
Setiap tanggal tua yaitu dari tanggal 25 sampai 30/31 sang mommy selalu membuatkan bekal makanan untuk Dara, karena pada tanggal itu sang mommy akan mengurangi uang jajannya dan sebagian uangnya akan disimpan sebagai tabungan Dara. Ini karena Dara menginginkan sebuah kamera yang harganya juga tak sedikit. Sikap ini sang mommy terapkan karena tak ingin anaknya terlalu manja dan menjadikannya pribadi yang tahu berjuang. Sebenarnya membelikan kamera untuk putrinya itu bukanlah hal yang sulit, tapi dia tak ingin memberikannya dengan mudah. Sudah ada satu tahun Dara menabung, mungkin sekitar enam bulan lagi impian nya memiliki kamera akan segera terwujud.
Pada saat jam istirahat Dara membuka bekalnya.
"Sungguh nikmat makanan ini" gumam Dara dalam hati, jelas saja mommy nya itu selain cantik juga pintar memasak.
Sebenarnya, tak lama setelah Daddy nya meninggal banyak lelaki yang sering datang dan mengirimi mommy nya bunga. Mereka mengantri untuk memdapatkan posisi sebagai suaminya...ditambah lagi sekarang mommynya adalah wanita karir dan pekerja keras. Ada beberapa dari lelaki itu juga yang suka memberikan Dara hadiah atau mengajaknya jalan-jalan alasannya agar mommy nya juga bisa ikut.
"Kenapa mommy tak tertarik pada satu pria pun?" Dara memikirkan ini dalam hatinya.
Sebenarnya Dara tidak keberatan jika sang mommy ingin menikah lagi dan dia memiliki daddy baru. Pasti mommy juga membutuhkan sosok suami dan hatinya pasti sangat kesepian. Lamunan Dara langsung beralih kepada sosok disampingnya yang menepuk pundaknya.
"Hay...kenapa kamu tidak pergi ke kantin?" Laki-laki itu Sean.
Dara memutar mata dengan malas menjawab.
"Oh...aku sudah membawa makanan, tidak perlu ke kantin."
Sean malah tertawa.
"Apa umurmu baru menginjak lima tahun? Sudah sebesar ini masih membawa bekal sangat kekanak-kanakan."
Tawa sean itu sangat menunjukkan bahwa dia sedang mengejek Dara. Tapi Dara tidak terpancing dan menjawab dengan tenang.
"Karena keluargaku sangat memperhatikanku, mereka selalu berlebihan memberiku kasih sayang dan cinta. Mana bisa aku menolak."
Sean mendengar jawaban Dara langsung terdiam dan dia meninggalkan Dara sendirian tanpa pamit atau sepatah katapun.
"Dasar, laki-laki aneh. Sikapnya itu sok akrab dan sok kenal." Dara masih kesal.
......
Saat Dara sedang menunggu bis sekolah di halte depan, tiba-tiba sebuah mobil bergaya klasik berhenti didepannya. Mobil antik yang langka orang biasa memilikinya, pasti harganya juga bisa dipastikan mahal. Saat kaca mobil turun kebawah terlihat orang yang mengendarai mobil itu. Ya, itu adalah Ezra. Dara yang melihatnya langsung tersenyum dengan ramah.
"Dara ayo kita pulang."
"Aku sedang menunggu bis sekolah Ezra, kamu duluan saja."
"Aku ingin tahu rumahmu, biar aku mengantarmu pulang."
__ADS_1
"Ehm, itu..."
Dara sangat banyak berpikir namun akhirnya dia memutuskan.
"Baiklah."
Mereka berdua pun duduk berdampingan dikursi depan.
"Apa setiap hari kamu selalu menunggu bis sekolah?"
Pertanyaan Ezra memecah keheningan.
"Ia, setiap hari aku selalu menunggu bis. Mommy ku tak bisa menjeput karena dia bekerja dan pulang sangat sore."
"BlKalau begitu, besok-besok pulangnya denganku saja. Aku tidak ada teman dijalan seperti ini untuk mengobrol. Rasanya membosankan!"
"Apa itu tidak merepotkanmu?"
"Mana ada merepotkan, bukankah aku yang menawarkan?"
"Ah, ia."
"Ke arah mana?"
Ezra menanyakan arah saat dipertigaan jalan.
"Belok kiri dan di samping warung kopi, sebelahnya rumahku."
"Baik."
