Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Meninggalkan


__ADS_3

Perasaan Dara sungguh sangat kacaw. Pria brengsek bertambah satu orang lagi, Dara hanya tidak habus fikir seorang Sean yang sudah dia anggap teman bisa melakukan itu. Dara tidak bisa fokus dengan pelajaran, akhirnya dia meminta izin kepada guru piket dan guru pelajaran untuk pulang lebih awal dengan alasan "sakit". Pihak sekolah pun menghubungi orang tua Dara agar menjemputnya pulang. Setelah itu, Dara duduk di depan gedung sekolah, menanti sang Mommy yang akan menjemputnya. Benar saja, tak harus menunggu lama sang Mommy sudah datang dan segera menuruni mobilnya untuk menghampiri putri kesayangannya itu. Tangannya langsung terulur untuk merangkul wajah putrinya dan beralih menempelkan tangan ke dahi Dara.


"Apa kamu baik-baik saja sayang? kenapa matamu sembab? ada apa? apa yang terjadi?"


Pertanyaan bernada khawatir terus terlontar. Tapi pertanyaan itu hanya dijawab dengan pelukan. Sang mommy mengerti dan menepuk-nepuk punggung putrinya.


"Tidak apa-apa sayang, kita pulang dan istirahat dirumah. Kamu boleh bercerita, jika suasana hatimu sudah tenang."


Mommy sangat pengertian, dia langsung mencium kepala Dara dan mengajaknya masuk ke dalam mobil dan segera pulang ke rumah.Semenjak pulang, pintu kamar Dara selalu tertutup dan tidak dibuka-buka. Mommy yang baru pulang dari kerjanya, hanya bisa menghela nafas kasar dan mengetuk pintu itu.


"Sayang, ayo kita makan dulu."


Hening. Tak ada jawaban.


ting...tong...ting...tong...


Sang Mommy membuka pintu dan seseorang didepan pintu tersenyum, lalu mencium punggung tangannya.


"Selamat sore tante, saya Ezra temannya Dara."


"Teman Dara ya? kebetulan sekali, ayo masuk. Tolong bantu tante."


"Bantu apa tante?"


"Tolong bujuk Dara untuk keluar dari kamarnya, dan ajak dia makan. Sepertinya dia belum keluar kamar semenjak Tante meninggalkannya kerja."


"Baik tante saya akan coba bantu."


tok...tok...tok...


"Hay Dara, ini aku...Ezra."


Masih hening, tidak ada jawaban.


"Aku datang ingin memberitahu tugas hari ini disekolah, kebetulan aku juga tidak begitu mengerti. Bisakan kita mengerjakannya bersama?"


Ceklek...pintu itu di buka. Pemandangan yang terlihat yaitu, wajah Dara yang sayu dan kuyu. Tapi tidak bisa menyemnunyikan kecantikannya dan menarik perhatian yang melihatnya.


"hmmm..." hanya kata itu yang terlontar.


tanpa sadar Ezra mengepalkan tangannya dan menggertak dalam hati.


"Sean,,,kau harus diberi pelajaran."


"Sayang, kita makan dahulu dengan temanmu ya dan baru kalian mengerjakan tugas."

__ADS_1


Mommy langsung mengajak Dara ke tempat makan dan mengajak Ezra. Diruang makan itu hanya mereka bertiga dengan keheningan.


"Minggu depan acara pernikahan akan dilangsungkan, besok kamu ikut mommy untuk mengurus ini."


Ucapan yang membuka keheningan yang sangat mengejutkan. Dara menatap mommy nya dan Ezra tentu juga terkejut menatapnya. Kemudian beralih menatap Dara.


"Mommy sudah bertemu dengan keluarga Mickel, mereka menerima dengan baik. Mereka juga ingin sekali bertemu denganmu."


Punggung tangan Dara dielus-elus oleh ibu jari sang mommy. Dara pun tersenyum dan merespon dengan anggukan kepala.


"Baiklah mommy, aku sangat senang mendengar ini."


Wajahnya yang layu pun kembali cerah.


"Felove akan mempunyai Daddy baru, apa dia masih akan tetap tinggal disini atau meninggalkan Jakarta. Meninggalkannya." Gumam Ezra dihatinya.


Selesai makam, Dara terlihat lebih baik. Dia dan Ezra akhirnya pergi ke ruang utama dan segera berdiskusi perihal tugas sekolah. Tentu saja, Ezra sesekali menghibur dengan sedikit melucu dan menceritakan beberapa hal tentangnya sewaktu kecil. Dara yang mendengarnya tak dapat menahan diri dan tertawa sampai menangis. Entah kenapa Ezra selalu memberikan rasa nyaman dan bahagia dihatinya. Hingga dia lupa kalau tadi dia sedang bersedih.


