Kuingin Menemukan Dirinya

Kuingin Menemukan Dirinya
CHAPTER 17


__ADS_3

Langkah kaki gadis itu berjejeran di sepanjang koridor rumah sakit. Ya, itu adalah langkahku yang mengejar ruangan tempat nenekku dirawat. Wanita tua itu kini terbaring lemas di atas ranjang dengan selimut hangat yang membaluti setengah dari tubuhnya. Dan kondisi itu membuatku merasa sedih.


Air mataku tak dapat ku tahan lagi ketika melihat wajah lemah Nenek. Mata sayunya menatapku sambil di ikuti elusan jemarinya yang lembut di kepalaku. Seakan mengerti dengan apa yang ku rasakan dia pun mencoba menghiburku. "Nenek sudah membaik. Dokter-dokter di sini sangat hebat menangani penyakit Nenek," tuturnya. Aku pun menggenggam tangannya yang hangat, lalu menciumnya. Terlihat senyuman tipis menghias wajahnya yang terlihat masih lemah. Aku pun membalas senyumannya yang sangat lembut.


"Badan Nenek sudah membaik?" Tanyaku yang masih menggenggam tangan hangat Nenek.


"Alhamdulillah. Sudah bisa di gerakan. Apalagi setelah Hany datang, rasanya saraf-saraf Nenek semakin bekerja," jawabnya. Aku tersenyum. Bahkan pada kondisi seperti ini Nenek masih sempat untuk bercanda.


"Ini Rain yang dari Thailand itu, ya?" Nenek beralih pandangan ke arah Rain yang berdiri di belakangku. Rain pun segera mendekati Nenek dan tersenyum sambil menyalami Nenek. "Iya, Nek, saya Rain temannya Hany."


"Eh, bukannya kamu itu seharusnya Om-nya Hany?"


"Bukan, Nek. Aku lebih suka jadi temanya." Jawab Rain dengan nada ramah.


"Oh, begitu. Ini bukan karna kamu mau sama Hany, kan?" Goda Nenek.


"Nenek..." Tukasku yang tersipu malu.


Nenek terkekeh. Begitu pun Rain yang tertawa kecil di seberang ranjang Nenek. Sedangkan aku hanya merasa malu karna pernyataan Nenek kepada Rain. Mana mungkin hal itu yang menjadi alasan Rain menganggap ku sebagai teman. Toh, kami memang sudah berteman sejak kecil.


...----------------...


Aku dan Rain keluar dari ruangan tempat Nenek di rawat. Aku merasa deja vu dengan kejadian yang ku alami sekarang. Ranjang dengan infus yang tergantung di sampingnya, suara alat yang berdenting setiap detiknya, serta seragam khas yang memberikan kesedihan.


Tangisan ku pun pecah di balik pintu ruangan Nenek. Aku bersandar tak berdaya di balik pintu tersebut. Rain yang menyaksikan hal tersebut hanya mematung menatapku dengan perhatian. Seakan dia merasa apa yang sedang aku rasakan.


Rain pun mengajakku ke taman belakang rumah sakit. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang di sana. Rain mengajakku duduk di sebuah kursi taman. Di sanalah aku menangis sekeras mungkin hingga aku merasa lelah dengan tangisanku sendiri. Aku bisa menyadari seberapa kacaunya diriku sekarang. Mata yang sembab, jilbab yang berantakan, dan mungkin anak-anak rambut yang mukin sudah keluar.

__ADS_1


Rain menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat. Aku tahu dia sedang mencoba menenangkan ku. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku saat ini. Mungkin jika Rain adalah psikopat yang ingin membunuhku, aku juga akan pasrah dengan hal itu. Karna seperti itulah ketidakberdayaan ku sekarang.


"Kamu tenang, ya. Jangan nangis lagi. Menurutku itu sudah lebih dari cukup." Ujar Rain sambil mengelus kepalaku dengan lembut. "Karna ada yang bilang kalau, yang pergi jangan di ingat kembali. Karna itu hanya akan menambah luka yang tertanam di dalam hatimu."


Aku hanya terdiam dalam dekapan Rain. Sinar matahari sore itu menyorot pipiku dan Rain yang menimbulkan kesan hangat. Aku mendongakkan kepala menatap wajah Rain. Wajah yang di terpa sinar matahari itu bagaikan malaikat yang mencoba melindungiku dari luka masa lalu yang selalu mengahantuiku.


...----------------...


