
Waktu menunjukkan tak pagi lagi, sekarang pukul 10.00. Dara berjalan menghampiri kamar sang Mommy, ternyata sang mommy masih tidur dengan lelap dan Daddy nya pasti sudah pergi tadi pagi. Terlihat lelah diwajah mommy nya, Dara pun tidak tega untuk membangunkannya. Lalu, dia berinisiatif untuk berolahraga di taman belakang lalu berenang dengan santai dan riang. Rumah yang ditempatinya sekarang sangat besar seperti istana, sama dengan rumahnya yang dulu.
Dara hanya bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan saja, apapun sudah ada dan disiapkan. Dia seperti seorang putri, sang Daddy memang sangat memperhatikannya. Selesai dengan kegiatannya, Dara kemudian mengambil hp nya dan coba memghubungi Sean. Tapi panggilannya tidak diangkat.
"Mungkin Sean Sibuk."
Dara menaruh kembali hp nya.
Drt...drt...drt...
[Ezra Calling]
"Halo ka Ezra?"
"......"
"Aku tidak ada kegiatan. Hari ini senggang."
"......."
"Baiklah aku akan siap-siap."
Dara menutup telponnya dan bersiap-siap akan pergi dari rumah, tak lupa dia meninggalkan stik note untuk sang mommy.
"Huh...beres juga. Pekerjaan yang menguras keringat!" Sesekali dia mengusap keringat yang keluar dari dahinya.
Ezra melihat sekilas ke arah Dara dan tersenyum.
"Apakah tuan putri baru kali ini bekerja seperti ini?"
"Ka Ezra itu apa-apaan? Aku sudah pernah melakukan ini, hanya saja sudah sangat lama."
Mereka sedang ada disebuah gunung untuk melakukan kegiatan menanam pohon. Sambil naik ke puncak gunung mereka harus menanamkan pohon disepanjang jalan. Kerja keras nya pun tidak sia-sia karena di atas gunung pemandangan indah sudah disuguhkan didepan mata.
"Ka Ezra, indah sekali."
Dara menarik-narik tangan Ezra dan terlihat sangat bahagia dia menunjuk sebuah awan putih yang mengelilingi gunung tersebut. Mereka seperti diatas awan. Ezra merasa senang melihat Dara yang seperti ini, wajah cantiknya semakin terlihat.
"Apakah kamu suka?"
"Hmmm, sangat suka ka."
Ezra pun langsung menarik Dara dan memeluknya. Dara yang dipeluk Ezra tiba-tiba merasa kaku dan terdiam. Dia mendengar detak jantung Ezra yang berdetak kencang, telinga Dara menempel didada Ezra. Ini membuat wajah Dara seketika memerah dan terasa sebuah kecupan mendarat dikepalanya. Dara semakin bingung dengan posisi ini kemudian dia mencoba menjauhkan Ezra darinya.
"Selamat ulang tahun Dara."
Kembang api berhamburan dilangit dan suasana digunung itu menjadi meriah, teman seperjalanan tadi ternyata sudah menyiapkan kue dan membawanya di hadapan Dara. Mata Dara menjadi berkabut dan dia memeluk Ezra dengan erat.
"Terimakasih ka, aku bahkan melupakan hari ini."
"Kamu ingin hadiah apa?"
Dara langsung mendongkakan kepalanya dan melihat Ezra.
"Aku ingin pulang ka."
"Kenapa?"
"Aku rindu mommy dan Daddy."
"Setelah ini kita pulang."
Dara dan Ezra akhirnya sampai di rumah. Tapi suasana rumah Dara sangat berbeda dari biasanya, banyak mobil berjejer dan rumahnya sangat ramai banyak orang. Ya, keluarga Daddy nya hadir lengkap tanpa ada yang absen. Beberapa teman Dara juga ada, dia melihat ada Intan dan Glen.
Saat memasuki ruang utama semua mata tertuju pada Dara dan Ezra, sang mommy langsung mendekatinya dan mencium kedua pipinya.
__ADS_1
"Happy birthday sayang."
