
Mickel sedikit menundukkan kepalanya ke samping kursi penumpang, membantu Nidia memasang seatbeltnya. Setelah selesai memasangkan Mickel menatapnya penuh rasa cinta. Wajah nya sangat dekat, hanya berjarak satu inci saja langsung bibinya mengecup dengan cepat bibir Nadia.
"Kamu sangat cantik malam ini."
Pujian ini membuat wajah Nidia menjadi merah seperti buah tomat. Mickel senang melihat wajah Nidia yang memerah, sepertinya akan ada pintu dalam hati Nidia yang bisa dia buka perlahan. Tak banyak bicara, Mickel langsung menjalankan mobilnya. Saat di perjalanan Nidia mengintrogasinya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan putriku?"
Nidia berfikir akan pertanyaaannya ini.
"Banyak."
Nidia mengerutkan dahinya saat mendapatkan jawaban Mickel yang ambigu. Lanjutnya lagi-
"Sepertinya putrimu menyukaiku dan kami sepertinya cocok, hmmm,,, kami juga sudah bertukar nomor."
"Aaa...apa?"
Nidia membelalakkan matanya, dia kaget dengan ucapan Mickel tadi. Putrinya, seantusias itu kah? Kenapa mudah akrab dengan orang asing yang baru dia kenal? Nidia terus menggerutui putrinya dalam hati.
"Aku akan sering berkomunikasi dengannya dan lebih dekat dengannya yang akan menjadi putriku juga."
"Dia tidak semudah itu bisa kau dekati." Nidia coba memberikan alasan agar Mickel tidak berharap lebih padanya.
"Nidia, pokoknya kali ini kamu harus mempertimbangkanku dengan baik."
Setelah apa yang dibicarakan Mickel, Nidia tidak menjawabnya. Hatinya rumit jika harus memikirkan sebuah hubungan. Dia tidak tahu hubungan apa yang dia jalani dengan Mickel sekarang.
......
Dara merentangkan jari-jarinya, dia baru selesai membuat sebuah desain rumah. Dia mempelajari cara menggambar desain dari buku-buku yang pernah dia baca. Hasilnya pun tidak terlalu jelek untuk seorang pemula, diapun menyimpannya dalam buku bindernya. Ya, ini gambar pertama desainnya. Dia akan berusaha lebih keras lagi nanti.
Drt...drt...drt...
Dara melihat sekilas nomor yang terpampang adalah nomor baru dan sebuah pesan masuk.
[Selamat malam Nona Dara, kami ingin memberitahukan jika besok siang jam 14.30 akan diadakannya interview. Melihat data lamaran anda untuk mengajar privat kami pertimbangkan dan mohon datang untuk menghadiri interviewnya].
__ADS_1
Tak lupa alamat dari intervieuw nya juga terlampir dengan lengkap. Mata Dara hampir saja melompat saat melihat gajih yang diberikan 500.000/pertemuan. Tentu saja Dara akan datang dan memastikan dia akan diterima.
.......
Di tempat perjamuan makan malam, Nidia dan Mickel menyapa ramah para nasabah dan investor satu persatu. Tentu saja mereka pasti diajak untuk minum bersama. Bukan hanya satu atau dua orang yang mereka sapa di perjamuan dan itu membuat kepala Nidia pusing. Meski hanya minum tiga gelas saja tapi minuman ini kadar alkoholnya tinggi ditambah Nidia tidak suka minum. Sedangkan Mickel terlihat masih tetap baik-baik saja, Mickel menyadari Nidia yang mulai mabuk sebentar meninggalkan perjamuan itu lalu membawa Nidia ke sebuah kamar VVIP khusus Direktur, ya tentu itu kamar khusus untuk Mickel.
"Kamu istirahatlah dulu, minum air putih ini agar mabukmu hilang."
"Baiklah tuan."
Jawaban Nidia mulai ngelantur, sudah pasti dia mabuk. Mickel menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Nidia sendiri. Kemudian, Mickel mengambil handphone dan menelpon seseorang. Setelah selesai menelpon, Mickel menutup telpin dengan tersenyum penuh arti. Mickel menyelesaikan perjamuan itu sendiri dan segera pergi ke kamarnya kembalu mengecek keadaan Nidia.
Saat membuka pintu, Mickel terkejut dengan posisi tidur Nidia. Dia langsung menutup pintu segera dan menghampiri Nidia di ranjangnya. Dia melihat gaun Nidia terangkat ke atas hingga perut, terlihat Nidia memakai celana dalam berwarna merah, perutnya yang rata dan sexy. Mickel menelan silivanya dan tenggorokannya seperti kahausan.
"Sitttt, Nidia kenapa kau menggoda?"
Mickel menggelap dan menindih tubuh Nidia, langsung ******* bibirnya dengan liar. Nidia merasakan bibirnya dimasuki sesuatu dan sesuatu itu bermain-main didalamnya. Tanpa sadar Nidia membalas ciuman itu, dia merasa seperti mimpi. Bermimpi berciuman. Sebuah tangan kekar menyentuh tiap inci kulitnya. Nidia pun merasa getaran hebat ditubuhnya yang membangunkan gairahnya dan membuat pikirannya kosong.
