Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 23


__ADS_3

Kami sampai di rumah tepat pada waktu magrib. Kami di sambut oleh Ayah dan Bunda yang telah menunggu kedatangan kami. Aku beserta Kak Fatha turun dari mobil dan langsung menyalami kedua orang tuaku. Bunda pun segerah memelukku. Dia mengelus-elus punggungku sambil berkata, " Selamat datang, sayang." Aku hanya membalas pelukannya tanpa bisa berkata apa pun. Aku benar-benar merindukan keluargaku. Setelah itu, kami pun masuk kedalam rumah. Kak Fatha juga ikut bersama kami, karna Bunda mengatakan kalau dia sudah menyiapkan makanan untuk makan malam.


Di meja makan kami saling berlempar cerita masing-masing. Aku di minta untuk menceritakan tentang pekerjaanku yang kalau Ayah bilang "Gadis Traveler". Aku pun dengan senang hati menceritakan pengalaman pekerjaan ku itu.


Setelah aku yang bercerita, kini giliran Kak Fatha. Ayah pun mulai memberikan pertanyaan layaknya wartawan yang tengah mewawancarai pengusaha terkenal.


" Jadi, bagaimana pekerjaan kamu sekarang?" Tanya Ayah.


"Alhamdulillah, Yah, semuanya baik," jawab Kak Fatha.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Ayah ikut bahagia," lanjut Ayah.


"Oh ya, Bunda dengar, kalian buka cabang perusahaan baru lagi ya, di Jakarta?" Timpal Bunda.


"Iya, Bun. Papi ingin aku mandiri sekarang."


"Oh.. Bagus itu. Berarti Bunda bisa dong, ikut tanam saham disana.." Aku dan Ayah pun terkekeh.


"Iya Bun. Do'akan saja semuanya lancar," ujar Kak Fatha sambil tersenyum.


Setelah selesai makan malam, Kak Fatha pun segera pulang. Aku mengantarkan nya sampai ke depan pintu. Dan menunggu hingga mobilnya sudah hilang dari pandanganku. Aku pun menutup pintu dan pergi menuju kamarku. Kamarku tidak berubah sejak kutinggalkan enam bulan yang lalu. Bahkan jam weker yang ku letakkan di atas kasur pun tidak beranjak sama sekali. Kurasa kamarku tak pernah dimasuki Bunda sama sekali. Sepraiku saja terasa berdebu. Dan langit-langit kamarku yang di penuhi bintang kini sudah hampir tertutup sarang laba-laba.


Aku pun mengalihkan pandangan ke meja belajar yang ada di sudut kamar. Aku pun mendekati meja itu. Raknya masih di penuhi buku-buku SMA ku. Dan beberapa alat tulis pun masih ada disana. Aku meraih sebuah bingkai foto yang ada di ujung meja. Di bingkai itu terdapat fotoku bersama Rain. Aku menatap senyum Rain yang bahagia kala itu. Air mataku menetes setiap kali melihat foto ini. Karna ini saat terakhir sebelum dia menghilang. Aku terus memperhatikan foto itu. Hingga semua pandanganku mulai buyar.


Aku baru terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Aku mendapati diriku tertidur di atas karpet sambil memeluk bingkai foto ku dengan Rain. Entah kenapa aku bisa tertidur di atas karpet semalam.


Hari ini aku berniat mengunjungi rumah Kakek. Aku pun sampai disana tepat saat Kakek baru saja pulang. Aku pun memanggilnya ketika dia hendak memasuki rumah. Aku pun segera menghampirinya. Dia terlihat kaget, namun sangat bahagia. Dia memeluk diriku dengan sangat erat.


"Kamu kapan pulang?" Tanya Kakek.


"Kemaren, Kek," jawabku.


"Ya sudah, ayo masuk!"


Aku langsung di sambut Bu Mega ketika sampai di dalam. Dia pun memelukku dengan rasa bahagia. Dia sering gembira ketika melihatku. Karna katanya jika melihatku rasa rindunya pada Rain bisa terobati.


