Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 10


__ADS_3

Siang ini Kak Fatha pergi ke pertemuan anggota OSIS. Oleh sebab itu, pembelajaran kimia ku hari ini di batalkan. Aku pun memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Karna sudah lama sekali rasanya aku tidak berkumpul bersama mereka.


Kami memilih sebuah meja dengan bangku panjang ketika berada di kantin. Karna hanya tempat inilah yang bisa menampung aku dan teman-temanku yang terbilang cukup banyak. Kami berjumlah sepuluh orang. Cukup untuk menggantikan grup Cherrybelle dengan seorang menejer.


Sudah setengah dari mangkuk mi ayam ku telah habis. Selama itulah aku hanya terdiam mendengarkan teman-temanku saling melemparkan gosip. Aku memilih diam, karena aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka bahas. Dan itu sudah wajar. Satu hari tidak bersama mereka saja, pasti aku akan menjadi orang yang paling kurang update di sekolah.


"Eh, iya, Han. Kenapa kamu tiba-tiba keluar dari grub WA sekolah?" Tanya  Rani di tengah percakapan teman-teman kami yang lain.


Aku kaget, namun berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Oh, itu. Nggak ada. Waktu itu aku sedang sibuk chatingan dengan Rain. Jadi, aku risih saja dengan notifikasi yang ramai itu." Jawab ku asal.


"Oh, begitu. Soalnya malam itu anak kelas dua belas gosipin kamu, loh. Kamu nggak lihat isi grub." Rani berbicara dengan nada yang tidak biasa.


"Benarkah? Aku sama sekali tidak membukanya. Dan aku tidak percaya mereka menggosip tentang aku. Kamu jangan ngarang, deh." Aku berpura-pura tidak mempercayai perkataan Rani agar dia tidak memikirkan yang aneh-aneh tentang ku dan Kak Fatha.


"Kamu nggak percaya?" Rani menaikan nadanya satu oktaf, "Aku bakalan tanya nih, sama teman-teman yang lain."


Suara Rani berhasil di sadari oleh teman-teman ku yang lain. Seketika mereka terfokus pada kami. Aku pun mencoba untuk membuat Rani tidak membahas hal itu dengan teman-teman yang lain. Karna jika mereka membahas ini aku akan terbakar karna cerita yang mereka lebih-lebih kan. "Aku percaya, kok!" Ucapku dengan cepat.


"Kalian bahas apa, sih?" Tanya Rasel yang mencoba memecahkan rasa penasarannya.


Rani pun memalingkan pandangannya ke arah Rasel. Aku pun mencengkram paha Rani untuk memberikannya peringatan. "Ah, kamu mau tahu aja. Ini urusan aku sama Hany." Rani mengerti dengan apa yang ku maksud. Aku merasa legah dengan jawaban Rani. Aku pun melepas cengkramanku.


"Kalian bohong. Ayo cerita! Eh, kamu Hany, kamu baru hilang dua minggu saja sudah menutupi sesuatu dari kami. Ayo sekarang cerita!" Ujar Rasel dengan ekspresi mengancamnya.


Aku pun tersenyum, "Apa'an sih, Sel. Bukan hal yang penting juga, kok. Tadi Rani nanya sama aku, 'kamu sudah siap atau belum buat ulangan besok?'. Ya.. Aku jawab, 'Sudah'."  Kataku.


Tiba-tiba aku teringat akan jadwal ulangan kimia ku yang terjadwal besok pagi. Ini adalah ulangan ketiga setelah dua ulangan ku yang gagal sebelumnya. Aku harus mendapatkan nilai yang bagus untuk kali ini. Agar aku bisa menutupi nilai ulangan ku yang remedial sebelumnya. Jika nilaiku besok bagus, aku akan minta soal tambahan untuk menuntaskan nilai ulanganku yang masih berwarna merah.

__ADS_1


"Kamu bohong, Han! Tadi Rani terdengar agak nge-gas gitu, loh." Tukas Rasel.


"Ah, perasaan kamu aja itu, mah. Aku nggak ada kayak, begitu. Ya, kan Han?" Tanya Rani.


Tanpa memperdulikan pertanyaan Rani, aku langsung berpamitan kepada teman-teman ku. "Eh, teman-teman, aku pergi dulu, ya. Aku ada urusan mendadak. Melsi, tolong bayarin dulu, nanti aku ganti." Melsi pun mengangguk. Aku pun beranjak dari tempat duduk setelah meneguk satu gelas air. Teman-teman ku hanya menatapku dengan tercengang seperti melihat artis korea yang baru saja lewat.


Aku beralih dari kantin menuju ruang OSIS. Pintu ruangan itu masih tertutup, menunjukkan rapat mereka belum selesai. Suara ribut terdengar samar-samar dari dalam sana. Aku merasa penasaran. Kak Fatha ada di mana, ya?


Aku mendorong pintu yang tidak tertutup rapat itu. Seketika pintu itu memberi cela yang menampilkan sebagian sisi dari ruang rapat. Aku pun lebih mendekatkan tubuhku ke pintu untuk melihat keadaan di dalam agar lebih jelas. Seketika wajah Kak Fatha berhasil ku temukan.


"Hei! Sedang apa?"


Sontak aku kaget ketika mendengar suara pria itu. Aku langsung membalikan badan dan mendapati sosok Kak Toriq yang berdiri di belakangku dengan dua kardus besar yang di angkatnya.


