
Dara masih memikirkan panggilan dari Sean. Dia tidak bisa tidur, hanya berguling ke sisi kiri dan kanan bergantian Saat tengah malam Dara merasa lapar, dia akhirnya pergi ke dapur mencari makanan di kulkas, mungkin ada mie yang bisa dia rebus. Namun, di dalam kulkas tidak ada apapun hanya tersedia minuman saja.
Dara menyangga pipinya dan masih berjongkok di depan kulkas yang belum tertutup. Sambil berpikir dia mengerutkan bibirnya.
"Jika perut ku tak di isi ini akan menjadi bencana, pasti susah tidur hingga pagi."
Akhirnya pintu kulkas di tutup dan Dara pergi ke mini market dekat apertemennya. Mini market tersebut buka 24 jam. Tepat sebelum sampai apartemennya, dia melihat seseorang. Di bawah cahaya lampu yang memantulkan bayangan orang itu, Dara melihat sosok yang perawakannya tinggi. Semakin dekat, wajah orang tersebut semakin jelas.
"Sean?" Gumamnya.
Sedangkan Sean menatap Dara dengan tenang, mata hazelnya sangat teduh. Dara tak akan pernah lupa dengan sosok orang yang pernah singgah di hatinya, sosok orang yang menjadi candu di hatinya. Matanya yang jernih dan bersih tanpa ada noda sedikitpun terpancar dan selalu menenangkan.
Sean prov.
"Sejak semula aku susah lupa pada sosok mu Dara, saat pertama menatap mata mu aku percaya cinta sejati...dan kamu lah satu-satunya."
Pandangan mereka bertemu, pandangan yang sangat tenang.
Dara prov.
"Aku masih menyayangimu Sean, aku masih cinta padamu. Rasa ini tak dapat aku hindari. Bila masih saja kita bertemu, semakin susah hati ini tuk melupakanmu. Jujur, semakin aku menghindari, semakin aku ingin bertemu."
Sean perlahan mendekat, dia meraih tubuh Dara dan memasukkan ke dalam pelukannya. Sangat erat dan seperti tak ingin melepaskan karena takut kehilangan.
"Kenapa kamu datang ke sini Sean? Kenapa masih di sini?" Tanya Dara.
"Syukurlah, kamu tidak apa-apa." Jawab Sean tak mengindahkan pertanyaan Dara.
"Maafkan aku Dara. Maaf, aku baru bisa mengucapkan kata ini dengan tulus." Lanjutnya.
Di sudut mata Dara mengalir air yang jatuh ke bawah. Dia merasakan ketulusan Sean, namun keadaannya sekarang berbeda. Mereka sudah menjadi orang asing, harusnya tak saling mengenal supaya tak menimbulkan banyak masalah.
__ADS_1
Dara memukul kecil, dada pria yang memeluknya.Tiba-tiba saja matanya jadi perih dan berkabut. Sesak di dadanya pun kembali muncul.
"Lepaskan Sean... aku bilang lepaskan!"
"Tolong dengarkan aku Dara... Kali ini dengarkan aku dengan baik."
"Apa yang harus ku dengarkan? Kamu meninggalkan aku saat aku sedang sayang-sayangnya. Kamu tepikan kisah cinta kita begitu saja. Apa lagi yang harus aku dengar darimu? Kamu datang dan menghancurkan ku. Kamu ********!!!" Isakannya semakin keras.
"Maaf Dara,,, maaf. Aku takut kehilangan mu, jadi aku berbuat seperti itu. Aku tahu aku salah, ya....aku memang ********! Maka dari itu aku akan bertanggung jawab dan menebusnya."
"Aku benci kamu Sean, aku benci...lepaskan aku, tolong lepaskan...!" Dara terus meraung dalam dekapan Sean. Sean pun tak melepaskan dekapan itu malah semakin mengeratkannya.
"Aku tak akan memaksa Dara, tapi kamu harus tahu hatiku selalu untuk mu. Aku tak pernah mencintai Ellie sedikitpun."
"Aku sudah tak peduli." Jawab Dara sambil melepaskan dekapan Sean.
"Aku terluka, sangat terluka...sakit Sean. Aku tak bisa begitu saja memaafkanmu." Lanjut nya.
