
Selama tiga bulan ini Dara menjalani sekolahnya dengan baik tanpa membuat masalah sedikitpun, tanpa mengeluh sedikitpun. Wajahnya selalu tersenyum selesai sekolah, bagaimana mommy nya tidak tenang. Mungkin putrinya sudah besar dan bisa menjaga diri, maka dari itu... suatu hari saat pagi akan berangkat sekolah...
"Hari ini berangkatlah sendiri, hmmm..." ucap mommy
"Kenapa tiba-tiba? Apa mommy sedang sibuk sekarang?" Dara sangat heran.
"Iya, mommy akan sangat sibuk akhir-akhir ini. Apakah putri mommy ini sudah besar sekarang?" mommy mengelus kepala Dara dan tersenyum.
"Tentu saja sudah besar...mommy tenang saja aku akan berangkat sendiri ke sekolah."
"Baiklah, mommy pergi duluan ya. Kalau ada apa-apa kabari. Dan... mommy mungkin akan pulang agak malam lagi."
"Tidak masalah, hati-hati mommy."
Pagi itu pertama kalinya Dara berangkat sendiri ke sekolah, sebenarnya dia tidak terlalu paham harus naik apa ke sekolah dari rumahnya selain mengandalkan bis sekolah. Dara pun menunggu di halte dekat rumahnya. Betul saja, bis sekolah melewati halte itu dan Dara naik ke dalamnya.
Saat sedang duduk santai, tiba-tiba ada seseorang yang sembarangan duduk disampingnya. Dara pun kaget dan memperhatikan orang itu, orang itu sedang mendengarkan musik sambil duduk dengan tenang. Wajah Dara berubah kesal dan dia melihat orang itu adalah Sean. Dara pun langsung meneriakinya!
"Hey..."
Sean tidak mendengar Dara dan fokus ke depan sambil meletuskan permen karet di mulutnya. Dara yang semakin kesal pun langsung mengetuk kepala Sean agak sedikit keras.
"Awww..."
Sean akhirnya melihat orang disebelahnya dan tersenyum. Earphone nya pun dia lepas.
"Hai gadis kecil."
Orang itu sejak kapan memanggilnya "gadis kecil" seperti orang yang akrab saja.
"Maaf, bisakan anda pindah ke tempat duduk lain?"
Sean melihat sekitar dan mengankat bahunya sambil berkata:
"Sudha tidak ada yang kosong."
Dara juga ikut melihat seluruh tempat duduk dan sudah penuh. Dia hanya menarik nafas dengan berat.
......
Saat tiba di sekolah dan memasuki ruangan, Dara melihat wajah teman-temannya yang kaum hawa itu berwarna merah dan matanya berbinar. Kemudian menuju ke sudut ruangan. Terlihat sosok laki-laki yang sedang duduk namun wajahnya asing.
"Aneh sekali, kenapa dengan wajah mereka? seperti kepiting rebus saja." Gumamnya dalam hati.
Dara pun duduk tanpa memperhatikan sosok yang ada dibelakang itu. Hanya ada sebuah tas disebelahnya dan orang disebelahnya yang membuat suasana hati Dara jelek hari ini. Sean memegangi kepala dengan satu tangan yang bertumpu di meja dan menatap Dara.
"Gadis ini kenapa begitu manis saat diperhatikan dari dekat." Gumamnya.
Dara merasa terganggu dengan tatapan disebelahnya lalu dia menatapnya balik.
"Ada apa? Kenapa?"
"Dia begitu imut juga saat marah." Sean malah melanjutkan gumamannya dan tersenyum.
__ADS_1
Darapun menampar pipi Sean dengan kasar.
"Awww..."
Sean langsung sadar.
"Kamu ini apa-apaan menampar orang sembarangan?"
Dara hanya mengejeknya dan menggerakan bibirnya namun tidak ada kata-kata yang keluar.
"Hahaha...itu baru sedikit ya, lain kali aku akan menghajarmu kalau kamu menatapku dengan begitu lagi."
Tiba-tiba sesosok pria yang duduk dibelakangnya menghampiri, dan dia mengulurkan tangannya didepan Dara.
"Hay, Nama ku Glen. Senang bertemu denganmu."
Dara melihat uluran tangan laki-laki itu hingga ke wajahnya...matanyapun langsung melotot dan bibirnya terbuka sambil menunjukinya.
"Kamu..."
Dara merasa familiar setelah melihat laki-laki itu dari dekat.
"Kita pernah bertemu di sebuah toko buku." Lanjut pria itu.
Dara langsung ingat dan dia pun mengulurkan tangannya dan berkata:
"Aku Dara, senang juga bertemu denganmu."