Aku di jamu makan oleh Kakek dan Bu Mega. Seperti Bunda dan Ayah, mereka memintaku untuk menceritakan tentang pekerjaanku. Kami pun bergantian bercerita satu sama lain. Dan rasanya menyenangkan sekali bisa tertawa bersama di rumah yang penuh duka ini.


Seperti biasanya, aku akan membantu Bu Mega mencuci piring setelah kami selesai makan. Disela kegiatan tersebut, kami sering bercerita atau terkadang menggosip. Namun kali ini dia hanya terdiam setelah aku mengatakan bahwa besok aku akan ke Bangkok.


"Ibu tenang saja, aku akan mencoba mencari Rain di sela pekerjaan ku," ujarku.


Dia terdengar menghembuskan nafas pelan. "Ini sudah yang keberapa kali Hany. Kamu sudah sering datang kesana. Bahkan kamu sudah berkeliling Thailand. Dan hasilnya bagaimana? Rain tidak ada dimana pun," ungkap Bu Mega dengan nada kesal.

__ADS_1


"Tapi aku tidak boleh menyerahkan. Ibu yang bilang begitu padaku." Aku mencoba meyakinkannya kembali.


Bu Mega pun menghentikan pekerjaannya. Lalu ia memelukku dan menangis sejadi-jadinya.


"Ibu.. Ibu kenapa nangis?" Tanyaku.


Dia pun mencoba menenangkan dirinya. Lalu mengusap air matanya yang berlinang.


"Aku merasa sangat bersalah Hany. Kepada Rain dan juga padamu."


"Aku? Ibu salah apa? Ibu nggak ada salah apapun kok, sama aku."


"Enggak, Hany, Ibu salah. Ibu yang membuat Rain pergi. Dan karna kesalahan ibu kamu menjadi sedih karna kehilangan Rain. Dan sekarang, Ibu merasa putus asa. Ibu merasa sampai mati Ibu tidak akan bertemu dengan Rain lagi." Bu Mega kembali menangis.


Aku prihatin melihat Bu Mega. Aku pun memeluknya dan berusaha menenangkannya kembali.


"Enggak, kok, Bu. Ibu nggak salah. Pilihan ibu merupakan pilihan yang terbaik. Jika waktu itu Ibu ikut bersama Rain mungkin aku lebih marah sama Ibu. Karna Ibu akan membuat Kakekku sedih. Tapi Ibu memilih untuk tetap disini dan menemani Kakek hingga sekarang. Aku sangat berterimakasih atas hal itu. Dan tentang Rain, aku janji pada Ibu kalau aku akan mengajak Rain pulang. Ibu do'ain aku ya, semoga aku berhasil." Bu Mega pun tersenyum kembali. Aku pun menghapus air matanya dengan jemariku.


Setelah pekerjaan kami selesai, kami pun mengobrol di depan rumah sambil menikmati buahan yang baru saja di petik oleh Kakek. Tak terasa waktu berlalu begitu saja karna terlalu asyik mengobrol. Hingga waktu  Ashar datang. Kami pun memutuskan untuk sholat berjamaah. Selesainya sholat Ashar aku pun pulang.


Di perjalanan, aku sempat chatingan dengan Kak Fatha. Dia mengatakan kalau nanti malam dia ingin mengajakku makan di Kafe depan sekolah tempat kami sering nongkrong dulu. Dia mengatakan kalau dia ingin bernostalgia. Aku hanya tersenyum geli membaca Whatsapp darinya.


...----------------...


Sorot lampu mobil terlihat jelas ketika memasuki halaman rumahku. Dan pasti itu Kak Fatha. Ia pun keluar dari mobil sambil membawa seikat bunga buket. Aku hanya tersenyum ketika dia menghampiriku. Dan menerima bunga yang dia berikan.


"Sok romantis, deh," ujarku.


Kak Fatha hanya tersenyum.


"Mau berangkat sekarang?" Ajakku.


Kak Fatha pun mengangguk. Ia pun mengajakku untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu, kami pun berangkat.


