
Sean sedang memeriksa setumpuk dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Tangannya memegang pena yang terus menggoreskan tanda tangannya di atas kertas. Tatapannya fokus terhadap kertas-kertas tersebut sehingga dia tak menyadari jika ada seseorang di hadapannya.
"Ehem..." Orang itu mulai berdehem.
Sean tetap menundukan kepalanya dan belum menyadari orang dihadapannya.
"Ehem...ehem..." Kali ini dehemannya agak keras.
Sean pun mendongkakan wajahnya dan melihat orang di hadapannya sekilas. Pena yang dipegangnya pun segera ia simpan, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Menghampiri orang tersebut.
"Kenapa kamu kemari?" Tanya Sean dengan nada acuh tak acuh.
"Kamu tak pernah menguzinkanku ke perusahaan kenapa Sean?" Jawab wanita itu.
"Karena kamu hanya mengganggu ku."
"Mengganggu?" Wanita itu membelalakan matanya hingga bulat sempurna.
"Aku ini tunanganmu Sean, kenapa kamu bilang aku mengganggy? Apa kamu tidak senang kalau diperhatikan olehku?"
Sean hanya menarik alisnya sebelah kemudian menggaruknya dengan telunjuknya, senyuman terlukis dibibirnya.
"Aku tak pernah senang bersama denganmu Ellie. Kamu masih belum mengerti?"
"A...aku..."
"Pulanglah,,, Zack akan mengantarmu pulang."
Zack adalah asisten pribadi Sean sekaligus kaki tangannya. Ellie terdiam mematung di tempatnya sejenak.
"Apa kamu lupa hari ini Sean?"
"Hari ini merupakan hari rabu, kenapa?"
Ellie kemudian menarik sebelah bibirnya ke atas.
"Apa kau akan pura-pura lupa lagi?"
"Aku tak mengerti." Sean melewati Ellie dan segera membuka pintu.
"Sekarang Zack sudah menunggu mu di bawah, turunlah."
Ellie mengepalkan tangan yang berada disamping tubuhnya, matanya sudah memburam. Sean tak pernah menganggapnya sama sekali, bahkan hari jadi tunangannya pun dia lupakan...apa mungkin dia pura-pura lupa? Entahlah, hanya Sean yang tahu.
Tanpa lama-lama Ellie pun membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan kerja Sean. Sean menutup pintunya dan segera meraih gawainya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Bawakan dokumennya sekarang lalu antar Ellie pulang."
Bip.
Telpon itu pun terputus. Tak lama, selang lima menit pintu kantor Sean di ketuk. Sean pun mempersilahkannya. Zack masuk dan menyerahkan dokumen itu kepada Sean lalau segera mengantar Ellie pulang.
.......
"Dara...tolong percaya padaku. Apa selama kita bersama kau tak yakin padaku?" Ezra terus mengejar Dara yang melangkah pergi.
"Aku hanya percaya fakta bukan kepada perasaan. Maaf ka, aku sudah memikirkan ini dengan baik..."
Ezra menarik tangan Dara dengan keras dan langsung memeluk tubuh itu dengan erat.
"Jangan tinggalkan aku Dara, jangan pernah. Aku mohon." Suaranya terdengar sangat parau dan berat.
Dara merasakan kesedihan Ezra, tapi dia kembali mengingatkan dirinya agar tidak terpengaruh dan percaya lagi kepada laki-laki. Dara mulai merenggangkan pelukannya.
"Ka, tolong mengerti...aku, aku benar-benar tak bisa. Aku sudah lelah dengan ini. Aku hanya ingin menyelesaikan kuliahku sekarang."
"Aku tidak akan mengganggu kuliahmu, tapi tolong terima lamaranku."
"Aku tidak bisa ka...seharusnya kamu terbuka sejak awal padaku. Bukankah aku orang yang kamu pilih dalam hidupmu? Tapi aki sama sekali tak tahu mengenai Monica. Aku, hanya merasa jadi orang bodoh." Dara tersenyum getir.
Perlahan pelukan Ezra pun terlepas. Dia menyadari bahwa dirinya telah salah sejak awal, tidak memberi penjelasan kepada Dara dengan benar dan tidak pernah menceritakan masa lalunya kepada gadis tersebut. Maka, Ezra mencoba menerima tetapi untuk memiliki gadis itu dia tak akan menyerah.
"Aku akan mengantarmu. Jangan menolak untuk hal ini."
Dara menatap Ezra sekilas dan membalikkan badannya.