Dari kaca jendela Dara melihat ada sosok Intan leway, dia sudah tidak bertemu dengannya sejak lama. Dara pun melepaskan jabatannya dan langsung pamit pergi keluar untuk mengejar Intan. Disana Sean menatap Glen dengan wajah masamnya. Glen tidak mengiraukannya dan meninggalkan kelas. Namun diluar terdengar suara ribut-ribut, ternyata itu Dara dia sudah memukul anak laki-laki mereka berkelahi bak seeprti Dara bukanlah perempuan karena laki-laki itu pun membalas pukulan Dara namun tak pernah berhasil.dan tak berniat berkenalan dengannya. Suasana tak bisa dikendalikan dan mereka sulit fipisahkan, hingga seseorang memanggil guru untuk memisahkan mereka.
Kenapa bertiga? Ya karena di sana juga ada Intan. Guru BP di sekolah tersebut bernama Rizka, biasa dipanggil Miss Rizka. Wanita yang berumur 40 tahun dan pengalaman dia mengajar sudah lebih dari lima belas tahun. Tentu sangat memahami setiap perilaku anak-anak dan masalah-masalah yang ada di dalamnya.
Mereka bertiga duduk di ruangan BP dan Miss Rizka memberi pertanyaan langsung kepada mereka.
"Siapa yang memukul duluan?"
"Saya." Dara bersuara.
"Kenapa kamu memukulinya?"
"Dia membully teman saya di hadapan teman lain."
Intan terisak dan tak berhenti menangis dari tadi tangannya mengepal dipahanya dan situasi itu dipahami Miss Riska.
"Siapa namamu?"
"Danuardara Garren."
"Baiklah Dara, bisakah kamu mengantar temanmu pulang dan kembali ke sekolah lagi?"
Dara memandang Miss Rizka dan menatapnya sejenak.
"Baik Miss saya akan mengantarnya pulang."
__ADS_1
Intan dan Dara pun pergi dari ruangan itu. Yang tersisa hanya Miss Rizka dan Erik.
"Erik, aku hanya ingin memberi tahumu jika disekolah ini tidak semua orang bisa kamu ejek. Lebih bagus jika kita sebagai manusia saling menghargai."
"Aku hanya berbicara kenyataan, perempuan itu memang gendut. Apa yang salah?"
"Tentu saja itu hal yang salah, jika orang lain berbicara padamu kalau kau anak yang tak memiliki ayah, apa kamu akan baik-baik saja?"
Erik kaget dengan pernyataan Miss Rizka dan dia merasa malu dan menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku miss, aku tahu salah."
Miss Rizka tersenyum dan menepuk pundak Erik.
"Kalau begitu kamu tahu harus apa?" Selidik miss Rizka.
"Ia aku tahu, besok aku akan minta maaf." Erik memberi tahu.
"Ini yang terakhir kali, sekarang rawat lukamu ke UKS. Nanti akan aku jelaskan masalah ini kepada Ibu mu. Dan...kamu juga harus menjelaskan sendiri kepada ibu mu."
Erik pun meninggalkan ruangan BP dan menuju ke ruang UKS. Tapi di jalan dia berpapasan dengan Dara. Dara berhenti dan memegang tangan Erik.
"Aku minta maaf." Dara menyesali perbuatannya.
"Hmm, tidak apa-apa. Tenaga mu cukup kuat untuk seorang gadis." Erik tersenyum tulus.
Dara juga hanya bisa tersenyum lalu mereka menuju ruangan masing-masing. Langkah kaki Dara menuju ruang BP kembali. Pintu pun diketuk dan bangsal pintu di dorongnya.
"Kamu sudah kembali?"
"Ia miss, saya sudah kembali."
"Duduklah."
Dara duduk dan hanya menundukkan kepalanya.
"Sudah tahu salahmu?" Miss Rizka mulai memastikan.
"Ia miss, saya tahu salah. Saya siap menerima hukuman."
Dara adalah sosok yang sangar bertanggung jawab baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Miss Rizka senang melihat respon Dara yang jujur.
"Sebenarnya masalah ini harus diketahui orang tua mu, tapi..."
Dara langsunf melihat Miss Rizka yang belum melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi aku bisa memperingan hukumanmu dengan memaklumi kejadian ini untuk pertama dan terakhir kalinya."
Dara masih belum bisa mencerna maksud dari Miss Rizka dan mengerutkan keningnya.
"Baik...kamu akan mendapat hukuman selama satu minggu disekolah, aku tidak akan berbicara masalah ini kepada orang tuamu. Bagaimana?"
Miss Rizka hanya ingin memberi kesempatan untuk Dara agar memperbaiki diri, karena dia tahu Dara adalah murid yang berprestasi jadi dia memperingan hukumannya hanya mengerjakan hukuman disekolah. Jika orang tuanya tahu, mungkin Dara akan mendapat hukuman juga dirumah. Maka dari itu Miss Rizka tidak akan memberitahu orang tua Dara.
__ADS_1
"Baiklah Miss, saya bersedia."