
Seminggu sudah berlalu, Ezra tak pernah memberi kabar atau muncul di hadapan Dara, begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama menghindar.
Dara prov.
"Tak lagi ku rasa hangatnya cintamu. Dimanakah kau yang dulu mencintaiku? Kau kini telah berubah, kau acuhkan diriku. Biar waktu yang merelakan, menghapus kenangan dan setiap sedihku."
Drt...drt...
[Mommy call]
"Halooo mommy..." Dara sangat senang menerima telpon dari orang tuanya.
"Hay sayang, kenapa kamu selalu lupa kepada mommy mu? jarang sekali memberi kabar, hah!!!" Sarkas sang mommy.
"Hahaha... Aku sedang fokus kuliah mom, maaf kan aku mengabaikan mu. Bagaimana kabar calon adik ku?"
"Dia baik dan sehat, apa kamu tahu jenis kelaminnya apa?" Tanya sang mommy sambil menggoda putrinya.
"Apa...? apa mom?" Dara penasaran.
"Dia akan menjadi adik laki-laki mu."
"Benarkah? Hmmm, aku kira mendapat adik perempuan dan aku bisa ajak berbelanja nanti."
"Tentu saja itu juga..."
"Maksud mommy?" Dara tak mengerti apa yang di maksudkan sang mommy. Tidak mungkin adik laki-laki bisa di ajak belanja kan.
"Adik perempuan juga."
"Hah?" Dara masih bengong dan tak mengerti.
"Aishhh...kamu ini." Ujar sang mommy.
"Adikmu akan ada dua sayang, laki-laki dan perempuan. Kelak kamu harus membantu mommy mu ini menjaga mereka."
"Ini luar biasa mommy... Selamat ya." Dara tanpa sadar memukul-mukul pulpennya di atas meja.
"Tuktuktuktuktuk..." Suara itu terdengar nyaring.
Orang-orang disekitarnya memandanginya dengan tatapan sinis, ya jelas saja berisik Dara sedang berada di perpustakaan. Dengan wajah merah menahan malu, Dara tersenyum dan mulai berjalan keluar menghindari tatapan sinis yang diarahkan kepadanya. Lalu melanjutkan pembicaraannya dengan sang mommy. Diujung telpon sang mommy hanya terkekeh menahan tawa membayangkan ekpresi girang putrinya.
"Mommy, bagaimana reaksi Daddy?" Lanjut Dara penasaran.
"Dia senang sekali sayang. Oh ia, ada satu hal lagi yang ingin mommy sampaikan." Sang mommy mulai serius.
"Kamu dan Ezra apa baik-baik saja?" Lanjut sang mommy.
"Kami baik mom." Dara menundukan pandangannya dan melihat sedih ke arah sepatu yang dia kenakan dan dia gesek-gesek di atas lantai.
"Pantas saja."
__ADS_1
"Hah?" Dara tertegun mendengar jawaban sang mommy.
"Ezra ingin segera menentukan tanggal pernikahan. Bagaimana menurutmu?"
Pertanyaan sang mommy seperti bom yang siap meledak ditelinga nya. Dara tak habis pikir kenapa Ezra malah meminta pernikahan kepada orang tuanya. Dia tak mendiskusikannya terlebih dahulu dan mengambil keputusan sendiri.
"Aku masih belajar mom, aku belum mengambil gelar. Aku keberatan."
"Ah begitu, tapi Ezra bilang meski sudah menikah kalian akan tinggal terpisah tak akan mengganggu kuliahmu sayang. Dia hanya ingin menjagamu dengan sungguh-sungguh."
Mendengar perkataan sang mommy, bibir Dara tiba-tiba tersenyum samar hampir tak terlihat tersenyum.
"Aku ingin mengakhiri pertunangan ini mom."
"......" Mommy.
"Aku hanya ingin fokus kuliah saat ini. Tolong sampaikan permintaanku pada Ezra dan keluarganya."
"Boleh mommy tahu alasannya?"
"Tidak ada mom, hanya itu."
"Sayang,,, mommy tahu kamu. Tidak mungkin kamu seperti ini jika tanpa alasan. Mommy akan mendengarkan dan mendukung semuanya jika itu yang terbaik." Mommy beeusaha membujuk putrinya dan benar saja, putrinya pasti akan bercerita.
"Ezra sudah punya kekasih mom, aku hanya orang ketiga dan merupakan pelabuhan sementara untuk Ezra." Perkataan itu berhasil keluar disertai dengan air yang jatuh diipinya. Isakan kecil terdengan di sepanjang kata-kata itu.
Sang mommy menghela nafas sejenak, ingin memeluk putrinya, menepuk pundaknya, dan mencium ujung kepalanya untuk sekedar menenangkan. Tapi pada saat ini sang mommy tak bisa melakukan apa-apa. Dia merasakan hati anaknya, pasti dia sangat terluka. Mungkin dulu dia sudah salah terburu-buru menerima Ezra untuk menjaga Dara karena terlalu khawatir. Justru melukai perasaan putrinya sendiri.
