Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Malam Perpisahan


__ADS_3

Semenjak Ezra datang ke rumah Dara, saat itu juga Ezra setiap pagi datang untuk menjemput Dara untuk berangkat ke sekolah bersama. Kesempatan yang tidak ingin dilewatkan oleh Ezra ini membuat Dara merasa ada sosok yang selalu melindunginya, memperhatikannya dan menghormatinya seperti seorang kaka.


"Mungkin ini rasa nyaman antara adik dan kaka." Diam-diam Dara menyimpulkan di dalam hatinya.


Tentu saja Dara tak pernah menolak dan selalu menerima kebaikan Ezra. Tak terasa, satu minggu berlalu. Acara pernikahan sang mommy tepat hari ini. Akhir pekan yang akan menjadi awal kehidupan baru baginya dan mommy nya.


Sang mommy sangat cantik dengan gaun putihnya, dan di aula sana sudah ada pria tampan yang menunggu dan menyambutnya. Dara mengantarkan sang mommy kepada pria itu dan mereka pun saling mengucap janji. Ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Dara. Sungguh Dara pun sangat cantik hari ini dengan dress putihnya dan lengan panjang, dibagian bahunya sedikit terbuka dan memperlihatkan pundaknya yang putih. Rambut yang di tata ke atas menampilkan lehernya yang jenjang dengan jelas. Ezra selalu menemaninya seperti selayaknya seorang kaka sungguhan.


Sang mommy sungguh tidak keberatan dengan hal ini dan sangat mengenal Ezra dengan baik. Sang mommy pun sangat percaya kepada Ezra. Pesta pernikahan itu sungguh meriah karena diadakan disebuah hotel bintang lima yang mewah dan banyak dihadiri para tamu penting.


Namun, disisi lain Dara pun merenung. Selama satu minggu kebelakang Sean telah pergi ke London dan tidak menampakkan batang hidungnya lagi di sekolah. Dara sangat ingat dengan jelas, malam dimana dia datang ke rumahnya dan malam itu menjadi malam perpisahan.


.......


Matahari sudah tak menampakkan sinarnya, hanya digantikan dengan gelap. Hari ini sudah malam dan menunjukkan pukul 20.30.


"Sudah jam segini mommy belum pulang. Hmmm..."


Dara menghela nafas dalam dan memejamkan matanya.


Drt...drt...drt...


Dara segera mengambil hp nya yang disimpan di nakas berharap itu panggilan dari sang Mommy, kemudian dia melihat panggilan dari nomor Sean. Nomor yang tak ada namanya lagi tapi masih ingat dengan jelas siapa pemilik nomor ini.


"Malam sudah larut, ada perlu apa Sean meneleponnya? Bukankah mereka sudah bertemu tadi sore?"


Dara mengerutkan kening dan merasa gelisah, sejenak dia berpikir dan ragu tapi dia menekam tombol terima.


"Halo...?"


"Halo...?"


Tapi tak ada jawaban disebrang sana, akhirnya Dara menutup telpon aneh itu.


Drt...drt...


Dara melihat layar hp nya dan panggilan itu lagi, Dara langsung menekan tombol terima tanpa ragu.

__ADS_1


"Keluarlah sebentar, aku didepan rumah mu."


Bip.


Dara melihat layar ponselnya yang mati dan dia pun bangkit dari tidurnya dan menghampiri jendela kamarnya, terlihat dibawah sana ada sosok laki-laki menggunakan kaos putih dan celana jeans hitam. Rambutnya agak coklat dan bercahaya. Dara langsung turun ke bawah dan membuka pintu keluar. Malam ini Dara pasti tidur sendirian, karena sang mommy harus bekerja lembur untuk membereskan pekerjaannya sebelum melaksanakan acara pernikahan dan mengambil cuti.


Dara sudah dihadapan laki-laki itu, terlihat pancaran tajam dari mata hazel itu dan sangat mendalam. Dara pun memberanikan diri membuka pintu gerbang rumahnya dan menutup kembali gerbang dan berbalik, laki-laki itu segera memeluknya erat, sangat erat. Sehingga Dara merasakan sesak.


"Ya...kamu apa-apaan?!" Dara pun berontak dan melepaskan pelukan itu.


Tiba-tiba saja laki-laki itu meneteskan air mata dan menundukkan kepalanya. Laki-laki itu Sean, pria yang dia baru temui tadi sore. Entah kenapa dia datang lagi mencari Dara dan suasana hatinya seperti sangat kacaw!


