
Di sebuah mading banyak mahasiswa/mahasiswi yang bergerombol melihat isi pada mading tersebut termasuk Dara.
"Daebak..." Gumam Dara.
"Masuk final...beneran kah?" Dara masih tak percaya bahwa dia dan Ezra telah terpilih menjadi tiga pasang yang melangkah ke babak final.
Dia pun langsung keluar dari kerumunan orang-orang dan mengambil gawainya dalam tas.
Drt...drt...
"Halo ka...nanti siang sibuk gak?"
"Sepertinya tidak, kenapa?" Pria disebrang telpon sana menjawab.
"Nanti kita ketemu di kedai kopi biasa ya."
Dara langsung mematikan telponnya, dia melangkah menuju kelas dengan senang hati. Hari ini sepertinya hari keberuntungan baginya. Saat memasuki kelas ternyata kelas itu kosong, Dara pun heran dengan keadaan kelas yang kosong ini. Tak lama dia melihat gawainya dan membuka grup kelas.
"Ya ampun." Dara menepuk jidatnya sendiri.
"Hari ini jam nya kan digeser jadi malam. Kenapa aku ini bisa lupa? Padahal masih muda tapi ingatanku sudah jelek!!!" Merutuki diri sendiri.
Dara pun berbalik dan berencana langsung ke kedai kopi dekat kampusnya sekaligus dekat dengan hotel milik Ezra. Dara mencoba menelpon Ezra lagi, tapi dia tidak mengangkatnya.
"Mungkin dia sedang sibuk. Sudahlah, aku tunggu saja disini duluan." Gumamnya.
Sekitar tiga puluh menit Dara berada di kedai kopi itu, dia sama sekali tidak merasa jenuh atau bosan karena ditangannya telah ditemani buku-buku yang tebal. Buku itu berkaitan dengan desain dan bisnis. Dara sangat menyukainya. Tapi saat pandangan matanya dialihkan dia melihat sosok yang sangat familiar sedang duduk berdua. Mereka sepertinya sangat akrab, mengobrol, bercanda, bahkan saling bertatapan dengan hangat.
Pandangan Dara tak luput dari kedua orang itu, matanya tak berkedip barang sedetikpun. Tak lama mereka saling berpegangan tangan, kemudian sang wanita tiba-tiba mencium pipi lelaki yang ada dihadapannya. Dara bangkit dari duduknya, dan menuju meja tersebut.
"Ka..." Panggilnya lirih.
Lelaki itu pun bangkit dari duduknya dan mendekat kepada Dara. Ya, dia Ezra.
"Dara, kamu sudah disini?"
__ADS_1
"Apa maksudnya?" Dara bertanya balik.
"Aku Monica." Jawab wanita yang ada disebelah sambil mengulurkan tangannya.
Bukan menjawab tapi Dara hanya memandangi wanita itu dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan yang penuh dengan amarah. Dara tak ingin membalas perkenalannya itu. Paham dengan situasi ini Monica langsung mengambil kembali tangannya dan berkata:
"Aku sedang membicarakan hal penting dengan Ezra. Tapi..."
"Hal penting?" Dara memotong perkataan wanita itu.
"Baiklah, aku pergi. Maaf sudah mengganggu" Dara pun langsung meninggalkan tempat itu.
"Dara, tunggu dulu." Ezra akan mengejar Dara namun tangannya di tahan oleh Monica.
Dara meninggalkan kedai kopi itu dengan hati yang sesak, apa yang terjadi di depan matanya sangat menusuk hatinya. Ezra membiarkan wanita lain menciumnya, ya meski ciuman itu mendarat dipipi tetap saja Dara tidak menyukainya.
"Laki-laki memang semuanya sama, aku nya saja yang bodoh selalu percaya." Dara tersenyum getir dan mengejek dirinya sendiri.
Dara kembali ke kampusnya dan hanya ingin berdiam diri di perpustakaan. Membenamkan diru bersama tumpukan buku sampai menunggu masuk jam kelas. Melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Dara segera masuk ke kelasnya. Disana ternyata sudah penuh diisi mahasiswa/mahasiswi, akhirnya tempat duduk bagian belakang yang dia duduki.
Orang itu tiba-tiba menggenggam tangan Dara dan mencium punggung tangannya. Dara yang sedang melamun akhirnya tersadar juga, dia menghempaskan tangan orang itu dengan keras.
"Kurang ajar!" Umpatnya.
Dara membelalakan matanya saat melihat ornag itu adalah Sean.
"Kenapa dia ada disini?" Gerutunya dalam hati.
