Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 27


__ADS_3

Carsyelia Kongyingyong, wanita muda yang mengabdikan dirinya untuk seorang pria, tanpa mendapat balasan apa pun, bahkan cinta sekali pun. Dia merupakan putri tunggal keluarga Kongyingyong yang memiliki sebuah perusahaan terkenal yang bernama Ky's Group. Ia bukan seorang pengusaha, melainkan seorang jurnalis. Pernah tinggal selama dua tahun di Indonesia, oleh karena itu dia lancar dalam berbahasa Indonesia.


Ngomong-ngomong soal hubungan Carsy dengan Rain, benar kalau mereka sepasang suami-istri. Mereka baru tiga bulan menikah setelah Carsy memantapkan diri untuk memeluk agama Islam. Bahkan, sekarang dia masih dalam tahap belajar tentang agama Islam.


Carsy sangat mencintai Rain. Bahkan dia rela memberikan semua yang dia miliki hanya untuk membangkitkan Rain yang pernah jatuh. “Aku akan selalu ada untuk Rain kapan pun dan di mana pun..” Ujarnya.


Wanita itu kini sedang mengangkat telepon yang entah dari siapa. Dia berbicara dalam bahasa Thailand yang tidak terlalu ku pahami. Sesekali dia tampak menoleh ke arah ku hingga akhirnya dia kembali meletakkan gagang telepon itu ke tempat semula.


Carsy pun memutar roda kursinya menuju ke arah ku. Sambil menunggunya sampai, aku hanya tersenyum menatapnya. Aku sangat prihatin dengan kondisi wanita ini. Walaupun katanya kakinya tak benar-benar lumpuh, tapi tetap saja membuatku merasa iba. Pasalnya dia mendapatkan kondisi ini karna menolong Rain. Ah, secinta itu kah Carsy pada Rain? Sehingga dia rela untuk merasakan sakit.


“Sepertinya Rain tidak akan pulang cepat, Hany. Dia bilang dia akan lembur” ujar Carsy.


Aku sedikit kecewa mendengar pernyataan Carsy. Karna aku ingin sekali bertemu dengannya.


“Tidak apa Carsy, lain kali saja.” Aku pun bangkit dari duduk ku, “Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Sepertinya Nora akan khawatir jika aku pergi terlalu lama.”


Carsy menengadah menatapku yang berdiri di depannya. Lalu dia pun tersenyum sambil mengangguk. “Baiklah Hany. Sampai jumpa lagi. Sering-seringlah datang kesini.”


“Jika ada waktu,” balasku tersenyum. “Kalau begitu aku pergi. Assalamualaikum!”


“Walaikumsalam!”


Aku pun meninggalkan rumah keluarga Kongyingyong. Sebelum benar-benar pergi dari sana, aku menyempatkan diri untuk melambaikan tangan kepada Carsy yang tengah memperhatikan ku dari pintu utama. Dia membalas lambaian dari ku dengan seulas senyum yang ceria. Setelah itu, aku pun meninggalkan halaman rumah Carsy.


Aku menelusuri jalanan dengan kondisi yang sedikit kecewa. Satu langkah lagi, aku bisa menemukan Rain. Namun ku rasa takdir berkata lain. Mungkin Allah tidak ingin aku bertemu dia lagi. Tapi..


Seketika langkahku terhenti. Aku terpaku pada satu objek yang berjarak beberapa meter di depanku.

__ADS_1


Benar, takdir berkata lain.


Aku masih terpaku melihat Rain yang berjalan mendekatiku. Hingga wajahnya kini sudah berjarak cukup dekat denganku. Aku hanya bisa menatap raut wajah itu dengan air mata yang mulai terbendung. Seketika ku rasakan dekapan hangat dari Rain yang baru saja memelukku.


Tangisanku pecah saat tubuh hangat itu memelukku. Pria ini, pria yang sudah lama ku rindukan. Dan pelukan hangat ini, yang dulu selalu memberiku kekuatan. Setelah lama baru ku rasakan kembali. Bahkan diriku hampir menyerah karna terlalu lelah. Namun, tanpa di minta, takdir memberikan ku kesempatan untuk merasakannya lagi. “Aku merindukan mu, Rain..”


Rain memperkuat dekapannya sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


“Terimakasih sudah bertahan, dan selalu mengingatku,” lirih pria berambut kecoklatan itu. “Kalau kamu mau tau bagaimana hariku. Jujur, tiada hari tanpa memikirkan mu. Karna aku sangat mencintaimu bahkan sampai detik ini.”


