Ku Temukan Dia Kembali

Ku Temukan Dia Kembali
Ellie yang Marah


__ADS_3

Dengan langkah tergesa-gesa seorang gadis berjalan dikoridor dengan high hells nya dan menuju ke kantin. Sesampainya di sana dia menghampiri meja seseorang, orang tersebut sedang tertunduk membaca sebuah buku. Tiba-tiba wanita itu menuangkan air yang ada di sebelah orang itu ke atas kepalanya.


Orang itu mendongkakan kepalanya yang basah dan menatap gadis yang menuangkan air di kepalanya. Pandangan merekapun saling bertemu, yang satu dengan amarah dan yang satu dengan ketidak mengertian.


"Dasar kau ******!!!" Ellie berteriak dan menjambak rambut orang yang telah dia guyur dengan air. Orang itu Dara.


Dara langsung menangkis tangan Ellie dan memutarnya ke belakang. Ellie merasa kesakitan dan hanya meringis.


"Tutup mulutmu, atau aku patahkan tangan kurang ajar mu ini." Lalu dihempaskannya tangan itu.


Ellie menyunggingkan senyumannya.


"Sekali ****** tetap ******, kamu sudah merebut Ezra dari Monica. Sekarang masih berani menggoda Sean?"


"Bukan aku yang menggoda mereka, tanya sendiri kepada mereka siapa sebenarnya yang datang dan mengganggu! Aku tidak pernah tertarik."


"Heuh, tidak tertarik? Tapi masih menerima kebaikan mereka. Sungguh murahan."


Dara sudah menahan emosinya dan dia langsung melayangkan tangannya ke pipi Ellie.


"Plak"


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi putih itu dan meninggalkan bekas merah. Ellie memegang pipinya dan telinganya sedikit berdengung. Dia juga tidak bisa menahan emosinya dan langsung menjambak rambut Dara. Kegaduhan terjadi di kantin tersebut. Mereka pun di pisahkan oleh beberapa orang yang berada di sana. Dara tak mengalami luka berarti hanya rambutnya saja yang sedikit berantakan, sedangkan Ellie dia memiliki beberapa luka lebam di wajah dan tubuhnya. Emosinya bergemuruh dan dadanya masih naik turun.


"Aku akan menuntutmu, ingat itu!!!" Ellie pun pergi meninggalkan tempat itu.


Dara menarik nafas kasar dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


........


Disisi lain Sean mendapat kabar dengan cepat tentang kegaduhan yang di timbulkan Ellie di kampus. Sean langsung menemui Ellie yang berada di rumah sakit untuk merawat beberapa luka yang didapatkan akibat perkelahian tadi.


Saat tiba di rumah sakit, Ellie segera mendekati Sean dan memeluknya.


"Sean, lihatlah aku. Wanita ****** itu sudah melukaiku."


Ellie semakin membenamkan diri di dada bidang Sean, tapi Sean segera melepaskan pelukannya dan menatap muram kepada Ellie.


"Kita benar-benar tidak bisa bersama lagi Ellie, keputusanku sekarang sudah bulat."


Ellie mendengar perkataan ini seperti seseorang yang sudah jatuh dan tertimpa tangga. Matanya langsung buram.


"Apa yang kamu katakan Sean?" Ellie menggelengkan kepalanya.


"Kamu terlalu berlebihan Ellie, aku tak suka itu dan aku sudah tak tahan dengan semuanya."


"Dia sudah mengganggu hubungan kita Sean!" Jelas Ellie dengan mata yang semakin memburam, suaranya terdengar parau.


"Kamu yang sudah mengganggu hubungan kami. Apa kamu lupa?"


Sejak awal, Ellie memang sudah tahu jika Sean masih memiliki kekasih ketika orang tuanya akan menjodohkannya. Tetapi dia tak peduli dengan semuanya. Ambisinya yang ingin memiliki Sean lebih besar dari pada logikanya. Hingga sekarang dia tak bisa menahan emosi dan logikanya mengenai hal yang berkaitan dengan Sean. Sehingga terjadi hal seperti itu.


"Aku akan mengembalikan kerjasama yang telah dibangun oleh orang tua mu kepada perusahaanku."


Sean langsung pergi meninggalkan Ellie yang mematung di rumah sakit. Langkah dan keputusannya sudah bulat. Rencananya selama dua tahun sudah berjalan dengan lancar sampai di tahap ini. Dia bisa melepaskan bantuan dari keluarga Ellie dan mengakhiri pertunangan tersebut. Tidak akan ada yang menekannya lagi, dan semua keputusan tergantung pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal Sean." Gertak Ellie.