Aku merasa kembali ke tujuh tahun yang lalu. Dimana aku yang bodoh selalu menghabiskan waktu bersama orang pintar yang dengan iklas membantuku. Namun, sekarang orang bodoh itu sudah sedikit pintar dan orang pintar itu bukan lagi penolongku, melainkan kekasihku. Kami duduk di meja nomor enam, dimana kami sering menempatinya dulu. Dan kurasa kami benar-benar akan bernostalgia.


Pelayan pun membawakan kami dua piring makanan beserta minuman. Kami pun menikmati makanan yang disajikan pelayan itu. Aku lebih dulu selesai dari pada Kak Fatha. Sambil menunggunya, aku memutuskan untuk melihat sekeliling kafe ini lagi. Aku mengingat saat-saat aku bersama teman-temanku. Bahkan saat pesta ulang tahun Rain hari itu.


"Han, kamu lihatin apa?" Tanya Kak Fatha ketika menyadari aku memperhatikan sesuatu.


"Tidak ada. Cuma mau melihat-lihat saja," jawabku.


"Kakak senang deh, bisa kesini lagi sama kamu Han."

__ADS_1


"Aku juga Kak."


Kak Fatha hening sejenak. Lalu, dia pun memandangi ku dengan serius.


"Han, kamu tahu kan, kalau Kakak sangat menyayangi kamu," katanya.


Aku merasa bingung kenapa dia berkata begitu. " Iya, aku tahu Kak."


" Bagaimana dengan kamu, Han. Apa kamu sungguh menyayangi Kakak?" Tanya Kak Fatha.


"Kenapa Kakak bertanya begitu? Kakak kan tahu kalau aku benar-benar menyayangi Kakak."


"Kamu tahu Han, alasan kenapa aku pulang?"


"Bukannya Kakak mau mengurus perusahaan baru Kakak di Jakarta."


Kak Fatha terdiam sejenak dan memalingkan wajah untuk sesaat. "Kamu salah, Han. Itu bukan tujuan aku untuk pulang," ujarnya.


"Terus..?" Aku merasa penasaran sekarang.


"Aku mau ngasih tahu kamu sesuatu." Kak Fatha pun menggenggam tanganku. " Kita bukan remaja lagi Han, kita sudah dewasa. Kita harus tentukan arah hubungan kita ini. Kita tidak bisa hanya disini saja," kata Kak Fatha.


"Lalu.." Lirihku.


Kak Fatha pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Dia pun membuka kotak itu. Dan aku merasa terkejut ketika melihat sebuah cincin berkilau yang ada di dalam kotak tersebut.


"Aku mau melamar kamu, Han. Kamu mau kan, hidup bersama selamanya denganku?"


Aku merasa tidak percaya kalau Kak Fatha akan melamarku. Air mataku menetes karna bahagia. Aku tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Yang ku inginkan hanyalah cincin itu harus terpasang di jariku malam ini.


"Aku tahu, ini bukan tempat yang tepat untuk melamar kamu. Tapi aku ingin melakukannya disini, Han. Karna tempat ini adalah tempat kenangan kita. Dan aku ingin tempat ini akan selalu menjadi tempat favorit kita dari dulu hingga nanti."


Aku masih terdiam dan mendengar kata-kata yang di ucapkan Kak Fatha. Lidahku terasa kelu untuk bicara. Aku sangat bahagia.


"Han.. Kamu mau kan?" Tanya Kak Fatha lagi.


Air mataku pun mengalir dengan deras. Aku yakin semua orang disini memperhatikan kami. Kak Fatha pun terlihat panik melihat reaksiku. Dia pun mencoba menenangkanku.


"Kamu kenapa, Han? Kok nangis?"


"Aku nangis karna aku sangat bahagia, Kak. Aku merasa kalau ini semua mimpi. Rasanya baru kemaren kita duduk belajar disini dan sekarang kita akan segera menikah. Apa ini mimpi, Kak?" Kataku sambil menangis haru.


"Ini bukan mimpi, Han. Kamu berhak untuk bahagia." Kak Fatha pun memasangkan cincin tersebut ke jari manisku.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2