Ciuman itu berpindah ke leher jenjagnya dan sesekali dihisapnya membuat tanda merah dimana-mana, semakin turun ke bawah ke dadanya. Tentu saja dihisap dan dilumatnya dada Nidia bergantian.
Kata ini lolos dari mulut Nidia dan membuat Mickel semakin gelap. Mickel telah melepas semua penutup tubuh Nidia tanpa sehelai benangpun. Mickel terus menciumi tubuh Nidia seperti tak akan pernah puas. Sedangkan tangan Mickel terus meremas dada Nidia dan ciumannya semakin ke bawah lalu mendarat di area sensitifnya. Ya kaki Nidia terbuka lebar-lebar dan kepala Mickel bermain diarea itu dengan ganas. Reflek tangan Nidia meremas rambut Mickel dan meraung merasakan sesuatu yang menggodanya itu.
"Aaahhh...ssshhh..."
Tapi Nidia merasa ini bukan mimpi, ini seperti nyata. Dia langsung tersadar, dia membuka matanya dan jelas saja ini nyata. Nidia langsung mendorong kepala Mickel, menutup kakinya dan kedua tangannya menutupi dadanya.
"Ahhh...."
Nidia histeris berteria dan tangannya beralih menutup matanya.
Dia melihat Mickel juga sudah tak berpakaian, dan itu menampilkan dada bidangnya dengan otot-otot diperutnya yang sangat sexy. Nidia melihat pemandangan itu langsung menundukan matanya tapi dia malah melihat benda yang panjang dan sudah mengeras didepannya.
"Ya tuhan, bagaimana ini?" Gumam Nidia dalam hati.
"Kamu harus bertanggung jawab."
Mickel berbisik tepat ditelinga Nidia dan menggigit halus telinganya hingga menciumi kembali leher jenjangnya. Nidia kembali mengosongkan kepalanya, ia hanya menuruti naluri nya. Ya, dia juga menginginkan Mickel.
__ADS_1
Merekapun menyatukan miliknya, malam ini menjadi saksi jika Nidia telah menerima Mickel untuknya dengan mengijinkan Mickel memilikinya seutuhnya malam ini. Selama satu jam kegiatan panas itu dilakukan dan Mickel mencapai pada puncaknya begitupun Nidia, dalam satu hentakan cairan itu keluar bersamaan. Peluh keringat jelas terlihat dikeduanya.
"I love you, baby...thank you." Bisik Mickel di telinga Nidia.
...........
Kegiatan olahraga kali ini dilakukan diluar sekolah, hal ini dikhususkan karena Guru olahraganya yaitu Mister Dave karens akan mengambil nilai praktik berenang. Semua siswa/siswi diajari sampai bisa dengan teknik dasar. Dara tidak merasa khawatir karena sejak kecil dia memang sudah bisa berenang. Akhirnya dia bukan hanya belajar tetapi latihan mengasah kemampuannya. Ada sepasang mata menatapnya dan memperhatikannya, tetapi Dara tidak menyadarinya.
Tiba-tiba, sosok Dara tak terlihat diair cukup lama dia mengalami keram dan melambaikan tangan. Kemudian orang-orang mulai panik dan Sean segera melompat ke kolam mencari Dara. Tak lama mengangkatnya ke atas dan sepertinya Dara pingsan karena banyak minum air. Akhirnya Mister Dave memberikan pertolongan pertama menekan bagian perut Dara. Namun, tidak ada reaksi pada Dara, dia hanya mengeluarkan air sedikit. Ketika Mister Dave akan memberikan napas buatan tiba-tiba Sean memotong.
"Mister, biar saya membantunya."
"Saya saja." Ezra juga mengambil langkah ke depan.
Mister Dave melihat mereka berdua dan seperti anak kecil sedang merebut sebuah mainan.
"Kalau kalian bisa bantulah, jangan malah berdebat. Begini saja, karwna Sean tadi yang mengangkatnya biar Sean yang membantunya lagi."
Akhirnya Sean mendekatvke arah Dara dan segera memberikan nafas buatan tetapi kepalanya tiba-tiba ditahan oleh sebuah tangan, yaitu Dara. Dia sudah sadar, melihat Sean maju mendekatinya mau apa?
"Apa yang kamu lakukan?"
Ezra terkekeh dan merasa lega akhirnya Dara bangun sebelum Sean akan menolongnya.
"Cepat bantu Dara bangun dan antarkan pulang, mungkin hari ini kita tutup saja dahulu. Pengambilan nilai akan dilaksanakan pertemuan berikutnya."
Keputusan Mister Dave mutlak, itu membuat siswa/siswi pun bergegas pulang.
"Aku antar kamu pulang ya?" kedua pria itu menawarkan hal yang sama.
Dara melihat ke arah Ezra dan Sean bergantian.
"Kalian sejak kapan akrab? Seperti saudara kembar saja. Kaluan tak perlu khawatir, aku bisa pulang sendiri."
Dara pun bangkit dan meninggalkan mereka berdua. Tetapu terdengar keributan dari mereka berdua, Dara tak menghiraukan.
"Kenapa dengan kedua pria itu? Hari ini mereka menyebalkan?".
__ADS_1