Dara ingin sekali berkata "Ya Sean, aku sudah memaafkanmu." Namun logikanya berkata tidak. Karena Dara telah bertekad tak ingin terjerat lagi oleh seorang pria.
Mendapat ciuman yang mendadak, wajahnya tak dapat menyembunyikan pipi yang menjadi merah. Sean tersenyum.
"Kamu tak bisa membohongi ku Dara."
"Bohong apa?" Dara mencebikkan bibirnya.
"Kamu senang aku cium kan?
Dara: "......."
Hari ini Sean sudah menjelaskan semuanya kepada Dara, pertunangannya dengan Ellie adalah keinginan orang tuanya demi bisnis. Sean tak dapat menolak karena ayahnya yang sedang terbaring koma tak dapat menjalankan perusahaannya lagi dan Sean yang menggantikan. Kondisi perusahaan benar-benar tidak baik dan semakin kacau setelah kondisi ayah nya semakin buruk.
__ADS_1
Sekarang ayah nya sudah tiada, Sean benar-benar menjadi tulang punggung keluarganya. Semua tanggung jawab perusahaan juga dibebankan kepada Sean. Dara pun mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah. Hatinya pun sedikit tergerak.
Dua tahun ini dia sudah banyak belajar, dari merangkak, berjalan dan sekarang sudah bisa berlari sendiri. Dia bisa menjalankan perusahaan dengan sangat baik. Semua bantuan dari keluarga Ellie tidak akan dilupakannya. Bagaimanapun mereka sudah banyak membantu, Sean juga tahu diri.
Namun, untuk menikahi Ellie adalah hal yang tak bisa Sean terima begitu saja. Maka dari itu, Sean mengajukan negosiasi dalam bisnis mereka dan semuanya berjalan lancar. Keluarga Ellie dapat menerimanya dengan baik, namun tidak dengan Ellie sendiri. Sean tidak peduli, sekarang dia sudah terlepas dari jeratan Ellie.
"Masih adakah tempat untuk ku Dara?" Sean bertanya penuh harap.
"Sudah tidak ada Sean. Sudah aku bilang, aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja." Balas Dara dengan cepat.
Sean menatap lekat mata yang sudah basah dengan air itu. Dia tak percaya maka dia menanyakan kembali.
"Apa sungguhan? Benar-benar...sudah tidak... ada?"
"Iya, benar-benar tidak ada. Semuanya sudah habis tak tersisa."
Sean mengerutkan keningnya dan melepaskan pelukannya pada Dara dengan sempurna. Perasaannya tak dapat digambarkan, dia hanya percaya bahwa Dara masih memiliki rasa kepadanya meskipun itu hanya 'sedikit'. Tapi dia salah, itu hanya pemikirannya saja. Sekarang Dara sudah tak menempatkan dirinya lagi di hatinya.
Cup.
Tiba-tiba Dara mencium Sean dan kerutan di dahi Sean berkurang.
"Semuanya tak tersisa karena dipenuhi olehmu." Ucap Dara.
Sean pun tersenyum, di kecupnya bibir Dara dengan hasrat yang menggebu. Kali ini kecupannya sangat agresif. Sean sudah berjanji, dia tidak akan berbuat bodoh lagi. Meninggalkan wanita yang selama ini di cintainya. Wanita yang selalu dia inginkan.
"Sekarang, apa kita akan di luar terus seperti ini?" Tanya Sean sambil memegang pinggang Dara dengan posesif.
"Ini sudah malam tuan Sean, sebaiknya kamu pulang."
Dara tak ingin memasukkan seorang pria saat tengah malam ke apartemennya. Meski lingkungannya yang sekarang adalah termasuk orang-orang yang cuek tak pernah memperhatikan sekitarnya tapi Dara tetap harus menghormati diri sendiri.
__ADS_1
Sean pun mengerti dan memilih pulang. Dara melihat punggung Sean yang semakin menjauh, baru kemudian pulang ke apertemennya. Namun yang di lihat Dara ada sosok pria yang bersender di pintu apertemennya dan mengepulkan asap dari mulutnya.
"Ka Ezra?" Dara kaget dengan sosok yang di depannya, pasalnya selama ini Ezra bukanlah seorang perokok. Tapi saat ini, Dara melihat dia merokok. Ini sungguh bukan ka Ezra nya.