"Ada apa? kenapa kamu ke rumahku selarut ini?"


"Aku hanya ingin melihatmu."


"Besok kamu akan pergi Sean. Sebaiknya pulang dan istirahatlah."


"Bolehkah aku bersama denganmu sebelum aku benar-benar pergi?"


"Kalau begitu masuklah ke rumah untuk mengobrol sebentar."


Dara meminta Sean ke dalam karena tidak enak membiarkannya diluar dengan udara yang dingin. Bisa-bisa dia akan sakit. Sebenarnya Dara ragu dengan tindakannya ini, tapi sungguh dia tak ingin melihat Sean sakit.


Sean mengikuti langkah Dara untuk masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang utama, karena Dara tak ingin Sean lama-lama berada dirumahnya jadi dia tidak memberikan minum dan hal lainnya selayaknya tuan rumah kepada tamu. Sean juga tak berniat berlama-lama dan langsung bersuara.


"Ada hal yang harus aku jelaskan sebelum aku pergi."


"Mengenai apa?"


"Mengenai hubungan kita!"


"Hubungan apa Sean?" Dara mnecibir.


"Harus diperjelas Dara, kamu menganggapku sebagai apa?"


"Teman."

__ADS_1


"Kalau begitu tatap aku!" Rahang Sean mengeras dan nadanya naik satu oktav.


Dara pun menatap mata hazel itu.


"Sekarang katakan, kamu menganggapku sebagai apa?"


"Teman."


Dara mengucapkan itu dengan alami dan tetap dengan perasaan sungguhan mengucapkan hal itu. Sean langsung memegang kepala belakang Dara dan langsung menciumnya dengan kasar. Dara berusaha melarikan diri tapi tetap tidak bisa, tenaga Sean bukan tandingannya.


"Sean, lepaskan..."


Tiba-tiba Sean merasakan rasa asin dibibirnya, terlihat Dara sedang menangis. Sean pun melepaskan ciumannya.


"Aku, minta maaf Dara."


"Pulanglah Sean, aku mohon."


"Kita masih perlu bicara Dara!"


"Tidak bisakah kita tidak membicarakan ini? Aku sudah memaafkanmu Sean, semua tingkahmu sampai saat ini....dan aku tak ingin ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranku lagi." Dara tetap berbicara tapi wajahnya tak menatap Sean. Lalu lanjut berkata:


"Aku merasa kacaw, aku merasa bingung harus bagaimana menghadapi sikapmu ini. Terkadang aku kesal karena kamu bertingkah semaumu dan kadang dingin kepadaku, kau juga selalu acuh padaku padahal aku perlu teman disampingku. Dan kamu..."


Cuppp...


Sean mencium bibir Dara seketika itu juga, menutupnya agar tidak berbicara hal lain-lain lagi. Kemudian melepaskan. Masih memandangi bibir manis itu, bibirnya agak bengkak akibat ciuman Sean yang bertubi-tubi. Sean memandangi bibir Dara yang terasa sangat lembut dan manis, warna merah alami itu membuat mata Sean menjadi gelap dan entah sejak kapan dia selalu ingin menciumnya terus menerus seperti candu.


Cuppp...


Sean kembali mencium Dara penuh dengan minat, ciuman yang sedikit kasar dan Sean mencoba membuka mulut Dara dengan lidahnya, menuntun agar Dara juga membalasnya. Satu menit, dua menit, Dara pun membuka bibirnya dan membiarkan Sean menjelajahi ke dalam mulutnya. Ciuman itu semakin ganas. Entah sejak kapan, pikiran mereka berdua menjadi kosong yang ada hanya gairah ingin saling memiliki.


Setelah 3-4 menit berlalu, Sean memberikan ruang untuk Dara bernapas namun ciumannya beralih ke leher Dara yang terlihat putih dan sangat harum, Sean menciumi dan sesekali menghirup wangi leher itu, rambut panjang Dara diikat ke atas dan tak menghalangi leher itu. Tentu membuat Sean lebih mudah dan leluasa untuk berlama-lama di sana.


"Euhhh...Sean."


Dara menarik rambut Sean dan mencoba menjauhkan kepalanya dari lehernya. Bibir Sean yang menciumi leher Dara dan sesekali menggigitnya akhirnya melepaskan. Terlihat bekas merah dileher Dara sekarang, ini pertama kalinya dia melakukan hal sejauh ini.

__ADS_1


__ADS_2