Seketika hujan turun membasahi tubuh kami. Entah drama macam apa ini kami tak peduli. Bahkan hujan pun tak bisa memberi alasan untuk kami melepaskan dekapan masing-masing. Aku sangat merindukannya, begitu pun dia.


“Aku tidak tau harus mengatakan apa, tapi hati ini terus meneriakkan namamu.”


...----------------...


Apakah ini sebuah drama? Drama macam apa? Apakah ini seperti sinetron yang selalu di tonton Bunda. Di mana seorang gadis yang mencuri suami orang lain hanya untuk kepentingan pribadinya. Atau ini seperti kisah cinta segitiga yang selalu di tonton Naura? Ah, tidak. Aku jauh lebih dulu mengenal Rain dari pada mereka.


Rain baru saja muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh. Dia berjalan ke arahku dengan senyuman yang tak pudar sejak dia baru muncul. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban tawarannya. Lalu, ia pun meletakkan teh hangat itu di meja bulat yang ada di depanku.


“Makasih.” Aku pun meraih cangkir teh yang masih mengepulkan asap itu. Lalu, menyesapnya perlahan. Wow.. teh buatan Rain sangat enak.


Aku pun meletakkan cangkir itu ke tempat semula. Lalu, menoleh ke arah Rain yang masih tersenyum dengan cangkir teh yang masih menggantung di tangannya. Aku yang melihatnya seperti itu tiba-tiba merasa malu. Aku pun segera mengalihkan pandanganku ke arah lain. Rain pun tertawa renyah. Hal itu menarik perhatian ku untuk melihatnya kembali. Ada apa dengannya?


“Kamu tambah cantik” ucap Rain seraya meletakkan cangkir tehnya di meja.


Seketika aku merasakan pipiku mulai memanas. Pasti sangat merah sekarang. “A-Apa sih, Rain!” tepisku.

__ADS_1


“Aku serius. Apalagi pas pipi kamu memerah seperti itu. Sangat cantik.”


Rain pun bangkit dari sofanya lalu mengambil tempat di sampingku. Seketika aku pun memalingkan wajahku agar tidak berhadapan dengannya. Karna bisa ku perkirakan bagaimana kondisi wajahku jika Rain duduk sedekat itu denganku.


Rain pun meraih wajahku dan mencoba untuk membuatku menatapnya. Seketika kami saling beradu pandang dengan jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat netra coklat milik Rain yang begitu tenang. Yang dulu pernah ku lihat tapi tak seindah ini. Entah mengapa hatiku terasa menghangat.


Rain pun memegang pipiku dengan lembut dan mengeluskan jari telunjuknya pada bagian rahangku. Tatapannya begitu intens pada wajahku. Namun, aku merasa terperangkap dalam tatapan Rain yang begitu mempesona. Aku tak bisa berbuat apa-apa.


“Apa aku bisa memiliki wajah cantik ini..” Lirih Rain.


Entah mengapa aku merasa tidak ingin mengatakan tidak. Aku merasa benar-benar telah jatuh dalam perangkap. Kenapa baru sekarang?


Aku pun memegang tangan Rain yang ada di wajahku, “Rain-”


Gerakan Rain yang menarik tangannya dengan cepat membuat ucapanku terpotong. Rain pun segerah menjauh beberapa senti dan mengalih pandangan sambil membuang nafas kasar. Entah kenapa dia tiba-tiba seperti itu. Aku mulai khawatir kepadanya.


“Ada apa Rain?” tanyaku.


“Tidak, tidak apa-apa. Maafkan aku,” ujarnya dengan nafas yang masih menderu dari hidungnya.


“Jangan membuatku khawatir Rain, katakan saja ada apa.” Tiba-tiba aku merasa panik melihat Rain yang terlihat tidak tenang.


“Nggak usah khawatir, aku baik-baik saja,” kata Rain. “A-Aku akan keluar sebentar. Kamu pergi saja tidur, sudah malam” lanjutnya.


“Tapi-“


“Aku butuh udara segar” Rain pun segera bangkit dari sofa dan setengah berlari ke arah pintu utama. Aku yang memperhatikannya merasa sangat khawatir. Kenapa tiba-tiba begitu? Sejenak aku merasa pusing. Mungkin aku masuk angin karna hujan-hujanan tadi sore.

__ADS_1


Memilih untuk mengikuti saran Rain, aku pun bangkit dari sofa menuju salah satu ruang yang kuduga kamar tersebut. Lalu, aku pun segera merebahkan tubuhku di atas kasur empuk yang beralas seprei motif mawar itu. Aku pun mematikan lampu meja yang menyala redup. Setelah itu, aku pun memilih untuk tidur karna kepala terasa sangat sakit.


...----------------...


__ADS_2