Akhirnya mereka pun sampai. Dara tidak banyak bicara dan langsung berterima kasih kepada Ezra. Dara terus memperhatikan mobil Ezra yang semakin tak terlihat barulah masuk ke dalam rumah.
Drt...drt...drt...
[Mommy calling]
"Halo, mommy..."
"Sayang, apa kamu sudah pulang?"
__ADS_1
"Sudah, baru sampai."
"Baiklah, mommy hanya ingin memberitahu mu kalau hari ini mommy akan pulang sedikit larut. Kalau kamu lapar pesan makanan saja ya, biar nanti mommy yang ganti uangnya."
"Hmmm, semangat ya mommy ku kerjanya."
"Tentu sayang, love you."
"Love you too."
Bip
Suasana rumah sepi, ya tentunya sepu karena hanya ada Dara seorang yang berada dirumah. Sebenarnya dia sangat kesepian, mungkin jika dia juga mencari kesibukan maka tidak akan menjadi masalah. Maka dari itu, Dara berinisiatif pergi dari kamarnya dan dia pergi ke ruang baca sekaligus tempat kerja sang mommy. Dia membuka laptop yang berada di meja kerja mommy dan membukanya.
Jari-jarinya mengetik sesuatu dan pandangannya sangat serius menatap layar laptop itu. Ya, Dara sedang mencari lowongan kerja mengajar les privat. Pekerjaan ini sangat cocok menurutnya, karena tidak terikat waktu dan dia bisa mengatur jadwalnya. Di benak Dara saat ini, entah kenapa dia ingin mengumpulkan sedikit uang untuk membeli sepeda motor. Dia tak ingin merepotkan mommy nya yang harus mengantarnya ke sana kemari, terlebih mommy juga sibuk. Setelah melihat sekilas beberapa daftar lowongan mengajar, dan ada satu lowongan yang sangat menarik perhatiannya.
[Dibutuhkan guru mengajar privat untuk kelas X, usia dan pengalaman tidak diperlukan, fee akan diberikan setiap bulan]
Dara pun langsung mengirim resume lamarannya ke email tersebut, tak lupa juga dia save nomor yang tertera dan mengirimkan resume nya juga ke sana.
"Semoga ini keberuntungannya." Dara sangat berharap.
Darapun menutup laptop dan dia pergi ke rak buku yang ada di depannya, dia melihat-lihat dan mengambil satu buku.
[Desain arsitek]
Dara tenggelam di dalam buku itu dan hampir selesai membaca semua halaman buku itu ternyata sudah dua jam Dara membaca, dia tidak sadar begitu melihat jam sudah pukul sepuluh malam. Dara pun pergi ke kamarnya dan membawa buku itu, kemudian dia terlelap begitu saja.
Ceklek.
Pintu kamar Dara dibuka oleh seseorang, ya itu adalah sang mommy yang baru pulang. Setiap pulang pasti sang mommy selalu melihatnya terlebih dahulu dan selalu memberikan kecupan selamat malam dikening Dara. Itu membuat perasaanya menjadi lebih tenang dan lelahnya dalam bekerja menghilang.
Tak lama Nidia pergi ke kamarnya dan dia membersihkan diri, barulah akan tidur. Namun, suara bel rumah berbunyi. Nidia pun turun ke bawah dan membuka pintu. Betapa terkejutnya dia saat membuka pintu.
"Mickel..."
Pria itu langsung mencium Nidia dan menutup mulutnya agar tidak bersuara, ciuman itu sangat panas dan membuat tubuh Nidia seperti tersengat aliran listrik, sudah hampir tiga tahun dia tidak pernah dicium seorang pria. Sekitar dua menit pria itu menciumnya dan melepaskan ciumannya. Dahinya disatukan dengan dahi Nidia dan nafas pria itu terengah-engah, sorot matanya tajam mengarah ke bibir Nidia yang sedikit kebas akibat ciumannya. Dia menyerangnya lagi dengan ciuman yang semakin panas. Nidia tak ingin hal yang lebih terjadi dia berusaha menolah dan mendorong pria itu.
Setelah terlepas, Nidia langsung mengambil kesempatan untuk mundur dan dengan cepat menutup pintu tersebut. Pria itu melihat pintu yang tertutup langsung meninggalkan tempat itu. Nidia masih berdiri mematung membelakangi pintu itu. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kenapa dia sangat nekat dan gila?" Gumamnya dalam hati.