


Pelukan itu terlepas, Dara melihat mata hazel indah itu yang memancarkan sebuah pengakuan dan kejujuran. Akhirnya Dara memahami sikap Sean padanya akhir-akhir ini.


"Apa laki-laki ini sedang ketakutan?" Gumamnya.


"Apa kita harus saling berjanji?" Dara mengusulkan sebuah saran.


Sean menggenggam tangan Dara sangat erat. Meski Dara diawal menolaknya, bilang hanya seorang teman tapi dia tidak bisa membohongi hatinya jika dia juga ingin hubungan lebih dari seorang teman.


"Kamu harus sering menghubungiku. Kita harus terus tetap berkomunikasi meski jauh. Kamu harus sering mengirimi aku e-mail, baik itu tentang kegiatanmu dan kamu juga harus mengirimkan foto-fotomu."


"Hmmmm...." Dara menjepit dagunya dan berfikir.


"Kenapa aku merasa kamu terlalu berlebihan?"


"Berlebihan bagaimana? Ini memang harus, hubungan jarak jauh harus dibangun dengan banyak komunikasi."


"Kamu terlalu posesif, tidak harus semua kegiatan aku melapor kepadamu kan?"


"Aku tidak begitu."


"Benarkah? Tapi aku rasa ya."


"Kamu harus berjanji tidak boleh jatuh cinta kepada laki-laki lain. Karena kau hanya akan jatuh cinta kepadaku, ingat kita akan menikah nanti. Aku berjanji akan menikahimu."


Seketika itu wajah Dara menjadi rumit, dia mengerutkan keningnya dan menundukkan kepalanya.


"Kalau untuk hal itu aku...aku...tidak bisa..."


"Sudah...aku tahu. Jangan dilanjutkan!"

__ADS_1


Wajah Sean menjadi kesal dia melepaskan tangan Dara dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Hey...kamu kenapa? Seenaknya memotong perkataan orang lain. Memang apa yang kamu tahu? Dasar manusia es, egois!"


"Maksudmu...?" Slen menghentikan aktivitas mengacak rambut dan mulai beralih menatap Dara.


"Apa maksudku? kamu saja tidak mendengarkanku. Sudahlah kamu pulang saja!"


"Dara..."


"Kamu haru ingat Sean, apa yang aku katakan sebelumnya? Hatiku kacaw saat sikapmu dingin dan tidak jelas kepadaku, kadang acuh kepadaku, lalu sangat perhatian tiba-tiba. Kamu berkata seperti itu, aku tidak bisa menolak. Aku pun tidak menolak kamu terus menciumku...lalu apa yang kamu tahu?"


"Jadi...?" Sean sedang memasang kupingnya dengan baik.


"Jadi aku,,, aku tentu saja tidak bisa jatuh cinta kepada pria lain selain kamu Sean."


Wajah Dara seketika itu merah dan perasaannya seperti sedang menaiki roler coaster kadang naik kadang turun, sangat rumit.


"I Love you, Dara." Sean mengucapkan itu dengan ekspresi yang tidak berdaya dan tak percaya, bahwa Dara juga menerimanya.


"I Love you too Sean."


Malam ini menjadi saksi bisu bahwa ternyata mereka saling mencintai tetapi harus akhirnya harus saling berpisah. Sean lebih banyak bertanya dan mendengarkan Dara, mereka saling mendengarkan dan bercerita mengenai dirinya masing-masing. Kemudian membicarakan banyak hal dimasa depan.


Sean menyerahkan sebuah kalung putih yang cantik dengan liontin berbentuk satu huruf dan berinisial 'S'. Kemudian Sean memakaikan kalung itu.


"Ini memang bukan kalung yang bagus dan mahal, tapi ini aku beli dengan uangku sendiri."


"Hmmm, aku suka. Ini cantik."


Dara memperhatikan kalung itu dan bibirnya melengkung ke atas, pemandangan yang sangat Indah. Akhirnya Sean mendapatkan hati gadis ini yang keras kepala dan sering bertengkar dengannya, meski akhirnya mereka harus saling berpisah, namun keduanya akan saling memantaskan diri dan kembali lagi untuk menepati janji.


Malam sudah larut, Sean akhirnya pergi meninggalkan rumah Dara. Sebelum meninggalkan tempat itu, Sean berinisiatif mengabadikan moment terakhir kebersamaannya lewat Foto. Foto-foto itu diambilnya sangat banyak, ada foto Dara juga yang sedang tersenyum sambil memegang dan melihat liontin dilehernya. Senyuman Dara di foto itu yang akan menjadi obat bagi Sean saat jauh darinya.


Darapun tidur dengan nyenyak, bebannya seperti hilang dan hanya ada senyuman di bibirnya. Malam yang tidak akan dia lupakan, malam termanis yang membuatnya seketika melayang dan melupakan kesedihan.


.........


Sekitar jam 05.00 pintu rumah terbuka dan masuklah Mommy. Dia melihat ke kamar Dara dan mencium dahi putrinya itu yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Sayang, bangunlah... kamu harus pergi sekolah."


"Mommy...?"


Nidia tersenyum kepada putrinya dan coba menarik lengannya untuk menegakkan badannya.


"Ini masih pagi mommy...please..."


"Justru masih pagi, ini bagus untuk kebiasaanmu."


"Ayolah mommy,,, aku masih mengantuk. Hoammm..." mulut Dara menguap, dia memang masih mengantuk.


"Ya sudah, nanti kalau Daddy mu sudah bangun dan siap jika melihatmu belum siap biarkan kamu tahu rasa." Nidia memperingati putrinya.


Kemudian Nidia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sang mommy juga sebenarnya sangat lelah karena acara pernikahannya kemarin dan tentu saja kegiatan setelahnya. Mickel tidak pernah melepaskannya diatas ranjang, selalu menyiksanya tanpa jeda sampai memohon pun tidak digubrisnya. Selesai mandi Nidia kembali ke atas ranjang, kemudian melihat wajah pria yang masih terlelap, memperhatikan wajah suaminya dengan teliti. Melihat mata pria itu yang tenang dan terturup, ketika ingat kejadian semalam begitu brutalnya dia diatas ranjang dengan tatapan dimatanya yang penuh nafsu.


Nidia merasa ini masih seperti mimpi, akhirnya mereka menikah dan menjadi suami istri. Karena terlalu lelah, seketika itu juga Nidia langsung terlelap tidur tanpa waktu yang lama.


.......


Tittt...tittt...tittt...


"Sebentar Daddy, ya tuhan aku terlambat lagi!"


Dara buru-buru turun dan asal mengambil sepatu dan kaos kaki seketika itu pintu mobil belakang ditutup.


"Lihatlah honey, putri kita ini sungguh..."


"Cantik kan? Hehe..."


"......"


"Sudahlah Daddy dan Mommy, kalian selalu mengomel dipagi hari kepadaku. Nanti kalian cepat tua, lebih baik kalian mengurusi urusan masing-masing."


"Tuk..."


Sebuah tangan memukul kepala Dara dengan lembut tapi ada rasa sakit juga. Dara pun mengelus kepalanya.


"Kamu tidur larut malam lagi, hp mu akan Daddy sita."

__ADS_1


"Aku tidak akan, janji."


Dara langsung panik, jika hp nya disita oleh Daddy ini bukan hal main-main lagi. Dia tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Sean. Bisa dibilang Daddy nya ini selain posesif terhadap mommy nya juga pada putrinya, meski Dara adalah anak tiri tapi kasih sayangnya itu seperti kepada putri kandung sendiri. Dara sangat bahagia mendapat kasih sayang seorang Daddy lagi.


__ADS_2