
Drt...drt...
[Sean Calling]
Dara melihat layar gawainya dan meninggalkan Ezra yang sudah tertidur di bangsalnya.
"Haloo..."
"Dara...kenapa kamu tak memberi kabar seharian ini, dari kemarin dan hari ini?" Terdengar nada yang tinggi menandakan Sean yang sedang murka.
"Sean, kita bukan anak kecil lagi yang harus saling memberi kabar." Jelas Dara.
"Maksud mu aku seperti anak kecil?" Terdengar teriakan lagi.
Dara masih sabar menjawab semua ucapan Sean dengan nada lembut.
"Aku akan pulang sekarang, kita perlu bicara." Ucap Dara.
Ucapan Dara seperti angin segar, suara Sean menjadi sedikit melunak.
"Baiklah, aku akan ke sana. Tunggu aku."
Bip.
Sean langsung bersiap dan berangkat dengan mobilnya menuju rumah sakit, menjemput kekasihnya. Dara menunggu di depan lobi dan menundukan kepalanya, dia memandangi sepasang kakinya yang mengenakan sepatu tali berwarna hitam.
Tiba-tiba di depannya muncul sepasang kaki yang mengenakan sepatu kulit, Dara mulai mendongkakkan wajahnya ke atas. Wajah yang berada di hadapanya menampilkan senyum, sangat manis.
"Apa aku lama?"
Dara menggelengkan kepalanya. Sean yang ada di hadapannya segera menarik tangan Dara menuju ke mobil.
"Sean." Panggil Dara lembut saat keduanya nya di dalam mobil dan sudah berjalan.
"Apa sayang?"
Sepertinya suasana hati Sean sudah membaik, Dara merasa ini waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Ezra dengannya.
"Aku ingin membantu penyembuhan Ezra."
Sean hampir menginjak rem dan memberhentikan mobilnya, tindakan yang tiba-tiba membuat sabuk pengaman itu menahan dada Dara yang sakit hampir ke depan dan menabrak kaca mobil.
"Dara..." Sean menatap wajah Dara, terlihat matanya yang merah dan wajahnya yang menghitam.
"Aku mohon Sean, apa pun yang kamu mau aku akan menuruti mu. Tapi untuk itu ijinkan aku membantu Ezra."
Mendengar ucapan Dara mengenai apapun yang dia inginkan akan dia turuti. Ini sebuah kesempatan, Sean akan mengambil kesempatan ini. Tentu saja untuk menahan Dara supaya berada di sisinya terus, maka dia harus menjadikan wanitanya seutuhnya.
Sebuah pikiran kotor pun terlintas di kepalanya, sepertinya cara ini akan ampuh dan mengikat Dara.
"Baiklah, aku akan ijinkan dengan satu syarat."
"Syarat?" Ucap Dara kembali.
"Iya, jika kamu mau aku akan ijinkan. Jika tidak kamu harus menjauhi Ezra dan jangan berhubungan lagi dengannya."
__ADS_1
Dara terdiam dan merenung sejenak.
"Baiklah, apa syaratnya?" Jawab Dara penuh keyakinan.
"Kita sudah sama-sama dewasa. Semenjak kita berhubungan saat di pesta Jessi...aku selalu menginginkanmu..."
Ucapan Sean langsung Dara mengerti, pria ini menginginkan hal itu lagi.
"Baiklah." Dara menjawab dengan tenang.
"Setiap satu kali kamu menemani Ezra, berarti kamu berhutang satu kali berhubungan dengan ku."
Dara yang mendengar pernyataan Sean membelalakkan matanya.
"Sean, kamu jangan gila!" Nada suara Dara bertambah.
"Aku tidak gila sayang, aku hanya ingin keadilan."
Dara tahu ini hanya akal-akalan Sean, sudah pasti Dara akan setiap hari menemui Ezra hanya sekedar melihat dia meminum obatnya dengan baik dan beristirahat dengan baik. Berarti setiap hari juga dia harus menemani Sean melakukan hal itu.
Tapi jika tidak di turuti, pria ini juga sama gilanya, akan terus marah-marah tidak jelas bahkan melakukan hal yang tidak-tidak. Seperti kemarin, dia menghubungi Monica untuk merencanakan sesuatu. Dara sudah tahu akan hal itu karena Monica sendirj yang memberi tahunya. Kini Dara punya hubungan yang baik dengan Monica.
