
Dara menepuk-nepuk tangan di pahanya sambil menunggu lift terbuka. Dia tak sabar ingin segera ke ruang dosen untuk menanyakan perihal kuliahnya. Meski baru satu tahun kuliah disana, tapi Dara telah menyelesaikan empat semester. Kemampuannya memang tak dapat diragukan lagi. Saat pintu lift terbuka, ruangan dosen langsung terlihat disana. Dara mengetuk pintunya dan segera suara dari dalam mempersilahkan.
"Selamat sore pak." Sapa Dara dengan ramah.
"Selamat sore juga Dara, silahkan duduk dulu."
"Terimakasih." Dara pun langsung duduk berhadapan dengan dosennya.
"Baik, jadi begini..." Sang dosen sedikit berfikir dan memotong pembicaraannya.
Dara terus diam dan memperhatikan dengan apa yang akan dibicarakan dosennya.
"Mulai minggu depan saya akan sangat sibuk dan tidak akan bisa berada dikampus setiap saat, mungkin ini akan berpengaruh terhadap percepatan kuliahmu." Dosen itu kemudian menarik nafasnya sejenak lalu melanjutkan.
"Tapi, kamu masih tetap bisa melanjutkan dengan bimbingan anak murid saya. Bisa disebut asdos muda karena umurnya hampir sama denganmu. Dia orang yang tak pernah mau direpotkan, tetapi saya heran kenapa dia mau menerima tawaran saya ini."
Dara mengerutkan keningnya, apa yang dosennya katakan seakan mengarah aneh kepadanya. Seperti ada sebuah pertanyaan tertentu.
"Hari ini dia akan ke sini, dan kalian bisa saling berkenalan."
"Ia pak."
Tok...tok...
Seketika itu pintu ruangan dibuka dan tampak sosok laki-laki muda dengan setelan kaos dan kemeja yang tidak dikancingkan dan celana jeans nya.
"Itu orangnya sudah datang." Ujar sang dosen.
Dara pun menoleh ke belakang dan melihat sosok yang muncul, seketika itu juga matanya melebar dan mulutnya menganga. Sosok itu kemudian mendekat dan duduk disebelah Dara, kemudian mengedipkan matanya.
Dara terperanjat mendapat respon seperti itu kemudian menutup rapat mulutnya dan menundukkan pandangannya. Dosen itu yang dari tadi memperhatikan hanya mengulas senyum dibibirnya.
"Kenalkan Dara, dia yang akan menggantikanku membimbingmu untuk sementara waktu. Namanya Glen."
Glek.
Dara hanya bisa menelan silivanya dan menatap dosennya, kemudian tatapannya mengarah ke pria disampingnya. Dara mencoba tersenyum manis dan menampilkan barisan giginya yang putih.
"Hay glen."
"Hay Danuardara Garren, long time no see."
"Ternyata kalian saling kenal? Hahaha...." Ujar dosennya dengan senyuman lebar di bibirnya.
__ADS_1
"Ia pak, kami saling kenal. Sia teman sekelasku dulu, dan.... sekaligus orang yang sudah merebut ciuman pertamaku." Glen menjelaskan tanpa malu-malu dan sedikit bergurau.
Dara yang mendengar perkataan Glen langsung mencubit bagian perut Glen dan pipinya langsung merona.
"Apa yang kamu katakan Glen? Jangan konyol!!!" Protes Dara sambil mencebikkan bibirnya.
Glen hanya terkekeh pelan, kemudian menatap sang dosen dengan serius.
"Aku pastikan satu tahun lagi dia akan lulus dengan predikat baik." Glen menatap Dara dengan penuh keyakinan.
Sang dosen mengangguk pelan dan tersenyum. Tersirat keyakinan penuh kepada anak didiknya tersebut. Sebenaenya Glen adalah kerabat dekat sang dosen, lebih tepatnya kepnakan. Glen adalah anak dari kakanya yang memiliki universitas tempat dia bekerja. Keberadaan Glen adalah atas kemampuan dirinya sendiri bukan dari kekuatan orang tuanya.
"Baiklah, kalau begitu aku sedikit lega. Setidaknya pekerjaanku disini tidak akan terbengkalai. Dara,,, kau boleh banyak bertanya kepadanya mulai sekarang. Jangan meragukan kemampuannya." Jelas sang dosen dengan nada serius.
