
Disepanjang jalan pulang Dara hanya diam, wajahnya terlihat pucat. Dia hanya menyapu pandangan dipinggiran jalan yang dia lewati.
"Kamu tidak apa-apa?" Ezra khawatir.
"Aku terlalu lelah ka, mungkin karena belum makan." Dara menjawab sekenanya.
Selama di pesta Jessy, mereka memang tidak makan sama sekali. Pasti Dara lelah dan wajahnya kini terlihat pucat. Ezra pun memakluminya.
"Kita mampir makan dulu ya."
"Iya ka." Dara mengangguk cepat.
Mereka pun tiba dipersimpangan jalan, di sana banyak pedagang yang menjajakan makanan dengan beraneka ragam. Dara melihat pemandangan ini sangat mengagumi tempat ini, ramai, hangat dan sepertinya makanannya enak.
"Kamu boleh makan apa saja yang kamu mau."
"Benarkah?" Dara menampilkan senyum indahnya. Ezra pun merasa sedikit lega.
"Tentu saja. Apa saja yang kamu mau."
Dara pun melangkahkan kakinya, mencoba beberapa makanan yang belum pernah dia temui di Indonesia dan mencicipinya. Sesekali dia juga menyuapi Ezra yang mengikutinya dengan sabar. Hingga merasa cukup kenyang dan puas, mereka duduk di kursi yang menghadap sebuah danau kecil. Dara menyenderkan kepalanya dibahu Ezra, dia merasa sangat lelah dan matanya tiba-tiba menjadi sembab.
Ezra melihat Dara dengan perasaan yang rumit, entah apa yang terjadi pada gadis ini. Tapi dia sudah yakin ini pasti karena Sean. Semenjak pertemuan mereka di pesta Jessy, Dara menjadi berubah. Terlihat kesedihan yang mendalam diwajahnya.
"Apa yang kamu rasakan setelah bertemu Sean?"
Dara hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Kamu masih mencintainya Dara?"
Kali ini Dara menatap Ezra dengan mata sembabnya, kemudian mencium bibir Ezra dengan lembut. Dia ingin melupakan Sean, ini memang telah melewati batas pikiran rasionalnya dengan mengalihkannya kepada Ezra. Tapi dia ingin melupakan rasa sakit ini. Ciuman Dara membuat Ezra terdiam dan berhenti untuk banyak bicara hanya menyimpan dalam hati dan merasa bingung dengan situasi ini.
"Rasanya sakit ka..." Dara mengungkapkan sedikit perasaannya.
"Aku juga sakit melihatmu sedih Dara." Gumam Ezra pada hatinya yang tak berdaya.
Ezra menepuk-nepuk punggung Dara, memeluknya erat. Entah kata apa yang harus dia ucapkan untuk menenangkan gadis ini. Tapi, Dara merasa pelukan yang hangat dari Ezra, membuat perasaannya menjadi nyaman dan lebih baik.
"Aku ingin pulang ka." Dara pun mulai melepaskan pelukannya dan menatap Ezra.
"Baiklah, kita pulang."
Mereka meninggalkan tempat itu dan pergi ke apertemen Dara. Sesampainya di depan apertemen, Ezra turun dan segera membuka pintu penumpang depan. Dara pun turun dan berdiri di hadapan Ezra.
Cup.
Dara mencium bibir Ezra lagi dengan lembut.
"Terima kasih ka, selamat malam."
Dara pergi meninggalkan Ezra yang belum membalas salamnya, Ezra hanya diam mematung tak percaya. Sudah dua kali Dara menciumnya, ini bibir yang dicium bukan lagi pipi. "Oh god!" Gumam Ezra.
........
__ADS_1
Drt...drt...drt...
"Halo Dad..."
"Morning princess..."
"Tumben Daddy telpon."
"Ayolah princess, kamu gak kangen sama daddy dan mommy mu? Meninggalkan kami dan jarang memberi kabar."
"Tentu saja kangen Daddy...gimana kabar mommy dan calon adik?"
"Mereka sehat, mommy mu ingin bicara."
"Sayang..." Suara mommy.
"Ia mommy ku."
"Mommy dan daddy baru sampai bandara."
"Apa mom?"
"Mommy akan ke apertemenmu sekarang."
Oh my god apa yang terjadi ini? Kejutankah? Kenapa sekarang? Ini gimana? Dara panik dan melihat isi apertemennya yang berantakan. Semua ruangan tidak ada yang rapih. Kalau dibereskan tidak mungkin beres dalam waktu sekejap, tapi ini harus dibereskan.
