Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Hobi yang Sama


__ADS_3

Setiap weekand tiba, Dara selalu menyempatkan diri untuk berlari disekitaran komplek rumahnya. Tentu ditemani dengan sang mommy, kedua orang itu terlihat seperti kakak beradik. Pada dasarnya penampilan sang mommy yang modis dan wajahnya yang cantik sangat menunjang untuknya menutupi usianya yang tak lagi muda, ya umur sang mommy sudah berumur tiga puluh empat tahun. Meskipun usia mommy tak lagi muda, tetapi tubuhnya sangat terawat dan wajahnya selalu seperti anak muda. Dia adalah sahabat sekaligus orang tua bagi Dara, ya satu-satunya keluarga yang masih dia punya. Sebenarnya Dara merasa kesepian, karena dia tidak memiliki saudara lagi.


"Mom..."


"Ia sayang."


"Bagaimana hubungan mommy dengan om ganteng?"


Wajah mommy seketika langsunh merah dan tak berniat menjawab pertanyaan putrinya itu. Dara menghentika larinya. Sang mommy yang menyadari itu pun berhenti dan berbalik.


"Kita olahraga dulu sayang, nanti akan mommy ceritakan setelah ini kepadamu."


"Benarkah?" Dara sangat berantusias, saking antusiasnya matanya sangat cerah.


"Hmmm,,, sekarang selesaikan olahraga kita dulu."


"Baik bu boss..."


Mereka pun melanjutkan kegiatannya. Tak lama mereka berlari, tiba-tiba ada suara yang menyapanya, ya... dia disapa oleh seseorang dan orang itu melambaikan tangan dari kejauhan, bayangan itupun segera mendekat. Dara membulatkan mata "Glen...? Ka...Kamu juga berlari disini? kenapa bisa?" mommy yang melihat Dara berhenti sejenak dan memperhatikan putrinya sedang mengobrol dengan seseorang. Mommy pun ikut menghampiri kedua orang itu. Glen yang mempethatikan segera tersenyum dan menyapa:


"ha... halooo ka." Nada suaranya sedikit canggung.


"Pttt...kaka?" Dara menatap mommy nya, dan segera mengklasifikasi.


"Dia mommy ku."


Glen terkejut dan meminta maaf.


"Tidak apa-apa, panggil kaka juga terdengar sangat baik. Apakah ini teman Dara?" sambut sang mommy dengan ramah.


"Ia saya teman Dara."


"Dara... kenapa kamu tidak cerita kepada mommy?" pandangan mommy nya beralih dari memandang Glen menjadi memandang Dara.


Dara menundukkan kepalanya, lalu segera melihat ke arah mommy nya dan tersenyum seperti anak kecil dan memegangi lengan mommy nya.

__ADS_1


"Maafkan Dara mommy, Glen ini teman Dara tapi dia itu murid pindahan dari London."


Apa saja yang terjadi di sekolah, sang mommy harus mengetahuinya bahkan hal kecil seperti ini juga. Karena sang mommy tidak ingin terjadi hal atau sesuatu yang membuat putrinya itu berubah, karena hanya dia yang dimilikinya. Mommy hanya menghela napas panjang kemudian menatap Glen kembali.


"Kalian memiliki hobi yang sama. Oh ya, Mommy ada pertemuan dengan nasabah hari ini, jadi tidak bisa menemanimu lama-lama sayang. Lanjutlah dengan temanmu ya."


Tak lama mommy meninggalkan Dara karena merasa lega ada temannya yang menemani. Akhirnya ditempat itu hanya ada Dara dan Glen. Jujur saja, Dara merasa sangat canggung karena pada dasarnya mereka memanh tidak akrab di kelas. Saling sapa pun jarang, bahkan mungkin tidak pernah.


Saat Dara merasa tak ada hal yang penting, dia memutarkan badannya dan meninggalkan Glen.


"Kamu ingin menghindar?"


Glen tidak suka seseorang mengabaikannya. Dengan cepat meraih tangan Dara dengan keras dan menariknya agar tidak menjauh. Dara berbalik namun tarikan Glen sangat kuat, Dara kehilangan keseimbangannya dan tubuhnya menimpa tubuh Glen. Glen pun tak bersiap dan akhirnya mereka berdua terjatuh. Masalahnya, saat terjatuh bibir mereka saling menempel, Glen maupun Dara membulatkan matanya dan segera bangun.


"Ka...kamu...sangat menyebalkan."