"Terserah kamu."
"Kenapa terserah? " Tanya Sean tak puas.
"Aku tak punya pilihan lagi, jadi harus bagaimana?" Dara mencebikkan bibirnya.
Sean hanya tersenyum dan merasa kemenangan di tangannya. Wanitanya ini tidak akan bisa lepas darinya, dia akan membuatnya terikat seumur hidup dengannya.
Drt...drt...
"Siapa itu?"
Sean melihat layar gawai Dara sekilas dan terlihat nama di layar tersebut. Sean langsung mengambil gawai yang di pegang Dara dan menerima panggilan itu.
"Oh, ini Glen?" Tanya Sean.
Glen yang mendengar jawaban panggilannya adalah suara seorang pria, perasaannya menjadi muram.
"Dimana Dara?"
"Dia sedang berkencan dengan ku, jangan mengganggunya."
"Berikan ponselnya." Tegas Glen.
"Nih..." Sean memberikan posel kepada Dara dengan wajah jengkelnya.
Dara pun menerima gawainya kembali.
"Halo glen."
"Kamu kemana saja?"
"Aku ada urusan mendesak Glen, maaf tidak ke kampus beberapa hari ini dan tidak memberi kabar kepadamu."
__ADS_1
"Apa ini tentang Ezra?" Glen penasaran.
"Ya."
"Pria tadi, apakah dia?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Dia Sean, kamu juga mengenalnya." Jelas Dara.
"Oh, teman sebangku mu dulu?"
"Ya."
Sean yang hanya mendengarkan dari tadi tersenyum. Mendengarkan penuturan Dara tersebut, Sean senang Dara terbuka kepada orang lain mengenai dirinya.
"Kapan kamu akan kembali?" Glen mengalihkan topik pembicaraan dan tidak ingin membahas masalah Sean. Glen sudan tahu Sean adalah kekasih Dara.
"Aku tidak tahu, spertinya aku akan mengambil cuti dulu."
"Tidak bisa!" Glen menjawab dengan cepat.
"Kenapa?" Dara bingung mendapat jawaban dari Glen.
"Pokoknya tidak bisa, aku sudah berjanji kepada dosen mu. Apa kamu mau mempermalukan ku?" Padahal dalam hati, Glen takut tidak bisa bertemu Dara lagi, dia merindukan hari-hari bersama Dara.
Dara hanya menghela nafas dan membuangnya perlahan.
"Aku akan pikirkan kembali."
"Baiklah. Selamat malam."
Bip.
Dara Prov.
"Ka Ezra, semoga kamu lekas pulih dan bisa bersama dengan Monica kembali. Sungguh kita tidak cocok jika menjadi sepasang kekasih. Aku menyayangimu sebagai kaka ku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mu."
"Oke, kalau begitu dari malam ini syarat itu sudah berlaku." Ucap Sean yang membuyarkan lamunan Dara.
"Hah?" Dara melongo tak mengerti.
"Ke apartemenku ya."
Tanpa menunggu balasan Dara, Sean langsung menancapkan gas dan melaju ke apartemennya. Apertemen yang sangat besar dan mewah, warna dinding di dominasi warna hitam dan abu menandakan pemiliknya seorang pria. Dan banyak dinding kaca yang bisa melihat isi kota London dari ketinggian, sangat indah.
Aroma yang tercium adalah aroma maskulin yang sangat lembut tidak terlalu menusuk hidung. Sean menggenggam tangan Dara dan menuntunnya menuju kamar nya. Jantung Dara mulai berdegup kencang saat memasuki kamar yang memiliki ranjang berukuran king size, di dalam kamar terdapat foto Dara bersama Sean sewaktu sekolah dulu.
Foto itu di cetak dengan ukuran sangat besar dan menempel di dinding, tepatnya di kepala ranjang. Saat ini perasaan Dara sangay gugup. Ini memang bukan pertama kalinya Dara melakukan hubungan badan dengan Sean. Tapi situasi sekarang berbeda, mereka akan melakukannya di kamar, di atas ranjang Sean.
"Apa kami gugup?" Sean mulai memegang pinggang Dara dengan posesif.
Pipi Dara pun merona, dia tak dapat menyembunyikan rasa gugupnya.
__ADS_1
"Sean, bisakan kita mulainya dari besok saja?" Tawar Dara.