Diruangan itu semua meniup terompet dan terdengar nyanyian lagu ulang tahun, sebuah kue besar pun disediakan di tengah ruangan. Sebenarnya ini terlalu kekanakan, tetapi sungguh Dara juga tak ingin menolak. Ini semua pasti sang Daddy yang mengaturnya. Semua nya bersenang-senang. Di rumah itu terdapat dua kubu, yaitu kubu anak muda dan para orang tua.
Kubu anak muda tentu saja ada Dara dan teman-temannya mereka sedang memanggang makanan dihalaman depan dan sesekali bernyanyi bergiliran. Sedangkan di dalam rumah terdapat ornag tuanya beserta anggota keluarga yang lain.
"Nidia benarkah ini?"
Wanita paruh baya itu melihat amplop putih yang berisi hasil pemeriksaan. Matanya berbinar dan dia hampir menangis.
"Mickel, di masa depan jagalah istrimu dengan baik. Sangat baik!"
"Tentu saja bu."
"Ini berita yang sangat membahagiakan, disaat acara ulang tahun Dara di tambah dengan hadiah ini. Semoga keluarga kalian selalu diberkahi."
Bibi Qin pun angkat bicara, biasanya dia jarang mengobrol tetapi malam ini dia berinisiatif untuk berbicara.
"Terimakasih bibi Qin." Nidia menundukkan kepalanya dan tersenyum.
.........
Sudah tiga hari berlalu Dara memandangi hp nya yang tidak memunculkan nama Sean lagi. Dia juga mengecek e-mail tetapi hal yang sama dia temui. Seminggu lagi, Dara akan mengikuti ujian akhir sekolah dan dia sudah memilih universitas terbaik yang direkomendasikan juga oleh sang Daddy. Dia sangat ingin menghubungi Sean, tetapi saat telponnya yang tidak pernah diangkat Sean, Dara menjadi enggan memberikan kabar terlebih dahulu. Dara menunggu sampai Sean memberi kabar terlebih dahulu.
Dara fokus terhadap ujiannya dan tentu saja prestasinya selama ini selalu dia pertahankan, mendapatkan peringkat pertama dan menjadi murid yang mendapatkan beasiswa kuliah di universitas terbaik di luar negeri. Dara tidak sabar memberi kabar ini kepada Mommy dan Daddy nya.
"Sayang, kamu ingin ikut sarapan?"
Dara melihat jam, sudah pukul 10.30. Dara menggelengkan kepalanya dan duduk dengan santai.
"Ish,,,bukan sarapan mommy. Ini sudah masuk jam makan siang!"
"Haha...tapi ini makanan pertama mommy untuk hari ini, jadi anggap sarapan yang kesiangan saja. Hmmm?"
"Apa perlu bantuan untuk ke dapur mommy?"
Jelas-jelas disini banyak pembantu, kenapa dengan mommy nya ini. Tiba-tiba ingin menyiapkan semuanya sendiri. Berbagai hidangan makanan sudah tersedia di meja makan, meski sudah menikah dan tidak pernah ke dapur lagi tapi sang mommy masih pandai untuk memasak. Di meja makan terdapat mereka bertiga.
"Sayang..."
"Ia mommy."
"Ada yang ingin kita bicarakan."
"Ia, aku akan mendengarkan."
"Kamu akan memiliki seorang adik."
Dara hanya mengedipkan matanya dan beralih memandang perut sang mommy, akhir-akhir ini memang perutnya sedikit lebih terlihat buncit. Dara kira itu karena sang mommy tidak lagi berolahraga, makannya perutnya menjadi buncit. Tetapi karena hal lain.
"Aaahhhh..."
Dara langsung menghampiri sang mommy dan meciuminya.
"Aku ingin adik laki-laki ya mommy."
Wajahnya memelas seperti anak kucing, mommy tak tahan dan mencubit hidungnya.
"Kamu ini sudah berumur berapa masih seperti anak kecil?"
Sang daddy hanya melihat tingkah mereka tersenyum bahagia, keluarga yang sangat harmonis.