Dara langsung berlari pulang dan meninggalkan Glen. Wajahnya memerah dan merasa kesal, sangat kesal. Karena itu merupakan ciuman pertamanya tentu juga dengan Glen. Kecelakaan yang tidak pernah mereka pikirkan sama sekali. Glen yang dari tadi masih dalam posisi setengah tidur lalu duduk dan masih terdiam sambil menyunggingkan bibirnya lalu menyentuh bibirnya lembut. Dia tersenyum sangat manis.


"Dara...Dara..."


Sebenarnya kalau boleh jujur nih, wajah Glen jauh lebih tampan dengan mata hazelnya pasti mampu menjerat gadis-gadis yang berada disekitarnya. Tetapi tidak dengan Dara mulai dari kejadian tadi pikirannya tentang Glen adalah "PRIA BRENGSEK". Pasti setelah ini dia akan selalu menghindarinya dan membencinya.


.........


"Kita akan kemana?"


"Ke rumah orang tuaku."


Sky Dream Villa


Nidia dan Mickel telah sampai dipintu depan villa tersebut dan langsung disambut oleh para bodyguard dan pengawal. Di dalam rumah sudah berbaris dengan rapih para pelayan dan mengarahkan mereka menuju ruang makan. Di sana tampak sepasang suami istri yang tak lagi muda, terdapat seorang wanita muda yang umurnya dibawah Nidia.


Seorang wanita paruh baya menghampiri Nidia dengan senyum hangat dan mencium kedua pipinya.


"Calon menantuku memang sangat cantik, akhirnya Mickel mendapatkan obatnya dan bisa sembuh." Kedua tangan itu menangkup wajah Nidia.

__ADS_1


"Mickel sakit?"


Nidia bingung akan kalimat terakhir wanita itu.


"Ia, dia itu sudah sakit sejak lama hingga bersumpah tidak ingin menikah lagi."


Baiklah, sebenarnya Mickel ini juga seorang duda. Duda keren ya...tapi dia belum punya anak. Sebenarnya pernikahannya dengan istri pertamanya itu karena dijodohkan orang tuanya dan perceraian mereka terjadi karena istrinya itu ketahuan selingkuh. Jujur saja, pada saat satu tahun pernikahan mereka Mickel sudah mulai mencintai istrinya itu tapi perasaan itu dihancurkan olehnya sehancur-hancurnya. Dia pun berjanji tidak akan mencintai bahkan menikah lagi kepada orang tua nya.


Kalau gak nikah lagi gimana mau gendong cucu coba? Orang tua Mickel sudah melakukan berbagai cara supaya Mickel tertarik kepada seorang wanita. Tapi semuanya sia-sia. Namun semuanya berubah saat Mickel bertemu Nidia, sosok wanita cuek tetapi sangat perhatian terhadap hal-hal disekitarnya walau itu hal kecil sekalipun. Saat lebih memperhatikan Nidia lebih lagi, ternyata wanita ini juga termasuk wanita langka yaitu selalu menolak puluhan kali ajakan makan atau jalan bersama. Kalau bukan alasan kerja dia tidak akan pernah mau menuruti Mickel.


"Tapi lihatlah, dia sekarang membawa calon istrinya. Aku sangat bahagia. Terimakasih sayang."


"I...ia, Nyonya."


"Eh, panggil mama. Aku akan menjadi mama mu sayang."


Nidia mengelus tengkuknya lembut.


"Mama."


"Hah, bagus sekali." Wanita itu adalah mama Mickel yang ngebet pengen punya cucu.


Acara pertemuan keluarga itu berjalan lancar dan sangat hangat. Nidia tak menyangka semua keluarga Mickel menyambut dan menerimanya dengan sangat baik. Semua hal tentang dirinya dia ceritakan tanpa menutupi satu hal pun. Setelah hidangan penutup selesai. Mickel langsung melamar Nidia di depan keluarganya.


"Will you marry me?"


Sebuah kotak bludru berisi cincin yang srmpat Nidia tolak di tunjukkan kembali padanya. Mickel memang seorang ambisius dan pantang menyerah. Tentu kali ini dengan suasana, tempat dan perasaan yang berbeda. Maka, Nidia menjawab:


"Yes, I will."


Mickel langsung memasangkan cincin itu dan mengecup bibir Nidia. Semua orang diruang makan itu bersorak gembira. Maka kesimpulan dari pertemuan keluarga itu adalah mereka harus segera melangsungkan pernikahan.


"Secepatnya ya."


Ujar sang Mama Mickel itu tidak sabar.

__ADS_1


__ADS_2