"Aku...sebenarnya takut." ucapan itu keluar dari mulut Dara.


"Aku takut tidak bisa menemukan teman yang sebaik kamu lagi. Aku...Aku sepertinya..." Kehilangan satu teman. Belum selesai terucap, sebuah tangan memeluknya dengan erat.


"Aku akan selalu menjadi temanmu, aku bahkan akan menjadi kakamu dimasa mendatang dan melindungimu."


Apa Ezra mengetahui potongan kata-kata Dara yang belum terucap? Dia kecewa dengan Sean. Tapi gadis itu hanya membalas dengan pelukan dan entah kenapa dia berinisiatif mendongkakan wajahnya dan berkata...


Ezra menatap jauh ke mata gadis itu, dia hanya tersenyum dan memeluk gadis itu lagi.


"Ya."


Sungguh, dia ingin selalu seperti ini dekat dengan Dara tanpa jarak meski dengan status teman bahkan dia mengajukan diri untuk menjadi kakanya. Ezra sangat menyukai Dara bahkan dia ingin melindunginya tanpa sebab dan tanpa ingin Dara tahu bahwa dia melakukan ini untuk dirinya.


......


Drt...drt...drt...


[Kita harus bicara]


Pesan singkat itu hanya dibaca oleh Dara dengan tatapan dingin. Dia tak berniat membalas pesan itu.


[Untuk yang terakhir]


Pesan singkat lagi dari nomor yang sama. Dara mengerutkan keningnya membaca pesan terakhir itu.


[Baik, dimana?]

__ADS_1


[Jam 15.00 di tempat biasa]


Setelah selesai dengan rangkaian persiapan pernikahan sang mommy, Dara pun meminta izin untuk pergi. Sang mommy masih sibuk dan membiarkan putrinya dengan waktunya sendiri karena dia sudah menemaninya seharian.


Langkah kaki Dara terhenti disebuah meja makan dan duduk seorang laki-laki dengan mata hazel yang menatapnya dalam. Dara pun duduk dengan tenang dan sudah menyiapkan diri sebaik mungkin.


"Besok aku akan pergi ke London."


Ucapan itu membuat Dara seperti orang bodoh seketika. Sean menatapnya dengan dalam, kemudian matanya seperti berkabut. Perasaan Dara tiba-tiba bergetar dan jantungnya berdetak dengan kencang.


"Aku menyukaimu Dara, aku mencintaimu."


Kalimat berikutnya membuat Dara tak bisa mengeluarkan kata-kata, semua tersangkut ditenggorokannya. Semua fikirannya menjadi kosong, tat kala bibir Sean sudah menempel di bibirnya. Sean menutup matanya dan mencium dengan lembut, Dara pun hanyut dan memejamkan matanya. Setelah keduanya merasa kekurangan oksigen, Sean melepaskan ciuman itu.


"Aku terlalu pengecut Dara, maafkan aku."


Jari-jari halus menyentuh bibirnya dan menutup kata-kata Sean.


"Kamu bicara apa Sean?"


"Dara, aa...aku..."


"Sudahlah Sean."


"......"


"Aku tak mengerti mengenai suka atau cinta, ini begitu cepat untukku. Mungkin bagimu juga Sean. Bisa saja ini semua salah."


"Salah?" Sean mengulang kata itu dan menatap Dara.


Kali ini Dara hanya memilih diam dan tak berbicara.


"Kau luka yang ku rindu Sean." Kalimat ini hanya terucap dihati Dara.


"Dara..."


"Kamu hati-hati dijalan Sean."


Dara meninggalkan tempat itu.


"Pergi dan lupakanlah aku Sean." Kalimat itu muncul dibenaknya. Air mata Dara tak bisa ditahan lagi. Tiba-tiba Dara menangis dan meluapkan kesedihannya disudut gedung itu. Sean akan pergi menjauh, seberapa besar dia menyimpan harapan kepada Sean akhirnya Sean akan meninggalkannya dan menjauh. Dara tak bisa merubah semua yang akan melukai dirinya dan Sean sendiri.


Selama dua tahun ini, Sean sangat memberikan kesan yang mendalam dalam hidupnya. Dara termenung sambil berjalan dipinggiran jalan.


"Terimakasih Tuhan, kau telah memberikan dua tahun terindah untukku." Dara tersenyum getir dan air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


Dia mencoba menjalani hari-harinya dengan kebohongan, dia berfikir cinta itu tidak ada untuk Sean. Tapi ternyata cinta itu sangat nyata, dia tak ingin menukar dengan apapun perasaan ini. Sungguh, perasaan ini sangat mendalam. Hingga dia merasakan sakit ketika Sean akan pergi meninggalkannya. Dara sangat tidak rela.


__ADS_2