Aku pun tersenyum ramah pada ketua OSIS itu. "Eh, Kak Toriq. Maaf, Kak, aku cuma mau ketemu Kak Fatha. Aku ada perlu. Kakak mau kedalam, ya?" Tanyaku berbasa-basi.


Ketika aku memasuki ruang OSIS, aku langsung di sambut tatapan terbelalak dari Kak Fatha. Tentu saja dia kaget melihatku masuk ke dalam ruang OSIS bersama ketua OSIS lagi. Tak terkecuali dengan anggota lain yang juga memusatkan perhatian kepada ku.


Aku pun meletakkan kardus itu di tempat yang di minta oleh Kak Tariq. Lalu Kak Tariq pun mengucapkan terimakasih dan berbisik pada Kak Fatha. Setelah itu Kak Fatha pun berdiri dan mengajakku keluar ruangan.


"Ada apa Hany? Kenapa Hany sampai jenguk Kakak kesini?" Tanya Kak Fatha dengan nada setenang mungkin.


"Maaf mengganggu. Tapi aku mau minjam buku yang kemarin Kakak bawa. Kakak lupa ya, besok kan jadwal ulangan kimia ku." Kata ku dengan nada ragu-ragu.


Dia pun tersenyum, "Kakak sama sekali nggak lupa. Kakak ingat, kok. Bukunya ada di tas. Nanti pulang sekolah Kakak kasih, ya."


Aku mengangguk,"Makasih, Kak." Ucapku sambil membalas senyumnya. "Kalau begitu aku pergi dulu. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."

__ADS_1


Kak Fatha pun mengangguk. Aku pun sedikit tersenyum sebelum membalikan badan untuk pergi. Namun, ketika aku sudah berjalan dua langkah aku merasa tanganku di tahan oleh Kak Fatha. Secara spontan aku berhenti dengan mata yang membelalak. "Selamat ulang tahun, Hany." Ucapnya dengan lembut. Aku pun langsung membalikan badan menatap wajah Kak Fatha yang tersenyum manis di sana.


Aku menatapnya dengan perasaan yang menggejolak di dadaku. Sambil tersenyum bahagia aku mengatakan, "Terimakasih, Kak Fatha." Untuk saat ini aku ingin sekali memeluknya. Namun aku masih sadar, bahwa itu tidak mungkin ku lakukan. Mendapatkan ucapan ulang tahun yang pertama darinya saja aku sudah bahagia. Dan aku tidak percaya orang yang baru saja ku kenal lebih ingat hari lahirku di bandingkan orang tua ku sendiri. Aku pun melepaskan tanganku dari pegangan Kak Fatha. Lalu meninggalkannya dengan hati yang sangat bahagia.


...----------------...


"Selamat ulang tahun, Hany!"


Aku terkejut ketika melihat anggota keluarga ku berkumpul bersama di satu rumah. Di sana sudah ada Ayah, Bunda, Kak Ina, Kakek dan juga Bu Mega. Aku berlari ke arah mereka yang sedang sibuk menyanyikan lagu ulang tahun. Aku pun meniup lilin yang di pegang Bunda ketika lagu yang mereka nyanyikan sudah selesai. Aku sangat bahagia sekali.


"Makasih banyak Ayah, Bunda.. Aku pikir kalian tidak ingat ini hari ulang tahunku." Kata ku ketika memeluk Ayah dan Bunda.


Mereka pun membalas pelukanku. "Tentu saja kami ingat ulang tahun putri tunggal kami." Ujar Ayah.


Aku pun beralih kepada Kak Ina, memeluknya dengan erat lalu mengucapkan kata-kata mutiaraku.


Lalu aku pun mendekati Kakek dan Bu Mega. Dengan senyum yang mereka di sela kumis putihnya, aku pun memeluknya dengan erat. Air mata mengalir di pipiku. "Kita tidak sadar waktu berlalu dengan cepat. Aku sudah menjadi gadis 17 tahun. Namun, aku merasa baru kemarin aku berada di pangkuan Kakek." Kataku sambil terisak tangis.


"Kamu akan selalu menjadi gadis kecil Kakek. Meski pun suatu hari nanti kamu sudah di persunting oleh keluarga lain." Ujar Kakek sambil mengusap kepalaku yang bersandar di dadanya.


Aku pun mengusap air mataku dan beralih mendekati Bu Mega. Dia pun tersenyum lembut kepada ku. "Selamat ulang tahun, Hany. Ini saya bawakan kamu hadiah. Tapi isinya mungkin tidak terlalu bagus." Bu Mega pun menyodorkan kado dengan motif bunga tersebut kepadaku. Aku pun menerima pemberian Bu Mega dengan senang hati. Entah mengapa sejak pertemuan kami hari itu membuatku memiliki pandangan yang berbeda terhadap Bu Mega sekarang. Bisa di katakan aku tidak lagi terlalu membencinya. Aku pun memeluknya. "Makasih banyak, Bu Mega." Ucapku. Dia pun membalas pelukanku. "Sama-sama, Hany." Balasnya.


"Kalau sudah 17 tahun, benci-benci nya harus berakhir, dong. Kan, sudah besar. Sudah sadar dong, kalau benci sama orang itu nggak baik." Ujar Ayah meledeki ku.


"Ayah...!!" Teriak ku.


Mereka semua tertawa. Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi ku. Sederet peristiwa yang terjadi semuanya ku ingat hingga sampai saat ini. Dan hal yang paling berkesan di hari itu juga adalah ketika aku mendapat ponsel Android pertamaku. Ponsel itu ku dapatkan dari Ayah dan Bunda sebagai penepatan janjinya kepadaku. Aku sangat senang sekali.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2