Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Ingin Menjadi yang Terbaik


__ADS_3

Hari pertama masuk kuliah Dara benar-benar datang terlambat di kelas pertamanya. Dia kali ini bangun sendiri tanpa ada yang membangunkannya, bangun pagi adalah hal terberat dalam hidupnya selama ini. Jika dulu selama di rumah, ada sang mommy yang selalu membangunkan tentu sekarang berbeda. Disini, Dara hidup sendiri dan harus terbiasa dengan semuanya.


Dara pun mengendap-endap masuk kelas dan duduk dengan tenang. Tapi pergerakannya itu disadari oleh dosennya, tentu saja hari pertama ini Dara langsung mendapat hukuman yaitu mengerjakan seratus soal dan ditulis dengan tangan. Dia menghabiskan jam kosongnya di kantin dan menulis dengan serius. Dia ingin segera menyelesaikan ini dan segera terbebas.


"Apakah hari ini buruk?"


Seseorang duduk didepan Dara dan bertanya.


"Tidak juga."


Dara menyelesaikan tulisannya dan melihat orang didepannya. Ezra tersenyum dan mengetuk kepalanya ringan.


"Awww... Sakit ka."


"Kebiasaan burukmu kenapa dibawa-bawa sampai ke sini hah?"


"Ck...kaka itu tidak lebih baik dari mommy, kerjaannya suka mengomel."


"Tukk..."


"Masih belum mengakui?"


"Iya,,,,iya,,,iya,,, ka Ezra aku salah. Jangan mempersulitku lagi."


"Kamu masi ada kelas?"


"Masih ka, nanti sore jam tiga."


"Kalau begitu ikut aku."


Ezra menarik tangan Dara dan mereka menuju depan mading. Disana tertulis bahwa sedang diadakan acara pemilihan ratu dan raja kampus, hadiahnya adalah uang senilai satu juta dolar.


"Apa nenurutmu ini menarik?"


Dara menatap Ezra dan mencoba menyelidiki.


"Aku sangat tertarik! Kita harus ikut."


"Kita?"


"Ya, kita..."

__ADS_1


"Tapi aku tidak tertarik ka!"


"Tapi aku perlu pasangan, dan kamu harus membantuku. Sebagai adik yang baik harus patuh."


Mendengar kata-kata ini Dara tak bisa berkomentar lagi, selama ini Ezra selalu baik kepadanya dan untuk urusan ini dia meminta bantuannya untuk pertama kalinya, tidak seharusnya dia menolak.


"Baiklah ka, aku akan ikut. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Kaka jangan kecewa kalau nanti kita tidak terpilih."


"Menurutku, kita akan menjadi raja dan ratu disini." Ezra menekankan kata KITA.


Dara terdiam dan melihat senyum Erik yang tulus. Ezra ternyata seorang laki-laki baik yang memiliki senyum ramah, dia juga tampan tapi dibandingkan dengan ketampanannya Sean sungguh berbeda. Dara dengan lamunannya dan Ezra sedang mengisi formulir pendaftaran itu dengan cepat kemudian dikumpulkan kembali.


"Ka...aku tahu, kamu sebenarnya tidak tertarik dengan hadiahnya bukan?"


"Benar."


"Lalu apa ka?"


"Hanya ingin jadi yang terbaik."


"Bukankah sekarang kamu ada kelas?"


"Ia ka."


"Masuklah, nanti kabari aku kalau sudah selesai."


"Hm..., Baik ka."


.......


"Sean, hari ini aku ke kantor mu ya. Di kampus kamu tidak ada, aku mencarimu seperti oramg bodoh! Aku..."


Suara manja terdengar disebrang sana, Sean merasa jijik mendengarnya tapi dia hanya bisa menahannya saja dan memotong perkataan wanita yang menelponnya.


"Aku sedang banyak kerjaan, bukankah besok masih ada waktu bertemu."


"Tapi Sean..."

__ADS_1


Bip.


Belum selesai, panggilan itu terputus. Sean mengusap dahinya dan dia merasakan lelah. Dilihatnya jadwal kuliah nya sebentar lagi. Dia segera mengganti pakaian formalnya dengan setelan kemeja biasa dan celana jeans. Sangat berbeda dengan penampilannya tadi yang mengenakan setelan jas. Tak lupa jaket kulitnya dia kenakan dan memakai kacamata hitam. Sean pergi dengan motor besarnya, penampilannya sungguh keren dan membuat mata wanita yang memandangnya terpesona. Sesampainya di kampus Sean langsung menuju ruangan kelas. Sudah banyak orang yang mengisi kursi depan.


