
Dara Prov.
"Mimpi yang dulu kita rajut bersama harus ku relakan, kini semuanya tinggal cerita. Walau teriris sakit menanti, perlahan waktu akan mengikis cinta kita."
Dara tersenyum miris sambil menggenggam erat kalung berinisial 'S' ditangannya. Dia ingin mengembalikan benda tersebut kepada pemiliknya, karena hatinya kini sudah menyerah dan dia ingin menyerahkan hatinya kepada pemilik yang baru sepenuh hati. Kenyataan sudah benar-benar menyadarkan, semesta memang tak ingin mereka bersama dan harus berjalan ke arah yang berbeda. Mimpi yang dulu benar-benar telah sirna, cairan bening disudut matanya menetes begitu saja. Dara mengusapnya sekilas.
Tap...tap...
Seorang pria menghampiri dan duduk disebelahnya. Dia tersenyum bahagia dan penuh harap, ditatapnya Dara dengan mata hazelnya.
"Dara, apa kamu sudah memaafkanku?" Tanya laki-laki itu.
Dara melihat wajah laki-laki itu, memandangi mata hazel yang dulu selalu menjadi kerinduannya. Tanpa basa-basi Dara langsung mengutarakan maksudnya.
"Ini Sean." Dara memberikan kalung yang digenggamnya.
Senyum bahagia itu perlahan hilang. Kalung yang pernah dia berikan disaat malam perpisahan kepada Dara, kini dikembalikannya.
"Apa maksudmu?" Sean mengira maksud Dara memanggilnya karena gadis ini sudah memaafkan dan dapat menerimanya. Ternyata dia salah.
"Kita benar-benar sudah berakhir Sean. Aku tak bisa memaafkan atau menerimamu lagi. Kita sudah memiliki arah yang berbeda." Dara pun bangkit ingin meninggalkan tempat itu tapi langkahnya terhenti.
"Jika kamu hamil, aku akan bertanggung jawab Dara. Aku melakukan hal itu dengan sadar, aku berharap kau akan hamil."
"Aku tidak mungkin hamil." Dara langsung menjawabnya, namun dibenaknya langsung muncul rasa khawatir, jika yang dikatakan Sean benar apa yang harus dia lakukan? Jika dia hamil anak Sean, apakah harus tetap menikah dengan Ezra?
"Kamu bahagialah dengan tunangan mu Sean, aku sudah bahagia dengan Ezra." Dara pun langsung melangkahkan kakinya dengan mantap tanpa menoleh lagi ke belakang. Namun fikiran yang tadi masih melekat dikepalanya.
Terlihat seorang pria bersender di pinggiran mobil, dia sedang menunggu seseorang.
Tap...tap...
"Maaf ka, aku telah membuat kamu lama menunggu."
"Apa sudah selesai?" Ezra memang diminta untuk menemani Dara untuk menemui Sean, dan Ezra menunggunya.
"Ia sudah selesai ka, ayo kita pergi." Dara tersenyum dan menyembunyikan fikiran yang membelenggunya.
"Baiklah..."
__ADS_1
Mobil mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Disisi lain Sean masih menggenggam kalung yang berada di tangannya, kepalan itu pun semakin erat dan rahangnya mengeras. Tiba-tiba dia berteriak.
"Daraaaaaaaa....." Sean berteriak histeris, dia tak percaya jika dia harus benar-benar kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Dia memang salah telah memutuskannya dan meninggalkanya. Tapi dia sungguh tak punya pilihan waktu itu dan dia memang salah kepada gadis itu.
Sebutir air menetes disudut matanya, ini kedua kali m dia menangisi seorang wanita. Wanita yang sangat berharga dan berarti untuk hidupnya. Dulu saat akan meninggalkan Dara dia menangis dan sekarang saat ditinggalkan gadis itu dia juga menangis.
"Aku tak akan pernah melepaskan mu Dara." Sean bertekad dalam hatinya menjadi berkali lipat dari sebelumnya. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah mengurusi masalah perusahaannya terlebih dahulu, baru itu mengurusi masalah hubungannya dengan Ellie. Sean akan membawa Dara kembali ke sisinya.
........
"Ka Ezra sedang apa?"
Dara melihat laki-laki di depannya dengan kaget dan segera masuk ke dalam dapur.
"Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kekasihku." Ezra melirik sekilas dan kembali fokus kepada pisaunya lagi.
"Kaka bisa masak?"
"Tentu bisa, kalau tidak untuk apa aku ke dapur."
"Tapi kamu belum memberiku sarapan pembuka." Jawab ada penuh menggoda.
Wajah Dara memerah dan dia menggigit bibir bawahnya dan menatap bibir Ezra seperti ingin...
Cup
"Apa ini?" Ezra mengecup bibir Dara sekilas dan tersenyum.
Dara pun tersipu malu dan memukul pelan dada Ezra.
"Kaka bisa saja."
Dara melanjutkan:
"Kalau begitu kaka harus buat makanan yang enak ya, aku tunggu."
Cup
Kali ini Dara yang mencium Ezra dan meninggalkannya di dapur. Mereka seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta. Dara menunggu dengan patuh di meja makan, sesekali tatapannya beralih dari gawai yang di genggamnya lalu ke laki-laki yang berada di dapur.
__ADS_1
"Ka Ezra memang laki-laki sempurna, dia lembut, baik, sabar, tampan, postur tubuhnya juga bagus dan...dia bisa memasak. Sungguh pria idaman." Pujian muncul dalam hati Dara untuk Ezra.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit akhirnya Ezra datang membawa dua buah piring penuh ke meja makan. Nasi goreng dengan sayuran dan lauk pauknya yang lengkap. Aroma harumnya membuat Dara tak sabar untuk memakannya. Dia langsung mengambil piringnya dan langsung menyuapi mulutnya dengan sendok berisi penuh nasi goreng.
Ezra terkekeh melihat tingkah kekasihnya, dan sesekali mengusap sudut bibir Dara yang terdapat noda makanan. Sungguh Dara sangat tersentuh dengan sikap Ezra yang lembut dan hangat. Selesai makan dan bersiap Dara diantar ke kampus oleh Ezra sedangkan Ezra pergi ke hotel untuk mengurusi beberapa pekerjaan.
Drt....drt...
"Nomor tak dikenal?" Dara mengerutkan kening melihat layat ponselnya lalu menyimpannya kembali ke dalam tas.
Dia tak menjawabnya membiarkan teleponnya meronta-ronta di tasnya. Setelah itu sebuah pesan muncul.
[Dasar kau ******...]
Saat Dara melihat pesan itu matanya langsung terbelalak. 'Siapa orang ini? Kenapa bicara sembarangan?'
Saat itu juga dia menelpon nomor asing itu. Hanya berdering sekali dari sebrang sana sudah menerimanya.
"Kamu siapa?"
Tapi hanya terdengar suara tawa mengejek.
"Ckkk...harusnya aku yang bertanya kamu siapa? Beraninya mengganggu tunangam orang."
Deg
"Ellie..?" Tebak Dara namun penuh keraguan.
"Good...aku ingatkan kamu ******, jangan pernah mengganggu Sean ku lagi." Suaranya terdengar menggeram.
"Aku tidak pernah mengganggu tunanganmu nona dan aku sudah punya tunangan, mana aku mengganggu dia? Satu lagi, jangan pernah menyebutku ******." Dara menutup telpon dan menggenggamnya.
"Karena kamu yang sebenarnya ******." Gumamnya sambil berusaha menelan salivanya.
Ellie yang telah menjadi orang ketiga dan perusak hubungannya dengan Sean. Dia tentu jalangnya, tapi Dara hanya menerima kenyataan dan tidak pernah ingin mengganggu apa lagi merebut Sean kembali.
Ellie yang menerima telponnya ditutup secara tiba-tiba, amarahnya semakin memuncak.
"Lihat saja ******, aku akan memberimu perhitungan. Kamu pasti akan terkejut nanti." Saat ini dia meremas foto yang sedang di genggamnya.
__ADS_1
Foto itu adalah foto Dara dan Sean waktu masa sekolah di Indonesia, foto mesra mereka saat masih menjalin hubungan. Terlihat senyum bahagia di kedua orang yang berada di foto itu, Ellie pun menyunggingkan bibir tipisnya dan menengadahkan kepalanya. Jari-jarinya menggoyang pelan gelas berisi air berwarna merah dan sesekali menyesapnya.