"B..baik pak terimakasih untuk bantuan dan perhatiannya. Saya tidak akan melupakan kebaikan bapak."
Setelah itu Dara dan Glen keluar dari ruangan dosen tersebut. Dara memiliki banyak pertanyaan kepada Glen dan akhirnya mencoba mengajak Glen untuk minum kopi di tempat biasa.
"Apa hari ini kamu sibuk?" Tanya Dara.
"Aku sengaja mengosongkan jadwal ku hari ini, karena aku tahu kalau hari ini aku pasti akan di ajak mengobrol oleh gadis cantik."
"Percaya diri sekali, ucapanmu berlebihan tuan glen." Dara tersenyum sekilas.
"Aku memang selalu percaya diri, maka dari itu aku dengan cepat bisa menjadi asdos."
"Apa ini pujian?" Tanya Glen sambil memiringkan wajahnya dan menatap Dara.
"Mungkin..." Dara mengangkat bahunya dan berjalan acuh tak acuh.
"Kalau begitu kamu harus ikut dengan ku." Ujar Dara.
Glen pun mengikuti dari belakang dan mereka sampai dikedai kopi langganan Dara. Banyak hal yang dibicarakan mereka hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Drt...drt...
[Ezra Calling]
Meski tak menatap layar gawai Dara, Glen sudah menebak pasti itu kekasih Dara.
"Sepertinya pacarmu mencari keberadaanmu." Ucap glen dengan raut wajah berbeda tidak lagi ramah.
"Aku angkat dulu telponnya." Jawab Dara datar dan sedikit canggung.
__ADS_1
"Halo ka. Ada apa?"
[Kamu di mana?]
"Aku sedang di kedai kopi dekat kampus ka."
[Aku ke sana sekarang, tunggu sebentar.]
Bip.
Telpon diputus begitu saja. Dara pun hanya menghela nafas sambil menatap layar telpon yang mati. Glen menatap raut wajah Dara yang keruh dan perasaannya sedikit membaik, mungkin bukan kekasih melainkan seseorang yang sedang berusaha mendekati Dara.
"Besok kita bisa ngobrol lagi, kebetulan aku juga harus pulang." Ujar Glen.
Dara melihat Glen dan tersenyum.
"Makasih Glen untuk waktunya, jangan bosan jika nanti aku agak cerewet ya dan sering mengganggu waktumu."
"Aku senang diganggu olehmu." Glen kemudian memajukan wajahnya tepat dihadapan Dara jaraknya sekitar lima centi meter. Glen melihat ke arah bibir Dara yang polos tanpa lipstik, bibir itu terlihat merah dan menggoda.
Dara yang ditatap seperti itu sontak memundurkan wajahnya ke belakang. Glen pun tersenyum dan berkata:
"Aku sepertinya rindu dengan first kiss ku. Selamat malam."
Kemudian Glen meninggalkan Dara sendirian. Dara menghela nafas panjang dan mengusap dadanya.
"Apa dia sudah kehilangan akalnya? Itu bukan first kiss, tapu kecelakaan." Gerutunya dalam hati.
Selang lima belas menit Ezra tiba di kedai kopi dan langsung menghampiri tempat duduk Dara.
"Ayo kita pulang." Ezra langsung meraih tangan Dara dan menariknya pergi meninggalkan kedai kopi dan masuk ke dalam mobil. Mereka tak banyak bicara dan langsung berjalan pergi.
Sesampainya di apartemen, Dara langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ezra langsung meraih tangan Dara lagi, Dara menatap tangannya yang di genggam erat Ezra kemudian menatap Ezra.
"Lepaskan ka."
"Kenapa kamu bersikap dingin seperti ini Dara?"
"Terima kasih sudah mengantarku pulang ka. Sekarang tolong lepaskan tanganku." Ujar Dara tak mengindahkan ucapan Ezra.
Ezra pun melepaskan tangan Dara perlahan dan tersenyum kecil. Untuk statusnya saat ini hanya teman biasa untuk Dara, mungkin dia memang terlalu berlebihan masih bersikap posesif terhadap gadis ini.
"Selamat malam Dara."
__ADS_1
Ezra pun meninggalkan Dara di depan apartemennya. Dara pun masuk ke dalam dan langsung mengunci pintunya, dia menyandarkan tubuhnya di depan pintu dan memejamkan matanya.
"Maafkan aku ka."