
"Kringggggggg..."
Terdengar bunyi bel yang sangat keras dan bunyinya agak panjang. Menandakan waktunya untuk memasuki ruangan kelas. Dara kembali memasuki kelasnya dan duduk dengan tenang. Laki-laki disampingnya pun tak berkata apa-apa lagi dan tentunya sudah tak menghiraukannya. Jumlah murid dalam satu kelas itu adalah dua puluh orang. Terdiri dari sepuluh orang perempuan dan sepuluh orang laki-laki.
Dara melihat sekeliling kelasnya dan mulai memperhatikan wajah dan mimik teman sekelasnya, kecuali teman sebangkunya itu. Dia sangat malas sekali melihat wajahnya, meski memiliki paras yang tampan tapi tempramennya sangat buruk! Dara melihat wajah teman-temannya itu sangat datar dan hanya keseriusan yang muncul diwajah mereka. Dara pun menghela nafas dengan berat.
"Sangat membisankan." Gumamnya
Ezra berbalik dari tempat duduknya dan memberikan selembar kertas. Ketika dibuka ada tulisan di dalamnya.
"Istirahat nanti kita pergi bersama ke kantin ya, aku akan mentraktir. Anggap saja sebagai tanda perkenalan dan pertemanan kita."
Lalu Dara membalasnya dengan suara yang pelan dan dia agak menunduk ke depan, supaya Ezra dapat mendengarnya.
"Baiklah."
Dara tak ingin membuat ulah karena saat ini sudah ada guru yang masuk ke kelasnya. Seorang guru laki-laki, memiliki paras yang rupawan, penampilan nya sederhana dan rapih namun memberi kesan bahwa pria ini sangat berwibawa. Pasti juga seorang pria baik, karena dia guru disini. Namun raut wajahnya begitu serius.
Tanpa banyak mengeluarkan ekspresi diwajahnya, semua murid yang berada dikelas tersebut disapanya dengan ramah, nada suaranya santai dan sejuk untuk didengar tetapi memiliki kesan yang tegas sehingga semua orang akan menjawab apa yang dia tanyakan.
"Selama kalian berada disekolah ini, pasti akan selalu bertemu denganku. Perkenalkan aku bernama Dave. Kalian bisa memanggilku Mister Dave. Aku adalah guru sekaligus wali kelas kalian."
"Oh my god."
Dara sambil memperhatikan tidak sadar bahwa ternyata bibirnya itu terbuka sedikit reflek tangannya langsung menutup bibirnya, kemudian dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan ekspresi wajah yang kosong. Melihat hal tersebut Mister ternyata memperhatikannya.
"Karena tadi Mister sudah mengenalkan diri, selanjutnya giliran kalian untuk memperkenalkan diri. Dimulai dari dirimu." Seketika telunjuknya mengarah kepada Dara.
Tindakan Mister Dave yang tiba-tiba membuat Dara sejenak mengatupkan bibirnya dan tersadar dari pikirannya yang kosong. Karena ini awal masuk sekolah, tidak apa untuk memperkenalkan diri didepan teman-temannya. Karena dia belum mengenal teman barunya itu dan sebaliknya.
Dara berdiri dan maju ke depan kelas, disampingnya ada Mister Dave yang tampan dan sedang menatapnya. Itu membuat Dara menjadi sangat gugup, padahal biasanya dia adalah seorang murid yang percaya diri, tapi sekarang...? Sudahlah, pokoknya saat ini Dara bengong dulu sejenak karena bingung mencari kata-kata yang seolah hilang dikepalanya.
__ADS_1
"Na...namaku Danuardara Garren, ka...kalian bisa memanggilku Dara. Senang berkenalan dengan kalian." Dia agak membungkukkan badannya dan tegap kembali.
Dia melihat Mister Dave dan berencana untuk duduk kembali. Hanya itu yang ingin diucapkannya. Baru melangkahkan kaki satu langkah diberhentikan, "Apakah, ada yang ingin bertanya hal lainnya kepada Dara?" Tanya Misternya itu kepada yang lainnya.
Tiba-tiba seorang siswa laki-laki yang duduk dibangku sebelah Dara mengangkat tangannya dan bersuara.
"Saya ingin bertanya."
"Silahkan." Mister dengan semangat mempersilahkan.
"Bagaimana cara kamu masuk ke sekolah ini?"
"Ah, aku bisa diterima disini lewat undangan sekolah."