"Mom and dad,,,,I will tell you"
Dara memberikan amplop putih ke daddy dan mommy nya. Mereka pun membaca isi surat dengan seksama sampai selesai.
__ADS_1
"So...?" Daddy langsung berkata.
"I want to take it"
"Seriously?"
"Iam serious"
Mommy dan daddy menghela nafas bersama kemudian memandang wajah Dara yang sangat teguh dengan pendiriannya.
"We allow you to take it."
"Thank you dad and mom."
Dara memeluk mommy dan daddy nya dengan bahagia. Mereka selalu mengizinkan Dara melakukan hal-hal yang dia sukai, tidak pernah memaksa harus melakukan ini dan itu. Dara sangat beruntung memiliki mereka.
........
Drt...drt...drt...
[Sean Calling]
Wajah Dara langsung berubah seketika itu dan melihat layar ponselnya. Dia menekan tombol terima.
"Hallo...?"
"Dara..."
Suara itu sangat berat dan terdengar lelah.
"Sean...?"
Bip.
"Sejak kapan dia menutup telponnya seperti ini?" Dara merasa aneh dengan sikap Sean. Dara pun berfikir mengirimkan pesan singkat saja.
[Sean, ada apa denganmu?]
[Dara, maafkan aku.]
[Untuk apa Sean?]
[Aku tidak akan menghubungimu lagi, sekarang kamu boleh jatuh cinta kepada laki-laki lain Dara. Aku tidak akan melarangmu. Anggap semuanya tentang hubungan kita, tidak pernah ada.]
Melihat pesan ini, Dara langsung terdiam dan berfikir.
"Apa salah dia? Kenapa Sean berkata seperti itu?"
Dara langsung menekan tombol panggilan dan tidak diangkat. Panggilan berikutnya nomor itu sudah tidak aktif. Dara membuka e-mail dan mengirim pesan tapi tidak ada jawaban. Sampai disini Dara merasakan sesak di dadanya. Dara ingin penjelasan Sean tapi dia tidak mendapatkannya. Dara pun mencari-cari sendiri, saat dia melihat unggahan foto di sosial media terlihat Sean bersama seorang gadis sedang berciuman. Latar foto itu adalah disebuah pesta "Tunangan tuan Muda Sean dan Nona Ellie" judul dari foto itu membuat mata Dara berkabut dan panas. Air mata mengalir deras dipipinya.
"Bodoh!" Umpatnya dalam hati.
Kejadian ini tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Dara pun mencoba menghapus semua kenangan dengan Sean. Membuang jauh-jauh semuanya hingga hatinya menjadi beku dan tak pernah tersentuh oleh apapun. Dia menyibukan diri dan tak pernah meluangkan waktu untuk bersantai. Tepat hari ini dia akan pergi ke London dan mengambil kuliah di sana. Mommy dan daddy mengantarkan sampai di bandara, kebetulan Ezra ikut dengan Dara karena dia juga mengambil kuliah di sana dengan jurusan yang berbeda dengan Dara. Namun setidaknya sang mommy bisa tenang, karena ada yang menjaga putrinya.
Pesawat itu terbang diangkasa sekitar lima jam dan mendarat di bandara Heathrow. Dara dan Ezra menginjakan kakinya di London. Ezra menemani Dara mencari apartemen disekitar kampus terlebih dahulu, dia menemaninya membereskan barang-barang. Sedangkan Ezra tidak perlu pusing mencari tempat tinggal, karena dia memiliki rumah di London dan saat sampai sudah dilayani oleh pengawalnya. Jadi dia memiliki waktu yang sangat senggang dengan Dara.
"Kak Ezra."
"Kenapa Dara?"
"Kaka pulang dan istirahatlah, pasti sangat melelahkan."
"Aku akan pulang jika sudah selesai."
Dara melihat kegigihan Ezra selama ini, sebenarnya Ezra pernah menyatakan perasaanya tapi Dara menganggapnya sebagai kaka. Tidak ada perasaan lebih selain itu, berbeda dengan perasaannya kepada Sean.
__ADS_1