Sean pun duduk dikursi belakang, saat dia duduk. Tepat di hadapannya seorang gadis masuk menghampiri dosennya dan menyerahkan lembaran kertas, mungkin tugasnya. Gadis itu terlihat tidak asing baginya, rambutnya panjang diikat ke belakang dan memakai dress diatas lutut berwarna biru dongker dan memakai sweater berwarna broken white. Wajahnya hanya terlihat dari samping, Sean terus memperhatikan gadis ini.


Setelah beberapa menit, gadis itu memutarkan badannya dan beranjak pergi. Wajahnya terlihat dengan jelas sangay jelas.


"Dara?" itu jelas dia, Sean pun panik dan perasaanya sangat bahagia bisa melihat Dara kembali secara langsung.


Dara terlihat lebih cantik dan pakaiannya lebih peminim, dia juga terlihat lebih mengurus tubuhnya dengan baik. Sean memandang sosok itu dengan lekat, tapi sosok itu langsung pergi setelah menyerahkan tugas itu.


Sean bangkit dan keluar lewat pintu belakang, mengejar sosok itu yang sudah menjauh. Tapi dia gagal mengejarnya, karena sosok itu telah pergi dengan mobil yang menjemputnya.


"Aaaahhhh....shittt!!!" Sean berteriak, hatinya sangat kesal. Dia sangat ingin bertemu dengan Dara kali ini dia bertemu tapi tak bisa melihatnya dengan jelas. Dia sangat nerindukan Dara, sangat rindu!


.......


"Cari informasi lengkap mengenai orang yang bernama Danuardara Garren."


"Baik tuan "


Bip.


Diruang kerja, Sean memandang lurus ke depan dan masih menggenggam hp di tangannya. Dara berada di London, sama dengan dirinya di kampus yang sama juga. Dia ingin tahu dimana Dara tinggal, dengan siapa, dan dua mengambil jurusan apa di kampusnya itu. Sean memang jarang mengambil kelas pagi, karena dia harus pergi ke perusahaan. Maka dari itu Sean selalu mengambil kelas dari sore sampai malam.


Sean bangkit dan mengambil wine di lemari pendingin. Dia menyesap segelas demi segelas wine itu. Kebiasaan Sean ini muncul saat dia berada di London, jauh dari Dara. Dia hanya ingin menahan perasaannya kepada Dara dengan wine dan melupakan masalahnya sejenak.


Drt...drt...drt...


[Ellie Calling]


Sean hanya melihat nama panggilan di layar ponselnya, dia tersenyum nanar. Dia bertunangan dengan wanita yang tidak dia cintai. Semua ini karena kedua orang tuanya yang sudah berjanji dan menyepakati ini dari dulu tanpa pertimbangannya, Sean tidak bisa menolak Ellie karena perusahannya sebagian besar dibantu keluarga Ellie sekarang. Sean sedang mencari cara agar bisa menjalankan perusahannya tanpa bantuan dari keluarga Ellie, dengan begitu dia bisa terlepas dari Ellie.


Langkahnya diperusahan yang baru seumur jagung ini belum bisa menjadi kekuatannya. Dia harus berjalan perlahan untuk berlari dan menjadi kuat. Sean menahan dan bersabar, hatinya hanya untuk Dara selama ini. Tapi dia sudah menyakitinya, dia yang mengkhianati terlebih dahulu. Sean harus menjelaskan semuanya, meski pada akhirnya Dara akan tetap membencinya, tapi semuanya harus diperjelas.


Sean menghela nafas dalam dan menerima panggilan itu yang terus-terusan menjerit di hpnya karena tak mendapatkan respon.


"Sean, aku di rumahmu. Aku sedang di bawah bersama ibu mu."


"Baiklah, aku akan segera turun."

__ADS_1


Dilihat kedua wanita yang sedang mengobrol dengan santai, wajah Ny. Alice sangat bersinar cerah. Dia memang menerima Ellie dengan baik dan berharap Sean akan menikah dengan Ellie secepat mungkin, tapi setelah Sean menyelesaikan studi tentunya. Dimatanya Ellie adalah gadis baik-baik dan cantik, sikapnya yang ramah membuat hatinya pun meluluh.


__ADS_2