Sean tersenyum dengan mata hazelnya yang hangat, tatapan dan senyuman itu membuat Dara terhipnotis sejenak.
"Lama tidak bertemu."
Mereka memang sudah tidak bertemu selama seminggu ini. Tapi tidak bisa dibilang lama juga sih ya...baru juga seminggu. Dara tak menjawab dan dia malah membereskan buku-bukunya dan bergegas pergi. Namun tangannya sangat cepat diraih Sean.
"Lepaskan Sean."
__ADS_1
"Tidak akan."
"Aku bilang lepas." Dara mencoba melepaskan cengkraman tangan Sean tapi tetap tidak bisa. Sean malah mengulurkan tangannya yang lain dan meraih pinggang Dara untuk merapatkan tubuh mereka. Dara dapat melihat jelas wajah Sean dari jarak yang sangat dekat, mata hazel itu selalu menghipnotisnya memunculkan kehangatan dan kerinduan. Sean pun melihat bibir Dara yang selalu memanggilnya untuk di sentuh. Bibir merekapun saling menempel dan Sean ********** tanpa membuang kesempatan lagi.
Entah kenapa Dara menyambutnya dan membuarkan Sean menikmatinya. Ciuman Sean terasa berbeda dengan ciuman yang sering dia lakukan dengan Ezra. Ciuman ini membuat Dara berdebar dan melayang entah kemana. Melayang karena ternyata Sean telah menguasai inti bawahnya. Dara yang hanya memakai dress mini tentu dengan mudah Sean dapat melepaskan celana dalam Dara hingga ke bawah. Dara tak menyadari itu karena dia terlalu asyik dengan ciuman bibirnya.
Hingga dia menyadari di bawah sana ada sesuatu yang berusaha masuk menembus miliknya. Dara pun melepaskan ciuman itu dan membuka matanya untuk menatap Sean. Sean tersenyum dan membenamkan dirinya ke leher Dara. Sesuatu itu telah masuk dan Dara yang merasakan intinya telah penuh denga sesuatu reflek meremas rambut Sean dengan tangannya.
"Sean...aku mohon, jangan lakukan ini lagi." Pintanya dengan suara lirih.
"I want you."
Sean tak bisa berhenti sekarang, semuanya sudah terjadi dia hanya ingin melanjutkan dan menyelesaikannya segera. Selama satu jam aktivitas itu berlanjut dengan saling mengimbangi, dan Sean mencapai pelepasannya setelah itu bersamaan dengan Dara, ya dia mengeluarkannya di dalam berharap benih yang dia tanam akan segera muncul. Sean yakin Dara masih mencintainya, karena saat ini Dara tak menolaknya sama sekali.
"I love you, Dara."
Dara hanya bisa menahan perasaanya saat ini, entah kenapa dia harus terjatuh lagi ke dalam hidup Sean. Padahal dia sudah berusaha melupakan dan melepaskan, tetap saja dia tak bisa menolak. Apa yang telah terjadi sekarang? Dia sudah mengkhianati Ezra. Dara merapihkan pakaiannya begitupun dengan Sean. Mereka pergi bersama meninggalkan kampus itu dan menuju ke apertemen Dara.
"Sampai sini saja Sean." Didepan pintu masuk apertemen Dara memberhentikan Sean.
"Baiklah, istirahat yang cukup. Besok aku jemput ya?"
"Tidak perlu." Dara menjawab dengan cepat.
Tiba-tiba pintu apertemen terbuka dan sosok Ezra keluar dari sana?
"Jam seginj baru pulang?" Tanya Ezra pada Dara dengan suara dingin, tatapannya kemudian tertuju kepada Sean.
"Kami baru selesai kuliah, kebetulan bareng jadi sekalian." Sean mencoba menjelaskan denga tenang, tapi hatinya sedang menahan api cemburu. Ezra sudah menunggu Dara diapertemennya, mungkin sering mereka seperti itu dan apa mereka juga suka melaukannya? Fikiran itu muncul dikepalanya dan mengganggu fikirannya.
"Terimakasih Sean sudah mengantarku." Dara pun langsung masuk ke dalam.
"Lain kali tak perlu diantar, biar aku yang menjemputnya." Tegas Ezra pada Sean. Dia pun masuk ke apertemen Dara.
Sean yang melihat kedua orang itu masuk bersama ke apertemen merasa kesal dan tak bisa berbuat apa-apa. Untuk bisa terus dekat dengan Dara dia harus berpura-pura dihadapan Ezra kalau dia ingin berteman baik dengan Dara. Ya, sebatas teman.
__ADS_1