Setelah menghabiskan waktu di rumah sakit, aku dan Rain pun memutuskan untuk pulang ke hotel tempat kami tinggal selama liburan. Ayah memesan dua kamar untuk kami berempat. Sebenarnya Ayah ingin memesan tiga kamar, satu untuk ku, satu untuk mereka, dan satunya lagi untuk Rain. Tetapi aku menolak untuk tidur sendiri di ruangan sebesar itu. Aku meminta Bunda untuk tidur bersamaku selama kami di sana. Bunda tidak keberatan, begitu pun dengan Ayah. Oleh karena hal ini, Rain berpendapat kalau ia tak keberatan menemani abang tirinya itu tidur, dan Ayah pun setuju. Rain bilang, supaya kita hemat biaya.


Aku menghamburkan badanku ke kasur hotel yang empuk. Aku pun menarik jilbabku dan merasakan kesejukan AC di sela-sela rambutku yang terasa lepek. Aku pun bangkit dari kasur ketika pintu kamar terbuka. Alih-alih Bunda yang hadir, tak di sangka itu Rain.


"Kamu ngapain kesini?" Tanyaku dengan nada gusar.


"Ya.. Jagain kamu, lah. Ngapain lagi?" Jawab Rain datar.


"Mereka lagi di jalan terjebak macet. Katanya, mereka pergi ke Pelalawan tadi buat ngurus bisnis. Pas perjalanan pulang mala ada razia polisi, makanya lama." Aku pun mengangguk tanda mengerti. Lalu membiarkan Rain berbaring di sofa di tepi dinding kamar.


"Ngomong-ngomong di luar hujan. Jadi, kita batalin acara jalan-jalannya. Kita bisa pergi besok. Nggak masalahkan?" Tanya Rain yang berbaring sambil menutup matanya.


"Iya, nggak masalah. Yang penting selama liburan kita pernah jalan-jalan. Sekali juga nggak papa." Jawabku.


"Ya sudah, kamu mandi sana. Biar aku kebawah buat pesan makanan. Kita kan, belum makan dari siang tadi."


"Ya sudah, aku mandi dulu, ya."


Lima belas menit kemudian Rain masuk ke kamar dengan membawa napan berisi dua piring makanan. Aku yang baru selesai keramas langsung tidak ingat dengan rambutku yang belum di keringkan. Aku langsung menyambar napan yang di bawa oleh Rain karna saking laparnya.

__ADS_1


Rain mengalihkan makanan tersebut dari jangkauan tanganku. Dia menatapku dengan tajam. Aku pun mendengus sambil memalingkan pandangan. "Urus rambut kamu dulu baru boleh makan." Kata Rain dengan tatapan tajamnya itu. Aku pun menajauhinya menuju meja rias yang ada di pinggir kasur.


Rain pun meletakkan napan itu di atas karpet yang ada di dekat ranjang. Dia pun menata piring makanan itu layaknya seperti kami akan berbuka puasa. Aku pun menghampirinya setelah selesai dengan rambutku. Lalu, kami pun menyantap makanan itu dengan lahapnya.


Bunyi dentungan petir nyaris membuat ku ketakutan. Karna selain terdengar menggelegar, petir itu juga terasa sangat dekat. Hal itu mungkin terjadi karna aku lupa menutup pintu jendela kamar kembali dan kamar yang di sewa Ayah berada di lantai yang cukup tinggi sehingga membuat petir itu terdengar cukup keras.


"Rain. Temani aku ya, sampai Bunda pulang. Aku takut kalau tiba-tiba mati lampu," kataku.


Rain tertawa geli. "Hany.. Hany. Mana mungkin hotel sekeren ini listriknya padam."


"Kita nggak tahu. Mana tahu tiba-tiba pembangkit listriknya mati atau rusak."


"Jangan berbual lagi Hany. Lebih baik sekarang kamu tidur. Kamu nggak bisa kan, begadang?"


"Memang iya. Cuma kamu yang bisa membuat aku begadang." Kataku meledek. "Lagi pula aku rasa kamu lebih tua dari usiamu." Aku beralih ke atas kasur.


"Maksudmu?" Tanya Rain yang memperhatikan ku.


"Ya.. Kamu lebih mirip seperti seorang ayah yang peduli pada anaknya. Apa kamu selalu begitu pada semua orang?


"Tidak. Hanya kepadamu." Ujarnya.


Aku merasa malu di dekapan selimut mantel hangat. Kata-kata Rain membuatku merasa aneh. Tapi sudahlah. Memang sudah kewajibannya untuk menjagaku sebagai amanah.


"Selamat malam Rain." Ucapku sambil melemparkan senyum.


"Selamat malam." Jawabnya di iringi senyum hangat di bibirnya yang seksi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2