"Sayang..." Suara mommy membuyarkan lamunannya.
"Kami sudah tahu dari Ezra, ini sedang dalam perjalanan bersamanya. Sudah dulu ya."
Bip.
Ka Ezra, kenapa dia tidak memberi tahunya? Dara mengacak rambutnya dan langsung bergegas membereskan apertemennya di mulai dari ruang utama, dapur, kamar mandi dan terakhir kamarnya.
Huh...Dara menghela nafas sekali dan langsung terdengar bunyi:
Ting...nong...
"Itu pasti mommy." Gumamnya.
Dia langsung bergegas ke depan dan membuka pintu. Dan...eeng...hanya ada satu orang dihadapannya yaitu Sean dengan senyum indahnya.
"Kamu..." Dara tak percaya Sean tahu apertemennya. Apa dia mencari informasi tentang dirinya setelah pertemnuannya di pesta Jessy?
"Hay..."
Bruk
Pintu ditutup dengan keras.
"KAMU TELAH MELEWATI BATAS, SEAN."
Dara mengunci pintu dan meninggalkannya tanpa membalas sapaannya. Dara langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dibawah guyuran air, Dara teringat akan kejadian di toilet dan membuat hatinya sesak kembali.
__ADS_1
"Kau ******** Sean, banjinga!"
Guyuran air menutupi air mata yang mengalir deras dipipinya. Dia sesenggukan meratapi kenyataannya sekarang, hidupnya serasa hancur. Dunianya seakan menjadi buntu tak ada arahan kemana dia harus melangkah lagi.
"Sayang....Dara...."
"Princesss..."
Suara itu memenuhi apertemennya. Dara pun bergegas dan memakai baju dan menghampiri orang yang dari tadi meneriakinya. Melebarkan tangannya dan berlari kecil.
"Mommy,,,Daddy..."
Dara mencium orang tua nya bergantian, dan menyapa calon adiknya diperut sang mommy yang mulai terlihat.
"Lihatlah gadis kita, jam segini baru mandi?"
Tak...
"Awww, sakit daddy."
"Gadis nakal, tetap saja ishhh..." Sekarang mommy mencubit pipinya.
"Awww, ini kekerasan terhadap anak-anak namanya." Dara mengerucutkan bibirnya.
Keduanya malah tersenyum dan Ezra pun ikut tersenyum melihat ketiga orang di depannya.
"Mommy dan Daddy benar datang ke sini menjengukku?" Dara masih penasaran.
"Daddy ada bisnis di sini dan akan tinggal selama satu minggu, mommy mu tak ingin di tinggal." Lirik Daddy pada mommy dengan lembut.
Sang mommy pun tersipu malu dan wajahnya merah. Mereka sangat bahagia dan saling mencintai. Dara bahagia melihatnya, kini dia memiliki tujuan kembali. Jika dirinya jatuh biarlah, dia harus bangkit lagi demi keluarganya...tak harus semua menderita juga karena dirinya, dia harus menerima kenyataan. Kenyataan pahit ini.
"Sayang, ada hal yang mommy ingin bicarakan juga padamu."
"Ia mommy."
Mommy menatapku dan menatap Ezra bergantian, Dara pun heran dan saling bertatapan sekilas drngan Ezra.
"Lusa kita akan mengadakan acara tunanganmu dan Ezra ya."
Dara kaget, terlebih Ezra dia juga lebih lebih kaget 1000% akan perkataan mommy nya Dara itu.
"Gimana tante? Tunangan?" Ezra sungguh bingung.
"Ia Ezra, kami sudah diskusi dengan orangtua mu. Mereka kemarin datang untuk ini dan ingin segera kalian bertunangan. Mommy dan daddy sangat setuju, dengan begitu Dara ada yang menjaganya disini."
Mommy menghela nafas dan melanjutkan.
" Ini memang terlalu cepat, tapi sungguh ini yang terbaik menurut kami. Kalian juga sudah saling mengenal dari lama."
"Aku setuju." Kini Dara yang mengiyakan.
Ezra kaget dengan ucapan Dara, selama ini dia selalu ditolak mentah-mentah. Tapi kali ini dia menerimanya dengan lapang. Ada apa ini? Apa Dara mulai mencintainya? Ezra memandangi wajah Dara intens, terlihat keseriusan dari wajah Dara tanpa keraguan.
__ADS_1