Mister memperhatikannya dan mengangguk kecil.
"Ada lagi?"
"Tentu saja ada!" Jawab laki-laki itu dengan nada sarkas didalamnya.
Pertanyaan macam apa ini? Kenapa seolah-olah dia itu guru menanyakan hal-hal semacam ini?
"Begini ya, mungkin semua orang memiliki pikiran tentang sekolah ini adalah sekolah terbagus di kota ini bahkan di Indonesia ini, tapi menurutku sekolah ini adalah tempat untuk belajar dan sama dengan sekolah lainnya. Motivasiku bersekolah disini karena keluargaku, mana bisa aku tidak mempunyai motivasi atas dukungan yang datang kepadaku?"
"Ah, satu lagi...Jika mungkin seseorang tidak memiliki motivasi bukankah dia tidak akan memiliki prestasi?" Dara pun mengangkat bahunya.
"Mister, saya ijin duduk kembali untuk teman yang lain bergantian." Dara pun membungkuk dengan sopan dan Mister Dave mempersilahkan.
"Pertanyaan macam apa itu?" gumamnya dalam hati. "Ternyata dikelas ini ada orang yang tengil juga, aku kira orang yang pintar dan serius semua" dia melanjutkan gumamannya itu. Sepertinya laki-laki disebelahku ini adalah seorang tuan muda yang sombong.
Semua mendapat giliran untuk memperkenalkan diri dan saat ini giliran laki-laki disebelahnya itu yang maju ke depan. Dara sangat penasaran siapa namanya, kemudian dia ingi sekali mengajukan beberapa pertanyaan juga kepadanya.
__ADS_1
"Namaku Ronal Sean Anderson, panggil saja Sean. Aku baru ke Indonesia tahun ini karena sebelumnya aku tinggal di Inggris, jadi maaf kalau bahasa ku sedikit kasar dan salah, semoga kalian bisa menerimaku." Dia membungkukan badan dan langsung duduk.
Dara yang ingin mengangkat tangannya ke atas pun tidak jadi, karena mister tidak menyuruh yang lain untuj bertanya. Sean adalan murid terakhir yang memperkenalkan dirinya di depan kelas. Tidak terasa memakan waktu yang cukup lama da terdengar bunyi:
"Kringggggg...."
Tanda istirahat pertama. Semuanya beranjak meninggalkan kelas dan menuju kantin untuk mencari makanan. Tentu saja Dara dan Ezra segera pergi ke kantin. Mereka berdua memesan bakso dan jus mangga, ternyata minuman yang mereka sukai sama. Dari sana Dara merasa cocok dengan Ezra, selain hobi mereka yang sama yaitu berenang dan lari maka akhir pekan ini mereka merencanakan jadwal renang dan lari.
"Dara, apa kamu bisa silat?"
"Tentu..."
"Yang benar? Sudah sabuk apa?" Ezra sangat antusias.
"Terakhir, aku mengenakan sabuk hitam." Nada bicara Dara sangat tenang. Namun Ezra yang mendengarkan sambil minum jus hampir saja memuntahkan minumannya lagi.
"Kamu serius?"
"Apa aku seperti bercanda?"
"Bukan, ehm...maksudku kenapa kamu suka denga hobi yang perempuan lain enggan menyukainya?"
"Karena aku harus menjaga diriku sendiri, tidak boleh bergantung kepada orang lain. Mommy ku selalu berpesan demikian."
Ezra mendengarkan penjelasan Dara sungguh sulit menjelaskan dengan kata-kata, ternyata masih ada seorang perempuan yang begitu memiliki prinsip dan perempuan itu begitu cantik. Biasanya banyak perempuan yang manja dan hanya mementingkan penampilan luar.
"Mommy ku juga seorang yang menguasai silat, aku diajarkan teknik dasar olehnya. Dari sana aku menyukainya." Dara menambahkan.
......
Hari ini jam belajar sudah selesai, Dara pulang diantarkan oleh Ezra karena kebetulan rumah mereka searah. Dara ingi langsung pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Hari ini sangat melelahkan, banyak sekali tugas nya dan harus selesai besok. Ahhh, aku harus mencharger tubuhku dulu." Dara berbicara pada dirinya sendiri.
Benar saja, tidak butuh waktu lama dia langsung terlelap tidur tanpa mengganti baju seragamnya terlebih dahulu.