"Ia mom. Aku masih ada kelas. Nanti aku kabari lagi mom."
"Ia sayang. Semangat ya.."
Bip.
Panggilan telpon itu terputus. Dara menata lagi perasaannya dan coba membuang jauh semua angan dan pikiran tentang Ezra. Semua akan berlalu seiring dengan waktu.
Saat berjalan di koridor tiba-tiba Dara melihat Ezra. Ezra muncul dengan segala pesonanya, dia membawa seikat bucket bunga mawar dan berjalan menghampirinya dengan senyum manisnya.
"Maafkan aku Dara."
Ezra menyerahkan bucket itu dihadapannya dan satu tangan lain terulur merai tangan Dara. Dara tak merespon tatapannya maupun pegangan tangannya. Fokus Dara hanya kepada bunga itu tanpa melihat raut wajah Ezra, dan tangannya terulur menyibak bunga itu hingga jatuh ke lantai. Ezra melihat sikap Dara yang dingin dan tak bicara kepadanya sepatah katapun. Tangan yang menyibak bunga itu kemudian terulur dan hinggap ke pipinya.
"Plakkk..."
Pertama kalinya Dara sekasar ini, dia menampar Ezra dengan kuat. Meski tak menimbulkan berdarah tapi bekas merah cap lima jari terpampang dipipi Ezra. Ezra tak percaya dengan sikap dan perilaku Dara yang berubah secepat ini. Dia masih tak mengerti apa salahnya hingga gadis ini sangat amat marah.
"Dara..." Ezra memanggil dengan suara serak dan parau.
"Kita hentikan ini Ka." Dara melepas cincin dijari manisnya dan memberikannya kepada Ezra.
"Kenapa?" Ezra masih tak mengerti.
__ADS_1
"Aku lelah dan aku sudah muak dengan semuanya! Jadi, akhiri saja."
"Tidak bisa!" Ezra mencegah Dara dengan mengeratkan cengkraman dipergelangan tangan Dara.
"Pakai ini lagi dan kau harus ikut pulang denganku."
"Aku masih ada kelas, lepaskan."
"Aku tak bisa sabar untuk kali ini Dara."
Ezra langsung meraih pinggang Dara dan menaikannya di atas pundak. Dara di gendong seperti karung beras.
"Lepaskan ka..." Dara menepuk-nepuk punggung Ezra dengan keras. Tapi laki-laki ini tak juga mau menurunkannya.
Hingga akhirnya Ezra menghempaskan Dara ke dalam mobil dan mengunci pintunya. Ezra langsung duduk dikursi kemudi dan langsung menginjaj pedal gas. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di hotel milik Ezra, Dara di tarik keluar oleh Ezra menuju president suit hotel milik Ezra. Ini pertama kalinya Ezra membawa Dara ke tempatnya.
Seketika itu tubuh Dara dihempaskan ke atas ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei berwarna putih. Mata Dara sudah mengembun, buram dan sebentar lagi akan jatuh air dari matanya.
Ezra melonggarkan iktan dasi yang mengikat lehernya, membuka jasnya dan melemparkannya sembarangan. Ujung lengan kemejanya dia gulung sampai ke atas siku kemudian dia berkaca pinggang. Dara masih terdiam duduk di tepi ranjang yang besar itu. Dia meremas ujung dress dengan tangannya.
Ezra menarik nafas dengan kasar kemudian mulai berjalan mendekati Dara hingga di hadapannya.
"Katakan apa salahku?" Tanya Ezra dengan nada lembut.
"Kamu jangan berpura-pura ka." Dara menyunggingkan senyum acuhnya.
"Katakan apa salahku? Aku bukan paranormal yang bisa menebak maksudmu." Jelas Ezra lagi.
"Monica kekasihmu kan? Kenapa kamu seret aku ke dalam hubungan kalian?" Tanya Dara sambil mendongkakan wajahnya.
"Itu dulu, sekarang kami hanya berteman."
"Berteman?" Dara tersenyum kecut lagi.
"Jika aku berciuman dengan Sean, kamu tidak apa-apa?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, Sean adalah teman."
Ezra seketika mengerutkan keningnya. Apa sindiran ini ditunjukkan untuknya. Dara menyerahkan gawainya kepada Ezra, Ezra pun mengulurkan tangan untuk menerima gawai itu dan melihat apa isi di gawai tersebut. Seketika mata Ezra membulat sempurna melihat foto ciumannya dengan Monica, tidak hanya itu ada fotonya yang sedang membelai pipi Monica saat ditempat tidur.
Ezra ingat ini kejadian saat mengantar Monica pulang dari Bar. Tapi siapa yang memoto dan mengirimkannya kepada Dara?
"Sekarang sudah tahu salah?" Dara mulai mengambil gawainya kembali.
"Aku tak merasa demikian."
Dara menaikkan satu halisnya dan memasukkan gawainya ke dalam tas.
"Terserah, aku tak peduli." Seketika itu Dara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar bersiap meninggalkan Ezra.
__ADS_1