"Baiklah."
Merekapun pergi bersama-sama. Sesampainya didepan apartemen Dara langsung mengucapkan terimakasih dan sedikit membungkukkan badannya. Pasalnya, Ezra agak canggung dengan situasi ini tapi dia menerima agar Dara tetap mau bersamanya.
"Besok pagi aku jemput, jangan berangkat duluan."
"Tidak perlu ka, aku berangkat sendiri...sudah terbiasa." Ucapan Dara sedikit menyindir Ezra secara tidak langsung.
"A..ah...pokoknya besok aku jemput. Tak ada penolakan. Selamat malam."
Saat Dara akan menjawab perkataannya, Ezra malah begitu saja pergi. Laki-laki ini memang sangat keras kepala. Dara menggelengkan kepalanya kecil lalu masuk ke apartemennya. Dan benar saja esok paginya Ezra sudah menunggu Dara di apertemennya, malah dia juga sudah menyiapkan sarapan Dara.
Dara yang baru bangun tidur mengucek matanya dan masih menguap, ketika berjalan ke dapur untuk mengambil minumam dia kaget ada orang di dalam sana. Saat lebih dekat sosok itu terlihat jelas.
"Ka Ezra...?"
__ADS_1
Ezra yang masih memakai celemek menoleh dan tersenyum dengan indah.
"Pagi Dara."
Kemudian dia kembali berkutat dengan pisau dan bahan-bahan yang lain. Dara hanya terbengong memandangi belakang punggung Ezra.
"Untuk tipe calon suami, Ezra memang sempurna. Baik, tampan, kaya dan dia juga bisa memasak." Ah, Dara menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri sendiri.
"Aku akan bersiap-siap dulu." Ucap Dara dengan nada acuh tak acuh.
"Ia, bersiap-siaplah dan dandan yang cantik." Ezra sedikit menggoda Dara.
"Aku tidak akan berdandan." Ucap dara dengan mencebikkan bibirnya.
"Kamu memang tidak perlu berdandan karena sudah cantik." Ucap Ezra kembali dengan mengedipkan matanya sebelah.
"Ish,,,,apaan sih ka." Dara pun meninggalkan Ezra sendirian di dapur dan segera pergi ke kamarnya. Disisi lain Ezra hanya terkekeh melihat tingkah Dara yang malu karena godaanya.
Dibawah guyuran shower, Dara terus memperingati dirinya supaya jangan pernah menganggap apapun perhatian yang diberikan Ezra jangan sampai luluh lagi. Fokus...fokus...hanya pada kuliah saja, seperti itu lebih baik.
Dara pun telah bersiap, tampilannya sekarang sudah dia rubah sedikit. Dari yang memakai dress mini sekarang menjadi memakai celana panjang dan kaos beserta cardigannya. Rambut yang selalu digerai sekarang mulai dia ikat ke atas.
Ezra memperhatikan penampilan Dara sekilas, gadis dihadapannya tetap saja cantik dengan tampilan apapun. Meski dia tak pernah memakai make up sama sekali tetapi wajah polosnya itu justru menjadi daya tariknya. Apalagi melihat bibir itu,,, bibir yang biasa menciumnya, sudah lama tidak merasakan kelembutan dari ******* bibir itu. Pandangan Ezra terpysat disana. Seketika itu Dara merasa risih dengan pandangan Ezra.
"Sebaiknya kita makan dan segera pergi ke kampus."
"Aaa...hhh, ia kita sarapan dulu." Ucap Ezra yang baru tersadar dari lamunannya.
Mereka pun sarapan dengan hikmat, setelah itu pergi menuju ke kampus. Karena suasana canggung, Ezra mencoba untuk bersikap biasa dan memulai obrolan.
"Minggu depan kita harus mengikuti tahap final pemilihan raja dan ratu kampus."
"Minggu depan ka?"
"Ia, minggu depan. Kita harus mempersiapkannya."
"Ah, baiklah."
"Pulang kuliah nanti aku jemput ya."
"Terserah kaka aja."
"Ko kaya gak mau gitu?"
"Aku emang gak mau ngerepotin kaka, jadi lebih baik kaka tidak perlu menjemputku. Tapi meskipun aku bilang begitu pasti kaka akan tetap menjemputku. Bukankah begitu?"
__ADS_1
Ezra hanya tersenyum menanggapi celotehan Dara tentangnya. Dia tidak keberatan sama sekali atas protes Dara, dia malah senang. Gadis ini ternyata begitu memahaminya.