Sean tetap melangkah pergi dan tak menoleh sedikitpun ke arah Ellie.


..........


Disisi lain Dara ditemani Glen di perpustakaan untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah secara langsung.


"Apa jadwalmu hari ini benar-benar senggang Glen?"


"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku sebelum datang ke sini, kamu jangan khawatir."


Dara pun menganggukan kepalanya dan kembali fokus kepada setumpuk buku di hadapannya. Glen memperhatikan wajah Dara dari samping. Terlihat hidung mancung yang tidak berlebihan, bulu mata yang lentik dan sorot mata yang tajam namun terlihat hangat. Glen tersenyum dan banyak pikiran di kepalanya yang dia bangun sambil memandangi gadis di hadapannya.


"Pantas saja banyak yang iri padamu." Gumam Glen.


"Hah?" Dara mendongkakkan wajahnya.


Glen merasa tertangkap basah atas gumamannya langsung mengarahkan pembicaraan kepada hal lain. Kuliah dan tugas Dara sudah selesai sampai pukul sembilan malam. Saat Dara mengaktifkan gawainya, sudah ada lima puluh panggilan tak terjawab. Dara melihat rentetan telpon itu dari Ezra, Sean dan sang mommy.


Hal yang langsung Dara lakukan adalah menghubungi sang mommy.


[Mommy, maaf aku baru selesai kuliah. Ada apa?]


Pesan itu langsung di balas dengan cepat.


[Mommy dan Daddy sudah bicara dengan keluarga Ezra, pertunangan kalian sudah tak bisa di lanjutkan lagi dan mereka setuju. Tapi...]


[Tapi apa mom?]


[Tapi setelah kamu selesai kuliah nanti, acara pernikahan kalian harus tetap terlaksana. Mereka memberi kamu waktu sendiri untuk belajar dan tidak akan mengganggu study mu sayang.]


"Jika tunangan di akhiri tapi acara menikah tetap berlangsung bukankah ini sangat lucu? Kenapa keluarga Ezra itu sangat bersi kukuh ingin aku dan Ezra menikah?" Gerutunya dalam hati. Dara pun membalas:


[Aku tidak bisa janji mom, setelah selesai study aku ingin bekerja dulu dan belum memikirkan mengenai pernikahan.]


[Bekerja juga masih bisa setelah menikah kan sayang?]


[Mom...please.]


[Baiklah sayang mommy tidak akan memaksa, minggu depan kamu harus pulang dulu ya ke Indonesia. Adik mu sudah lahir tapi masih saja sibuk tidak pulang.]


[Baik mommy...salam untuk adik kembar ya. Salam untuk Daddy juga...]


Dara menghempaskan diri di atas ranjangnya, menatap langit-langit dan merasakan bahwa hidup ini lucu. Seakan mempermainkannya.


Drt...drt...


[Ezra Calling]


"Hallo ka, ada apa?"


"Kamu sudah pulang?"


"Hmmm..."

__ADS_1


"Syukurlah."


Dara mengerutkan dahinya.


"Kaka cuma mau bertanya ini?"


"Iya."


"Ko aneh ya." Kali ini Dara menggerutu dalam hati.


"Jika lapar makanlah, aku sudah menyiapkannya." Lanjut Ezra.


Dara bangkit dan menuju dapur, benar saja makanan sudah tersaji di atas meja makan.


"T...terimakasih ka."


"Selamat istirahat kalau begitu. Good night..."


Bip.


Drt...drt...


[Sean Calling]


"Ya ampun...yang satu baru selesai, ini datang satu lagi!" Dara menggerutu dalam hati.


Sambil menerima panggilan, Dara duduk dengan malas di meja makan dan coba memakan masakan Ezra yang sudah di depan mata.


"Dara..."


"Hmmm..."


"Kamu baik-baik saja?"


"Hmmm..." Hanya jawaban ini yang dapat keluar dari mulut Dara.


"Boleh aku melihat keadaan mu?"


Kalia ini Dara menghentikan makannya dan menatap layar yang masih tersambung.


"Apa dia tak punya akal? Kenapa mengkhawatirkan ku? Tunangannya yang sakit parah sudah aku pukuli juga!" Gerutunya.


"Tidak perlu Sean, aku benar-benar baik."


"Aku harus memastikan dulu, baru bisa tenang."


"Sean..."


"Aku sudah di depan apertemen mu."


"Pulanglah Sean."


"Tidak akan, sebelum melihat keadaan mu."


"Terserah."

__ADS_1


Bip.


Dara memutuskan panggilannya dan langsung pergi ke kamarnya.


__ADS_2